
Mawar sudah rapi dengan baju casual yang terlihat pas di tubuhnya yang mungil. Memang jika baru pertama kali melihatnya, tak akan menyangka jika saat ini usia wanita berparas baby face ini 25 tahun. Mawar terlihat 5 tahun lebih muda, mungkin karena bentuk tubuhnya juga yang mungil.
Saat di zaman sekolah dulu, banyak sekali teman-teman pria bahkan adik kelas dan kakak kelas mengejar cintanya. Tapi, hanya Rega lah yang bisa menarik perhatiannya.
"Sayang, kamu pasti bisa." Rena tersenyum lembut, tangannya mengelus kepala Mawar pelan.
"iya Bu. doakan semoga sidang perceraian ku dan mas Rega lancar."
"tentu saja, ibu dan ayah akan mengantarkanmu. semua bukti sudah kamu berikan itu pasti akan membuat sidang perceraian ini tak berlangsung lama." Optimisme yang di miliki Rena membuat Mawar pun jadi merasa semangat.
Ia sudah tak sabar ingin segera terbebas dari Rega. Menata hatinya kembali dan melupakan pria itu. Mawar tak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Rega yang amat matre itu.
"Bapak..." Gumam Mawar tiba-tiba mengingat ayah mertuanya.
Selama ini hanya Marja lah yang selalu membelanya di rumah itu. Ia jadi merindukan sosok ayah mertuanya, ingin sekali mengucapkan terimakasih karena telah baik selama menjadi mertuanya.
"Ayah, apa sudah siap?" Tanya Rena pada Ibnu yang masih berada di dalam kamarnya.
"ayo Mawar, kita tunggu ayah di mobil saja." Ajaknya.
Mawar dan Rena pun bergegas keluar lebih dulu. Keduanya sudah tak sabar ingin segera sampai ke pengadilan dan melihat wajah Rega yang menyesal karena telah menampakkan bunga anggrek demi bunga bangkai.
Ibnu sebenarnya sudah siap sedari tadi. Pria tua itu mengelap sudut matanya yang berair begitu mendengar panggilan istrinya. Hatinya bergemuruh hebat.
"Tuhan, ini hal yang paling menyakitkan bagi ku." Serunya dengan tangan bergetar.
Ibnu merasa perceraian Mawar adalah yang paling buruk baginya. Selama ini dia selalu berharap jika Mawar akan mendapatkan keluarga yang sempurna. Anak gadisnya akan tumbuh menjadi seorang ibu luar biasa seperti harapannya. Tapi, semua pupus. Belum genap setahun pernikahannya Mawar sudah menderita.
Baginya Mawar adalah segalanya. Putri yang paling di sayanginya di banding apapun.
"Ayah kok lama, sidangnya akan mulai satu jam lagi." Mawar duduk gusar di kursi belakang, ia tak mau keduluan olah Rega tiba di tempat itu.
"sabar sayang." Rena hendak keluar untuk memanggil Ibnu. "nah itu ayah." Baru saja akan membuka pintu mobilnya, Ibnu sudah keluar.
"Mas..." Rena melihat mata Ibnu yang sembab. Dia tahu, meski wajahnya garang dan nampak galak tapi hatinya begitu rapuh jika berhubungan dengan putrinya.
"Maaf ya, ayah tadi buang air besar dulu." Bohongnya.
Karena Mawar duduk di belakang, dia tak bisa melihat wajah sendu Ibnu. Sementara Rena, bisa melihat semuanya. Dengan cepat dia menggenggam tangan kanan suaminya.
"Mas baik-baik saja kan?" Tanya Rena pelan.
Ibnu tersenyum lalu segera melajukan mobilnya. Mawar terus berdoa disepanjang perjalanan, dia meminta agar sidang perceraian nya berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun.
Beda hal nya dengan Rega. Pria itu masih termenung di kamarnya, bahkan baju tidurnya masih melekat di tubuhnya. Sungguh, Rega tak sanggup untuk pergi ke pengadilan. Bagaimana jika dirinya kalah dalam persidangan. Rega tak bisa menerimanya. Ia tak bisa berpisah dengan Mawar.
__ADS_1
Tok... Tok...
Ketukan di pintu membuatnya tersadar dari lamunannya. Pintu terbuka sedikit, Helena menyembulkan kepalanya.
"Hei, kamu belum siap? sidangnya hari ini kan?" Ujar Helena mengingatkan.
Rega menghembuskan nafas kasar. Hari ini juga dia memiliki janji dengan Hani. Mereka akan berkunjung kerumah orangtua Hani untuk membicarakan soal pernikahannya.
Hatinya jadi semakin tak karuan. Di sisi lain dia tak ingin berpisah dengan Mawar tapi Hani pun tak mungkin dia tinggalkan, wanita itu tengah mengandung anaknya.
"Ayo Rega, biar cepat selesai. Nanti siang kita langsung kerumah calon mertuamu." Kulsum berteriak dari ruang tamu.
Wanita itu begitu bersemangat. Karena dia pikir perpisahan Rega dan Mawar akan membawakan keberuntungan baginya. Hani lebih royal juga berpenghasilan. Kulsum bisa bayangkan betapa akan bahagia nya nanti.
Dengan malas Rega pun segera beranjak dari duduknya. Berjalan gontai menuju kamar mandi yang memang ada di dalam kamarnya.
"Sudah siap belum anak itu?" Tanya Kulsum.
"baru mau mandi Bu." Helena menduduki kursi kosong di sebelahnya. "Bapak mana? dari pagi kok tak kelihatan?"
Kulsum hanya mengendikkan bahunya tak peduli. Lagipula sudah tak penting baginya mengurus pria itu. Ada Rega yang akan memenuhi segala kebutuhannya.
"ck...pasti Bapak ke ladang. kan bapak sangat sayang tuh sama Mawar. Sudah bisa di tebak, pasti bapak tak mau menyaksikan sidang itu." Celetuk Helena dengan bibir mencebik.
...**************...
Hani sungguh merasa bahagia sekarang. Dia tak sabar ingin cepat-cepat siang hari. Rasanya waktu bergulir dengan lambat hari ini.
"Aku akan pergi ke salon dulu. pokoknya acara nanti siang harus terasa spesial." Ujarnya.
Maria dan Gusna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri semata wayangnya yang nampak tak sabar. Hani memang sudah pulang lebih dulu, dia mempersiapkan segalanya untuk menyambut keluarga Rega.
"Mamih ikut ya?" Maria mengekor dari belakang..
"tentu Mih. pokoknya kita harus buat keluarga mas Rega takjub dengan kita." Hani merangkul lengan ibunya manja.
"iya sayang. pelan-pelan jalannya, kamu kan sedang hamil muda."
"iya mamih."
Keduanya pun bergegas pergi untuk mempercantik penampilannya. Hani ingin membuat Rega terpesona dengan kecantikannya nanti. Bahkan dia akan membeli baju baru untuk di kenakannya saat acara lamaran nanti siang.
Kebahagiaan bertambah saat mendapatkan pesan dari Rega. Pria itu mengatakan jika sidangnya akan segera di mulai. Tentu saja Hani berdoa semoga Rega dan istri pertamanya bercerai. Dengan begitu dia akan memiliki Rega seutuhnya tanpa takut terbagi kasih sayangnya.
"kenapa, kok senyum-senyum?" Maria melirik Hani yang sedang menyetir.
__ADS_1
"itu loh Mih, mas Rega hari ini akan ber..." Hani langsung menghentikan kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan bicara.
"ber apa?" Tanya Maria penasaran.
Hani langsung memutar otaknya, dia tak boleh sampai salah bicara atau ibunya akan marah besar dan memintanya untuk membatalkan semua rencananya.
"Bersiap Mih. katanya mas Rega dan ibunya sedang membeli beberapa oleh-oleh untuk kita." Bohongnya. Semoga saja Rega memang akan membawakan mereka buah tangan nanti. Hani sungguh merasa kaget sendiri dengan apa yang di ucapkannya.
Maria terkekeh. Dia ikut senang
mendengarnya. Ia merasa jika putrinya telah menemukan pria yang tepat. Di lihat dari wajah berseri Hani membuat Maria bersyukur. Akhirnya Hani bisa mendapatkan jodohnya.
...*************...
Mawar dan Rega duduk berdampingan di hadapan hakim agung. Tak ada raut tegang atau cemas yang di perlihatkan oleh Mawar. Berbeda dengan Rega, pria itu sudah berkeringat dingin saat semua bukti tentang perselingkuhannya di keluarkan. Tak ada lagi kesempatan untuk dirinya membela diri.
Kulsum dan Helena hanya diam menyaksikan. Berharap sidang segera selesai karena ruangan yang begitu panas membuatnya tak betah.
Banyak sekali pertanyaan yang ditanyakan pada Mawar. Mulai dari latar belakang gugatan cerai, alasan-alasan yang mendasarinya dan juga kesiapan bukti yang di ajukan.
Dengan tenang Mawar menjawab semuanya. Rena dan Ibnu sungguh tak menyangka jika putrinya yang selama ini manja bisa bersikap begitu tenang menghadapi pertanyaan hakim. Bahkan mereka saja sudah gugup hanya yang duduk saja.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya sidang pun berakhir dengan di menangkan oleh Mawar. Rega hanya bisa menundukkan kepalanya, airmatanya luruh begitu saja. Tak menyangka akan berakhir seperti ini.
Semua tak seperti yang dia harapkan, berharap bisa mengulur waktu tapi semua gagal karena apa yang telah Mawar lakukan. Wanita sungguh mempersiapkan segalanya dengan matang, menyiapkan saksi juga hal-hal yang begitu memberatkan Rega untuk membela dirinya.
"Akhirnya, selamat sayang." Rena tak bisa menahan air matanya. Mawar menang dengan begitu mudah.
Ibnu langsung mengajak keluarganya untuk pulang. Dia tak ingin berlama-lama di tempat ini karena ada Rega.
"Mawar tunggu..." Pekik Rega. Berusaha mengejar Mawar yang kini sudah masuk kedalam mobil.
Ibnu dengan cepat melajukan mobilnya.
"sudahlah Rega. lagipula kamu akan mendapatkan gantinya. Yang lebih dari wanita itu." Kulsum langsung menarik Rega menuju mobilnya di parkir.
"tapi Bu..."
"sudahlah." Kulsum masuk kedalam mobil di susul Helena. "Ayo masuk, kamu mau menyetir atau Helena yang menyetir?" Bentak Kulsum jengah karena Rega hanya diam saja.
"Bu, Rega sedang dalam mood yang buruk. mengertilah." Helena mencoba menengahi.
Rega pun hanya bisa menuruti apa kata ibunya. Meski semangatnya luntur dan sedang tak mood untuk menyetir tapi dia tetap paksakan.
...**************...
__ADS_1