Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 69


__ADS_3

Rena menatap Maria dengan tak percaya. Jadi, Maria adalah mertua Rega sekarang. Wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Mawar yaitu Hani putri Maria. Kenapa semua menjadi begitu rumit. Meski Mawar dan Rega sudah tak ada hubungannya lagi tapi tetap saja kenyataan ini membuat Rena tak bisa menerimanya.


Dulu hubungannya dengan Ibnu hampir saja putus tengah jalan akibat ulah Maria. Dan sampai saat ini Rena belum bisa sepenuhnya memaafkan Maria.


"Memang benar apa kata pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya."


"maafkan aku dan putriku. kami benar-benar sudah bersalah padamu dan Mawar."


Rena mengibaskan tangannya. Dia tak bisa memaafkan kedua wanita yang telah menorehkan luka di hatinya. Dengan cepat Rena pun pergi tanpa memperdulikan Maria yang masih berusaha untuk meminta ampunan darinya.


"enak saja minta maaf. Hati putri ku hancur karena anaknya. keterlaluan sekali." Gerutu Rena.


Maria menghela nafas panjang. Hubungannya dengan Rena memang tak akan pernah bisa membaik. Kesalahannya di masa lalu telah meninggalkan jejak yang buruk baginya.


Mawar menoleh saat pintu kamar di buka. Ibunya sudah kembali dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"ibu..."


"Mawar, jika nanti wanita itu meminta mu untuk...apa saja, pokoknya jangan pernah melakukan apapun untuknya." Seru Rena memperingati.


Mawar mengeryit. Dia ingin bertanya alasan untuk itu tapi hatinya memilih untuk diam. Melihat Rena yang tak bersahabat membuatnya berpikir jika ibunya dan Maria memang memiliki masalah. Hubungan keduanya memang tak baik.


"iya Bu. aku minta maaf." Seru Mawar.


"mmm... sebaiknya kamu pulang saja. ibu akan menjaga ayah, nanti kembali bersama Albion."


"iya. aku juga ingin berganti baju dulu."


Mawar berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelan. Beberapa kali menghela nafas panjang saat mengingat kejadian di rumah dan di kantor polisi tadi. Sungguh tak pernah sekalipun berpikir jika Rega akan melakukan hal yang begitu nekat.


Dia berani melukai ayahnya dan berkoar memintanya untuk kembali. Apa pria itu benar-benar sudah kehilangan rasa waras nya atau memang Rega memiliki sikap seperti itu dari dulu. Hanya saja Mawar tak pernah tahu karena Rega pintar menyembunyikan segalanya.


Langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat Maria tengah berdiri di ujung koridor. Wanita itu tersenyum padanya.


"Tante, belum pulang?" Tanya Mawar sopan.


"iya, Tante menunggu putri dan suami Tante."


"oh...kalau begitu, aku pulang dulu ya."

__ADS_1


"tunggu..." Maria mencekal lengan Mawar.


Mawar mengerutkan keningnya saat tangannya di genggam erat oleh Maria. Baru saja akan bertanya tiba-tiba Hani dan Gusna tiba. Mawar memicing matanya begitu juga dengan Hani. Keduanya sama-sama bingung saat Maria menarik Hani mendekat.


"Mamih..."


"Tante..."


Mawar dan Hani saling tatap, merasa bingung dengan tindakan Maria.


"Tante ada apa ini? Wanita ini..."


"Hani, putri Tante." Jawab Maria.


Mawar langsung menarik tangannya dengan cepat. Hani hanya diam, mungkin ini yang di maksud ayahnya dia harus mengakui segala perbuatannya dan meminta maaf pada seseorang. Hani langsung mendekati Mawar.


"Mawar...maafkan aku jika selama ini telah bersikap terlalu sombong padamu." Ujarnya. "tapi...aku sadar, bahwa mas Rega tak pernah mencintaiku. Mas Rega hanya mencintaimu. Apapun yang aku lakukan tak pernah benar dimatanya."


Mawar memalingkan wajahnya. Dia sudah tak ingin lagi membahas apapun yang berhubungan dengan Rega. Baginya pria itu sudah tak ada lagi di dalam hidupnya.


"Hani, minta maaflah." Titah Gusna.


"Ya, lagipula Mawar akan menjadi istri ku."


Semua mata langsung tertuju pada Albion yang baru saja tiba. Pria itu langsung menyela dengan cepat. Dia tak ingin Hani ataupun yang lainnya mengatakan hal-hal yang bisa membuat Mawar berubah pikiran dengan apa yang telah menjadi keputusannya.


"Al..." Mawar berlari mendekati Albion.


Albion tersenyum, mengelus kepala Mawar dengan lembut. Hani yang melihat itu hanya diam. Dia tahu, wanita yang baik pasti akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Mawar sudah menunjukkan segalanya, bahwa dirinya memang lebih baik darinya. Hani merasa malu akan itu.


...**************...


Helena sungguh tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Masa depannya sudah hancur. Dia tak bisa menanggung beban beratnya seorang diri. Hanya satu pilihannya untuk membuat semuanya selesai.


Tangannya menggenggam besi panjang sepanjang jembatan. Air keruh dan bergelombang besar itu seakan melambai memintanya untuk mendekat.


"hei...ada yang mau bunuh diri..." Teriak seseorang.


Jembatan panjang yang mulanya sepi itu kini telah di kerumuni banyak orang. Helena memejamkan matanya menikmati teriakan orang-orang yang memintanya untuk kembali turun ke jalan. Tapi, wanita itu terlalu buntu untuk berpikir, semuanya sudah menjadi jalan curam tanpa batas.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan memang pantas?" Seorang pria bertopi hitam mendekat lalu memegangi tangan Helena.


Matanya menyorot tajam dengan senyum tulus yang membuat Helena seakan tertarik dari alam bawah sadarnya.


"kamu..."


Sementara di kantor polisi, Rega tengah mengumpat habis-habisan karena dia telah kalah dari Albion. Tak ada lagi kesempatan baginya untuk mendapatkan Mawar sekarang.


Dan hal berbeda pun terjadi pada Kulsum. Wanita itu masih berada di rumah sakit dengan keadaan sangat bingung. Biaya rumah sakit Helena sama sekali tak di bayarkan oleh Gusna. Mereka meninggalkannya begitu saja tanpa sepeserpun uang. Belum lagi dirinya masih cemas dengan keadaan Helena juga Rega. Kedua anaknya belum ada kabar sama sekali.


...**************...


"Jadi...kalian akan menikah bulan depan?" Hani dan Mawar rupanya sudah bisa menerima kenyataan masing-masing.


Hani bahkan merasa jika dirinya memang pantas mendapatkan semua ini. Anaknya yang telah tiada, suaminya di penjara dan sekarang dirinya harus memilih jalan agar bisa bangkit kembali.


"Iya, lalu bagaimana rencanamu kedepan nya?" Tanya Mawar.


"entahlah, aku masih istri sah mas Rega. jadi..." Hani menghela nafas panjang. "aku pasti akan menjenguknya dulu di penjara nanti. setelah itu baru aku akan pikirkan kedepannya."


Mawar melihat perut Hani. Sebenarnya dia masih penasaran karena dulu Rega sempat marah padanya meminta dirinya mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tak pernah ia lakukan sama sekali. Ia ingin tahu apa penyebab Hani sampai bisa keguguran.


"Lalu... bagaimana kamu keguguran?" Pertanyaan Mawar tak hanya membuat Hani terdiam. Tetapi wanita itu langsung melihat kearah Maria dan Gusna.


Sejujurnya dia ingin mengatakan semuanya, hanya saja apa itu jalan yang benar. Bagaimana jika Gusna dan Maria menuntun Rega nanti. Bagaimana pun dirinya masih memiliki sedikit rasa pada pria itu.


"itu...aku terjatuh." Jawabnya agak sedikit tergagap. Mawar tak percaya begitu saja.


"lalu kenapa Rega meminta ku untuk bertanggung jawab atas apa yang menimpa mu? apa benar kamu terjatuh atau memang ada hubungannya dengan ku?"


"sudahlah Mawar. sebaiknya kita pulang saja." Albion menyentuh bahu Mawar, dia tak ingin jika Mawar semakin memojokkan lawan bicara. Bukan karena tak ingin tahu kenyataannya hanya saja melihat wajah Hani yang begitu panik membuat Albion merasa jika semuanya sudah cukup.


"mmm...iya. maaf jika aku terlalu banyak bertanya."


"iya tak apa." Hani tersenyum canggung.


Gusna sebenarnya merasa penasaran juga. Firasatnya mengatakan jika Hani memang menyembunyikan sesuatu darinya.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2