
Mawar sangat letih sekali setelah pulang dari pasar. Dia susun semua belanjaannya di kedalam lemari makanan. Ada gula, garam dan bahan-bahan lainnya. Juga beberapa bungkus mie dengan berbagai rasa. Setelah itu, ia membuka kulkas. Menata telur dan memasukan daging juga ikan untuk beberapa hari kedepan. Semuanya telah dia cuci terlebih dahulu dan di masukan kedalam tempat kedap udara.
"Mana uang arisan ibu?" Kulsum langsung menengadahkan tangannya kepada Mawar begitu melihat menantunya selesai merapikan semua belanjaannya.
Tanpa banyak bicara, Mawar pun mengambil uang dari dalam dompet lalu menyerahkannya pada Kulsum.
"hanya segini? Rega..."
"mas Rega yang kasih segitu Bu. tanyakan saja nanti saat mas Rega pulang." Sela Mawar cepat.
Kulsum mendengus. Dia pun pergi dari dapur. Sebenarnya uang itu lebih dari cukup untuknya. Arisannya hanya 2 ratus ribu saja, masih ada sisa 6 ratus ribu di tangannya. Tapi, Kulsum ingin pamer pada teman-teman arisan yang sebaya dengannya itu. Kalau dia banyak uang, meski usianya sudah sangat tua.
Ingin menunjukkan berapa suksesnya sang anak. Meski sudah menikah tapi mampu memberikan uang sebesar itu setiap bulannya.
"cukuplah, buat traktir ibu-ibu makan." Seru Kulsum sambil mengibaskan uang itu ke wajahnya.
Mawar menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang mertua. Usianya mungkin hanya beda beberapa tahun saja dengan ibunya. Tapi, Kulsum terlihat masih seperti wanita muda yang haus kesenangan. Meski penampilannya lebih segar dan cantik ibunya Mawar, tapi dari segi sikap terlihat lebih bijak ibu Mawar.
Merasa semuanya sudah selesai, ia pun memutuskan untuk kekamar. Ingin merebahkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Loh, mas Rega." Mawar terkejut ketika melihat ponselnya.
Banyak sekali panggillan masuk dari Rega. Tadi dia tak membawa ponselnya karena sedang di charger. Dengan cepat Mawar pun menghubungi Rega kembali, takut ada hal penting yang ingin di sampaikan suaminya itu.
"halo mas, ada apa? aku baru pulang dari pasar. ponselku tak aku bawa." Jelas Mawar sebelum mendapatkan pertanyaan dari Rega.
"..............."
"sudah aku berikan mas. Uang ibu juga. kenapa?"
"..............."
"iya." Sambungan pun terputus.
Mawar menatap ponselnya dengan dahi berkerut. Rega menelponnya hanya untuk menanyakan perihal uang yang di minta ibu dan kakaknya, sudah berikan apa belum. Menghela nafas panjang. Merasakan jika Rega pasti kedepannya tak akan bisa berbuat adil. Baru beberapa minggu menikah saja, pria itu sifat seperti itu. Lebih peduli terhadap keluarganya dan tak memikirkan apa uangnya itu akan cukup nanti. Apa istrinya sudah tercukupi atau belum.
Tapi, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah menjadi pilihan Mawar. Ia sendiri yang ingin menjadi istri dari seorang Rega. Jadi, sekarang hanya bisa menerima semuanya tanpa harus protes.
"Baru jam 11, aku tidur sebentar saja. lagian ibu juga sedang keluar sekarang." Mawar merebahkan tubuhnya.
Matanya perlahan terpejam. Momen seperti ini sungguh di rindukan olehnya. Suasana rumah yang sepi dan juga tenang. Ibu mertua yang selalu mengoceh juga minta ini itu tengah sibuk dengan urusannya dan kakak iparnya yang selalu menyetel musik keras-keras pun sedang bersenang-senang dengan temannya. Sungguh hari yang begitu menyenangkan untuk Mawar saat ini.
...*****************...
Rega merasa lega saat tahu jika kebutuhan ibu dan kakaknya sudah diberikan oleh Mawar. Perasaannya yang sempat berpikir buruk terhadap sang istri pun hilang.
"Pak, sudah waktunya makan siang loh." Tegur salah satu karyawannya.
Pria itu pun langsung pergi saat mendapatkan anggukan kepala dari Rega. Ia lihat jam tangannya, benar saja. Sudah jam 12 kurang 3 menit. Rega pun segera menyudahi pekerjaannya. Perutnya juga sudah minta di isi.
Buru-buru dia mematikan komputer dan bergegas pergi ke kantin. Di sana sudah di sediakan berbagai macam jenis makanan khusus untuk para karyawan.
"Boleh duduk di sini, mas?" Hani menarik kursi lalu duduk.
Rega hanya tersenyum lalu kembali menikmati makan siangnya yang terdiri dari nasi dan cumi asam manis.
Akhir-akhir ini, Hani memang sering mendekatinya. Apalagi setelah kejadian kemarin sore. Wanita cantik itu menjadi semakin berani untuk mendekat lebih lagi. Bahkan tak sungkan memberikan perhatian kepada Rega.
"uhuk..." Rega terbatuk saat merasakan kakinya di tendang pelan.
Ia langsung menatap Hani, dengan dahi berkerut.
"sore ini...lagi ya?" Hani memakan sosis bakarnya dengan gerakan begitu menggoda. Wanita itu memberikan kode terhadap Rega.
Tentu hal itu di tangkap baik oleh pria yang baru beristri itu. Rega tersenyum kecil lalu mengangguk pelan. Keduanya pun saling bertatapan satu sama lain. Hati Rega bergetar hebat. Hani memang sangat cantik juga menarik. Tak di pungkiri ada rasa tertarik.
__ADS_1
"Tapi, ingat...pakai pengaman." Bisik Rega. Meski begitu dia juga takut hal buruk terjadi.
Hani hanya akan menghangatkan tubuhnya setiap hari bukan untuk memberi keturunan. Karena itu semua tugas Mawar, istrinya.
"tenang saja. aku minum pil." Hani menjilat bibirnya yang terkena saus. "aku tunggu di rumah. kali ini aku ingin melakukannya di rumah."
"oke." Setuju Rega. Dia tak memikirkan apa Mawar nanti akan menunggunya pulang atau tidak.
Yang terpenting baginya hanya kehangatan dan kepuasan saja. Rega sudah seperti pria yang hyperseks. Setelah melakukannya sekali dengan Hani, membuatnya ketagihan. Bahkan dia menjadi tak berselera ketika melihat Mawar. Karena Hani sudah memuaskannya.
Jam istirahat pun selesai. Rega dan Hani kembali berpisah. Keduanya tak begitu menunjuk kedekatan mereka di kantor, hanya selayaknya teman kantor biasa saja.
Ting...
Hani menghentikan langkahnya saat mendapatkan pesan masuk. Wanita itu hanya membacanya lalu kembali melangkah menuju ruangannya.
"Aku harus buat mas Rega, menikahi ku." Ujarnya.
Sementara itu, Mawar baru bangun dari tidur siangnya. Tubuhnya terasa kembali bersemangat setelah dua jam beristirahat.
Ia bergegas keluar, untuk melihat apa ibu mertuanya sudah kembali. Melihat kondisi rumah yang masih sepi membuat Mawar menghela nafas lega.
"Untung belum pulang. aku akan masak sekarang."
Mawar benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Tanpa dia ketahui, kalau Rega telah melakukan hal buruk di belakangnya. Wanita ini sangat percaya dan selalu berpikir positif tentang suaminya.
"aku buat udang tepung saja, mas Rega kan suka itu." Mawar segera mengambil udang dari dalam kulkas lalu membersihkannya.
Tak lama, mertuanya kembali. Kulsum langsung masuk kedapur dan dengan seenaknya meminta Mawar mengambilkan air minum untuknya.
"ambilkan air, ibu haus." Titahnya sambil duduk di kursi.
Mawar mencuci tangannya yang di penuhi tepung lalu segera mengambil air minum tanpa protes.
"masak apa kamu?" Tanya Kulsum.
Kulsum pun menganggukkan kepalanya. Seperti seorang nyonya besar, ia pun memerintah Mawar kembali.
"jika sudah selesai, kamu gosok baju ibu buat kondangan besok."
"kalau sempat ya Bu."
"ya harus sempat dong. sudahlah, ibu mau masuk kamar dulu."
Mawar menghembuskan nafas kasar. Sungguh kesabarannya bisa habis lama-lama.
"ck...kalau saja bukan ibu mas Rega." Desis Mawar.
Tak...
Ia memotong bawang merah dengan kesal. Lalu merajang sayuran lainnya. Kali ini dia akan buat, capcay kuah kesukaannya. Soal mertua dan kakak iparnya, dia tak tahu apa suka kedua menu ini atau tidak.
...***************...
Sudah jam 5 tepat. Rega melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor. Ia mengikuti mobil Hani dari belakang. Tak sabar rasanya ingin segera melampiaskan nafsunya yang begitu menggebu. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Rega tak tahan.
Sekitar setengah jam, akhirnya mereka pun sampai. Hani dan Rega sama-sama keluar dari mobilnya masing-masing.
"mandi dulu ya mas." Hani mencolek dagu Rega.
Tentu saja, mereka harus mandi dulu karena seharian ini berkutat di kantor. Dengan cepat Rega pun membersihkan tubuhnya begitu juga dengan Hani.
Mereka tengah berada di kamar Hani saat ini. Wanita itu telah berbaring di kasurnya tanpa mengenakan apapun. Ia tersenyum menggoda begitu melihat Rega yang keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya berbalut handuk saja.
"ayo mas.." Hani melambaikan tangannya.
__ADS_1
Rega hendak merangkak naik, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Tentu saja hal itu membuat keduanya langsung terdiam. Hani mendengus saat melihat Rega kembali berdiri.
"mengganggu saja." Desisnya tak suka.
"ya Tuhan, aku lupa." Rega segera mengangkat telponnya. Dia lupa memberikan kabar pada Mawar kalau hari ini akan telat pulang.
"sayang, maaf ya. aku ada lembur." Bohongnya begitu telpon tersambung.
"................"
"iya sayang. jangan tunggu mas, makanlah."
Rega menghela nafasnya. Mawar untung saja percaya. Dia pun segera menyimpan kembali ponselnya. Hani terkekeh geli melihat Rega yang berbohong pada istrinya.
"istri mu percaya mas?" Tanyanya masih dengan tertawa kecil.
"iya. jadi...ayo kita lanjutkan."
Tanpa basa-basi lagi, keduanya langsung melakukannya dengan sangat panas. Hani bahkan beberapa kali merubah gayanya hanya untuk membuat Rega puas terhadapnya. Ia ingin pria ini kecanduan terhadapnya dan melupakan istrinya.
Di rumah, Mawar nampak tak senang. Ia keluar dari kamarnya dengan lesu. Padahal sudah bersusah payah menyiapkan segalanya, tapi Rega tak bisa pulang cepat. Makanan di atas meja pun sudah terhidang.
"Bu, Pak. ayo makan." Ajaknya pada ibu dan ayah mertuanya yang sedang menonton TV.
Kulsum mendelik, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat.
"Rega belum pulang, mau main makan saja." Serunya ketus.
"mas Rega, lembur. katanya tak tahu pulang jam berapa." Jelas Mawar.
Marja pun bangun dari duduknya. Dia mengikuti Mawar kedapur, perutnya juga sudah sangat lapar. Kulsum pun berdecak lalu segera menyusul.
Mereka hanya bertiga saja, karena Helena pun belum kembali. Kulsum mengeryitkan keningnya melihat dua menu makanan di meja. Dia tak suka keduanya.
"apa ini? ibu tak bisa makan jika tak ada ayam." Ketusnya.
Marja yang sudah mulai makan pun langsung menggelengkan kepalanya.
"sudahlah Bu, makan saja. mantu kita sudah capek-capek menyiapkan semuanya."
"alah... bapak, ngomong kaya begitu karena doyan udang kaya Rega. lah...aku kan tak doyan pak. apalagi ini, sayuran apa ini. berair banyak sosis dan bakso juga. mana doyan aku pak." Kulsum mengurungkan niatnya untuk mengambil nasi.
Mawar hanya diam saja, tak peduli. Lagipula, dia lapar. Tak ingin acara makannya terganggu hanya karena ibu mertuanya yang tak ingin makan.
"ada ayam kan Mawar?" Tanya Kulsum.
Mawar mengunyah makanannya lalu menelannya dengan cepat.
"ada Bu, di kulkas."
"kamu masak sana. ibu lapar."
Mawar hendak berdiri tapi Marja dengan cepat menahannya.
"tak usah. kamu habiskan makan mu."
"bapak ini.!" Protes Kulsum.
Mawar melihat kedua mertuanya bergantian lalu kembali melanjutkan acara makannya. Dia lebih menuruti apa kata ayah mertuanya dan membuat Kulsum jengkel. Dengan kesal wanita tua itu pun pergi meninggalkan dapur.
"ibu tak makan kalau begitu dong." Seru Mawar.
"sudah biarkan saja. ibu itu sudah tua, biar masak sendiri kalau mau makan." Marja tak perduli sama sekali dengan istrinya.
Lagipula, menurutnya Mawar sudah sangat lelah pastinya mengurus semuanya. Dia sangat hafal dengan kepribadian istrinya yang selalu senang membuat orang susah. Meski jarang berada di rumah tapi dia tahu, jika menantunya pasti di perlakukan buruk oleh Kulsum.
__ADS_1
Mawar sungguh merasa senang, di rumah ini masih ada yang perduli dengannya. Marja memang sosok mertua yang baik.
...**************...