Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 47


__ADS_3

Mawar sudah berganti pakaian mengenakan piyama pink kesukaannya. Wanita itu langsung merebahkan tubuhnya lalu mengambil ponselnya. Tersenyum lebar saat melihat wajah Albion ada di layar ponselnya.


"Malam sayang?" Suara Albion terdengar sangat pelan.


Mawar menarik selimutnya lalu menutup sebagian wajahnya yang kini memerah. Panggilan sayang itu membuatnya tersipu.


"Jangan di tutup. aku tak bisa melihat wajahmu yang cantik." Seru Albion protes.


Mawar tertawa pelan lalu memiringkan tubuhnya. Ia letakkan ponselnya di atas kasur dengan bantal sebagai penyangga agar tak terjatuh.


"kenapa VC sih, aku jadi malu." Serunya.


"karena aku ingin melihat wajahmu agar bisa mimpi indah malam ini."


"hahaha...dasar."


Mawar dan Albion pun selebihnya hanya banyak diam. Saling menatap satu sama lain melalui layar ponsel. Menyelami masing-masing cinta dari sorot mata satu sama lain.


Kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta ini tengah dalam suasana baik. Mawar maupun Albion sama-sama saling mencintai sekarang. Rasa cinta Mawar terhadap Albion kian tumbuh dengan seiring nya berjalan waktu.


Wanita yang pernah merasakan sakit karena di khianati itu kini mulai bisa membuka hatinya kembali dan telah melupakan masa lalunya.


"Sebaiknya kamu tidur saja." Ucap Albion saat melihat Mawar telah menguap beberapa kali.


Mawar menggelengkan kepalanya. Dia tahu, Albion masih terlihat segar dan belum merasakan kantuk. Jadi mana mungkin dia meninggalkan pria itu tidur begitu saja.


"Jangan keras kepala, tidur saja dan biarkan panggillan ini tetap menyala." Seru Albion lagi membuat Mawar langsung membuka matanya lebar.


"kenapa?" Tanyanya tak mengerti.


Albion tersenyum, lalu kembali berkata.


"aku masih ingin menatap wajah mu."

__ADS_1


"Al...kamu selalu saja berkata manis."


"hahaha...tapi kamu suka itu. jadi aku akan tetap berkata manis setiap waktu."


Mawar terkekeh mendengarnya, ia pun menyukainya. Lagi-lagi Mawar menguap panjang, matanya sungguh tak bisa lagi di ajak bekerja sama. Dengan perlahan kedua mata cantik itu mulai menutup.


"Malam Al, aku sudah tak tahan." Suara Mawar mulai terdengar samar lalu wanita itu benar-benar terlelap.


Albion masih membiarkan ponselnya menyala. Ia pandangi wajah Mawar dari balik layar ponselnya. Jemarinya perlahan menyentuh layar berukuran kecil itu.


"Seandainya waktu berputar kembali ke masa lalu, aku tak akan membiarkan pria itu menikahi mu." Gumamnya.


Albion sedikit menyesali sikap pengecutnya di masa lalu. Ia mundur begitu tahu Mawar telah berpacaran dengan Rega. Padahal bisa saja dia tetap maju dan merebut Mawar dari pelukan pria itu. Rega terlalu buruk dan tak pantas mendapatkan Mawar.


Seandainya dulu dia mampu melawan Rega saat itu. Maka hal sulit tak akan di hadapi oleh Mawar. Wanita yang telah menjadi cinta pertama nya itu tak akan merasakan kesakitan karena ulah Rega.


"maaf karena aku terlambat menyadari jika kamu begitu berharga untukku. seharusnya aku menjadi kuat dari dulu." Albion terus memandangi wajah Mawar dari balik layar ponselnya.


Wajahnya begitu damai dan tenang. Mawar terlihat sangat cantik bahkan di saat tertidur. Perlahan rasa kantuk pun di rasakan oleh Albion, pria itu tak mematikan panggilannya. Justru membiarkan ponselnya terus terhubung, seolah keduanya tertidur di ruangan yang sama dengan saling berhadapan.


Hani mengatupkan bibirnya rapat. Amarahnya semakin memuncak ketika Rega memintanya untuk kembali kerumah. Bukannya mencoba menenangkan atau meminta maaf, justru pria itu malah memaksa Hani untuk mengerti dengan sikap ibunya.


Mau sampai kapan pikirnya. Baru menikah beberapa bulan saja Hani mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan rumah Rega. Kulsum terlalu banyak meminta dan sama sekali tak tulus kepadanya. Wanita itu hanya baik di awal saja.


"maksud mas, aku harus tetap sabar menghadapi sikap ibumu?"


Rega mengangkat wajahnya yang tertunduk. Pria itu menatap tajam kearah istri nya yang baru saja meninggikan volume suaranya.


"tentu saja. ibuku sudah tahu, jadi kamu sebagai menantu harus mengerti dengan keadaan ibu."


Hani tertawa sini. Nafsu makannya langsung menguar entah kemana. Bahkan makanan yang di pesan nya secara online itu hanya menjadi hiasan meja saja. Niatnya dia ingin makan dulu untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Tapi, baru saja akan makan Rega sudah menodongnya dengan kalimat-kalimat yang tak mengenakkan.


"aku menikah dengan mu bukan untuk menjadi budak ibu dan kakak mu, mas. aku sudah lelah, setiap hari membersihkan rumah dan harus menyiapkan makan untuk kalian juga. Di tambah aku juga harus bekerja dan sekarang aku tengah hamil. seharusnya kamu mengerti itu, wanita hamil itu tak boleh lelah dan stress."

__ADS_1


Brak..


Rega menggebrak meja sehingga membuat makanan yang ada di atasnya sedikit tumpah. Hani bahkan sampai berjingkat kaget. Wanita hamil itu menelan ludahnya melihat tatapan Rega yang semakin nyalang.


"kamu sendiri yang meminta untuk masuk kedalam rumah ku. Bahkan kamu merayu ku, mencoba segala cara agar aku bisa menikahi mu. lalu sekarang kamu mempersalahkan itu semua? Mawar bahkan sampai meninggalkanku karena mu. semua itu keinginan mu jadi sekarang nikmati saja hidup mu." Rega berkata begitu dengan sangat marah.


Ia merasa di jebak oleh Hani. Disini keduanya merasa menjadi korban yang paling tersakiti. Padahal jelas sekali, semua terjadi karena ulah mereka sendiri. Terlalu mengedepan kan nafsu sehingga lupa dengan alur kedepan nya. Apa mereka akan bahagia atau tidak.


Hani terdiam. Perkataan Rega terasa benar di benaknya. Dia memang telah banyak melakukan cara buruk untuk memasuki kehidupan orang lain. Bahkan merasa menjadi pemenang saat wanita lain tersingkir karenanya. Tapi, kemenangan itu rupanya hanya sebuah jalan menuju kekalahan.


"kembali atau aku akan meninggalkanmu?" Ancam Rega.


"tidak mas. aku minta maaf." Hani langsung berlutut di hadapan Rega.


Dia tak mungkin membiarkan itu terjadi. Saat ini hanya Rega lah keluarganya. Jika Rega meninggalkannya siapa yang akan ada di sampingnya. Orangtuanya telah mengusir nya, tak mungkin Hani memohon pada mereka untuk kembali menerima nya. Terlalu takut juga malu bahkan hanya sekedar memikirkannya saja.


Rega menyentuh tangan Hani, membawa wanita itu kedalam pelukannya. Dengan lembut dia usap punggungnya.


"Baiklah, tapi kamu pulang ya? kasihan ibu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. beliau sudah tua, harusnya tak mengerjakan itu semua." Bisik Rega.


Hani ingin protes tapi dia tak sanggup lagi. Maka hanya anggukan kepala saja yang di berikan. Dalam hati dia merutuki kebodohannya. Kenapa menjadi begitu lemah dan tak berdaya seperti ini, padahal dulu dia wanita yang mandiri dan tak tergantung pada siapapun.


Akhirnya Hani dan Rega pun kembali pulang. Dengan berat hati Hani meninggalkan rumahnya.


"rumah ini kita jual saja. kita buat modal usaha." Tutur Rega begitu sudah masuk kedalam mobil.


Hani menyipitkan matanya. Tak mungkin dia menjual rumah yang di bangun dengan hasil keringatnya sendiri itu. Perjuangannya untuk memiliki rumah sendiri sangatlah berat. Dia bekerja dari pagi hingga malam untuk memiliki semuanya.


"Tapi..."


"lagipula kamu tinggal dengan ku. rumah ini kosong, sebaiknya memang di jual." Sela Rega.


Dengan terpaksa Hani pun kembali diam. Ketidakberdayaan nya membuat wanita itu terlihat sangat patuh. Hani tak bisa membantah Rega untuk saat ini.

__ADS_1


...**************...


__ADS_2