Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 24


__ADS_3

Rega tak bisa diam saja begitu mendapatkan surat gugatan cerai dari Mawar. Dia tak ingin berpisah dengannya. Dengan cepat Rega mengambil kunci mobilnya lalu segera melesat pergi. Tak memperdulikan Hani yang berteriak memanggilnya.


"mas...mas Rega." Hani berusaha mengejarnya tapi tak berhasil.


Rega sudah pergi dengan mobilnya. Pria itu nampak gusar juga cemas. Hani bisa melihat itu dari gelagatnya. Tangannya mengepal kuat. Meski dia selalu berkata tak masalah menjadi yang kedua tapi melihat Rega begitu mempertahankan cintanya kepada Mawar membuat hatinya terasa cemburu. Hani tak mau jika Rega nanti membatalkan pernikahannya karena wanita itu.


"Sudah jangan cemas, masuklah kembali." Ajak Kulsum. "Elen, bawa Hani kedalam kamar. biarkan dia istirahat."


Helena lalu segera mengajaknya kekamar. Hani diam saja, pikirannya bercabang antara harus mengikuti Rega atau tetap diam di sini menunggunya.


"Mawar tak akan mencabut gugatannya. aku tahu dia wanita macam apa." Seru Helena.


Hani melihatnya dengan kening berkerut.


"jadi... Mbak setuju kalau aku menikah dengan mas Rega?"


"tentu saja. asal..." Helena tersenyum penuh arti.


Sementara itu Rega langsung menuju rumah Mawar. Dia akan melakukan apapun termasuk berlutut di kakinya jika perlu supaya Mawar mau membatalkan gugatannya. Hidupnya bisa hampa jika harus berpisah dengan wanita yang selama ini selalu menemaninya.


Perjalanan 4 jam terasa sangat lama, Rega bahkan menginjak pedal gasnya supaya lebih cepat lagi. Dia harus segera tiba tak ingin mengulur waktu.


Begitu tiba di kediaman orangtua Mawar, tanpa rasa malu sedikit pun Rega langsung masuk begitu saja sambil berteriak-teriak memanggil nama Mawar.


"Mawar...ini mas. kamu di mana?" Rega terus berjalan menuju kamar Mawar.


"Pak, saya mohon. jangan membuat keributan. ibu dan tuan sedang beristirahat." Cegah Pak Sadono, satpam di rumah Mawar.


Dia nampak kewalahan karena Rega sulit sekali di hentikan. Bahkan pria itu terus menepis tangan Sadono dengan kasar.


"jangan kurang ajar, aku istri dari tuan mu." Bentak Rega, sambil mendorong tubuh yang lebih kecil darinya itu.


Brugh..


Sadono tak bisa menahan tubuhnya sehingga ambruk kelantai. Meringis sakit karena sikunya cukup keras terbentur ke ujung meja.


"ada apa ini?" Seru Ibnu, matanya menatap tajam Rega penuh amarah.


"anu.. Pak.." Sadono segera bangkit. "Pak Rega memaksa masuk."


Ibnu berjalan mendekati Rega yang kini diam. Menantunya atau calon mantan menantu baginya itu terlihat sangat menyebalkan di matanya. Sore-sore datang kerumah dan membuat keributan, sungguh hal yang tak beretika sama sekali.


"Pak Sadono kembali saja, biar saya yang urus." Titanya.

__ADS_1


"Baik Pak Ibnu." Sadono pun segera kembali ke pos tempatnya berjaga.


Para PRT yang berjumlah 3 orang itu pun langsung kembali melakukan pekerjaannya setelah melihat kedatangan Ibnu.


Rega sama sekali tak menundukkan pandangannya.


"Ayah, aku ingin bertemu Mawar."


"sampai kapanpun aku tak akan membiarkan mu bertemu dengannya. pergi dari sini." Usirnya.


"ku mohon ayah, aku ingin bertemu Mawar. aku tak mau bercerai dengannya. aku mencintainya." Rega hendak menyentuh kaki Ibnu tapi dengan cepat Ibnu memundurkan tubuhnya.


"Aku tak sudi di panggil ayah oleh mu dan ingat..." Ibnu menatap Rega dengan tajam. "hubungan putri ku dan dirimu sudah selesai. Pergilah." Ujarnya dengan bentakan di akhir kalimatnya.


"ayah..."


"atau mau aku hubungi polisi dan melaporkan mu karena telah membuat keributan di rumah ku?" Desis Ibnu penuh ancaman.


Rega menelan ludahnya. Ibnu tak pernah main-main dengan ucapannya. Maka dengan cepat Rega pun keluar dari rumah itu. Sungguh tak berdaya saat berhadapan dengan ayah mertuanya. Ibnu terlalu sulit untuk di ajak bicara.


Sementara itu, Rena masih berada di dalam kamar. Dia baru saja menghubungi Mawar untuk tidak pulang dulu, memberitahu jika Rega ada di sini. Rena tak ingin Mawar bertemu dengan Rega, maka ia akan mencegah hal itu terjadi.


...************...


"uang ini untuk beli apa saja?" Tanya Helena, ada 10 lembar uang berwarna merah di tangannya saat ini.


"apa saja, untuk makan malam. mas Rega juga sedang di jalan." Ujar Hani yang baru saja mendapatkan pesan dari Rega kalau dia sedang dalam perjalanan pulang.


Helena pun langsung mengutak-atik ponselnya, memesan makanan secara online. Tak tanggung-tanggung, Helena memesan banyak sekali makanan dengan harga yang tak main-main.


Marja yang baru kembali dari ladang di buat kaget saat melihat istrinya tengah berbicara dengan seorang wanita muda. Pria itu nampak marah saat tahu jika wanita muda itu adalah selingkuh Rega.


"Jadi kamu hamil berapa bulan sekarang?" Tanya Kulsum, seolah tak mempermasalahkan soal kehamilan Hani yang di luar nikah.


"belum genap satu bulan. Makanya aku ingin cepat-cepat menikah dengan mas Rega. orangtuaku juga sudah mengetahui semuanya." Jelas Hani.


"lalu bagaimana pendapat mereka?"


"mamih dan Papih sangat senang saat tahu mas Rega lah calon ayah dari bayi ini." Hani tersenyum sambil mengelus perutnya yang rata. "Mamih mengenal mas Rega, karena dulu pernah jadi wali kelas di sekolah mas Rega. aku dan mas Rega satu kelas saat SMP."


"tetap saja itu salah, apa orangtua mu tak peduli dengan status calon menantunya?" Sambung Marja, matanya menatap tajam kedua wanita di hadapannya.


"Bapak apaan sih, jangan ikut campur urusan wanita." Seru Kulsum.

__ADS_1


Marja menghembuskan nafas kasar.


"ini bukan hanya urusan wanita, tapi urusan keluarga." Tegas Marja. "Rega itu sudah memiliki istri dan kamu masih menggodanya? di mana hati nuranimu?"


Mendapatkan pertanyaan seperti itu Hani hanya bisa menunduk. Marja membuatnya takut, wajahnya yang sangat garang itu membuat Hani tak berani mengangkat wajahnya.


Kulsum berdecak kesal dengan sikap Marja. Suaminya bisa menggagalkan rencananya. Wanita tua itu berpikir jika Rega sampai menikah dengan Hani maka pemasukannya tiap bulan akan sangat menguntungkan. Mawar yang akan mengurus segala keperluan rumah dan Hani akan memberikan uang padanya. Hanya membayangkannya saja membuat Kulsum senang. Masa tuanya akan sangat bahagia jika seperti itu.


"Bapak diam saja." Desisnya. "lagipula tak ada yang minta pendapat bapak di sini."


Marja mendengus lalu pergi menuju kamar. Ia tak ingin berdebat lagi karena terlalu lelah seharian berada di ladang.


Helena pun meletakkan ponselnya, saking fokusnya ia tak tahu apa yang terjadi antara Kulsum dan Marja.


"bapak kenapa Bu?" Tanya Helena heran melihat Marja yang masuk kekamar dengan wajah masam.


"biasa, sudah kamu pesan makanannya?"


"beres, tinggal menunggu nunggu saja."


Hani menggigit bibirnya. Bagaimana jika ayah Rega menentang hubungan mereka.


"Ibu, ayah mas Rega sepertinya tak menyukai ku?" Cicit Hani ketakutan.


"ck.. sudah jangan di pikirkan." Seru Kulsum.


Hani terdiam sejenak untuk mengatur deru jantungnya. Rupanya dia ketakutan dengan Marja.


Di lain tempat, Mawar tengah gusar. Makanan yang di pesannya hanya di aduk tanpa berminat untuk di makan. Rena memberitahunya jika Rega membuat keributan di rumah.


"kemana mas Rega yang dulu." Gumamnya tak percaya.


Rega adalah sosok pemuda yang santun, pintar juga mudah bergaul. Semua orang menyukainya. Di mata Mawar, Rega adalah pria yang sempurna. Tak hanya berhati lembut tapi juga sangat baik terhadap siapapun. Makanya dia begitu mencintainya. Berangan-angan menikah dengan Rega saat masih zaman sekolah dulu. Tapi, kenapa sekarang Rega berbanding terbalik.


Sikapnya kadang kasar juga tak peduli dengan keadaannya. Dua bulan menikah dengannya membuat Mawar melihat sikap asli pria itu seperti apa.


"Mbak, boleh gabung?" Suara seorang pria masuk ke indra pendengarannya.


Mawar mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak melihat siapa yang berdiri di depan nya.


Senyum mengembang di bibir pria itu. Tapi sorot matanya sangat menakutkan. Mawar sampai bergidik sendiri. Bagaimana ada orang yang begitu menakutkan seperti ini, tersenyum manis tapi nampak menyeramkan.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2