
Rega mulai merasa putus asa karena Mawar tak kunjung keluar juga. Pria itu dengan berat hati melangkah menuju mobilnya yang terparkir di belakangnya. Dengan langkah gontai dia berjalan, perasaannya begitu kecewa. Dia pikir Rena melarang Mawar untuk keluar dan memintanya untuk tetap berada di dalam.
Baru saja akan membuat pintu mobil, gerakan tangan Rega terhenti saat sebuah mobil putih berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Mawar. Matanya memicing saat melihat seorang pria yang begitu dia kenal keluar dari mobil.
"Albion...kenapa dia.." Tenggorokan nya tercekat saat melihat Mawar keluar dari mobil.
Dengan langkah cepat dia menghampiri kedua orang itu.
"Mawar..."
"jangan dekati kekasih ku!" Cegah Albion, dia menarik tangan Mawar sehingga Rega gagal untuk menyentuhnya.
Kening Rega berkerut tak senang. Wajahnya memerah menahan kesal melihat tangan Mawar yang di genggam erat oleh Albion.
"Lepaskan!" Serunya dengan nada dingin. Dia hendak merebut Mawar tapi Albion dengan sigap menahannya.
Tubuh Albion lebih tinggi dan juga nampak kekar di banding Rega saat ini. Terlalu banyak perubahan pada diri Albion membuat Rega menghentikan langkahnya. Pria itu tak suka saat ada yang lebih baik daripada dirinya.
Dari dulu Albion selalu berada di bawahnya kenapa sekarang justru satu langkah lebih maju darinya.
"Mas, kita sudah tak ada hubungannya lagi. untuk apa kemari?" Tanya Mawar.
Rega menghela nafas panjang. Dia sungguh menyesal telah mengkhianati wanita sebaik Mawar. Kini dia sadar jika Hani sangatlah jauh dari Mawar. Kenapa dulu dia begitu tergoda dengan wanita itu dan menutup matanya terhadap istrinya sendiri. Hanya karena sebuah pelayanan di atas ranjang saja membuat Rega tega berkhianat.
"aku ingin kita memperbaiki segalanya. aku tahu, kamu masih mencintaiku kan?" Rega menatap wajah Mawar dengan pandangan penuh harap.
Tangan Mawar yang di genggam Albion pun terlepas. Wanita itu menghembuskan nafas kasar.
Melihat wajah memelas Rega saat ini membuatnya ilfill. Kenapa dia harus sadar sekarang, jika Rega itu amat sangat menyebalkan. Tak memiliki rasa malu sedikitpun.
"Maaf, tapi bagiku semua sudah selesai. Al, ayo masuk." Ajak Mawar.
Rega mengepalkan tangannya. Dia tarik kerah baju Albion dengan sangat kuat.
"Kamu berani sekali merebut Mawar dari ku." Desis nya.
"Mas, apa yang..." Mawar menghentikan ucapannya saat Albion mengisyaratkan untuk tetap diam.
"Kamu masuklah, biar aku urus di sini." Titahnya. Mawar mengangguk dengan ragu, ia pun masuk kedalam meninggalkan dua pria itu.
__ADS_1
Albion menepis tangan Rega. Dia tak akan lagi kalah ataupun tunduk pada pria di hadapannya. Mungkin dulu Rega nampak begitu menakutkan baginya, tapi sekarang pria ini tak ada apa-apanya. Rega telah kalah dan tertinggal jauh darinya.
"Dulu...aku begitu pengecut kalah dari mu. tapi sekarang aku beritahu dirimu..." Albion menunjuk dada Rega dengan jarinya. "Kamu tak ada apa-apanya. Jabatan ataupun kekuasaan kamu berada jauh di belakang ku."
Rega tak terima itu meski memang benar adanya. Dia kalah di saat seperti ini sungguh tak bisa di terima.
"Jangan senang dulu,di hati Mawar hanya ada satu nama pria. yaitu aku." Tekan Rega dengan begitu percaya diri. "aku cinta pertamanya, ingat itu."
Albion terkekeh mendengarnya.
"itu dulu, sekarang kamu hanya pecundang di matanya."
Merasa tak terima dengan ucapan Albion maka dengan kesal Rega pun melayangkan pukulan ke arah pria itu. Tapi sayang sekali, Albion kini tak selambat dulu. Dengan cepat dia menghindar dan menyerang balik. Satu pukulan di perut Rega membuat pria itu langsung terhuyung.
"aku tak selemah dulu." Desis Albion lalu meninggalkan Rega yang kini meringis menahan sakit di perutnya.
Mawar dan Rena langsung berlari menghampiri Albion. Kedua nampak khawatir.
"Al, mas Rega tak melukaimu kan?" Tanya Mawar khawatir.
"kamu baik-baik saja?" Rena pun tak kalah khawatirnya.
"aku baik-baik saja." Ujarnya sambil tertawa renyah.
Rega yang melihat semua itu hanya bisa menahan rasa kesalnya. Dengan penuh amarah dia masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman Mawar.
"Br*ngsek. lihat saja akan aku balas."
...****************...
"Mbak, apa yang terjadi?" Hani sangat terkejut saat pintu kamar Helena akhirnya terbuka.
Helena terbaring di atas kasur dengan wajah pucat dan tubuh yang bergetar hebat. Wajahnya nampak menahan rasa sakit. Kedua tangannya menekan perut bagian bawahnya.
"H..hhaanni... tolong aku."
"a..apa yang harus aku lakukan. ibu dan mas Rega tak ada dirumah." Panik Hani.
Dengan cepat dia berlari keluar rumah, mungkin meminta bantuan tetangga adalah hal yang paling tepat untuk saat ini.
__ADS_1
"Tolong...Tolong..." Teriaknya di depan teras rumahnya.
Teriakannya berhasil menyita perhatian beberapa warga. Tak lama mereka pun berkumpul dan bertanya ada apa. Hani menjelaskan semuanya pada mereka. Tiga orang pria pun masuk kedalam dan langsung menggotong tubuh Helena. Sementara warga lain memanggil ambulans.
Hani berterima kasih lalu segera membawa Helena kerumah sakit. Di perjalanan dia terus menghubungi Kulsum juga Rega.
"hei, tadi ada darah di kasurnya? apa yang tengah Helena derita."
"iya, dia juga nampak begitu kesakitan."
"apa jangan-jangan..."
"hussss... sudahlah jangan bergosip."
Para tetangga yang tadi menolong Helena merasa ada yang janggal dengan wanita itu. Tapi, mereka buru-buru pergi saat salah seorang dari mereka memotong pembicaraan.
Helena langsung di tangani para perawat. Hani yakin jika kakak iparnya pasti telah melakukan sesuatu dengan kehamilan sehingga mengalami pendarahan seperti itu.
"Hani, dimana Helen?" Kulsum tergopoh-gopoh menghampiri Hani.
"ibu... syukurlah ibu sudah datang. Mbak Helen sedang di tangani dokter."
Kulsum menghela nafas panjang lalu duduk di samping menantunya.
"sebenarnya apa yang terjadi? Helen itu jarang sekali sakit."
"Ibu akan tahu saat dokter telah selesai memeriksa Mbak." Hani tak berani mengatakan jika Helena pendarahan. Dia tak ingin mertuanya terkejut dan terjadi sesuatu nanti.
"lalu Rega, dimana dia?"
Hani menggelengkan kepalanya. Rega tak bisa di hubungi. Mungkin memang benar pria itu tengah melamar pekerjaan sehingga ponselnya di matikan, pikir Hani berusaha untuk berpikir positif meski hatinya merasa ragu.
Rega menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah tempat karaoke. Dia butuh hiburan untuk menghilangkan rasa kesalnya. Tak peduli jika uang di dalam dompetnya kini telah menipis. Dia akan mencoba untuk menghibur dirinya sendiri saat ini.
Merasa jika pulang kerumah hanya akan menambah pusing saja. Rega yakin pasti Hani akan banyak bertanya-tanya begitu juga ibunya. Kedua wanita itu telah membuat Rega kesal akhir-akhir ini.
Hani yang selalu manja dan Kulsum yang penuntut sungguh menguras tenaga juga pikirannya. Rega hanya ingin melupakan bebannya untuk sesaat.
Ponselnya sengaja dia matikan agar tak ada yang mengganggunya.
__ADS_1
...*****************...