
Seminggu sudah berlalu, Mawar memblokir semua kontak keluarga Rega. Ia lakukan untuk menghindari perdebatan tentu saja. Sehari setelah kedatangan Rega dan Marja saja, Helena sudah menerornya dengan banyak sekali chat melalui Wa. Wanita itu meminta Mawar mengembalikan mobilnya dan mengatakan jika barang yang sudah di berikan itu tak baik di ambil kembali, hanya akan membawa sial.
Di tambah lagi, Kulsum sang mertua. Wanita itu mengirim pesan yang penuh dengan ancaman. Dia marah karena dirinya tak terima Rega di buat terluka waktu itu.
Semua menjadi seolah salahnya. Mawar di pojokan seperti itu oleh keluarga Rega. Hanya Marja saja yang membelanya. Pria itu sama sekali tak membentak apa yang telah Rega lakukan.
"Mawar, kenapa bengong di sini." Rena mengelus kepalanya. Melihat putrinya yang selalu diam membuatnya jadi khawatir.
Sebelum menikah Mawar itu sangat ceria. Selalu berceloteh panjang dan tak pernah terlihat begitu buruk seperti ini. Bahkan sedang sakit pun, wanita cantik itu selalu tak mau diam. Bernyanyi-nyanyi sambil seolah tak ada yang di rasakan.
Tapi, sekarang. Mawar lebih banyak diam. Setiap hari hanya akan duduk termenung di dekat jendela kamarnya. Matanya menatap keluar, entah apa yang di pandangnya.
"Bu, antar Mawar besok ya?"
"kemana?"
"Mawar akan menggugat cerai mas Rega." Kerongkongannya terasa tercekat mengatakan itu. Berat rasanya harus berpisah dengan pria yang sangat di cintainya.
Tapi Mawar bisa apa. Ia juga tak mungkin mempertahankan lagi rumah tangganya yang jelas sudah di ambang kehancuran. Kenyataan pahit itu tak bisa di terima olehnya. Apalagi saat tahu jika selingkuhan Rega tengah hamil saat ini. Mawar tak bisa menerima itu semuanya.
Rena pun langsung memeluk tubuh Mawar dari samping. Dia ikut merasakan kesedihannya.
"kamu yang kuat ya, sayang." Serunya.
Ibnu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Melihat putrinya yang begitu rapuh dan terluka. Selama ini dia selalu berusaha membahagiakan Mawar. Sebisa mungkin memenuhi keinginannya tanpa membuat putrinya itu kecewa. Tapi, dengan beraninya Rega menyakiti hati Mawar. Seenaknya berbuat tanpa berpikir. Ibnu bersumpah, tak akan membiarkan siapapun yang telah melukai putrinya hidup bahagia.
"Kita makan dulu. Dari pagi kamu belum makan apapun." Ajak Rena.
Mawar pun perlahan bangkit dari duduknya. Tubuhnya bergeming saat melihat Ibnu berdiri di depan pintu kamarnya.
"ayah..."
"ayo, kita makan malam." Ibnu mendekati Mawar. Menuntunnya keluar dari kamar.
__ADS_1
Mawar sangat bersyukur, di saat dia tengah rapuh dan terluka. Kedua orangtuanya selalu ada di sampingnya. Rena dan Ibnu tak pernah lelah menghibur dirinya. Bahkan Ibnu sampai menawarkan Mawar untuk pergi berlibur keluar negeri.
Sementara itu, Rega setiap hari di landa kecemasan. Dia takut tiba-tiba datang surat dari pengadilan agama. Di tambah lagi, Hani yang terus merengek memintanya untuk menemui kedua orangtuanya.
Kegusaran Rega semakin bertambah karena Hani mengatakan jika orangtuanya meminta mereka untuk menikah bulan ini juga.
"Ayolah mas. aku sudah janji pada Papih akan mengajakmu minggu ini menemui mereka." Hani merenggut di tempatnya.
Rega mengacak rambutnya dengan gusar. Bagaimana bisa dia menikah bulan ini dengan Hani. Sementara hubungannya dengan Mawar saja belum ada kepastian. Apa mereka akan bersama sekali atau tidak. Jika tidak pun, akan ada perjalanan panjang yang menunggu.
Perceraian tak semudah yang di bayangkan. Harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu.
"tak bisakah kamu bilang pada orangtua mu. kalau aku sedang sibuk bekerja." Seru Rega. Kepalanya berdenyut sakit melihat tingkah Hani yang menurutnya sangat mengesalkan.
Setidaknya dia baru sadar, jika Hani sangat manja dan juga tak sesabar Mawar. Kenapa baru sekarang dia melihat sikap Hani seperti ini. Rasa sesal pun tak bisa di elakkan lagi.
"tidak bisa mas. perut ku bisa makin besar nanti. Mamih dan Papih ku tak akan tinggal diam, lihat saja." Ancam Hani.
Hani keluar dengan kesal. Membanting pintu keras hingga membuat Rega harus memejamkan matanya. Pria itu memijat pelipisnya. Sungguh, Hani menambah pusing saja.
...*****************...
Bagas mengeryitkan keningnya saat mencoba menghubungi Mawar, nomornya tak aktif. Sudah dua hari ini sulit sekali di hubungi. Padahal ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"kemana sih?" Bagas menghela nafas. Dia ingin menemui Mawar kerumahnya tapi ragu.
Takut bertemu dengan Rega. Rasanya tak siap jika harus bertemu dengan pria yang telah merebut cintanya. Sampai saat ini rupanya Bagas saja menyimpan rasa pada Hani. Dia berharap dengan ketahuannya perselingkuhan Hani dan Rega, hubungan mereka akan membaik.
Hani putus dari Rega karena telah di pergoki istri sahnya. Lalu Bagas akan dengan senang menerima pelariannya. Tapi, nyatanya salah. Hani dan Rega masih saja bersama. Bagas jadi penasaran, bagaimana dengan Mawar. Jika kedua orang ini masih bersama lalu Mawar?
"Bagas." Seruan seseorang dari belakangnya membuat pria itu langsung menoleh.
Tersenyum tipis saat melihat Hani berjalan kearahnya.
__ADS_1
"ada apa? kenapa kusut sekali?" Tanya Bagas.
Hani mendesah keras. Terlihat jika dirinya tengah resah saat ini.
"terjadi sesuatu?" Tanya Rega lagi.
"ya...aku bingung sekali." Ucap Hani.
Bagas langsung mengajak wanita itu duduk. Meski hatinya terluka karena telah di tolak dan mengetahui kenyataan jika Hani telah melakukan hal buruk dengan memacari suami orang, tapi bagi Bagas itu bukan hal besar. Dia bisa menerima itu semuanya. Bodoh memang, tapi bukankah cinta memang seperti itu.
"katakan, ada apa? Seminggu ini kamu seperti tak bersemangat."
Hani menarik nafas dalam-dalam. Dia tatap Bagas dengan tajam.
"aku tidak tahu apa hubunganmu dengan istri mas Rega. Saat kamu bertanya apa bisa merekam adegan panas ku dengan mas Rega untuk istrinya, aku bersedia. Karena aku berpikir dengan cara itu aku dan mas Rega pasti akan secepatnya bersatu. Termasuk saat kamu memberitahu jika istri mas Rega ingin bertemu denganku. aku pun setuju. karena aku pikir itu cara mempercepat hubungan ini bersatu. Tapi apa..." Hani mengepalkan tangannya. Sementara Bagas hanya diam mendengarkannya.
"Mas Rega masih saja menunda pernikahan dengan ku. Padahal di sini sudah ada..."
"kamu hamil?" Sela Bagas. Bagaimana terhujam ribuan silet. Bagas sangat terkejut, dia tak mengira jika hal ini akan terjadi.
Hani mengangguk pelan.
"ya, usianya satu mau satu bulan."
Hati Bagas hancur. Dia tak pernah bayangkan akan hal ini. Jika Hani hamil itu artinya hubungannya dengan Rega tak akan putus begitu saja. Ia pun sadar sekarang, kenapa Mawar sulit di hubungi. Wanita itu pasti tengah hancur sekarang. Ada rasa simpati di sana, Bagas merasa kasihan pada Mawar.
"kenapa kamu begitu tega?" Gumam Bagas.
"aku mencintai mas Rega, hanya ini jalan untuk mempertahankan cintaku." Hani bersikukuh jika apa yang di lakukannya adalah benar.
Bagas terdiam. Ada rasa kecewa menelusup kedalam hatinya.
...*************...
__ADS_1