
Albion mengantarkan Mawar pulang. Pria itu merasa lega ketika melihat Mawar baik-baik saja meski tadi dia melihat mantan suaminya. Mungkin benar, jika Mawar kini sudah tak peduli dengan mereka. Jika begitu, itu sangat bagus.
"Sampai jumpa besok. restoran mu akan launching lusa bukan?" Tanya Albion, pria itu dengan penuh perasaan membantu Mawar turun dari mobilnya.
"iya. apa kamu akan datang?"
"tentu." Jawab Albion. "dan...Minggu depan, kamu sudah janji akan menemaniku pergi ke pesta pernikahan putri dari rekan bisnis ku. kamu ingat?"
Mawar mengangguk.
"bagus, besok asistenku akan mengirimkan gaun untukmu."
"gaun?"
Albion tersenyum lembut. Tangannya meraih tangan Mawar.
"Ya, kamu harus terlihat sangat cantik. aku sudah siapkan gaun yang cocok untukmu."
Mawar menelan ludahnya gugup. Selalu begitu, tatapan lembut Albion membuatnya menjadi gugup. Dengan cepat dia menarik tangannya.
"a...aku masuk. sampai jumpa." Ujarnya lalu segera berlari menuju kedalam.
Albion terkekeh pelan lalu masuk kedalam mobil. Sungguh tak pernah dia bayangkan sebelumnya kalau dirinya dan Mawar akan sedekat ini sekarang. Memang benar apa kata orang, jika jodoh pasti akan bertemu meski pun bertahun-tahun berpisah.
Mawar menghentikan langkahnya, mengintip sedikit dari balik pintu. Mobil Albion sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
Puk..
Tepukan ringan di bahunya membuat Mawar kaget. Wanita itu mengelus dadanya lalu menatap sang ibu penuh protes.
"sedang apa? seperti mengintip maling saja." Ejek Rena.
"ibu!" Protes Mawar.
Rena tertawa pelan. Di matanya Mawar masihlah putrinya kecil.
"Temanmu sudah pulang?" Rena melihat keluar.
"iya Bu. inikan sudah larut."
Keduanya memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi Rena belum bisa tidur jika belum mendengar cerita Mawar tentang makan malamnya tadi. Ia begitu penasaran, apa putrinya sudah benar-benar melupakan Rega dan berpindah haluan pada Albion.
"Bagaimana makan malam kalian? ibu rasa pasti menyenangkan."
__ADS_1
Mawar tersenyum lebar, tentu saja. Dia sangat menyukai makan malamnya bersama Albion tadi. Bukan hanya makanannya saja tapi juga suasananya sangat menyenangkan.
Melihat wajah berseri Mawar membuat Rena merasa bahagia. Mungkin benar Ibnu, kalau Albion pasti bisa menyembuhkan luka-luka di hati Mawar.
"Lain kali aku akan mengajak ibu dan ayah kesana. Restoran itu milik teman Albion. Hidangannya luar biasa Bu, aku seorang koki saja mengakui itu." Tuturnya.
"oh...ya,ibu jadi tak sabar."
"mm...oh..iya." Tiba-tiba raut wajahnya berubah. "Aku melihat mas Rega dan calon istrinya juga."
Rena mengelus punggung Mawar.
"apa kamu sedih?" Tanya Rena memastikan.
Mawar menggelengkan kepalanya cepat. Raut wajahnya kini kembali biasa saja.
"untuk apa sedih, mereka bukan urusanku." Ujarnya penuh penekanan.
Rena tersenyum. Berharap jika Mawar benar-benar bisa melupakan Rega secepatnya. Putrinya terlalu berharga untuk di sakiti oleh pria macam Rega.
"ini sudah sangat malam, kamu istirahat lah." Rena mengecup kening Mawar lalu beranjak dari duduknya. "ibu juga sudah mengantuk."
"iya Bu."
"semangat Mawar. kamu tak boleh terus memikirkan mas Rega. kamu harus melupakan pria itu." Ujarnya.
...**************...
Rega membantu Hani melepaskan sabuk pengamannya. Mereka baru saja tiba di rumah. Hani sudah tinggal di rumah Rega sejak seminggu ini. Itu semua atas keinginannya karena tak pernah mau jauh dari Rega.
Kulsum tak mempersalahkan itu semuanya, karena baginya hanya ada uang dan uang didalam pikirannya. Hani selalu memberikan uang juga barang-barang mahal, itu cukup untuk membuatnya menyetujui apapun yang di inginkan Hani.
Suasana rumah sudah sepi. Lampu ruang tamu bahkan sudah mati. Itu artinya Kulsum dan Helena sudah tidur.
"malam ini tidur di kamarku ya mas?" Rengek Hani.
"tapi...kalau ibu tahu bagaimana? sabar dulu, kita menikah minggu depan. setelah itu kamu bisa sepuasnya tidur denganku." Jawab Rega.
Hani menghentakkan kakinya.
"tapi..aku ingin di belai sekarang." Ujarnya dengan nada suara yang begitu manja.
Rega menelan ludahnya. Sudah lama juga mereka memang tak berhubungan, semenjak Hani pindah kerumah ini. Bagi Rega dan Hani yang memang memiliki hawa nafsu tinggi adalah hal yang mudah untuk menaikkan libido mereka.
__ADS_1
Tangan Hani merambat naik keatas. Dia membuka satu kancing bajunya lalu dengan centilnya menggoda Rega.
"apa mas tak rindu dengan ini?" Godanya.
Rega semakin tak bisa lagi menahannya. Pria itu langsung mengangkat tubuh Hani lalu membawanya masuk kedalam kamar. Dengan cepat dia menurunkan tubuh wanita itu keatas kasur.
"bagaimana dengan bayi di dalam sana?" Tanya Rega sebelum melancarkan aksinya.
"dia akan baik-baik saja." Hani mengelus perutnya yang sudah mulai terasa keras karena usia kandungannya semakin bertambah.
Rega pun langsung membuka seluruh bajunya dan hanya menyisakan ****** ******** saja. Hal yang sama pun Hani lakukan. Keduanya sangat panas sekarang.
"pemanasan dulu, aku ingin merasakan hal yang lain mas." Hani menahan tubuh Rega yang hendak menindihnya.
"hal lain?" Kening Rega mengerut tak mengerti.
Hani beranjak dari kasur. Berjalan menuju lemari pakaiannya lalu mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kotak berukuran sedang dia bawa kehadapan Rega.
"Apa ini?" Tanya Rega.
Hani mengeluar benda dari kotak itu. Rega tercengang melihatnya, sebuah alat bantu bagi seorang wanita. Ukurannya lebih besar dari miliknya. Ia menatap Hani meminta penjelasan, bagaimana wanita ini memiliki benda seperti ini. Kapan Hani membelinya.
"ini milikku dari dulu, aku selalu memuaskan diri dengan ini sambil membayangkan mu mas." Ujarnya dengan tanpa malu sedikit pun.
Rega mengambil benda itu lalu menekan tombol on.
"oh...ini bergetar." Serunya takjub. Baru kali ini dia melihat secara jelasnya.
"ayo mas, lakukan pemanasan dengan itu dulu." Pinta Hani sembari membaringkan tubuhnya.
Rega pun mengikuti keinginan calon istrinya. Dia menarik ****** ***** Hani lalu mengarahkan benda itu. Mata Hani terpejam di buatnya.
"tapi bagaimana caramu memuaskan ku?" Tanya Rega.
Hani membuka matanya. Wanita itu kehabisan akal, dia tersenyum lebar lalu segera menggantikan posisinya.
Malam yang begitu panas dan penuh gairah cinta itu memenuhi ruangan kamar kedap suara. Hani dan Rega benar-benar bercinta dengan sangat liar.
Helena menggigit bibirnya. Dia tahu apa yang sedang di lakukan Rega dan Hani di dalam sana. Saat mereka masuk kekamar tadi Helena melihatnya karena memang baru saja kembali dari dapur.
"Kenapa aku merasa jijik sekarang. Hani seperti wanita murahan." Ujarnya.
Tapi dia juga bingung bagaimana jika memberitahu Kulsum. Helena yakin ibunya pasti akan lebih membela Hani di bandingkan dirinya. Maka Helena pun memilih untuk pura-pura tidak mengetahui segalanya.
__ADS_1
...**************...