Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 48


__ADS_3

Malam berganti pagi. Mawar menggeliat dan menguap panjang. Matanya terbuka kecil untuk melihat jam berapa sekarang. Jam weker di atas mejanya yang terus berdering itu sungguh mengganggu tidurnya.


Pluk...


Dengan kesal Mawar menepuknya supaya alarmnya berhenti. Saat akan bangun dia teringat dengan ponselnya, melihat kearah samping di mana ponsel itu berada semalam. Keningnya mengerut saat melihat ponsel itu dalam keadaan masih menyala dalam mode panggilan video call.


"jadi semalaman ini..." Dengan kaget Mawar menutup mulutnya dengan tangan.


Layarnya hitam, Albion tak terlihat sama sekali. Sepertinya pria itu tidur dengan nyenyak dan ponselnya pasti dalam posisi tertelungkup atau tertindih oleh tubuh Albion.


Saat akan menekan tombol merah untuk mematikan tiba-tiba suara Albion terdengar. Mawar pun mengurungkan niatnya.


"selamat pagi, sudah bangun?" Pria itu tersenyum amat lebar, layar yang tadinya gelap kini menunjukkan wajah tampan Albion.


Mawar langsung mengambil bantal lalu menutup sebagian wajahnya, hanya matanya saja yang dia tunjukkan. Ia tak ingin Albion melihat wajah bangun tidurnya yang pasti sangat jelek.


"Al, ku pikir..."


"masih tertidur? haha..aku sudah bangun setengah jam lalu. Aku sengaja tak mematikan VC ini, apa kamu terkejut?"


"tentu saja. ponsel ku sampai panas seperti ini."


"sorry-sorry. ini sudah hampir jam 7. aku harus sarapan, kalau begitu kamu tutup saja panggillan nya." Seru Albion.


Mawar menganggukkan kepalanya.


"aku juga akan bersiap."


Setelahnya Mawar pun langsung mematikan ponselnya. Menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan apa yang Albion lakukan. Sungguh, pria itu selalu memberikan kejutan baginya.


Mawar pun bergegas turun dari ranjangnya. Baru saja akan masuk kekamar mandi tiba-tiba Rena masuk kedalam. Pintu kamarnya memang tak pernah dia kunci.


"Sayang, sebentar.." Panggil Rena.


"iya Bu. kenapa?"


"hei...kamu tak lupa kan, sekarang temani ibu reunian?"


Mawar menepuk jidatnya. Hampir saja di lupa.


"oh... Tuhan. aku akan segera bersiap Bu. oh..iya Bu, tolong kirim pesan pada Albion kalau hari ini tak perlu menjemput karena aku tak akan ke restoran." Serunya sambil masuk kedalam kamar mandi.


Antara Mawar dan Rena memang tak pernah ada yang di sembunyikan. Rena yang selalu bersikap seperti teman di waktu bersamaan itu membuatnya begitu dekat dengan sang putri. Perannya sebagai ibu dan juga sahabat bagi Mawar membuatnya saling terbuka satu sama lain.


Dengan cepat Rena pun mengetikkan pesan seperti yang di minta Mawar lalu segera menekan tombol send.


Baru jam 7 pagi, masih banyak waktu untuk bersiap. Rena tak sabar ingin segera bertemu dengan teman-temannya yang sudah sangat lama tak berjumpa itu. Terutama, Maria sang teman dekat sewaktu di SMA.


Wanita lemah lembut dan pintar itu begitu membuat Rena iri dulu. Karena Maria begitu di sukai di kelas. Tapi, meski begitu Rena tetap berteman baik. Sehingga tanpa dia sadari jika Maria sengaja mendekati nya untuk mendapatkan Ibnu, sang kekasih.


Tanpa Rena tahu, Maria menggoda Ibnu. Sehingga Ibnu pun tergoda. Hanya 5 bulan saja, hubungan Maria dan Ibnu terjalin. Karena Rena menangkap basah keduanya. Rena kecewa dan meminta putus waktu itu, tapi Ibnu tak mau. Bahkan pria itu rela melakukan apa saja demi mendapatkan maaf darinya.


Mengingat kisah cintanya membuat Rena tersenyum miris. Perjuangan Ibnu membuat hatinya tersentuh dan Rena pun memaafkannya. Tak di sangka ternyata mereka bisa sampai berumah tangga dan memiliki putri. Mungkin inilah yang di namakan jodoh.

__ADS_1


Rena tersenyum sendiri saat ingat wajah marah Maria saat itu. Wanita itu begitu marah sehingga sampai kelulusan tiba. Rena, Ibnu dan Maria tak lagi dekat. Bahkan Ibnu sampai sekarang tak pernah menyinggung wanita itu.


"ibu, senyum-senyum sendiri." Tegur Mawar yang sudah selesai dengan acara mandinya. "hayoh...apa di acara reuni nanti ada pacar pertama ibu ya?" Goda Mawar.


"huss... ngaco kamu. cepat ganti baju, kita ke salon dulu. Pokoknya ibu mau kita tampil wah nanti." Rena keluar dari kamar Mawar.


"oke siap Bu." Teriak Mawar agar ibunya bisa mendengar.


...***************...


Hani kembali melakukan aktifitasnya sebagai istri juga menantu di rumah suaminya. Bangun sekitar jam 6 pagi, lebih awal dari yang lain. Rega bahkan terlihat masih nyenyak di dalam selimut tebalnya.


Dengan malas wanita berbadan dua itu mengambil sapu lalu segera menyapu lantai. Semua ruangan dia bersihkan.


"Apa ini?" Kening Hani berkerut saat melihat sebuah testpack tergeletak di lantai, tepatnya di dekat tempat sampah yang diletakkan di pojokkan dapur.


Matanya membulat sempurna begitu benda itu telah dia pegang. Semakin terkejut saat melihat garis dua tertera di sana.


"ini pasti milik Mbak Helena." Cetusnya mengira-ngira. Hani berpikir begitu karena tak mungkin mertuanya melakukan test kehamilan seperti ini.


Senyumnya terlihat lebar, Hani memasukkan benda itu kedalam saku bajunya. Dia akan memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Helena menuruti segalanya. Dengan begitu Hani bisa membalaskan semua perlakuan kakak iparnya yang selalu banyak meminta itu.


Sementara itu, di kamar. Helena nampak gelisah. Semalaman tak dapat tidur karena memikirkan nasibnya. Dia begitu ketakutan dengan apa yang telah menimpanya.


Tangannya berulang kali meremas perutnya lalu memukulnya. Meski sakit tapi Helena tak menghentikan aksinya, justru dia semakin kuat memukul perutnya. Tujuannya hanya untuk membuat janin yang ada di dalam rahimnya keluar.


"Jika ibu tahu, aku bisa di usir. bagaimana ini..." Keluhnya.


Helena mengambil ponsel lalu mencoba menghubungi pria yang sudah dua bulan ini berkencan dengannya. Pria tampan yang berhasil merayunya dan membuat Helena melupakan rasa trauma atas rasa sakitnya.


'nomor yang anda tuju berada di luar batas area...'


Tut...


Helena langsung mematikan ponselnya. Semakin kalut saja, sudah seminggu pria itu tak bisa di hubungi. Keberadaannya tak di ketahui.


Tok...Tok...


Ketukan pintu membuatnya langsung gelagapan. Dengan cepat Helena merubah raut wajahnya, berpura-pura biasa saja.


Ceklek...


"ada apa Hani? ini masih pagi." Ujarnya saat melihat istri dari adiknya berdiri di depan pintu.


Hani langsung menerobos masuk kedalam. Tanpa basa-basi dia mengeluarkan alat tes kehamilan itu lalu tersenyum penuh kemenangan.


Helena berdiri kaku di tempatnya. Kenapa dia bisa begitu ceroboh. Dengan cepat dia merebutnya tapi Hani lebih cepat lagi memasukkan alat itu kedalam sakunya.


"kembalikan." Seru Helena marah juga takut.


"tidak, aku akan menyimpan ini."


"untuk apa? tak ada gunanya untuk mu."

__ADS_1


"tentu saja ada. aku akan memberi tahu mas Rega juga ibu." Ancam Hani.


Helena mencoba memutar otaknya untuk membujuk Hani agar memberikan alat itu.


"jangan banyak berpikir mbak, begini saja Mbak kerjakan semua pekerjaan rumah. soal memasak biar aku saja, Mbak hanya perlu membersihkan rumah, mengepel dan mencuci baju juga piring. bagaimana?" Hani mencoba bernegosiasi, dia hanya ingin keringan agar tak terlalu lelah.


Helena mendelik, bagaimana mungkin dia melakukan itu semua. Seumur-umur tak pernah dirinya melakukan itu. Tapi, mengingat barang itu membuat Helena hanya menghela nafas pasrah dan menyetujui permintaan Hani.


"tapi...kamu bantu aku gugurkan anak ini." Serunya memohon.


Hani nampak berpikir lalu tersenyum kecil. Itu hal yang mudah baginya, dia mengenal seorang dokter spesialis kandungan. Hanya dengan mengeluarkan uang saja tak masalah asal kan Helena bisa menggantikan posisinya di rumah ini sebagai pembantu. Dia akan membuat wanita ini mengerjakan semuanya.


...**************...


Gusna menatap foto keluarga yang terpajang di luar tamu. Rasanya begitu rindu dengan putrinya, Hani. Bagaimana pun Hani adalah putrinya. Dia ingin sekali memaafkan Hani tapi dia tak bisa jika harus menerima Rega sebagai menantunya. Pria itu telah membohonginya.


"jika Hani mau berpisah dengan Rega, apa Papih mau menerimanya lagi?" Tanya Maria.


Gusna terdiam. Tak bicara apapun hanya mendesah pelan lalu berjalan meninggalkan istrinya.


"Pih, mamih mau berangkat sekarang. Apa Papih benar tak ingin ikut?" Tanya Maria, mengikuti langkah Gusna yang berjalan ke arah teras belakang.


"tidak, lagipula Papih tak kenal teman-teman mamih. bersenang-senang lah di sana." Ujarnya.


Maria mengangguk lalu segera pergi. Sebenarnya dia ragu untuk datang, tapi jika tak hadir Maria merasa jika dirinya tak bisa move on setelah bertahun-tahun. Maria hanya ingin menunjukkan pada teman-temannya jika dirinya sekarang telah hidup bahagia. Tanpa pria itu.


"Aku ingin lihat apa mereka masih bersama sampai sekarang." Ujarnya penasaran.


Di sisi lain, Rena dan Mawar pun telah selesai berdandan. Keduanya melangkah dengan penuh percaya diri.


"ayah kenapa tak ikut? bukankah ayah dan ibu dulu satu kelas?" Tanya Mawar.


"ayah sibuk. Kan ada kamu, ibu akan kenalkan dengan teman-teman ibu. mereka pasti iri melihat ibu memiliki putri cantik seperti mu."


"ibu bisa saja."


Saat sedang menyetir tiba-tiba ponsel Mawar berdering. Dengan cepat Mawar merogoh tasnya.


"ibu tolong angkat, siapa yang menelpon."


Rena pun mengambil ponselnya. Alisnya bertaut melihat suaminya menghubungi Mawar.


"ini ayah." Serunya. "halo, ada apa Yah? ini ibu, Mawar sedang menyetir."


"....................."


"Apa? ayah sudah di tempat reuni? kok bisa, bukankah ayah bilang tak ingin ikut?"


Mawar melihat ibunya sekilas lalu kembali fokus menyetir. Rena menaruh ponsel Mawar kembali ke dalam tas kecil putrinya itu.


"Ayahmu benar-benar. Dia bilang sudah di tempat reuni menunggu kita."


"ayah mungkin berubah pikiran Bu."

__ADS_1


Rena mengigit bibirnya, entah kenapa dia merasa tak senang mendengarnya. Kenapa Ibnu harus ikut hadir, Rena takut Ibnu dan Maria akan bertemu. Bagaimana jika bertemu nanti. Hatinya benar-benar gelisah.


...******************...


__ADS_2