Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 50


__ADS_3

Maria langsung memasang wajah biasa, dia tak akan mengumbar kejelekan putrinya di sini. Di tambah lagi, jika benar Mawar adalah wanita yang bersama Albion waktu itu, bisa sangat malu dirinya. Dulu, dirinya menggoda Ibnu dan sekarang putrinya menggoda suami Mawar. Sungguh Maria tak bisa menahan rasa sesaknya di dada. Kenapa Hani harus mengulang kesalahannya di masa lalu.


"oh... sepertinya Tante salah lihat. kalau begitu, selamat bersenang-senang Rena dan Ibnu." Serunya lalu pergi meninggalkan ketiganya yang masih berdiri tak mengerti.


"kenapa Tante Maria terlihat kaku begitu?" Tanya Mawar.


Ibnu langsung menarik kedua wanita kesayangannya itu ke arah temannya yang lain. Dia tak ingin membasah Maria ataupun yang lainnya untuk saat ini.


Maria mungkin berbicara dengan yang lain, tapi matanya tak lepas dari ketiga orang yang menarik perhatiannya. Rena dan Ibnu nampak bahagia, meski usia keduanya tak lagi muda tapi mereka masih nampak romantis. Di tambah lagi kehadiran Mawar di sana, benar-benar keluarga sempurna.


Tanpa sadar Maria mengepalkan tangannya. Ada rasa iri di dalam hatinya. Kenapa Rena lebih beruntung di banding dirinya. Dari dulu Rena selalu berada di depannya. Bahkan sekarang pun, kehidupan rumah tangganya begitu bahagia. Tak seperti dirinya, hanya menghadapi kesukaran dan rasa sakit saja. Apalagi atas apa yang telah Hani lakukan, tak ada lagi keharmonisan di dalam rumah tangganya.


Puk..


Tepukan di bahunya mengejutkan Maria dari lamunannya.


"benar, kamu Maria. apa kabar?" Seorang wanita berbaju sangat modis menyapanya.


"Early?"


"ya...siapa lagi!" Seru wanita itu.


Maria pun langsung memeluknya, Early adalah teman dekatnya saat di sekolah dulu. Hanya Early lah yang tak menyalahkan atau menjauhinya di saat hubungan antara dirinya dan Ibnu terbongkar. Justru Early selalu berada di sampingnya.


"dimana suami dan anakmu? aku dengar kamu menikah dengan pengusaha kaya raya." Goda Early.


Maria hanya tersenyum tipis saja. Sepertinya dia harus segera keluar dari keadaan seperti ini. Ia tak ingin ada temannya yang lain bertanya tentang putrinya atau yang lainnya. Maria tak mungkin berbohong terus-menerus.


"aku mau ke toilet sebentar." Ujarnya mencoba menghindari Early.


"ok, aku akan kesana. menyapa Rena dan ibnu."


Maria mengangguk. Early memang tak pernah berpihak pada siapapun. Dia wanita yang netral, berteman dengan siapa saja dan tak pernah memprovokasi di antara yang lainnya.


Mawar mendesah keras, baginya reuni yang di adakan sekolah orangtuanya ini sungguh tak menyenangkan. Lagu yang diputar pun hanya lagi tempo dulu.


Rena yang melihat rasa bosan di wajah putrinya langsung menghentikan obrolan nya dengan para teman nya.


"Mawar, jika kamu mau pulang duluan tak apa. ibu dan ayah masih lama."


"apa boleh bu?" Tanya Mawar.


"tentu saja."


"oke, aku pulang ya." Mawar langsung beranjak dari duduknya. Seperti mendapatkan hadiah saja, dia begitu senang rasanya bisa keluar dari kerumunan pada orang-orang yang lanjut usia itu.


Begitu tiba diparkiran dia teringat akan Albion. Melihat jam tangannya, sebentar lagi makan siang tiba. Maka dengan cepat Mawar merogoh tas kecilnya. Ia akan mengajak Albion makan siang sekarang.

__ADS_1


...*******************...


Hani mendengus melihat Rega yang sedang tertidur begitu pulas nya. Pria itu mengajaknya untuk bersiap-siap karena hari ini jadwal Hani untuk periksa kandungannya. Tapi, begitu Hani selesai Rega malah tertidur.


"mas, ayo bangun." Hani mengguncang lengan Rega cukup keras agar pria itu langsung terbangun.


"eeuummm...aku mengantuk." Gumam Rega lalu berbalik membelakangi Hani.


"mas, kita harus segera berangkat. kamu bilang ingin temani aku untuk periksa sekarang." Suara Hani meninggi karena kesal.


Rega hanya membuka matanya lalu menatap Hani dengan tajam. Tak suka karena tidurnya di ganggu.


"kamu masih bisa kan pergi sendiri. ganggu saja." Bentaknya.


"apa kamu bilang?" Hani memandang Rega tak percaya.


Pria yang selalu terlihat baik juga penuh perhatian terhadap lawan jenis itu sekarang menunjukkan sisi buruknya. Dulu, Rega itu sangat di sukai para siswi karena pria itu sangat ramah juga tak pernah sedikitpun melakukan hal buruk terhadap para temannya. Saat pertama bertemu lagi pun, Rega tak pernah terlihat buruk. Itulah sebabnya kenapa Hani begitu menginginkan pria itu. Rela berkorban dan melakukan apapun untuk memiliki nya, tapi setelah apa yang dia inginkan bisa tercapai justru Rega malah bersikap seperti ini.


Hani tak pernah membayangkan jika Rega akan memperlakukannya dengan begitu buruk. Saat dirinya tengah hamil pun pria itu sama sekali tak pedulikan diri nya.


"jangan manja Hani. kamu hanya hamil saja, lagipula usia kandungan mu belum tua." Seru Rega sambil menarik selimut dan melanjutkan tidur siangnya.


Wajah Hani mengeras mendengar itu semua. Dengan marah dia keluar dari kamar, membanting pintu dengan cukup keras. Sehingga Kulsum dan Helena yang tengah berada di ruang tamu pun terlonjak kaget.


"Ada apa dengannya?" Tanya Kulsum pada Helena.


"mana aku tahu Bu. bertengkar mungkin dengan Rega."


Helena hanya memutar matanya malas, lagipula salah Kulsum sendiri yang menyetujui pernikahan kedua Rega. Wanita itu pun berdiri lalu pergi meninggalkan Kulsum yang terus mengomel. Wanita tua itu tak akan berhenti mengomel jika terus di aminkan.


"Hani, tunggu..." Helena menahan Hani yang akan memasuki mobil Rega.


"Aku ikut." Serunya lagi.


Hani mengerutkan keningnya. Lalu mengendikkan bahunya tak peduli, membiarkan Helena masuk kedalam mobil.


"Mobilmu kapan di perbaiki?" Tanya Helena.


Hani menyalakan mesin mobilnya lalu segera melesat pergi. Dia tak menjawab pertanyaan Helena sama sekali membuat wanita yang lebih tua itu mendengus kesal.


...**************...


Albion tersenyum mendapati Mawar ada di lobi kantornya. Wanita itu nampak cantik sekali, dengan cepat Albion menghampirinya. Sekarang dia bukan lagi teman, tapi kekasih. Membuat Albion pun tak ragu untuk memeluk Mawar meski di lobi itu banyak sekali karyawan yang tengah berlalu lalang.


"Al.." Mawar hendak mendorong tubuh pria itu karena malu.


Tapi dengan kuat Albion memeluknya, bahkan pria itu mengecup bahu Mawar yang terekspos.

__ADS_1


"Lain kali pakai baju yang seperti ini di saat kita berdua saja." Goda pria itu yang di balas pukulan keras di lengannya.


"jangan macam-macam deh, ayo kita makan." Mawar berjalan lebih dulu, dia kesal karena Albion selalu saja mengumbar kemesraan di mana pun.


Pria itu mencium, memeluk dan bahkan melontarkan kata-kata mesumnya di tempat umum. Seolah tak ada orang lain saja di sekitar mereka.


Tapi, justru itulah yang membuat Mawar merasakan perbedaan antara Albion dan Rega.


Mawar memilih sebuah cafetaria yang tak jauh dari kantor Albion. Wanita itu dengan semangat memilih menu makan siangnya, bahkan tak membiarkan Albion untuk memesan.


"Siang ini aku yang traktir dan tentu kan menunya." Seru Mawar tak bisa di ganggu gugat.


Albion hanya mengangguk saja, dia tak akan protes selagi Mawar senang dengan apa yang di lakukannya. Pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan. Sambil menunggu makanan mereka tiba, Albion tak hentinya menggoda Mawar.


Matanya menatap kearah Mawar, tepatnya belahan di depannya yang nampak terlihat jelas. Pria itu membuka jas nya lalu dengan cepat memakaikannya kepada sang kekasih.


"kenapa memakai baju seperti ini." Serunya dengan nada suara dingin.


Mawar mendongakkan kepalanya untuk melihat Albion yang tengah berdiri di belakangnya. Pria itu menatapnya begitu dalam dan tajam.


"ini pilihan ibu." Jawab Mawar yang tak bohong. Memang Rena lah yang memilih bajunya sebelum pergi ke acara reuni tadi.


Karena ibunya bilang baju ini sangat pantas dan Mawar terlihat begitu cantik. Albion kembali duduk di kursinya lalu mendesah pelan.


Dia akui, baju yang di kenakan Mawar sangat cocok bagi wanita itu. Hanya saja, itu sedikit terbuka. Bahunya yang putih terekspos dan bisa di lihat semua orang. Apalagi bagian dadanya, belahannya begitu jelas sekali terlihat. Albion tak rela jika tubuh Mawar di saksikan oleh mata pria lain.


"Lain kali pakai yang tertutup. aku tak mau tubuh mu di lihat pria lain." Cetusnya membuat Mawar langsung merona.


Mengigit bibirnya kecil lalu mengangguk pelan.


"jangan gigit bibir mu seperti itu." Seru Albion lagi.


Mawar langsung menautkan alisnya dan tak lagi menggigit bibirnya.


"kenapa?" Tanyanya.


"membuatku ingin mencium bibir mu." Jawab Albion dengan tenang.


Mawar hendak protes tapi makanan yang di pesan mereka telah datang. Maka wanita itu pun menyimpan protes nya dan langsung menikmati makan siangnya dengan lahap. Sesekali Mawar melirik Albion, pria itu makan dengan tenang. Matanya tak lepas dari nya,terus menatap Mawar dengan penuh perhatian.


Tentu saja hal itu membuat Mawar langsung menghentikan kunyahannya.


"Al, kenapa terus memandang wajah ku?"


Albion tak menjawab, pria itu mengangkat tangannya lalu dengan perlahan mengusap sudut bibir Mawar yang terkena noda saos dengan ibu jarinya. Dengan gerakan begitu lembut dan sangat perhatian. Albion kemudian menarik tangannya dan menjilat jempolnya, hal itu tentu membuat Mawar langsung malu setengah mati.


"enak, ku rasa lebih enak jika langsung dari bibir mu." Albion mengedipkan mata kanannya.

__ADS_1


Mawar langsung menunduk menahan rasa malu. Wajahnya sudah merah dan jantung nya berdetak tak beraturan. Makan siang yang begitu mendebarkan, Albion benar-benar membuatnya salah tingkah.


...***************...


__ADS_2