
Albion telah menyampaikan keinginan ibunya kepada orangtua Mawar. Yang sebenarnya dia juga menginginkan pernikahan secepatnya, jadi keinginan ibunya menjadi pendukung terbesar baginya saat ini. Mawar pun tak akan menolaknya hanya saja dia butuh masukan dari ayah dan ibunya, untuk itu dia meminta pendapat mereka terlebih dahulu sebelum memutuskan semuanya.
"justru ibu lebih setuju jika begitu, kamu dan Albion memang harus segera menikah agar Rega tak lagi mengganggu mu." Ujar Rena yang memang setuju sejak awal dengan hubungan keduanya.
Ibnu mengangguk setuju. Pria paruh baya itu langsung menatap Albion dengan sangat serius.
"Om harap kamu bisa menjaga Putri om. jangan sampai dia menangis apalagi merasakan kesakitan seperti apa yang telah Rega lakukan." Cetusnya dengan begitu serius.
Albion mengerti dengan kecemasan Ibnu. Bagi orangtua memang hal yang wajar mengkhawatirkan masa depan anak-anak nya.
"iya Om. aku berjanji." Ujar Albion tanpa ragu sedikitpun.
Mawar tersenyum kearah Albion. Akhirnya hubungan keduanya akan benar-benar terikat. Meski terbilang cepat dan sedikit terlihat tergesa-gesa tapi Mawar yakin jika kali ini pilihannya tak salah. Albion sudah mencintai sejak dulu bahkan pria itu terus mencintainya hingga saat ini. Dia pernah merelakan Mawar dengan pria lain demi kebahagiaan Mawar tapi kali ini Albion tak akan pernah memberikan Mawar pada pria manapun. Dia sendiri yang akan menjaganya dan menemaninya setiap waktu.
"kalau begitu, Minggu depan aku akan mengajak ibu kemari."
"iya, Tante dan Om akan menunggu waktu itu tiba. sekarang, kamu sudah berjanji akan terus mencintai Mawar. jadi jangan sekali-kali mengingkari janji itu." Rena menatap Albion penuh harap.
"iya Tante."
Setelah di rasa cukup dengan obrolan serius mereka akhirnya Albion pun pamit untuk pulang karena sudah semakin malam. Mawar mengantarnya sampai gerbang.
"kiss..." Albion menunjuk bibirnya dengan jari meminta ciuman selamat malam dari Mawar.
"apaan sih." Mawar malah memukul bibirnya dengan pelan. "nanti saja kiss nya kalau sudah resmi."
"aahh... jadi begitu? baiklah, aku akan menagih janjimu nanti." Goda Albion.
"Al..." Rengek Mawar merasa malu. "ayo pulang sudah semakin gelap ini."
Albion memasang wajah sedihnya. Pria itu menghela nafas panjang.
"rasanya ingin segera waktu itu tiba. agar setiap malam bisa memeluk mu."
"Al...sudah hentikan. sini..." Mawar menarik baju Albion sehingga tubuh pria itu mendekat kearah jendela mobil.
Chup
Dengan lembut dia mencium pipinya. Sebelum Albion mengatakan sesuatu Mawar terlebih dahulu kabur. Wajahnya memerah karena malu, perbuatannya barusan membuat Mawar malu sendiri. Sementara Albion terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan kekasihnya.
"lihat saja aku akan memakan mu habis-habisan saat malam itu tiba." Ujarnya dengan kekehan yang masih belum hilang.
__ADS_1
Brak...
Mawar menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya sangat panas.
"apa yang aku lakukan." Rutuknya. Bisa-bisanya dia mencium Albion.
...*****************...
Hani menatap layar ponselnya. Sudah berbulan-bulan semenjak dirinya menikah dengan Rega, ibunya atau ayahnya tak lagi menghubungi dirinya. Ingin sekali memberi tahu mereka tentang apa yang menimpa nya saat ini, tapi hatinya merasa malu dan ragu. Karena dirinya yang terlalu memikirkan cinta tanpa berpikir panjang dahulu membuat semuanya berantakan saat ini.
Masa depannya yang dia impikan akan sangat indah malah terlihat suram. Bayi yang baru beberapa bulan berada di rahimnya kini telah tiada, Rega pun sangat tak memperdulikannya karena pria itu masih saja menyimpan cintanya untuk mantan istrinya.
Padahal Hani sangat yakin dan percaya diri saat berhasil mendapatkan Rega. Ia begitu sombong di depan Mawar karena berhasil merebut posisi nya. Tapi kini rasa sombong itu bagaimana kan racun baginya, perlahan membunuh segalanya.
Dengan sekali tarikan nafas akhirnya Hani pun memutuskan untuk menghubungi Maria.
"Hani...apa kabar mu nak? mamih merindukan mu." Suara yang pertama Hani dengar adalah suara Maria yang bergetar.
Dengan kuat Hani mengigit bibirnya agar Maria tak mendengar isakannya.
"Mamih..." Hani tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Bayiku telah tiada.." Isaknya.
"a...apa maksudmu sayang? apa yang terjadi dengan mu dan bayimu?" Terdengar Maria yang panik.
Hani pun mulai bersuara kembali dan menceritakan semuanya pada Maria. Hanya saja dia tak mengatakan tentang Rega yang merupakan pelaku utamanya. Bagaimana pun dia tak ingin ibunya membenci Rega. Rasa cintanya pada pria itu masih tetap ada meski hatinya telah terluka.
Gusna memejamkan matanya saat tak sengaja mendengar percakapan istrinya di telpon. Meski ia tak mendengar suara dari si penelepon tapi Gusna yakin kalau dia adalah Hani, putrinya.
"Mamih akan kesana sekarang. Kamu di rumah sakit mana?"
Setelah mendapatkan alamat lengkapnya, Maria pun segera mematikan ponselnya. Bangkit dari duduknya dengan tergesa.
"Mas.." Maria menyembunyikan ponselnya di belakang. Merasa seperti maling yang ketahuan saja, Maria menundukkan kepalanya karena ketahuan telah berhubungan dengan Hani. Padahal Gusna selalu mengatakan untuk tidak lagi peduli pada putri mereka itu.
"ada apa? Hani meminta mu untuk datang?" Tanya Gusna dengan suara dingin.
Maria mengangguk.
"I..iya mas. Hani keguguran, bayinya tak tertolong. ku mohon, izinkan aku untuk menemuinya. dia butuh dukunganku saat ini." Pinta Maria memohon.
__ADS_1
Di raihnya tangan Gusna lalu di genggamnya erat. Dia yakin, sekeras apapun hati suaminya ini pasti masih ada sisi lembutnya. Mengenalnya selama bertahun-tahun membuat Maria sangat hafal seperti apa Gusna.
...****************...
Mawar baru saja selesai mandi. Baru saja akan merebahkan tubuhnya tiba-tiba ponselnya berdering. Dari nomor baru yang tak di kenalnya. Sempat ragu untuk mengangkatnya tapi nomor itu terus saja menghubunginya tanpa henti. Pada akhirnya Mawar pun mengangkatnya.
"Mawar..tolong mbak." Suara parau dan terdengar sangat ketakutan di sebrang sana membuat Mawar sangat terkejut.
Hanya mendengar suaranya saja Mawar bisa menebak siapa yang telah menghubunginya.
"Mbak Helen, apa yang terjadi?" Tanyanya penasaran.
"mbak ada di perumahan melati sekarang. mbak meminjam ponsel security di sini. hanya nomor kamu yang mbak ingat. Mbak mohon, kamu kemari dan tolong mbak."
Mawar sebenarnya cemas mendengar suara ketakutan Helena. Tapi hatinya merasa ragu untuk mendengarkan permintaan tolong wanita itu.
"mbak tunggu saja." Ucap Mawar.
Dia segera keluar dari kamarnya. Kebetulan di ruang tamu ibu dan ayahnya masih berbincang. Dengan cepat Mawar pun mengatakan pada mereka jika Helena baru saja menghubunginya dan meminta bantuan darinya.
"abaikan saja. lagipula apa urusannya dengan mu." Ketus Rena tak setuju.
Ibnu pun membetulkan apa yang di katakan istrinya. Dia melarang Mawar untuk pergi. Lagipula sekarang Mawar bukan lagi istri dari adik wanita itu.
"tapi...suaranya seperti sangat ketakutan. mungkin mbak elen memang butuh pertolongan." Ujarnya, Mawar tak bisa mengabaikan hal itu. Bagaimana pun dia masih mempunyai hati nurani.
"kalau begitu minta Albion menemanimu." Sahut Rena.
"iya. hubungi Albion dan mintalah dia untuk menemanimu." Timpal Ibnu pula.
Mawar pun pada akhirnya meminta bantuan Albion.
Sementara itu, Helena tengah duduk di pos security yang berada tepat di gerbang masuk perumahan elit. Tubuhnya bergetar ketakutan bahkan airmatanya tak bisa berhenti. Ada luka lebam di pipi bagian kiri, rambutnya pun nampak berantakan.
"Bu, sebaiknya ibu kerumah sakit. Biar saya yang antar." Tawar seorang pria berpakaian security itu dengan prihatin melihat keadaan Helena.
Helena menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin kembali kerumah sakit, dia hanya ingin pertanggungjawaban dari pria yang telah menghamilinya dan membuat hancur hidupnya. Awalnya dia tak mengingat siapa yang telah melakukan itu padanya, tapi di saat dirinya telah kehilangan bayi itu memori dalam otaknya berputar. Helena mengingatkan segalanya. Wajah pria itu, siapa pria itu dan bagaimana malam itu bisa terjadi.
Helena berharap Mawar bisa membantunya untuk menyeret pria itu. Meski ragu tapi Helena tetap berharap pada mantan adik iparnya itu.
...*************...
__ADS_1