Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 63


__ADS_3

Mawar dan Albion pun tiba di tempat yang di sebutkan Helena. Wanita itu sungguh terlihat sangat buruk, seperti baru saja di aniaya seseorang.


"Mbak, apa yang terjadi?" Tanya Mawar.


Helena langsung menghampiri Mawar dan menghambur kedalam pelukannya. Ia menangis sangat keras hingga Mawar pun hanya bisa diam membiarkan Helena menumpahkan segalanya dalam tangis.


Sementara Albion langsung meminta penjelasan pada security yang ada di sana.


"Mbak ini datang kemari untuk menemui pria yang telah memperk*Sanya, begitu yang saya tahu. Tapi, pria itu ternyata sudah beristri dan di pukullah Mbak ini oleh istri pria itu. Tapi saya juga kurang begitu tahu karena tak terlalu banyak yang dia ceritakan." Jelas security bernama Bagio itu dengan sopan.


Albion mengangguk mengerti lalu segera mendekati Mawar.


"kenapa meminta bantuan Mawar, ini masalah mu bukan?" Tanya Albion tajam pada Helena.


Helena langsung melepaskan pelukannya. Mendengar pertanyaan Albion membuat Helena langsung menghentikan tangisnya. Wanita itu meraih tangan Mawar.


"Mbak tahu kamu bukan siapa-siapa mbak sekarang. tapi hanya kamu yang bisa mintai pertolongan." Ujarnya dengan suara tertahan.


Albion tak setuju akan itu. Lagipula masalah yang di hadapi Helena sama sekali tak ada urusannya dengan Mawar.


"memangnya Mbak punya masalah apa?" Tanya Mawar penasaran.


Helena ragu untuk mengatakannya. Merasa malu dan juga takut Mawar menolaknya untuk membantunya. Melihat Helena yang tetap diam membuat Albion tak sabar. Ia pun segera meminta security di sana untuk mengatakan semuanya. Helena hanya bisa menundukkan kepalanya malu.


"iya semua memang salah mbak. mbak tahu kalau pria itu sudah menikah tapi..." Helena menatap Mawar dengan ragu. "waktu itu Mbak mabuk dan dia juga. jadilah hal seperti itu."


Mawar menjadi bingung sendiri mendengar cerita Helena. Hanya menangkap beberapa saja yang ia mengerti.


"jadi... maksudnya Mbak hamil?" Tanya Mawar hati-hati.


Albion pun terkejut lalu memandang wanita yang kini tertunduk itu. Dengan begitu Albion semakin yakin untuk tidak membuat Mawar terlibat dalam skandal Helena ini. Apalagi pria yang memiliki hubungan dengan kakak Rega itu seorang pria beristri.


"Jangan libatkan Mawar kalau begitu. kamu urus masalah mu sendiri." Tutur Albion dengan emosi. Ia tak suka karena Helena menyeret Mawar yang tak tahu apa-apa kedalam masalah nya. Bagaimana jika Mawar ikut di lukai juga nanti.


"Pak, aku mohon bantulah. bayiku sudah tiada, aku hanya ingin pria itu menderita seperti yang aku rasakan saat ini." Isak Helena.


Mawar dan Albion semakin bertambah kaget mendengar pernyataan Helena.

__ADS_1


"jadi... Mbak mau menyeret pria itu ke penjara? atas apa?" Mawar tak yakin bisa membantu, masalah Helena terlalu rumit jika dipikir-pikir.


"tentu saja karena telah memperk*saku." Tegas Helena.


Albion berdecih merasa lucu dengan pengakuan Helena. Tak mungkin semudah itu membuat laporan tentang seseorang, harus ada bukti. Lagipula mendengar dari ceritanya saja itu bukanlah pemerk*saan tapi sebuah kesepakatan. Bagaimana bisa Helena berpikir jika dirinya di lecehkan sementara dia juga tengah mabuk malam itu. Bisa-bisa polisi saja tertawa mendengarnya. Itu sama saja dengan mereka melakukan hubungan tanpa keterpaksaan atau bisa di katakan saling suka satu sama lain.


"aku tetap tidak mengizinkan Mawar. Ayo Mawar sebaiknya kita pulang." Ajak Albion, dengan cepat menarik Mawar lalu memaksanya untuk masuk kedalam mobil.


Helena mengejarnya, ia pegang kaki Albion.Bersimpuh di hadapannya meminta belas kasihan.


"ku mohon tolong aku."


Mawar sebenarnya tak tega tapi dia juga tak bisa membantah Albion. Maka dia hanya bisa diam di dalam mobil melihat Helena yang meminta bantuan pada Albion.


...***************...


Rega berulang kali mengumpat. Dia ingin sekali menghabisi Albion saat ini. Jika saja tak memiliki kewajiban untuk menjaga Hani dan Helena maka sudah dipastikan pria itu kini tengah keluyuran di jalanan menenangkan pikirannya. Dengan malas Rega mengintip ke ruangan Helena, melihat ranjangnya yang kosong tak membuatnya cemas. Dia berpikir mungkin kakaknya tengah berada di kamar mandi.


"Haaah.... melelahkan sekali." Gerutunya. Belum memikirkan soal biaya yang begitu besar. Rega baru membayarnya setengah, dia bingung harus mencari tambahannya kemana lagi. Sementara menghubungi Mawar saja sulit, padahal dia hanya ingin meminta uang saja.


"Mbak mu sudah tidur?" Suara Kulsum mengagetkannya.


"ada apa Bu?"


"kamu sudah bayar biayanya?" Bukannya menjawab Kulsum malah menanyakan soal pembayaran biaya rumah sakit.


Rega menghembuskan nafas kasar.


"baru setengah. aku dapat uang dari mana Bu, kerja saja tidak. heran deh melamar pekerjaan sulit sekali seolah tuhan menutup jalan rezeki ku." Keluh nya.


Kulsum mendengus.


"sudah ibu katakan bukan, hubungi orangtua Hani dan mintalah uang dari mereka."


"tapi Bu..."


"ibu tak mau dengar kata tapi... kamu kasih tahu ibunya atau ayahnya katakan jika..."

__ADS_1


"tidak perlu." Sela seseorang tiba-tiba.


Rega dan Kulsum pun langsung berbalik untuk melihat siapa yang telah menyela pembicaraan mereka. Maria dan Gusna berdiri tepat di samping mereka, keduanya sepertinya tak mendengar percakapan awal mereka. Hanya kata-kata terakhir yang mereka dengar.


"kami sudah di sini. mana Hani?" Tanya Maria dengan sangat cemas.


Rega dan Kulsum saling pandang. Mereka merasa sangat terkejut kenapa Maria dan Gusna tiba-tiba ada di sini padahal Rega belum memberitahu mereka tentang keadaan Hani saat ini.


"Rega, Hani menelpon ibu tadi. katakan di mana kamar Hani?" Tanya Maria lagi.


"oh...iya, di sebelah sini." Ajak Rega dengan sedikit canggung. Pasalnya Gusna tak bersuara sama sekali dan hanya diam dengan pandangan yang begitu dingin.


Ceklek...


Pintu terbuka, Hani rupanya sudah tertidur. Wanita itu sama sekali tak menyadari bahwa orangtuanya kini telah datang.


Maria tak kuasa menahan tangisnya. Tangannya perlahan terangkat menyentuh kening Hani.


"Hani, kenapa kamu seperti ini nak." Isaknya.


Maria sungguh sedih melihat keadaan Hani saat ini. Wajahnya begitu tirus dan tubuhnya sangat kurus. Dulu Hani sangat menjaga penampilannya, hampir setiap bulan dia melakukan perawatan kecantikan. Tapi sekarang putrinya terlihat sangat tak terurus. Kulit wajahnya saja sangat kusam.


Gusna melihat Rega lalu meminta pria itu untuk ikut dengannya. Dengan ragu ia pun mengikuti langkah mertuanya keluar dari ruangan.


Sementara Kulsum berusaha untuk menutupi segalanya dari Maria. Dia tak ingin Maria tahu jika selama ini Hani diperlakukan tak baik di rumahnya.


"semenjak kalian mengusirnya dan tak mengakuinya sebagai putri lagi, Hani sangat depresi." Ujarnya.


Maria menatap Kulsum.


"apa itu benar?"


"iya, Hani jadi pendiam bahkan jarang makan. padahal tengah hamil. Kami semua sudah membujuknya bahkan aku sebagai mertuanya selalu mengatakan jika semua akan baik-baik saja." Kulsum semakin menambahkan kebohongannya.


Maria jadi merasa sangat bersalah. Dia tak tahu jika Hani akan seperti ini.


Kulsum terus saja mengatakan kebohongan kepada Maria, tanpa dia tahu jika Hani sebenarnya sudah terbangun. Wanita itu pura-pura masih tertidur demi mendengar apa yang di katakan Kulsum. Tangannya terkepal erat di dalam selimut, sungguh Hani sangat ingin menyangkal semua itu tapi dia tak tahu jika semua akan percuma karena Kulsum sepertinya akan sulit di hadapi.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2