
Mawar sungguh merasa kesal dengan keputusan Rega. Kenapa masih saja mengurusi kepentingan kakaknya, padahal itu bukan lagi menjadi tanggungjawab baginya. Mungkin Kulsum selaku ibunya, memang harus mendapatkan perhatian meski Rega sudah beristri. Itu pun selagi mampu. Mawar menjadi tak berselera untuk makan.
Ia hanya makan beberapa sendok saja lalu beranjak dari duduknya. Hal itu membuat Rega langsung menghentikan sarapannya juga.
"mawar, nasi mu masih banyak." Serunya.
"aku sudah kenyang mas." Jawab Mawar dengan datar lalu pergi meninggalkan keluarga Rega yang masih menikmati sarapannya.
Marja menghela nafas panjang. Melihat Rega yang sama sekali tak peka dengan keadaan istrinya. Ia pun ikut menyudahi sarapannya.
Tinggal Rega, Helena dan Kulsum yang tersisa. Mereka tetap makan tanpa mempedulikan Mawar ataupun Marja yang tak menghabiskan makanannya.
"Istri dan Bapak mu itu sama, buang-buang makanan saja." Oceh Kulsum melihat dua piring yang masih terisi penuh dengan nasi.
Kulsum pun ikut berdecak.
"iya, padahal Rega capek-capek cari uang. eeh...istri mu tak menghargainya. mungkin karena dia lahir dari keluarga kaya kali ya, jadi buang-buang makanan itu hal biasa."
Rega langsung melihat piring Mawar begitu mendengar perkataan Helena. Pria itu pun segera meneguk air lalu pergi untuk menemui Mawar. Merasa jika apa yang di katakan ibu dan kakaknya itu benar, kalau Mawar telah menyia-nyiakan makanan itu padahal dia sudah bekerja sangat keras demi mendapatkan itu semuanya.
"Mawar, mas mau bicara." Serunya begitu masuk kekamar.
Mawar yang sedang merias wajahnya langsung berbalik lalu tersenyum kecil. Ia baru selesai mandi.
"Apa mas?"
"kamu itu jangan bawa kebiasaanmu dari rumah. ini rumah ku dan ikut peraturan yang ada di sini." Tegas Rega.
Mawar mengeryitkan keningnya tak mengerti. Dia tak pernah melakukan kesalahan selama tinggal di sini, bahkan kebiasaannya bangun siang dan selalu berleha-leha di depan TV pun dia tinggalkan. Seharian hanya mengurus rumah dan melakukan apa yang minta mertuanya. Lalu kesalahan apa yang telah di lakukannya sepagi ini hingga Rega nampak kesal.
"maksud kamu apa mas?"
Rega menghembuskan nafas kasar.
"Mawar, aku tuh capek. berangkat pagi pulang sore demi memenuhi kebutuhan semuanya. tapi kamu dengan entengnya membuang makanan begitu saja. seharusnya kamu belajar hemat seperti ibu dan Helena."
Mawar langsung mengerti dengan apa yang di katakan Rega. Dia tak kalah sengit memandang wajah suaminya.
"oh..soal sarapan ku yang tak habis? hanya masalah itu jadi..."
"hanya? itu bukan hanya. aku beli makanan itu pakai uang Mawar." Sela Rega cepat.
Tak habis pikir, hanya karena makanan saja Rega bisa semarah ini. Mawar tak menyangka jika masalah sepele bisa jadi pertengkaran di pagi hari. Rega sungguh terlihat marah, pria itu menatap Mawar dengan tajam. Padahal selama berpacaran tak pernah sekalipun Rega membentak apalagi berbicara dengan suara yang begitu keras kepadanya.
Mawar mencoba untuk tidak menangis. Dia tak ingin terlihat lemah di depan Rega.
"aku akan ganti uang mu mas. Dan soal aku tak menghabiskan makanannya karena rasa lapar ku tiba-tiba hilang." Ujar Mawar. "ibu dan kakak mu seenaknya meminta uang padaku dan kamu menyetujui itu semuanya. Padahal mas tahu, kebutuhan rumah ini sangat besar. meski aku baru beberapa Minggu tinggal di sini tapi aku sudah menghitung semuanya. Listrik, PAM, belanja bulanan dan juga sehari-hari, belum lagi cicilan rumah ini. Semua itu lebih dari 5 juta mas, dan mas dengan entengnya bilang berikan saja karena di ATM ada uang lebih dari 5 juta."
Rega langsung terdiam mendengar Mawar yang berbicara begitu banyak tak seperti biasanya. Wanita itu pun mengambil ATM yang di simpannya di laci meja.
"ini...mas pegang saja sendiri. aku tak mau mengatur keuangan rumah ini jika begini caranya."
Melihat Mawar yang marah membuat Rega langsung merasa bersalah. Dia tak bermaksud begitu, ia hanya ingin memberi tahu Mawar saja jika buang-buang makanan itu tak baik.
"Mawar, mas minta maaf. tapi..."
"aku tahu mas. sudahlah, ini masih pagi tak baik bertengkar di pagi hari."
Helaan nafas Rega terdengar berat. Pria itu memandang kartu ATM yang minggu lalu dia berikan pada Mawar. Dengan cepat dia memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"sayang, mas tak bermaksud berkata begitu. ATM ini kamu simpan kembali ya? nanti kamu tarik tunai sebesar yang di pinta kak Helen dan untuk ibu, kamu berikan ibu uang ini saja." Rega mengeluarkan uang dari sakunya.
Mawar menerimanya tanpa banyak bicara. Ada 8 lembar uang merah di tangannya.
"semuanya untuk ibu?" Tanya Mawar memastikan.
"iya, nanti mas yang bilang pada ibu kalau uangnya hanya ada segitu."
Mawar pun mengangguk. Setelah itu Rega pun berangkat kerja. Pria itu merasa masalahnya sudah terselesaikan. Mawar memandang uang itu dengan perasaan tak menentu. Baginya memberikan apa yang di minta orangtua itu hal yang memang harus di lakukan. Tapi, apa jika sudah menikah dan kebutuhan yang lain belum terpenuhi apa juga harus mendahulukan kepentingan orangtua. Entahlah, Mawar juga tak terlalu mengerti dengan hal itu.
"Jika di ambil 400, uang di ATM sisa 5 juta 6 ratus. aku harus mengatur semuanya dengan baik." Cetus Mawar tak yakin.
Pasalnya, bulan ini dia belum membayar apapun dan juga belum membeli keperluan rumah lainnya.
...**************...
Hani tersenyum lebar saat melihat Rega berjalan menyusuri koridor kantor. Wanita berpakaian serba minim itu buru-buru mengejarnya.
"mas, tunggu!" Serunya.
Rega yang hendak masuk kedalam lift pun berbalik.
"ada apa?"
Hani langsung bergelayut manja di lengannya tanpa memikirkan jika di koridor banyak sekali karyawan lainnya. Rega pun langsung melepaskan tangan Hani. Dia tak mau reputasinya sebagai manager tercoreng gara-gara hal ini.
"jangan seperti ini, kamu bisa melakukan apapun saat di luar kantor." Ujar Rega setengah berbisik.
Hani mengerti. Wanita itu pun berjalan di sampingnya. Sama-sama masuk kedalam lift karena memang kantor mereka berada di lantai yang sama.
"ada apa mas? Kamu terlihat tak bersemangat." Tanya Hani sambil memperhatikan raut wajah Rega yang nampak lesu.
Ia akan buat Rega sadar jika dirinya telah menikahi orang yang salah.
"istri kenapa begitu? padahal kan itu ibu dan mbak mu. kenapa dia pelit sih." Hani menimpali cerita Rega dengan sangat baik.
Mencoba membangun image baik di hadapannya. Rega setuju dengan apa yang di katakan Hani.
"kamu benar. aku juga tak mengerti, kenapa mawar bisa begitu. dia keberatan aku memberi uang pada ibu dan mbak Helen."
Hani mengelus punggung Rega. Kesempatan ini akan dia manfaatkan dengan sangat baik.
"aneh sekali istri mu itu. kalau aku sih, tak perlu mikir dua kali. kalo mertua dan ipar minta uang atau apa saja langsung kasih saja. itu kan kewajiban kita sebagai seorang istri." Ujarnya membuat Rega semakin merasa jika Mawar memang tak sebaik yang dia pikirkan.
Mawar masih keberatan dengan apa yang di minta ibu dan kakaknya. Bahkan tadi pagi Mawar sampai tak menghabiskan makanannya karena merasa kesal kepada ibu dan kakaknya. Hal itu membuat Rega berpikir jika Mawar bukan istri yang baik.
Ting...
Pintu lift terbuka. Keduanya langsung keluar dan masuk keruangan masing-masing. Rega menghela nafas panjang. Ia harus menghubungi Helena dan bertanya apa Mawar memberikan uang itu atau tidak. Siapa tahu, Mawar mengurungkan niatnya dan memberikan sepeserpun pada ibu dan kakaknya itu.
"halo mbak..."
".........."
"tidak, aku hanya mau bertanya. apa istriku sudah memberikan uangnya atau belum?"
"............"
"ah..iya. aku akan hubungi mawar."
__ADS_1
Rega menutup telponnya. Helena mengatakan jika dia belum menerima uang itu dan saat ini Mawar sedang tak ada di rumah. Begitu Rega pergi kekantor, Mawar pun langsung berangkat ke pasar.
Dua kali di hubungi, Mawar tak kunjung mengangkatnya. Rega pun menyimpulkan kalau Mawar pasti sedang sibuk belanja sekarang. Ia akan tunggu satu jam lagi untuk menghubunginya.
Sementara itu, Mawar keluar dari angkutan umum. Ia tak membawa mobil karena mobil miliknya sudah menjadi milik Helena sekarang. Terpaksa Mawar pun naik angkutan umum untuk pergi ke pasar.
Menyerahkan uang ongkosnya lalu bergegas berjalan menuju ATM. Dia mengambil uang sisa membayar cicilan rumah. Sisanya hanya 3 juta saja. Mawar sudah bingung hanya dengan memikirkan untuk membeli apa saja.
"aku simpan dulu yang untuk mbak elen." Ujarnya, memisahkan uang 4 lembar kedalam dompetnya.
Mawar pun memutuskan untuk membeli kebutuhan dapur. Ia masuki toko sembako yang ada tak jauh di tempatnya mengambil uang.
"Mawar? kamu Mawar kan?" Seorang pria berbaju putih menghampirinya.
"i...iya. kamu...loh, Bayu. apa kabar?"
Mawar sungguh tak menyangka bisa bertemu dengan Bayu. Temannya saat di bangku SMP. Bayu adalah teman dekatnya waktu itu. Teman lelaki satu-satunya yang dekat dengan Mawar. Saat SMA, Bayu pindah keluar kota. Hingga mereka pun putus kontak.
"kamu sedang apa?" Tanya Bayu.
"biasa Bay. ibu rumah tangga nyari keperluan dapur." Jawab Mawar sembari tertawa kecil.
Bayu mengeryitkan keningnya.
"ibu rumah tangga?"
"iya. aku sudah menikah Bay. kamu bagaimana?"
Lelaki berwajah tampan itu pun mengangguk. Dia juga sudah menikah, satu tahun lalu. Sekarang istrinya tengah hamil muda dan ingin membeli buah segar. Sebagai seorang suami tentu, Bayu langsung sigap membelikannya.
"aku juga sudah. istri ku tengah hamil muda, baru 3 bulan."
"waahh...selamat ya, Bay." Mawar turut senang mendengarnya.
Helena menghentikan mobilnya saat tak sengaja melihat keberadaan Mawar. Wanita itu pun langsung keluar dari mobil. Ia curiga kalau adik iparnya itu ada main dengan pria di sebelahnya.
"Mawar, kamu sedang apa?" Tanyanya, matanya melirik Bayu penuh selidik.
"mbak elen. oh...iya, ini uangnya." Mawar langsung memberikan uang kepada Helena tanpa menjawab pertanyaannya.
"Oke. tapi...siapa pria ini?" Tanya Helena lagi.
"saya Bayu, mbak. teman Mawar." Jawab Bayu sopan.
Helena sama sekali tak menyambut uluran tangan Bayu. Wanita itu malah memutar matanya lalu pergi meninggalkan Mawar dan Bayu dengan gaya yang begitu angkuh.
"dia siapa?" Tanya Bayu.
"kakak iparku. Menyebalkan memang, tingkahnya sombong sekali." Seru Mawar.
Bayu hanya tersenyum mendengarnya.
"hampir lupa, aku harus belanja." Mawar baru ingat kalau dia belum membeli apapun.
Mereka pun berpisah di depan toko sembako. Mawar masuk kedalam toko sementara Bayu, pulang.
Helena masih saja memperhatikan gerak-gerik keduanya, begitu melihat Bayu yang pergi barulah dia pun melajukan mobilnya.
"awas saja jika Mawar main-main di belakang Rega." Cetusnya.
__ADS_1
...***************...