Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 12


__ADS_3

Rega merasa aneh ketika sampai di rumah tak melihat Mawar menyambutnya. Ia berjalan menuju dapur, di sana Kulsum, Marja dan Helena tengah makan.


"ibu, kemana Mawar?" Tanya Rega. "Mbak ada di rumah? lalu mobilnya?" Saat memasuki halaman rumah Rega pikir Helena tak ada di rumah karena mobilnya tak ada di sana.


"istrimu yang pakai." Seru Helena.


Rega pun menarik kursi lalu duduk di dekat Helena.


"jadi kemana Mawar?" Tanya Rega, mengambil piring kosong lalu menyodorkannya pada Kulsum, meminta nasi juga lauknya.


"Katanya pulang kerumah ibunya. Apa dia tak izin padamu?" Tanya Kulsum. Mendapatkan gelengan kepala sebagai jawaban. Wanita itu pun berdecih pelan. "istri mu itu ya, tak tahu sopan santun, tak punya rasa hormat juga tak menghargaimu." Cercanya.


Rega diam saja mendengar itu. Sementara Marja langsung menyimpan sendoknya dengan keras keatas piring membuat ketiga orang di meja makan itu melihat kearahnya.


"ibu itu kenapa? Mawar itu sudah sangat baik. dia bekerja seharian membersihkan rumah, masak untuk kita. Dia juga selalu berkata sopan pada ibu dan Bapak."


"alaahhh...emang dasar Bapak saja yang tak bisa lihat." Ketus Helena. "Mawar itu suka menyela omongan ibu, kadang mengabaikan panggilanku juga dan sekarang dia pergi tak bilang-bilang pada Rega. apa itu yang namanya istri baik."


Rega menghela nafas panjang. Semenjak dirinya menikah dan membawa Mawar tinggal di rumah ini, keluarganya selalu saja ribut. Ibunya bahkan terlihat risih setiap berada di dekat Mawar.


"nanti aku akan nasihati Mawar, Bu." Ujar Rega membuat Kulsum tersenyum lebar.


Marja menggelengkan kepalanya. Rega selalu saja menutup mata soal keadaan rumah ini. Sudah jelas ibunya selalu berusaha memojokkan istrinya tapi dia sama sekali tak membela Mawar. Seolah setuju dengan setiap kata-kata yang di lontarkan Kulsum.


Di saat semuanya sedang makan, Mawar pun tiba. Masuk kedalam rumah dengan menenteng banyak sekali paper bag. Dia meletakkan semuanya di kursi yang ada di ruang tamu. Lalu berjalan menuju dapur begitu mendengar suara berisik dari sana.


"Rega, uang mu di pegang Mawar semua. apa kamu percaya uang itu di pakai dengan baik oleh istrimu itu?" Tanya Kulsum. Merasa kurang setuju dengan keputusan Rega yang menyerahkan semua gajinya pada Mawar.


"maksud ibu?" Rega menatap Kulsum tak mengerti.


"begini loh, bisa saja kan uang itu dia pakai beli barang-barang yang tak berguna. bukannya memenuhi keperluan rumah." Helena menimpali. Kulsum mengangguk menyetujui perkataan putrinya itu. Keduanya memang kadang satu pemikiran jika soal Mawar.


Seolah di mata mereka, Mawar bukanlah wanita yang tepat bagi Rega. Bisa saja wanita itu hanya ingin menguasai uang Rega saja.


"kalian berdua ini kenapa? Mawar itu sudah memenuhi kewajibannya. lihat isi kulkas itu, penuh bukan. beras dan juga keperluan lainnya sudah di sediakan. apa itu yang namanya di pakai tak benar?" Marja merasa tak setuju.


Rega menghela nafas. Kecemasan ibu dan kakaknya mungkin hal wajar baginya, karena selama ini Kulsum lah yang memegang kendali rumah ini. Setiap bulan Rega menyerahkan gajinya pada sang ibu untuk di atur agar bisa cukup untuk satu bulan kedepan.


Tapi, karena sekarang dirinya sudah menikah maka hak itu ia berikan pada Mawar, sebagai istrinya.


"Mawar tak mungkin melakukan itu Bu. dia juga punya uang tabungan yang banyak. selama gadis dia juga bekerja Bu, dan uang nya dia simpan." Jelas Rega.


Kulsum langsung mendengus. Dia berkata begitu hanya ingin membuat Rega kembali memberikan hak kepadanya untuk mengelola keuangan rumah ini. Tapi sepertinya Rega tak terpengaruh sama sekali.


Mawar tersenyum kecil mendengar pembelaan dari suami dan ayah mertuanya. Untuk sesaat dia lupa jika Rega telah berbuat buruk di belakangnya.

__ADS_1


"ekhem..." Mawar berdeham saat ibu mertuanya akan kembali bicara.


Kehadirannya tentu membuat Kulsum dan Helena langsung menunduk, seperti salah tingkah. Seperti kucing yang ketangkap basah mencuri ikan. Suasana jadi canggung, Rega pun hanya tersenyum saja begitu juga dengan Marja. Mereka takut jika pembicaraannya tadi terdengar oleh Mawar.


"mas, ada yang ingin aku bicarakan nanti. setelah selesai makan aku tunggu di kamar ya?" Ujarnya pada Rega.


"loh, kamu tak makan Mawar?" Tanya Rega.


Mawar menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa makan jika di kelilingi oleh manusia-manusia munafik macam mereka. Mawar sudah sangat muak dengan semuanya. Apalagi ketika melihat wajah Rega, bayangan pria itu yang tengah bermesraan dengan wanita lain melintas begitu saja di pikirannya. Membuatnya semakin tak ingin berlama-lama berada di dekatnya.


"dan di ruang tamu ada bingkisan dari ibu. untuk kalian semua." Ucapnya lagi lalu pergi.


Rega menarik nafas dalam-dalam. Dia berpikir pasti Mawar marah karena mendengar percakapan mereka tadi. Maka dia pun segera menyelesaikan makannya.


"Bu, lain kali jangan bicara sembarangan. Mawar bisa tersinggung." Rega melihat ibunya yang tengah mencuci tangan.


"iya ibu tahu. mari elen, kita lihat apa yang diberikan mertuanya Rega untuk kita." Ajaknya pada Helena.


...***************...


Hani terkesima melihat Bagas berdiri didepan pintu masuk rumah nya. Pria itu tersenyum lalu mendekat kearahnya yang baru keluar dari mobil.


"untuk apa kamu disini?" Tanya Hani ketus, tak suka dengan keberadaan Bagas.


Pria itu hanya tersenyum saja lalu menarik tangan Hani sehingga tubuh mereka pun bertabrakan. Tangan kanannya melingkar di pinggang Hani erat.


Bagas terkekeh geli ketika melihat remot kecil yang di pegang Hani. Dia tahu benda apa itu, matanya tertuju kebawah tepat kearah pribadi wanita itu.


"lucu sekali, apa itu enak?" Tanyanya dengan nada penuh ejekan.


Hani dengan kuat menghempaskan tangan Bagas, mendorong tubuh pria itu hingga menabrak pintu.


"Pergi." Usirnya.


Bagas melipat tangannya di dada. Matanya menatap tubuh Hani dari bawah ke atas lalu menggelengkan kepalanya.


"ck...ck..., kamu menolak ku dan berpacaran dengan suami orang. kenapa? apa karena dia lebih beruang?" Tanya Bagas.


Ternyata pria itu masih merasa sakit hati dengan penolakan Hani. Ia tak terima karena Hani beralasan tak ingin menjalin kasih dengan pria manapun untuk saat ini, tapi nyatanya sebulan setelah penolakannya dia malah terlihat berkencan dengan pria lain. Yang tentu saja, merupakan atasan mereka.


"Kamu pikir aku se matre itu? heuh...asal kamu tahu, aku tak butuh uang dengan hubungan ini. hanya cinta yang ku perlukan." Ujarnya sengit. Hani memang bukan wanita yang tipikal mencari pasangan hanya demi uang.


Soal uang, ia tak kekurangan. Karena keluarganya yang kaya raya juga di tambah dirinya pun bekerja saat ini. Rega bukan bank uang baginya, dia hanya butuh pria itu untuk mengisi hatinya. Baginya tak masalah jika sampai di jadikan istri kedua tanpa di nafkahi pun, karena bukan uang yang dia butuhkan dari pria itu.


Bagas bungkam. Dia menyelediki soal Rega. Bertanya pada beberapa temannya dan mendapatkan kenyataan tentangnya. Dia seorang pria yang baru saja menikah. Hanya saja Bagas tak tahu jika istri Rega adalah Mawar, temannya. Karena memang dia tak bertanya siapa istri Rega. Menurutnya itu tak penting.

__ADS_1


"jadi...pergi sekarang juga atau aku telpon polisi." Ancam Hani.


Bagas mengepalkan tangannya. Dia mendengus keras lalu pergi meninggalkan Hani dengan hati yang panas.


"****." Umpat Hani. Kekesalannya semakin bertambah karena kehadiran Bagas.


Dia kesal karena Rega tak mampir hari ini. Padahal tubuhnya sangat ingin di jamah. Entah kenapa, rasanya Hani ingin melakukan hal itu setiap saat bahkan jika memungkinkan dia ingin terus berada di atas kasur dengan Rega yang mendesah keras.


Sepertinya keadaannya memang sudah tak bisa di anggap normal. Ia selalu haus akan belaian semenjak melakukannya dengan Rega.


...***************...


Mawar sudah mengganti bajunya dengan baju tidur bermotif bunga mawar. Dia duduk di tepi ranjangnya.


Rega pun tengah serius menonton melakui ponselnya.


"mas, aku ingin bicara."


"bicara saja." Rega mematikan ponselnya lalu duduk menghadap Mawar.


Helaan nafas berat yang terdengar membuat Rega menatap Mawar dengan seksama. Sepertinya Mawar ingin mengatakan hal yang serius.


"Mawar, ada apa? apa ada yang kamu inginkan?" Tanya Rega, menyentuh tangan Mawar lembut.


Mawar hendak menarik tangannya tapi di tahannya. Dia harus berpura-pura tak tahu apapun soal perselingkuhan itu sampai waktunya tiba. Harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya.


"aku ingin bekerja kembali."


Kening Rega berkerut. "kenapa? apa gaji ku tak cukup?"


Memang Mawar akui, gaji itu cukup jika tak ada yang merongrong. Tapi, ibu dan kakaknya pasti tak akan berhenti untuk meminta pada Rega. Mawar ingin membuktikan pada mertua dan ipar nya kalau dirinya tak menghabiskan uang Rega bahkan gajinya lebih besar dari pria itu. Sekaligus ingin membalas perbuatan suaminya.


Dia ingin tahu, sampai kapan hubungannya dengan wanita itu di rahasiakan. Dia ingin ketika nanti memutuskan untuk bercerai, dirinya sudah sangat siap. Tak memiliki ketergantungan dengan Rega.


"Kenapa tiba-tiba ingat kembali bekerja Mawar?" Tanya Rega penasaran.


"aku hanya jenuh saja di rumah."


Rega menghembuskan nafas kasar. Bukan tanpa alasan dia meminta Mawar untuk tak lagi bekerja. Sebenarnya Rega takut jika istrinya itu nanti dekat dengan pria lain. Di tambah lagi para koki di restoran berbintang tempat Mawar bekerja dulu sangatlah tampan di banding dirinya. Rega hanya takut jika Mawar nanti berpaling.


"tidak. kamu jangan bekerja lagi." Tolaknya tegas.


"tapi..."


"Tak ada kata tapi. sudahlah, aku mau tidur. jangan pernah mengatakan keinginanmu itu lagi Mawar." Rega sungguh menolak permintaan Mawar.

__ADS_1


Mawar diam. Tak tahu kenapa Rega begitu keras menolak keinginannya.


...***************...


__ADS_2