
Hani benar-benar senang saat hasil USG menunjukkan jika perkembangan bayinya sangat bagus. Sehat dan juga tak ada masalah apapun. Di sampingnya Helena duduk dengan gusar, kesepuluh jari nya bertautan. Matanya melirik kesana-kemari seolah sedang mengawasi seseorang saja.
"Sudah selesai, aku mau pulang." Sahut Hani seraya memasukan foto hasil USG kedalam tas kecilnya.
Helena dengan cepat menarik tangannya. Wanita 30 tahun lebih itu menatap Hani penuh harap.
"kenapa Mbak?"
"begini....kamu duduklah dulu." Helena memintanya untuk kembali duduk.
Dengan terpaksa Hani pun duduk. Keningnya terus mengerut menatap wajah gusar Helena.
"Kenapa sih Mbak? mau USG juga?" Tebak Hani yang langsung di jawab Helena dengan gelengan kepala nya.
"Lalu apa?" Tanya Hani mulai tak sabar. Dia sudah ingin pulang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Rasanya begitu lelah setelah menyetir dan harus mengantri untuk USG.
"Begini...di klinik ini bisa menggugurkan kandungan tidak?" Bisik Helena amat pelan, takut jika pasien lain mendengarnya.
Mata Hani mendelik sempurna. Bagaimana bisa kakak iparnya berpikir seperti itu, apa dia tak punya perasaan sama sekali sehingga berniat untuk membunuh janin yang belum genap sebulan itu. Dengan cepat Hani berdiri dan menolak permintaan Helena.
"Aku tak tahu Mbak, lagipula itu berbahaya." Serunya sambil terus berjalan meninggalkan Helena.
Helena mengejarnya dengan cepat lalu mensejajarkan langkahnya.
"Hei...aku tidak bisa mempertahankan janin ini. kamu tahu kan aku belum menikah, ibu bisa marah besar."
Hani menghentakkan kakinya lalu semakin mempercepat langkahnya. Baginya menggugurkan kandungan bukanlah hal yang pantas di lakukan oleh seorang perempuan. Dia tak akan menyetujui permintaan Helena meski wanita itu terus memohon.
"Kamu mau tanggung jawab dengan bayi ini?" Teriak Helena.
"mbak dengar ya, itu sudah menjadi resiko mbak. siapa pria yang telah melakukan itu dengan mbak, maka minta dia buat tanggung jawab."
Mendengar perkataan Hani semakin membuat Helena bertambah bingung. Justru karena dia tak tahu siapa ayah dari anak yang tengah di kandungnya ini. Malam itu, dia terlalu mabuk sehingga tak sadar dengan apa yang telah dilakukan nya. Begitu bangun, sudah ada seorang pria di sampingnya.
__ADS_1
Pria itu sungguh asing, Helena tak mengenalnya sama sekali. Ketika ingin bertanya siapa namanya, pria berwajah bule itu tak memperdulikan dirinya dan pergi begitu saja. Tanpa jejak sedikitpun. Helena kehilangan siapa pria itu.
"sudahlah Mbak, kita pulang saja. lebih baik mbak jujur pada ibu dan mas Rega." Tutur Hani.
"bicara memang gampang. Kalau kamu ada di posisiku bagaimana?" Hardik Helena yang tak terima karena Hani seperti menganggap remeh masalah nya.
Hani mendengus lalu menatap Helena dengan tajam.
"aku juga hamil duluan bahkan mas Rega waktu itu memiliki istri. tapi, Aku melakukan semuanya dengan mudah, berpikirlah mbak. Gunakan otakmu." Ledek Hani. Lalu wanita hamil itu masuk kedalam mobilnya.
Helena pun hanya bisa menahan rasa kesalnya lalu ikut masuk. Di perjalanan pulang keduanya hanya saling diam.
...**************...
Mawar menggelengkan kepalanya menolak permintaan Albion yang menurutnya sangat tidak pantas dia lakukan. Pria tampan itu hanya tersenyum lalu menuruti apa yang di inginkan Mawar.
"Hanya sebentar saja tapi kamu tak mau." Keluhan Albion membuat Mawar tertawa kecil.
Dengan cepat Mawar mengapit tangan kanan Albion.
"aku ini seorang janda, pernah menikah. Rasanya tak pantas jika memakai pakaian seragam sekolah. meski hanya untuk foto saja."
Baru juga melangkah dari pintu toko menuju parkiran, hujan telah turun dengan lebat. Dengan sigap Albion membuka jasnya lalu mencoba untuk melindungi tubuh Mawar dan dirinya dari tetesan air hujan. Meski sebenarnya percuma, karena keduanya tetap saja basah.
"Baju ku basah semua." Mawar mengambil tisu begitu sampai di dalam mobil. Ia lap wajahnya yang basah.
Albion meliriknya untuk melihat tapi tanpa sengaja pandanganya tertuju tepat pada dada Mawar. Baju yang di pakainya terlalu mengekspos kulit putihnya, sehingga hal itu membuat Albion harus menelan ludahnya.
Air hujan yang membasahi tubuh Mawar nampak menggoda di mata Albion. Tanpa sadar Albion terus menatapnya tanpa berkedip.
"Al...apa yang..." Mawar menundukkan kepalanya untuk melihat apa yang tengah di perhatikan Albion. "kamu... apaan sih Al."
Dengan cepat Mawar menyilangkan tangannya di depan dadanya. Hal itu membuat Albion langsung salah tingkah karena ketahuan tengah memperhatikannya.
Pria itu memalingkan wajahnya kearah lain, wajahnya memerah dan desiran di dadanya berdegup amat kencang. Bagaimana juga dia pria normal, tak mungkin jika tak tergoda melihat hal itu.
__ADS_1
"maaf...tapi... maafkan aku Mawar." Albion merasa sangat bodoh. "Tapi, aku seorang pria."
Mawar menggigit bibirnya, dia tahu maksud dari kalimat aku seorang pria. Ya, Albion pasti tergoda. Dengan cepat Mawar mengambil jas Albion lalu ia tutupi badannya.
"Seharusnya aku tak memakai baju seperti ini." Cicit Mawar.
Albion menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Mencoba untuk mengatur detakan jantungnya dan meredam libido nya agar tak melakukan hal buruk terhadap wanita yang sangat di cintainya ini.
"bukan salah mu, aku saja yang tak bisa menjaga pandangan." Kekehnya. "Tapi, jika kita sudah menikah nanti aku akan membelikan baju-baju dinas yang bagus untuk mu."
"Al..." Pekik Mawar dengan wajah semakin memerah.
Albion selalu saja membuatnya sangat malu. Tapi, justru dengan perkataan Albion yang seperti itu membuat suasana kembali mencair. Mawar dan Albion tak lagi merasakan kecanggungan.
"Albion..." Mawar menyentuh tangan Albion.
"ya?"
Mawar menarik nafas panjang lalu menatap Albion dengan ragu. Wanita berparas cantik itu perlahan mendekatkan wajahnya.
Cup..
Sebuah kecupan manis dia berikan. Albion menyentuh pipinya lalu tersenyum kecil, dengan cepat dia menahan tubuh Mawar agar tak menjauh. Sengaja mematikan kembali mesin mobilnya.
"Kamu menggodaku?" Albion menempelkan keningnya di kening Mawar.
"a....aku...aku..." Mawar gelagapan.
Perlahan Albion mendekatkan wajahnya, dapat dia rasakan tubuh Mawar menegang. Tapi, melihat Mawar yang memejamkan matanya membuat Albion semakin mengikis jarak di antara mereka.
Mawar menelan ludahnya saat bibirnya terasa begitu dingin. Albion mengecupnya lembut.
"Al..." Saat akan protes Albion justru memanfaatkan hal itu.
Dengan cepat dia mel*mat bibir Mawar. Menciumnya dengan intens.
__ADS_1
Mawar meremas bahu Albion. Sungguh, ini terlalu panas dan membuat Mawar tak bisa berpikir dengan jernih. Wanita itu semakin memejamkan matanya erat saat pinggangnya di remas kuat oleh Albion. Keduanya begitu terbuai dan melupakan jika saat ini mereka tengah berada di dalam mobil.
...**************...