Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 64


__ADS_3

Gusna menatap tajam Rega penuh intimidasi. Pria yang mulai memiliki uban itu rupanya sudah tahu apa yang telah terjadi di dalam keluarga putrinya. Selama ini Gusna rupanya tak diam, dia meminta seseorang untuk menyelidiki seperti apa Hani selama jauh dari mereka. Mungkin Gusna memang terlihat tak peduli bahkan di hadapan Maria saja pria itu tak menunjukkan rasa pedulinya.


Tapi tanpa mereka tahu jika hati Gusna justru lebih sakit. Pria itu memendamnya sendirian selama ini tapi untuk saat ini dia tak akan diam saja setelah apa yang menimpa Hani sekarang.


"Jangan katakan Hani keguguran karena ulahmu?" Ujarnya penuh penekanan.


Rega berdiri dengan gusar, bagaimana bisa mertuanya menebak begitu tepat. Dengan gugup Rega menyembunyikan kebenarannya, dia tak ingin Gusna menyeretnya kedalam penjara. Bisa kacau balau dunianya kalau begitu.


"Ba... bagaimana mungkin, aku rela menceraikan istri ku demi Hani yang tengah mengandung anakku. Aku begitu menginginkan seorang anak." Jawaban Rega memang benar soal menginginkan seorang keturunan di dalam hidupnya. Tapi selebihnya adalah kebohongan demi menutupi perbuatannya.


Gusna menghela nafas panjang.


"Kamu berani meninggalkan istri pertamamu demi Hani hanya karena tak bisa memberi keturunan. Ku harap hal serupa tak terjadi pada putri ku, jika kamu berani mengkhianatinya maka aku sendiri yang akan menghabisi mu." Ancaman Gusna tak main-main.


Dia tak peduli dengan Rega yang kini berstatus menantunya, baginya siapa saja yang berani membuat Hani terluka maka ia akan melenyapkan orang itu tanpa ampun.


Rega menelan ludahnya. Seandainya dia memiliki kekuasaan dan kekuatan di atas Gusna maka semua ini tak akan terjadi. Rega akan membuat pria tua di hadapannya ini menundukkan kepalanya tapi kenyataannya malah seperti ini. Dia seseorang yang tak memiliki jabatan apapun jadi bagi Gusna mungkin hanya sebuah kerikil saja yang tak ada apa-apanya.


Di dalam ruangan, Maria dan Hani sedang melepaskan rasa rindu mereka. Hani bahkan tak bisa berkata-kata, hanya menangis saja di dalam pelukan sang ibu. Suara tangisnya begitu seolah memberitahu Maria jika dia begitu menderita selama ini.


Kulsum memutar matanya malas melihat besan dan menantunya yang tengah melepas rasa rindu mereka. Dengan cepat dia keluar dari ruangan itu.


"Rega...Pak Gusna, ada apa ini?" Tanya Kulsum heran saat melihat dua pria berbeda usia itu saling berhadapan dengan tatapan tak bersahabat.


Gusna melengos tanpa mengatakan apapun, ia masuk kedalam ruangan tanpa peduli dengan besannya sama sekali.


"ada apa? kenapa mertua mu terlihat sangat marah?"


"entahlah, pria tua itu menuduhku menyakiti Hani."


Kening Kulsum mengerut. Dengan kesal wanita itu berceloteh.


"kurang ajar sekali bangkotan itu. Menuduh putraku seenaknya."


Rega maupun Kulsum memang tak pernah menyadari kesalahannya atau memang sengaja mereka melupakan bahwa selama ini perlakuannya terhadap Hani memang kurang baik.

__ADS_1


"ibu mau melihat Mbak mu." Seru Kulsum. "kamu masuklah kedalam, jangan sampai Hani mengadu macam-macam."


Rega mengangguk lalu segera masuk kedalam. Pria itu melirik Hani yang kini berada di dalam pelukan Maria, sementara Gusna berdiri di sisi lain dengan diam.


"Hani, jangan menangis terus. matamu bisa bengkak." Rega melangkah lebih dekat, ia sentuh pundak Hani dengan lembut.


Hani enggan sebenarnya tapi berhubung di hadapannya ada Maria dan Gusna, maka dengan terpaksa Hani pun mengikuti apa kata Rega. Maria tersenyum melihat perhatian Rega terhadap Hani. Dia percaya jika Hani memang di perlakukan dengan baik oleh suaminya. Hanya Gusna saja yang memandang Rega dengan tak suka.


...*****************...


"mas, kenapa kita tak menolong Mbak elen?" Tanya Mawar hati-hati. Dia merasa mood Albion sedikit kurang baik, di lihat dari raut wajahnya juga cara tangannya menggenggam setir.


Albion menghela nafas panjang lalu menghempaskan kasar. Terlebih dahulu dia tepikan mobilnya.


"Aku tak ingin kamu terlibat dalam masalah yang rumit dan bisa saja melukaimu nanti. Lagipula wanita itu bukan siapa-siapa kamu." Jawaban Albion membuat Mawar tersenyum.


Albion memang manis, mengkhawatirkan dirinya sampai berpikir sejauh itu. Dengan lembut Mawar menyentuh lengan Albion. Pria itu pun melihat Mawar yang kini tersenyum manis kepadanya.


"terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Kamu benar tak seharusnya aku ikut campur urusan orang lain. Al..."


Mawar mendekatkan wajahnya lalu mengecup sudut bibir Albion.


"sebagai hadiah." Ucapnya lalu buru-buru memalingkan wajahnya yang kini terasa terbakar. Malu sekali tapi Mawar rasa itu cukup untuk mengembalikan mood Albion yang buruk.


Albion menyentuh sudut bibirnya lalu tersenyum. Pria itu kemudian menarik Mawar kedalam pelukannya.


"apa aku boleh melakukan lebih?" Bisiknya yang langsung mendapatkan pukulan di dada.


Mawar menatap tajam Albion.


"jangan mentang-mentang aku menciummu kamu menganggap ku murahan, aku..."


Grep...


Albion kembali memeluk Mawar. Dia tahu itu dan bukan ke jalur itu dia meminta, Albion hanya ingin mencium Mawar dengan kadar yang lebih tinggi saja, bukan hanya sekedar kecupan singkat.

__ADS_1


"jangan salah paham. aku hanya ingin ini." Albion menyentuh bibir Mawar dengan jempol nya.


Ia gerakan dengan pelan lalu tersenyum penuh arti. Mawar menelan ludahnya, hanya sekedar ciuman tak masalah selama tak melebihi batas wajar.


Dengan perlahan Mawar memejamkan matanya. Albion pun segera mendekatkan wajahnya, awalnya hanya menempel saja. Albion tak menggerakkan bibirnya sama sekali.


Mawar hendak menarik tubuhnya tapi dengan cepat Albion menekan tengkuknya. Pria itu menggerakkan bibirnya lalu mengelus punggung Mawar dengan lembut. Sebuah ciuman yang begitu lembut sehingga membuat Mawar pun terbuai.


"eeeuummm..." Tanpa sadar suara itu keluar begitu saja, Mawar merasa jika sentuhan tangan Albion di punggungnya begitu nyaman.


Mungkin sudah lama sejak dirinya bercerai tak lagi merasakan buaian yang begitu lembut.


Albion pun semakin panas. Ini ciuman pertama baginya dengan seorang wanita. Selama ini Albion memang tak pernah melakukan hal intim dengan wanita manapun, hanya sekedar dekat saja. Karena di dalam hatinya hanya ada Mawar dan tak bisa tergantikan oleh wanita manapun.


"aaaaaahh...." Lenguh Mawar saat Albion tiba-tiba saja menyesap lehernya. Pria itu memberikan tanda di sana.


"Albion....kamu..."


"hahaahh...maafkan aku. Tapi kamu begitu enak jadi aku kebablasan, hampir saja aku kehilangan rasa waras ku."


Mendengar perkataan Albion membuat Mawar mendelik. Pria ini memang harus di waspadai, kadar ke mesumannya memang tinggi.


"dasar kamu ini, oh... bagaimana ini?" Mawar segera mengambil kaca kecil di dalam tasnya lalu melihat warna merah samar itu.


"jangan khawatir, bekasnya akan segera hilang." Ujar Albion.


Mawar cemberut. Albion tak menepati janjinya, pria bilang tak akan melakukan lebih.


"salahkan diri mu yang begitu menggoda, aku sampai lupa jika kita belum menikah." Kekehnya. "aku jadi tak sabar ingin segera malam pertama." Godanya.


"jadi tujuan kamu menikah untuk itu? dasar pria."


"hahahahaha...ya untuk itu juga..." Albion menyentuh pipi Mawar. "menjaga wanita yang paling berharga, hidup bahagia denganmu. Memiliki keluarga kecil yang akan aku jaga selamanya." Lanjutnya Albion. Tatapan nya menjadi sangat serius.


Mawar sampai tersipu di buat nya. Albion memang bisa saja membuatnya terlena seperti ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2