Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 27


__ADS_3

Mawar hanya menangis seharian penuh sepulang dari pengadilan. Hatinya begitu perih dan terasa sangat sesak. Tak bisa dia bohongi dirinya sendiri, cintanya pada Rega memang sangatlah besar. Tapi, dia tak mungkin untuk tetap berada di sampingnya dengan apa yang telah pria itu lakukan.


Pengkhianatan tak bisa di maafkan begitu saja. Mungkin jika bisa memaafkan pun belum tentu bisa kembali bersama.


"Mawar mencintai mas Rega, Bu." Isaknya. "tapi....juga sangat membencinya."


Rena hanya bisa memeluk erat tubuh sang putri dengan hati terluka. Seumur hidupnya baru kali ini menyaksikan betapa pilunya tangisan Mawar. Ibnu pun hanya mampu diam dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah, sekarang kamu harus bisa melupakan pria brandal itu. hidup lebih baik dan tunjukkan padanya kalau kamu bisa lebih bahagia tanpa dirinya." Seru Ibnu pada akhirnya.


Mawar mengangkat wajahnya, menatap leka wajah sang ayah yang kini mulai menampakkan kerutan di kulit putihnya. Ibnu sudah sangat tua, karena memang waktu Mawar lahir pun usianya sudah mencapai 40 taun. Keterlambatan dalam memilliki anak membutuhkan Ibnu dan Rena berjuang sangat keras, hingga akhirnya Mawar hadir.


Dan tentu saja perjuangan itu membuat keduanya begitu menyayangi Mawar lebih dari apapun. Melihatnya terluka seperti ini membuat Rena maupun Ibnu sangat patah hati. Putri yang di nantinya dengan setulus hati dan di besarkan dengan kasih sayang harus mendapatkan hal pahit dalam hidupnya dari oranglain.


"Ayah... Mawar minta maaf. seharusnya di usia ayah sekarang Mawar bisa membuat ayah bahagia bukan malah..."


"Tidak, jangan di teruskan. ayah selalu bahagia karena mu Mawar. jadi berjanjilah untuk tidak menangisi pria itu." Sela Ibnu cepat.


Mawar dengan cepat menghapus airmatanya. Dia tak akan lagi menangis mulai detik ini. Rega harus membalas apa yang telah ia lakukan. Pria itu sudah membuatnya terluka dan kedua orangtuanya bersedih.


"Mawar janji ayah." Tegasnya.


"kalau begitu kita rayakan kemenangan ini dengan makan malam istimewa." Rena menepuk tangannya dengan senang. "tak boleh ada lagi kesedihan."


"iya. ibu benar."


Akhirnya Mawar pun bisa lebih tegar karena Ibnu dan Rena. Ia tak akan lagi percaya begitu saja dengan pria manapun. Sebagai gantinya, dia akan kembali bekerja di sebuah restoran bintang lima atau membuat restorannya sendiri. Mawar harus bangkit di dalam keterpurukan karena telah di khianati.


Di saat Mawar tengah berusaha untuk menata hatinya kembali, Rega justru nampak terpuruk. Pria itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Duduk di kursi belakang dengan pikiran yang kosong.


Helena melirik sekilas adiknya lalu kembali menyetir dengan konsentrasi. Kulsum pun hanya diam, entah apa yang di pikirkan wanita tua itu.


"oh...ya, kita langsung kerumah Hani atau pulang lebih dulu?" Tanya Helena.


Rega menarik nafas panjang lalu berdecak kesal. Dirinya baru saja kehilangan seseorang yang amat berharga dan Helena tanpa memikirkan perasaannya malah bertanya seperti itu.


"kita pulang saja. aku bisa memberi tahu Hani kalau kita tak jadi kesana."


"loh...tak bisa begitu. Hani bilang ibu dan ayahnya sudah menunggu kita." Kulsum melihat Rega dengan tajam. Dia baru saja berkirim pesan dengan calon menantu barunya itu.


"tapi Bu...aku baru saja bercerai. tak bisakah ibu mengerti dengan perasaan ku. lagipula Bapak pun harus ikut kerumah Hani."


Kulsum berdecak. Dia memang belum mengatakan perihal kepergian Marja kepada Rega.


"Bapakmu tak akan kembali." Ketusnya.


Kening Rega mengerut.


"maksud ibu? Bapak kemana Bu?" Tanya Rega.


Kulsum pun memberitahu kedua anaknya kalau Marja telah pergi dari rumah dan akan lagi kembali. Pria itu memilih untuk tinggal di kampung halamannya untuk selamanya.


Rega semakin pusing saja. Tangannya memijat pelipisnya dengan kuat. Masalahnya kenapa harus begitu rumit. Dia tak habis pikir kenapa bisa seberat ini masalah yang di hadapinya.


...****************...

__ADS_1


"Kamu dari mana Bagas?" Alya melihat Bagas yang baru saja pulang.


Bagas tersenyum melihat ibunya yang kini sudah mulai bisa berjalan kembali. Pria muda itu pun menghampiri sang ibu lalu menyalami tangannya.


"Bagas baru saja dari pengadilan Bu."


Alya nampak khawatir, dengan cepat dia menyentuh wajah Bagas.


"pengadilan? Kenapa? apa terjadi sesuatu?" Tanyanya cemas.


"Bagas hanya menjadi saksi saja. Teman Bagas bercerai. Eeuumm... wanita yang bernama Mawar itu. yang memberikan uang untuk biaya operasi ibu dan juga modal usaha Bagas ini." Jelasnya.


Alya menghembuskan nafas lega. Dia pikir putranya tengah terjerat kasus atau apa. Mendengar penjelasan Bagas tak membuat Alya bingung ataupun penasaran, karena memang sudah dari awal Bagas menceritakan semuanya. Putranya ini tak pernah melakukan apapun tanpa seizin darinya. Alya tahu jika Bagas telah bekerja sebagai mata-mata temannya untuk mengetahui perselingkuhan suaminya. Dia pun menyetujui hal itu karena Alya pikir itu hal yang benar.


"Lalu bagaimana teman mu itu?" Tanyanya dengan suara pelan. Sebagai sesama wanita rasanya sakit hati mendengar apa yang telah terjadi pada teman putranya itu.


"Semua bukti jelas dan akhirnya temanku memenang sidang Bu. makanya aku bisa se senang ini sekarang." Tutur Bagas sambil memperlihatkan ponselnya pada Alya.


Di sana tercatat telah masuk uang sebesar lima juta rupiah ke akun bank miliknya. Bagas memang tak meminta bayaran atas apa yang di lakukannya sekarang tapi Mawar bersikeras memberikan imbalan, katanya sebagai tanda terima kasih karena telah mau menjadi saksi dan membuatnya berhasil menang.


Pluk...


Alya memukul lengan Bagas pelan. Matanya menatap sang anak dengan tajam.


"jadi...kamu lakukan demi uang? Bagas, teman mu itu sudah memberikan banyak sekali bantuan pada kita kenapa masih..."


"ibu dengar dulu." Sela Bagas. "hehe.. maafkan Bagas Bu, bukan maksudnya mau menyela. tapi... Mawar bilang ini sebagai tanda terima kasih. orang kaya itu beda Bu." Jelas Bagas sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"heum...lain kali, ajak temanmu kemari. ibu mau mengucapkan banyak terima kasih padanya."


"iya Bu."


"Bagas, mau buka toko dulu ya Bu." Pamit Bagas.


Raja buru-buru berdiri begitu mendengar langkah Bagas mendekat. Dengan cepat dia menghadang jalannya.


"Gas, ada yang ingin aku tanyakan?"


"apa sih? aku buru-buru mau buka toko."


"Sebentar saja." Raja mencekal lengan Bagas.


Bagas menghembuskan nafas kasar. Lalu menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap Raja dengan tajam.


"katakan, dari kemarin aku tunggu tak datang-datang dan sekarang tak di butuhkan malah hadir tanpa di undang." Kesalnya.


Bagas memang membutuhkan bantuan Raja dari kemarin, dia butuh seseorang untuk membantunya di toko glosir karena akhir-akhir pembeli bertambah banyak. Dia jadi kewalahan sendiri.


Raja hanya berdecak saja lalu berujar dengan sangat pelan karena takut terdengar oleh Alya. Bisa gawat jika Bibinya tahu soal dirinya yang tengah tertarik pada seorang wanita, bisa-bisa setiap bertemu akan di olok-olok.


"Begini...temanmu yang bernama Mawar itu kuliah di mana?" Tanyanya dengan percaya diri.


Kening Bagas berkerut lalu tak lama dia terbahak. Menertawakan kebodohan Raja tentunya.


"hei... bagaimana bisa kamu mengira dia seorang mahasiswi? dia itu temanku, tentu saja kami satu angkatan yang artinya Mawar itu sudah lulus dari universitas." Tawanya semakin pecah saat melihat wajah Raka melongo karena kaget.

__ADS_1


"Ja... jadi...dia bukan...ahh..****. ku pikir dia seumuran denganku." Dengusku. Memikirkan kejadian tempo lalu saat di cafe membuatnya jadi malu.


Dengan pede nya dia bertanya dan seenaknya meminta nomornya.


"hei..hei...jangan bilang kamu..." Bagas melotot lebar. "Kamu naksir Mawar? gila, kamu suka wanita yang lebih tua? pantas saja...eeuummm..."


"bisa kecilin tidak sih suaranya." Raja dengan cepat membekap mulut Bagas. "sudah lupakan saja." Dengusnya.


Bagas masih saja tertawa, sungguh lucu menurutnya. Bagaimana Raja yang terkenal dingin pada wanita itu bisa tertarik pada Mawar.


"hei, Mawar itu sudah menikah." Seru Bagas membuat langkah Raja terhenti.


Ada rasa tak senang mendengarnya seolah mendapatkan pukulan keras di kepala.


"tapi baru beberapa jam tadi dia bercerai." Lanjut Bagas.


Sudut bibir Raja terangkat, entah kenapa dia merasa senang mendengarnya. Bagas pun segera menyamai langkah Raja yang kini tengah berjalan menuju toko.


"Raja, aku sarankan padamu. jangan berharap hal yang belum tentu kita dapatkan. aku beritahu padamu, Mawar itu wanita yang sangat sulit di dapatkan. Pria semacam dirimu pasti tak akan ada di dalam daftarnya, apalagi usia kalian yang terpaut jauh." Jelas Bagas. Dia berkata demikian karena tak ingin adik sepupunya itu terjerat oleh cinta yang tak pasti.


Raja mendelik tajam ke arahnya lalu mempercepat langkahnya.


"lagipula siapa yang tertarik. aku hanya bertanya saja." Ketusnya.


...****************...


Seorang pria berpakaian serba hitam baru saja turun dari pesawat. Wajahnya yang tampan dengan hidung mancung dan alis tebalnya membuat para wanita yang ada di sana tak hentinya menatap wajahnya. Ada rasa kagum luar biasa dari sorot para wanita itu.


"Tuan, Saya baru saja mendapatkan kabar. Bahwa Nona Mawar telah berpisah dengan suaminya." Lapor salah seorang berjas hitam di belakangnya.


"bukankah mereka baru menikah?"


"iya tuan, hanya dua bulan saja."


Langkahnya langsung berhenti mendengar itu. Tak mengira jika wanita yang selalu menolak cintanya dan menyombongkan tentang hubungannya dengan pria itu telah berakhir. Seulas senyuman terukir di bibir tebalnya.


"Jelaskan dengan rinci." Perintahnya.


Bodyguard berbadan kekar itu berjalan cepat lalu membukakan pintu mobilnya, setelah Tuannya masuk dia pun bergegas ikut masuk. Menjelaskan dengan detail apa saja dan kenapa Mawar bisa berpisah.


"Bagus, itu artinya aku bisa membalik keadaan." Pria yang memiliki nama lengkap Albion Wisasono itu tersenyum penuh kemenangan.


Rasanya tak sabar ingin sekali membalas dendam terhadap pria yang telah merebut cintanya dan memojokkan Mawar dengan segala pesonanya.


Bertahun-tahun tinggal di negara orang membuatnya pasti telah di lupakan oleh orang-orang itu dan sekarang waktunya telah tiba. Merebut kembali cintanya dan menunjukkan bahwa dirinya lebih dari apa yang di bayangkan.


Sementara itu Mawar dan keluarganya tengah bersiap untuk pergi makan malam. Mawar mengenakan gaun malam yang begitu pas di tubuhnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Rena saat melihat Mawar tiba-tiba menyentuh dadanya.


"Entahlah Bu. tiba-tiba saja dadaku berdebar dengan sangat cepat."


"apa kita batalkan saja acara makannya?" Tanya Rena cemas.


Mawar dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"tidak, aku tidak apa-apa kok."


...******************...


__ADS_2