
"lepas mas, kamu keterlaluan." Sentak Mawar, ia tatap Rega dengan begitu berani.
Rasa hormatnya pada sang suami telah hilang. Yang ada hanya perasaan benci dan jijik. Rega tak kalah tegas, dia pandang istrinya dengan tajam. Sebagai seorang pria tentu dia tak mau kalah dari wanita.
Rega menarik nafas panjang mencoba menahan agar tak emosi. Dia kesal karena Mawar kini berani menatapnya dengan tatapan tak sopan. Biasanya wanita ini akan menundukkan pandangan dan berbicara dengan lembut.
"Kamu mau apa dengan menunjukkan foto itu tadi?" Tanya Rega. Foto dirinya dan Hani yang tengah telanjang bulat.
Mawar mendengus.
"tentu untuk memberitahu mereka kalau kamu sudah berkhianat." Pekik Mawar. Hilang sudah semua rasa hormatnya, tak ada lagi sebutan mas bagi Rega.
Rega memejamkan matanya. Ia acak rambutnya dengan kesal, kenapa bisa seperti ini. Perselingkuhannya dengan Hani kenapa bisa terbongkar.
"Aku minta cerai." Tegas Mawar.
"apa?" Rega menggelengkan kepalanya. "tidak, aku tidak akan pernah menceraikan mu." Kukuh Rega.
Mawar memukul tubuh Rega dengan bertubi-tubi, melampiaskan segala emosinya. Ia menangis sekeras-kerasnya. Sementara Rega hanya diam tak melakukan perlawanan apapun.
"pukul saja sampai kamu puas. mas salah karena telah berselingkuh. mas minta maaf." Lirih Rega.
"keterlaluan kamu, menjijikan. bahkan kamu tidur dengan wanita itu. kamu telah berzina. aku tak sudi lagi di sentuh olehmu."
Rega menangkap tangan Mawar yang akan menamparnya. Dia langsung memeluk tubuh kecil itu, mencoba untuk memberikan ketenangan. Tapi, justru itu semakin membuat Mawar kesal.
Brug...
Didorongnya tubuh Rega hingga terjerembab ke lantai. Mawar sungguh tak ingin lagi di sentuh Rega.
"Darimana kamu tahu aku bersama Hani? darimana kamu mendapatkan nomor telepon Hani? kamu bertemu dengannya? untuk apa?" Tanya Rega bertubi-tubi. Rahangnya mengeras menahan emosi.
Grep...
Dia cengkram pergelangan tangan Mawar dengan sangat kuat.
"kamu membuntutiku selama ini? kamu memata-matai ku?" Desisnya tak terima.
"ya... karena aku..."
__ADS_1
"kenapa? itu sama saja dengan kamu tak percaya padaku." Rega marah dengan alasan yang tak masuk akal. Dia yang berbuat salah tapi malah dirinya yang sangat marah sekarang.
Mawar pun jadi kesal mendengarnya. Ia langsung menarik tangannya dari cengkeraman Rega. Dengan mata merah dia menatap Rega tajam.
"jadi di sini aku yang salah?" Tanyanya dengan marah. "kalau aku tak mencari tahu maka sampai kapan kamu akan merahasiakan semuanya? sampai wanita itu hamil?" Bentak Mawar, habis sudah rasa sabarnya.
Dadanya naik turun menahan emosi yang semakin membuncah. Sementara Rega langsung terdiam mendengar kata hamil. Kenyataan, Hani memang sudah hamil sekarang. Mungkin usia kandungannya beberapa minggu, karena mereka pun baru menjalin hubungan dua bulan.
"kenapa diam?" Pekik Mawar. Tangannya kembali melayangkan pukulan pada tubuh Rega.
Pria itu hanya melindungi dirinya saja, tak melawannya. Rega jadi tak bisa berkutik lagi.
Helena berdiri di luar kamar Mawar. Dia mendengar keributan itu, tapi hanya bisa diam saja. Meski khawatir Mawar tak bisa menahan amarahnya dan bisa melukai Rega nanti. Karena dia tahu, Rega tak pernah memukul siapapun. Dari kecil selalu diam jika di pukuli oleh temannya. Rega tak pernah melawan orang yang menyakitinya.
Ceklek...
Brak...
Pintu di buka lalu di banting dengan keras. Mawar keluar dengan wajah merah menahan kesal. Nafasnya tersengal dan matanya kini banjir airmata.
"mawar..."
Helena tak bisa mencegahnya karena wanita itu begitu cepat berjalan dan segera masuk kedalam mobil. Mawar membawa mobil yang sudah di berikannya pada Helena, karena kuncinya ada di meja tamu memudahkannya untuk langsung mengambil tanpa memintanya dulu.
"Mawar...hei..." Teriak Helena, mengejar hingga pintu pagar. "seharusnya tadi aku simpan kuncinya di kamar." Gerutu wanita itu kesal.
Sementara itu, Damar hanya bisa meringkuk di lantai. Kepalanya berdenyut karena hantaman pot bunga yang begitu kuat. Rupanya, Mawar benar-benar kalap sehingga melakukan hal itu. Ia meraih pot bunga yang di jadikan hiasan di kamar itu. Dengan sekali ayunan dia pukulkan tepat di kening Rega.
Melihat Rega yang terhuyung dan berdarah tak membuat Mawar melakukan aksinya. Dia tendang kakinya lalu pergi meninggalkan pria itu. Hatinya sudah sangat sakit, apapun bisa dia lakukan untuk melampiaskan amarahnya.
...*************...
"Berapa usia kandungan mu?" Hana menggigit bibirnya saat ibunya bertanya soal usia kandungannya, takut di minta untuk menggugurkannya.
Dia sudah berusaha untuk mendapatkan Rega. Jika anak yang ada di dalam perutnya di gugurkan maka Rega pun tak akan menikah dengannya. Karena tak ada alasan untuk apa dia bertanggung jawab.
"Dua minggu. tapi...jangan meminta aku menggugurkan nya. aku akan pertahankan bayi ini." Seru Hana.
Maria menghela nafas panjang. Dia selalu mewanti-wanti Hana untuk bisa menjaga dirinya selama berada diluar rumah. Apa dia selama ini tak bisa menjadi ibu yang baik sehingga putri satu-satunya bisa melakukan hal begitu buruk.
__ADS_1
Gusna menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hana.
"lagipula, siapa yang meminta mu untuk menggugurkannya? kamu cepat bawa pria itu kehadapan papah."
Rupanya Gusna tak seburuk yang di pikirkan Hana. Meski terlihat garang tapi pria itu masih memiliki hati yang lembut.
"dia seorang pemuda yang bertanggung jawab bukan?" Tanya Maria, takut jika Hana menjalin hubungan dengan pria yang tak benar.
Bagaimana jika pria itu sudah memiliki istri dan anak. Lalu apa dia pria yang bertanggungjawab. Apa pekerjaannya dan seperti apa keluarganya. Maria sungguh khawatir akan itu semua.
Hana mengapit tangan kanan Maria.
"mamih tenang saja. Mas Rega itu bertanggung jawab. Dia seorang manager ditempatku bekerja."
"manager?" Gusna mengerutkan keningnya. "dia bukan pria tua seperti yang papah bayangkan bukan?"
Gusna sungguh takut jika pria itu seorang pria tua seusianya. Posisinya di kantor seorang manager, itu artinya dia bukan seorang pemuda berusia 20 an.
"tidak Pah. Mas Rega itu pintar dan mendapatkan nilai IPK tertinggi saat kelulusan. Itulah kenapa dia bisa jadi manager, semua karena usahanya." Penjelasan Hani membuat Gusna dan Maria bernafas lega. Setidaknya, calon suami Hana adalah pria yang berkompeten.
"Dia seusia denganku karena memang dulu saat SMP, kami satu kelas." Terangnya lagi.
Maria pun mengerutkan keningnya. Sewaktu Hana SMP dia mengenal semua teman-temannya. Sepertinya dia ingat sesuatu.
"tadi kamu bilang namanya Rega?"
"iya Mih."
Maria pun semakin senang mendengarnya. Kemarahannya kini berubah menjadi rasa senang yang amat besar. Melihat wajah Maria yang berbinar membuat Gusna merasa aneh.
"ada apa? apa Mamih tahu sesuatu?" Tanya Gusna penasaran.
"tentu saja. jika Rega yang itu mamih kenal. Dia putranya Ibu Kulsum. Teman SMP Hana dulu, anaknya pintar dan paling alim di kelas Hana. Mamih kan dulu pernah jadi guru di sekolah Hana."
Maria dulu memang seorang guru SMP, tapi semenjak pindah rumah ke Jakarta. Dia memutuskan untuk berhenti mengajar. Lama mereka tak bertemu dengan keluarga Rega. Hana pun sengaja mencari kerja di Bandung bukan semata-mata ingin mandiri. Ia memang sengaja ingin mencari keberadaan Rega. Beruntung sekali, dia melamar kekantor di mana Rega bekerja.
Hanya saja, dia baru tahu jika Rega ternyata sudah menikah. Tapi, keputusannya untuk mendapatkan kembali pria itu tak pupus begitu saja. Hana rela menjadi yang ke berapa pun asal kan dengan Rega.
Melihat lampu hijau yang di berikan keluarganya membuat Hana merasa jalannya terbuka lebar. Dia tinggal memikirkan bagaimana caranya membuat Rega pun mengikuti permainannya. Orangtuanya tak boleh tahu Rega sudah menikah. Jika tidak, semua akan sia-sia saja.
__ADS_1
...**************...