
Hani terus berjalan tanpa arah, menyusuri jalanan pikiran kalut. Ia marah kepada Rega juga pada dirinya sendiri. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah cafe. Pandangannya tertuju pada sebuah keluarga yang baru keluar dari cafe itu.
Satu anak perempuan dan orangtuanya nampak bahagia. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan.
"Mamih..." Hani menjadi semakin kacau.
Kenangan bersama orangtuanya sungguh menyakiti perasaannya saat ini. Dulu, dia begitu di manjakan. Apapun keinginannya selalu di penuhi. Termasuk permintaannya untuk bekerja di sebuah perasaan yang begitu jauh dari rumahnya. Membeli rumah sendiri karena ingin hidup mandiri.
Orangtuanya selalu mendukung dirinya. Tapi sekarang dukungan itu telah hilang. Maria dan Gusna benar-benar melupakan nya. Semua karena pilihan bodohnya. Hani terlalu keras kepala sehingga tak berpikir semuanya akan berdampak buruk kepada nya.
"rumah...ya, aku akan kembali kerumah ku." Ujarnya.
Untung saja, rumahnya belum terjual. Hani akan tinggal di rumahnya sementara Rega, ia tak peduli sama sekali. Jika Rega tak ingin ikut dengannya maka Hani tak akan memaksanya. Untuk saat ini Hani tak ingin bertemu dengan mertua atau iparnya. Dia butuh waktu untuk menenangkan pikiran nya.
Rega langsung menghabiskan kopinya saat mendengar ide dari ibunya itu. Pria itu bergegas masuk ke kamar untuk menemui Hani dan meminta istrinya itu untuk ikut bersandiwara demi kepentingan pribadinya itu.
"Hani...kamu di mana?" Teriak Rega saat tak mendapati Hani di kamarnya.
Mencari ke seluruh ruangan. Tapi tetap tak menemukan Hani membuat Rega menjadi kesal sendiri. Dia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang istri.
"Ada apa? dimana istrimu?" Tanya Kulsum.
"dia sepertinya keluar. aku sedang menelpon nya." Seru Rega.
Panggilannya di tolak dan untuk panggilan ketiga nomor Hani tidak aktif. Rega berdecak kesal lalu segera melihat keluar, mobil Hani yang rusak belum di perbaiki itu masih terparkir tepat di samping mobilnya. Itu artinya Hani tak akan pergi jauh, pikir Rega.
"mungkin Hani hanya ke supermarket saja Bu." Ujarnya lalu masuk kedalam kamar.
Sementara itu Hani tengah menangis. Ia tak ingin di ganggu siapapun termasuk Rega. Telpon nya sengaja dia matikan.
"Bu, kemana saya harus antar?" Tanya supir taksi yang sedang membawa Hani.
Hani menghapus airmatanya.
__ADS_1
"berhenti di depan saja." Hani segera membayar lalu turun.
Hubungan Hani dan Rega yang di dasari hanya karena nafsu berjalan tak sesuai harapan. Keduanya merasa saling tak cocok begitu sudah tinggal bersama. Hani mulai sadar jika Rega bukanlah pria yang memiliki perhatian kepada pasangannya. Begitu juga dengan Rega, ia pikir Hani tak sesabar Mawar.
Hani yang sering melawan perkataan Kulsum dan kadang membuat kesal Helena membuat Rega mulai melihat sisi buruknya sang istri. Bahkan kebiasaannya pergi tanpa meminta izin menjadi hal yang biasa bagi wanita itu.
Keduanya merasa jenuh tapi sang bayi mengikatnya untuk tidak berpisah. Rega menginginkan anaknya begitu juga Hani.
...**************...
Albion menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Mawar. Ia bukan pria berpikiran sempit sehingga harus melakukan hal aneh.
Godaan di depannya memang sungguh meresahkan. Mawar tertidur setelah makan siang. Wanita itu tidur di sofa dengan posisi yang begitu menggoda. Belahan dadanya nampak terlihat jelas.
"tidak boleh. aku harus mandi agar kepala ini dingin." Albion buru-buru masuk kekamarnya.
Setelah beberapa menit pria itu keluar, sudah berganti pakaian. Rambutnya pun masih sedikit basah. Di lihatnya Mawar sudah bangun.
Mawar mengucek matanya lalu menatap Albion dengan mata sedikit menyipit. Wanita itu menggeleng pelan.
"jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"jam 5. apa mau pulang?"
"ya, aku mau pulang. ini sudah sore."
Albion tersenyum lalu mengusap kepala Mawar.
"kalau begitu cuci muka mu dulu. aku tunggu di luar ya." Serunya.
Mawar mengangguk lalu segera pergi ke kamar mandi. Hanya mencuci wajahnya agar sedikit lebih segar. Tak butuh waktu lama baginya, Mawar segera menyusul Albion yang kini sudah berada di dalam mobil menunggunya.
"tentang ibu ku, kapan kamu siap bertemu?" Tanya Albion di pertengahan jalan.
__ADS_1
"eeuummm.... tak tahu. kita saja baru menjalin hubungan satu minggu. Ku rasa terlalu cepat jika bertemu dengan ibu mu."
Albion paham, pria itu mengerti dan tak akan memaksanya. Kapanpun Mawar siap maka Albion hanya butuh kesabaran untuk menunggunya.
"kita berhenti di toko itu sebentar ya?" Albion menunjuk sebuah toko di depan.
"untuk apa?" Mawar mengerutkan keningnya.
Toko yang di tuju adalah sebuah toko aksesoris. Di sana hanya tersedia perlengkapan khusus wanita saja. Mulai dari jepit rambut hingga baju tersedia di sana.
"ikut saja." Ujar Albion seraya memarkirkan mobilnya.
Mawar pun keluar dari mobil lalu masuk ke dalam toko mengikuti langkah Albion yang sudah lebih dulu masuk kedalam.
Kening Mawar berkerut saat melihat Albion mengambil sebuah baju pasangan.
"apa ini Al?" Serunya dengan tersenyum geli saat Albion menyerahkan baju berwarna putih dengan tulisan VE di depannya.
"Di sini tersedia pakaian untuk sepasang kekasih, temanku yang bilang dan ternyata benar, lihat ini." Albion memperlihatkan baju satunya lagi yang bertuliskan LO.
Itu artinya baju itu akan menjadi satu kata jika dipakai dan berdiri berdampingan.
"Love?" Alis Mawar bertaut.
"iya... love. kamu dan aku, bagaimana?" Albion menaik turunkan satu alisnya.
Mawar tak bisa menahan tawanya, wanita itu tak mengira jika Albion bisa semanis ini. Maka dengan cepat Mawar masuk kedalam ruang ganti.
"aku akan pakai, kamu juga pakailah." Teriaknya dari dalam.
Albion terkekeh melihat Mawar yang begitu menyukainya. Dia pun melakukan hal yang sama, masuk keruang ganti satunya untuk berganti baju.
...***************...
__ADS_1