
Mawar sungguh tak bisa tidur. Bayangan Albion yang tengah mengecup bibir nya terus terlintas di pikirannya. Dia memejamkan matanya erat lalu menggigit bibirnya. Dadanya bergemuruh hebat.
"apa aku mulai menerima nya?" Gumamnya pelan, seolah bertanya pada seseorang.
Berdekatan dengan Albion memang membuatnya nyaman. Mawar bahkan merasa jika Albion bahkan lebih baik dari Rega. Kenapa dulu dia tak pernah tahu jika Albion sangatlah agresif dan juga begitu mencintai nya dengan tulus.
Dia pikir Albion hanya mencintai nya seperti pria yang lain. Sementara dan pasti akan melupakannya begitu bertemu wanita lain. Tapi, Albion sampai sekarang masih saja menyimpan cinta itu. Yang dia pikir Rega lebih baik dan merupakan cinta sejatinya justru malah yang membuatnya kecewa.
Pria itu tergoda wanita lain bahkan saat sedang bersamanya.
Dan pada akhirnya, Mawar pun tak bisa tidur semalaman penuh. Kepalanya terus di penuhi Albion. Hingga jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari matanya masih saja terjaga.
"Semua karena Albion. aku bisa gila." Keluhnya sambil menyembunyikan wajahnya di bantal.
Padahal pagi nanti dia harus bekerja, jika cuti nanti siapa yang akan menyajikan makanan di restoran nya. Mawar menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus mencari koki untuk membantunya di dapur.
Seperti yang di katakan Albion juga orangtuanya, dia tak perlu repot-repot memasak hanya harus mengontrol semua pegawai saja. Mungkin saran itu akan dia gunakan. Dengan begitu, Mawar tak akan terlalu lelah setiap harinya.
Albion sendiri, pria itu justru terbalik dengan Mawar. Tidurnya begitu pulas sampai bermimpi sangat indah. Bibirnya tersenyum lebar di dalam tidurnya.
Kedekatannya dengan Mawar dan sikap Mawar yang tak pernah sekalipun menolak perlakuannya membuat Albion yakin jika dalam waktu dekat ini pasti bisa mendapatkan cinta nya.
Mungkin itu yang di namakan jodoh. Meskipun pernah terpisah jauh dan lama tapi suatu saat nanti pasti akan bersama. Albion yakin akan itu.
Mawar menatap langit-langit kamarnya, menggelengkan kepalanya begitu wajah Albion tiba-tiba muncul.
"Ada apa dengan ku?" Serunya, mengucek matanya lalu kembali melihat langit-langit kamarnya.
Menghembuskan nafas kasar saat wajah itu tak kembali muncul. Sungguh rasa kantuknya benar-benar hilang. Mawar terus terjaga hingga Rena membangunnya.
"Loh, sudah bangun?" Seru Rena begitu membuka pintu.
"ah...iya Bu. aku tidak bisa tidur semalaman." Keluh Mawar dengan mata sayu nya.
Jelas sekali terlihat jika dia memang belum tidur. Rena masuk lalu duduk di tepi ranjang, menahan Mawar yang akan bangun dari kasur nya.
"Hari ini kamu tidur saja, restoran tutup sehari tak akan membuatmu bangkrut." Ujarnya, menarik selimut lalu menutupi tubuh putrinya.
"Tapi..."
"kesehatan lebih penting. Mana ponsel mu, biar ibu hubungi para karyawan mu."
"di atas meja."
__ADS_1
"ya sudah, kamu tidur ya."
Rena mengecup kening Mawar lalu pergi keluar dengan membawa ponsel Mawar. Dia menghubungi satu persatu karyawan putrinya itu. Memberi tahu mereka jika hari ini di liburkan.
Baru saja selesai menghubungi karyawan terakhir, Albion tiba. Pria itu keluar dari mobil lalu segera menekan bel begitu tiba di depan pintu.
"Sebentar." Teriak Rena sembari berlari. "oh.. Albi, silahkan masuk."
"terimakasih Tante." Albion masuk kemudian duduk.
Rena ikut duduk di susul Ibnu yang baru keluar dari kamarnya.
"Sudah tiba, kamu memang selalu tepat waktu nak." Ujar Ibnu.
"iya om. apa Mawar sudah bersiap?"
"Hampir saja lupa. Mawar sepertinya kurang sehat, jadi dia akan tutup restoran nya."
"apa Mawar sakit? sakit apa?" Tanya Albion cemas.
Rena dan Ibnu tersenyum melihat raut wajah cemas Albion.
"Hanya kelelahan saja, istirahat sebentar juga akan membaik."
"iya. hati-hati Albi." Seru Rena.
"iya Tante."
Albion pun akhirnya berangkat bekerja dengan perasaan cemas. Dia khawatir dengan keadaan Mawar, apa mungkin karena semalam terlalu lama menunggunya di luar hingga Mawar menjadi sakit sekarang. Pria tampan itu menjadi merasa bersalah karena telah membuat Mawar menunggu malam itu padahal cuaca nya dingin.
...*************...
Prang....
Piring berisi nasi goreng yang baru saja di letakkan Hani di atas meja kini berserakan di mana-mana. Lantai yang sudah di pel nya kembali kotor.
"Apa-apaan ini, kamu mau buat ibu sakit perut ya?" Bentak Kulsum.
"tidak Bu. memangnya apa yang salah dengan nasi goreng nya?" Tanya Hani dengan cepat.
Kulsum yang biasanya bersikap lembut itu kini mulai memperlihatkan sikap aslinya. Lama-lama Hani mulai mengetahui seperti apa Kulsum juga Helena. Keduanya benalu yang tak memiliki malu. Sudah susah-susah dia membuatkan sarapan tapi malah dibuang begitu saja bahkan dituduh yang tidak-tidak.
"Coba kamu makan, pedas sekali." Helena pun ikut memuntahkan nasi yang baru di suap nya kedalam mulut.
__ADS_1
Buru-buru mengambil air lalu meminumnya hingga habis.
Hani mengerutkan keningnya, apa yang salah dengan sarapannya. Perasaan dia menggunakan bumbu seperti biasanya.
Dengan ragu Hani pun menyendok nasi itu lalu memakannya. Baru saja satu kunyahan dia langsung memuntahkannya.
"kenapa bisa begini?" Seru nya tak mengerti.
Nasi goreng yang di buatnya sungguh pedas, rasa merica nya begitu kuat. Tak ada asin atau rasa lain didalam nasi goreng itu.
"Nah kan, kamu saja sampai muntah." Kulsum sungguh kesal, perutnya sudah lapar tapi malah harus menelan makanan yang tak enak sama sekali.
Hani pun merasa ada yang aneh, tak mungkin dia salah menggunakan bumbu karena sudah jelas setiap tempat bumbu itu di beri nama.
"nah...aku tak menggunakan ini. Hanya ini dan ini saja." Ujarnya mencoba membela diri.
Sebuah toples kecil bertuliskan kaldu jamur dan garam dia letakkan di atas meja. Kulsum dan Helena pun membuka tutupnya lalu berdecih bersamaan.
"ini merica bukan kaldu jamur, bagaimana sih. bodohnya kamu Hani." Cerca Kulsum.
Hani mengepalkan tangannya. Dia tak suka di marahi apalagi sampai di sebut bodoh.
"ya sudah, kalian buat saja sarapannya sendiri. aku lelah dan harus segera bekerja." Ujarnya kesal.
"Tu... tunggu..." Kulsum mengejarnya. "Mana jatah ibu." Tanpa rasa malu Kulsum meminta uang pada Hani.
"ya, aku juga." Timpal Helena.
Hani memandang keduanya dengan geram. Sungguh, kedua wanita ini memiliki muka yang tebal. Bagaimana bisa mereka masih berani meminta padahal tadi membentaknya.
"berikan saja, Hani. nanti mas ganti kalau sudah dapat kerja." Seru Rega yang baru saja pulang dari lari paginya.
"tapi mas..."
"jangan pelit kamu, kan sudah janji mau memberi ibu dan mbak jatah tiap bulan." Kulsum merasa menang karena Rega membelanya.
Hani mendengus lalu segera masuk kedalam kamar. Sungguh sekarang tak ada ketenangan sama sekali dalam hidupnya. Suaminya tak bekerja, mertua dan ipar nya yang bagaikan ratu membuat Hani jengah.
Kontrak kerja nya pun akan berakhir bulan depan, mana dia sedang berbadan dua. Pasti butuh biaya besar nanti untuk persalinan. Jika Kulsum dan Helena terus meminta jatah, maka tabungannya bisa habis. Rega yang tak bekerja pun tak mungkin bisa di andalkan.
Di tambah kedua orangtuanya kini sudah tak peduli lagi. Hani benar-benar kalut dengan hidupnya. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, ini pilihannya maka bagaimana pun keadaan nya harus di jalani.
...***************...
__ADS_1