Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 42


__ADS_3

Setelah tidur beberapa jam akhirnya Mawar merasa sedikit lebih baik. Bangun jam 8 pagi lalu segera membersihkan tubuhnya. Cuaca cerah membuatnya ingin berjalan-jalan sebentar mumpung lagi libur.


"Mau kemana?" Rena melihat Mawar yang sedang memanaskan mesin mobilnya.


Sudah hampir satu bulan mobilnya tak lagi dia pakai karena selalu keluar bersama Albion. Mawar mematikan mobilnya lalu menghampiri Rena yang berdiri di teras rumah.


"Aku mau beli beberapa barang. apa ibu mau ikut?"


"ah...ibu malas kemana-mana. belikan ibu kue saja ya."


"oke, kalau begitu aku berangkat Bu."


Rena melambaikan tangannya. Wanita tua itu kembali masuk kedalam.


Mawar memilih salah satu toko baju yang menurutnya sangat menarik. Toko bercat biru merah dengan tulisan Almaira itu menjadi pilihannya untuk membeli baju sekarang.


Toko baju khusus wanita yang menyediakan keperluan para wanita. Mulai dari baju dalam hingga gaun pesta tersedia di sana.


"Selamat datang." Seru pegawai toko dengan ramah.


Suasana toko yang nyaman di tambah pelayanannya yang ramah membuat Mawar sangat betah berlama-lama berada di sana. Memilih beberapa potong baju hingga dalaman. Sampai saat memutuskan untuk membayar semuanya Mawar menghentikan langkahnya begitu sudah dekat dengan kasir.


"Aku hanya ingin baju yang itu."


"tapi maaf mbak. baju itu hanya tinggal satu dan sudah di pesan oleh seseorang."


"tak mau tahu, pokoknya aku mau yang itu. akan aku bayar dua kali lipat dari harga aslinya."


Mawar mengerutkan keningnya saat dengan jelas melihat siapa wanita yang tengah berdebat sang kasir toko. Menggelengkan kepalanya lalu memilih untuk kembali berkeliling saja, tak ingin terlibat karena Mawar pastikan wanita itu pasti akan menyeretnya kedalam masalah jika sampai melihat keberadaannya.


"Niat ingin bersenang-senang malah bertemu orang seperti itu. Ck... sepertinya tuhan sengaja." Keluh Mawar.


"Toko ini terlalu jelek, bajunya pun tak berkualitas. aku tak jadi beli." Maki wanita yang memakai baju putih itu.


"ya sudah, kami tak butuh pembeli seperti anda." Sang kasir pun tak kalah nyolot.


Mawar masih mengintip dari kejauhan, setelah wanita itu benar-benar keluar baru dia berjalan menuju kasir. Menyerahkan semua barang pilihannya.


"Wanita tadi kenapa ya? kok kelihatan marah-marah?" Tanyanya pada kasir wanita itu.


Jujur saja Mawar penasaran dengan apa yang terjadi. Matanya melihat keluar, lalu mengangguk setelah mendengar penjelasan sang kasir. Setelah membayar semuanya ia pun segera keluar.


"Mawar?"


Mawar menghela nafas berat. Ia pikir Helena sudah pergi karena saat dia keluar dari toko tak melihatnya. Wanita tadi itu memang Helena, sang mantan kakak ipar.


"benar sekali dugaanku. ini pasti mobil mu." Helena menarik tangan Mawar sehingga saling berhadapan.


Mawar menyilangkan tangannya lalu menatap Helena dengan jengah.


"Mana kuncinya?" Helena meminta kunci mobil Mawar seolah itu miliknya saja.


"untuk apa?" Tanya Mawar dengan alis bertaut.


"hei...jangan pura-pura bodoh kamu. mobil ini milikku. kamu sudah memberikannya pada ku saat menikah dengan Rega. sekarang mana kuncinya, aku mau pulang." Ujar Helena tanpa ada rasa malu sedikit pun.


"Apa mbak tak salah bicara? dari awal ini mobil ku, ayahku yang belikan. sampai kapanpun ini milik ku." Tegas Mawar lalu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan Helena yang mengetuk brutal kaca mobilnya, ia nyalakan mesinnya lalu pergi begitu saja tak menghiraukan teriakan Helena sama sekali.


"awas saja kamu Mawar. aku pasti bisa mengambil mobil itu." Pekik Helena.


Dia memang seperti itu, selalu menginginkan milik orang lain. Itulah sebabnya kenapa dirinya tak pernah bisa mempertahankan hubungannya dengan kekasih-kekasihnya dulu. Hanya saja, semua perpisahan itu seolah semua salah sang pria. Berselingkuh atau meninggalkannya tanpa sebab. Sebenarnya semua terjadi karena kesalahan Helena sendiri sehingga membuat kekasih nya memilih jalan itu.


Helena yang terlalu matre, belum lagi Kulsum yang selalu ikut campur membuat alasan para kekasih Helena dulu meninggalkan nya.


"ck... menyebalkan sekali." Gerutu Mawar.


Tring...


Pesan masuk pada aplikasi berwarna hijau membuat Mawar langsung tersenyum, melupakan kekesalannya. Apalagi saat melihat siapa yang mengirimkan pesan itu.


"Aku sehat kok. kita bertemu di restoran Jepang nanti sore." Mawar memilih untuk mengirim pesan suara karena mengetik pesan di saat sedang menyetir bisa berbahaya.


...*************...


"a...apa? kenapa begini? kontrak kerja saya baru akan berakhir bulan depan. Kenapa Bapak bisa..."


"ini perusahaan saya, apa kamu keberatan?"


Hani langsung bungkam mendengar bentakan dari atasan nya. Tubuhnya bergetar menahan emosi. Bos nya baru saja memecatnya dan memberikan uang kompensasi yang tak begitu besar padanya. Dengan kesal Hani pun keluar dari ruangan bos-nya.


Dia di pecat sebelum kontrak kerjanya habis. Semua terjadi karena kesalahan yang dia buatnya. Sering datang terlambat, laporan yang dibuatnya pun selalu banyak kesalahan. Semuanya terjadi karena satu hal, keluarga barunya.


Karena terlalu banyak tuntutan dari keluarga mertuanya membuat Hani tak konsentrasi setiap bekerja. Pekerjaan rumah pun membuat dirinya telat datang kekantor.


Gajinya yang sebesar lima juta kini telah di transfer ke rekening nya di tambah dengan uang kompensasi nya juga. Hani hanya bisa pasrah sekarang. Menyalahkan orang lain pun tak ada gunanya.


"Cukup sial bagiku menikah dengan mas Rega. kenapa jadi begini, ini semua tak seperti yang aku harapkan." Keluhnya.


"apa aku temui mamih dan Papih saja." Gumamnya. Berharap orangtuanya sudah tak marah lagi dan mau membantu masalahnya.


Setidaknya Hani akan tenang jika orangtuanya mau membiayai hidupnya atau menerima Rega di perusahaan mereka. Dengan begitu Hani tak akan kesulitan untuk menghadapi kedepannya.


Kehamilan nya semakin bertambah, dia butuh biaya besar nanti untuk persalinannya.


Dalam keadaan kalut Hani mengemudikan mobilnya. Wanita berbadan dua itu tak sadar jika di depan sudah lampu merah. Terus melaju hingga hanya dalam hitungan detik saja mobil yang dibawanya menabrak mobil di depannya.


Brak...


"oh...tuhan." Hani terkesiap, meringis saat merasakan perutnya tiba-tiba terasa di aduk karena mendapatkan goncangan yang cukup kuat.


"Ya Tuhan..." Mawar menjerit kecil. Punggungnya sakit sekali, dia pun segera keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.


Beberapa pengendara lain pun ikut turun untuk melihat kecelakaan kecil itu.


Tok...Tok...


"Hei, kamu tak apa-apa?" Mawar mengetuk kaca mobilnya, mengintip kedalam untuk melihat keadaan sang sopir mobil.


Karena tak kunjung keluar akhirnya Mawar meminta bantuan seseorang untuk membuka pintu nya.


Pintu pun berhasil dibuka. Mawar bergegas untuk melihat kondisi nya, karena keadaan mobilnya yang terlihat sedikit penyok itu tak mungkin membuat sang penyetir terluka parah.


"Hani..." Matanya membulat melihat bahwa orang yang telah menabrak mobil nya dari belakang adalah Hani, istri mantan suaminya.

__ADS_1


Hani mengerjap kan matanya berulang kali. Kepalanya pusing dan perutnya pun terasa di aduk. Dengan mata berkunang-kunang dia meminta bantuan.


"tolong bayiku...." Suaranya begitu lemah dan nyaris tak terdengar.


Mawar pun menjadi ikut panik lalu segera meminta beberapa orang untuk memindahkan Hani kedalam mobilnya. Dengan cepat dia membawanya kerumah sakit. Saat ini di pikirannya hanya ingin menyelematkan seseorang yang tengah terluka. Tak peduli siapa orang itu.


...***********...


"Al, Aku di rumah sakit. bisa tolong kemari?" Mawar sedikit bergetar ketika mengatakan itu. Jujur saja, dia pun sedikit merasa takut dan terkejut dengan kejadian di jalan tadi.


Albion yang baru saja selesai meeting langsung berlari dengan cepat keluar dari gedung. Nampak jelas dia khawatir dengan keadaan Mawar. Tak bertanya ada apa dan kenapa, Albion langsung mematikan telponnya begitu Mawar selesai memberi tahu di rumah sakit mana dia berada.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai kesana. Albion benar-benar khawatir, dia tahu Mawar sedang tak enak badan tadi pagi dan sekarang dia mendengar wanita itu ada di rumah sakit sekarang. Pikirannya menjadi buruk, dia pikir Mawar pasti sakit parah sampai harus di bawa kerumah sakit.


Albion berlarian menuju ruang UGD. Pria yang masih memakai jas kerja itu celingukan mencoba mencari keberadaan Mawar.


"Albion..."


"Mawar?" Albion langsung mendekati Mawar yang sedang duduk. "kamu tak apa-apa? mana om dan Tante? kenapa kamu duduk di sini?" Cercanya dengan pertanyaan.


Mawar meminta Albion untuk tenang. Menariknya agar ikut duduk.


"aku baik-baik saja...hanya..." Ucapan Mawar terhenti saat seorang perawat menghampiri nya.


"maaf Bu,apa ibu keluarga dari pasien yang bernama ibu Hani?"


"saya temannya." Mawar berdiri. "ada apa?"


"Oh.. kalau begitu dimana keluarganya? terutama suaminya?"


Mawar melirik Albion. Dia tak ingin berhubungan lagi dengan mereka. Melihat tatapan Mawar akhirnya Albion pun akan bicara.


"akan saya hubungi."


"mohon cepat ya pak. karena pasien sedang hamil dan butuh tindakan sekarang."


Albion menyentuh tangan Mawar dan meminta penjelasan darinya begitu perawat itu pergi.


"Hani menabrak mobilku, begitu cerita. Al, kamu bisa hubungi mas Rega kan?" Pintanya.


Albion tersenyum lalu mengangguk. Dia pun segera menghubungi Rega. Untung Mawar masih menyimpan nomornya sehingga tak sulit bagi mereka untuk menghubunginya.


"sebaiknya kita pulang saja. Rega pun sudah di jalan. aku tak mau nanti kamu di salahkan atas apa yang tak pernah kamu lakukan." Albion menatap Mawar dengan j


khawatir.


Mawar mengangguk, mungkin benar apa yang di katakan Albion. Mengetahui sifat Hani yang seperti itu pasti akan membuat Mawar dalam posisi yang tak menguntungkan. Maka dengan cepat Mawar pun menyetujui ajakan Albion untuk pulang.


"Mobil mu biar asisten ku yang ambil. Masuklah." Albion membuka pintu mobilnya.


Mawar pun masuk kedalam dengan perasaan tak tenang. Pikirannya tertuju pada Hani yang masih berada didalam.


"Kamu tak terluka bukan?" Tanya Albion.


"tidak. aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan Hani? bagaimana jika bayinya..."


"jangan terlalu berpikir aneh. Semua salahnya, dia yang menabrak mobilmu bukan? jangan pikirkan dia, sebaiknya kita pulang saja." Albion menggenggam tangan kanan Mawar, mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2