
Rena keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, membuat Mawar di buat bingung olehnya. Tanpa banyak bertanya akhirnya Mawar hanya mengikuti langkah ibunya yang tergesa masuk kedalam aula sekolah SMA negeri, sudah banyak sekali orang yang datang. Mawar bisa menebak jika ayahnya ada di antara para pria tua berpakaian formal di sebelah pojok aula. Maka dengan cepat dia menarik tangan ibunya dan membawanya mendekati sang ayah.
"mas, katanya tak jadi ikut?" Rena memukul lengan Ibnu cukup keras, marah tentu saja.
Ibnu hanya tertawa saja lalu menarik tangan Rena dan Mawar agar lebih dekat lagi. Lima pria berwajah hampir seusia Ibnu hanya diam, memperhatikan Rena lalu melirik Mawar.
"jadi...kamu dan Rena benar-benar bersama dan ini putri kalian?" Tanya salah seorang dari pria tua itu.
Rena memicingkan matanya, lalu berteriak keras ketika sadar jika kelima pria di hadapannya ini adalah teman Ibnu. Lebih tepatnya teman band Ibnu semasa sekolah dulu.
"oh...tuhan, kalian sudah sangat tua. aku kira kalian siapa." Serunya.
"kamu tak berubah Rena. oh.. iya Ibnu, kamu dan Rena benar-benar hebat bisa bertahan sampai sekarang. padahal dulu..."
"itu hanya masa lalu." Ibnu menyela dengan cepat, dia tak ingin Mawar mengetahui seperti apa dirinya di masa lalu. Itu bisa memalukan.
"ini putri ku, Mawar. dia seorang koki." Rena memperkenalkan Mawar pada teman-teman Ibnu.
"cantik sekali putri kalian. aku hanya memiliki anak lelaki saja. ketiganya lelaki." Keluh salah seorang dari mereka.
"dimana istri dan anak kalian?" Tanya Rena.
"ada, di sebelah sana."
Mawar hanya diam saja, rasanya membosankan karena tak ada yang dia kenal. Lagipula obrolan orangtuanya dan para temannya sangat tak menarik pikirnya.
"Bu, aku kesana ya?" Bisik Mawar, menunjuk sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"iya, bersenang-senanglah." Rena membiarkan Mawar untuk berkeliling sendiri.
Sementara dirinya dan Ibnu sibuk menyapa teman-teman mereka. Rena sungguh merasa bangga ketika temannya menyatakan bahwa mereka iri dengan hubungan Rena dan Ibnu. Benar-benar langgeng sampai memiliki seorang putri. Mawar pun terus di puji oleh mereka, karena tak hanya cantik tapi Mawar mampu mengelola usaha sendiri di usia mudanya.
Di saat tengah berbincang dengan salah satu temannya tiba-tiba Rena di kejutkan oleh kehadiran seseorang. Wanita yang dulu sangat dia benci.
"Hai, apa kabar? lama kita tak bertemu."
__ADS_1
Rena hanya memasang wajah ketusnya. Sama sekali tak berniat membalas sapaannya. Ibnu yang melihat itu langsung mendekati keduanya, karena tatapan para teman-teman mereka tertuju ke arah Rena dan wanita itu sekarang.
"sayang, jangan begini. semua orang melihat kemari." Bisik Ibnu cukup keras sehingga wanita di hadapan mereka bisa mendengarnya.
Maria mengerutkan keningnya mendengar panggilan Ibnu terhadap Rena. Itu artinya keduanya masih bersama sampai sekarang.
"kalian..masih bersama?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.
"tentu saja, bahkan kami punya satu orang putri." Tegas Rena, ada rasa bangga yang dia tujukan pada Maria.
Maria tersenyum mendengarnya. Ia turut senang mendengarnya. Lagipula sekarang usianya sudah tak muda lagi, bukan waktunya untuk menebar kebencian. Setelah menikah dengan Gusna, Maria sadar jika dirinya tak seharusnya merusak hubungan orang lain. Karena masing-masing wanita pasti memiliki pasangan yang telah Tuhan tetap kan.
"ekhem...aku turut senang." Ujarnya membuat Rena langsung diam menatapnya sementara Ibnu hanya tersenyum saja.
"kamu serius mengatakan itu?" Tanya Rena sehingga mendapatkan sikutan pelan di lengannya dari Ibnu.
Maria terkekeh pelan.
"tentu saja, masa lalu adalah sebuah kenangan yang tak bisa di lupakan sekaligus menjadi pembelajaran untukku. aku juga memiliki seorang putri. mana putri mu?"
"disana." Tunjuknya. "Mawar kemari sebentar."
Mawar pun mendekati ketiganya. Ia tersenyum kepada Maria, menyalami tangannya dengan sopan.
Maria mematung di tempatnya. Dia ingat wajah wanita muda di depannya saat ini. Jantungnya berdetak tak karuan.
"kamu...waktu itu datang ke pesta pernikahan putri bukan?" Tanyanya untuk memastikan.
Mawar mengerjapkan matanya, dia sudah banyak mendatangi pesta pernikahan temannya.
"siapa putri Tante?" Tanya Mawar sopan.
Maria yakin jika Mawar adalah wanita yang waktu itu datang bersama dengan Albion, rekan kerja suaminya. Jika itu benar maka sebuah pukulan besar terhadapnya. Hani telah mengulang kesalahannya di masa lalu, putrinya telah melakukan hal yang sama dengannya. Bahkan lebih parah lagi.
Ibnu dan Rena ikut penasaran karena Maria tak kunjung bicara juga. Wanita itu justru malah diam seolah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
...*************...
Rega dan Kulsum sangat terkejut ketika mendapati Helena tengah mencuci piring. Keduanya saling melempar tatapan aneh.
"elen? ini kamu?" Kulsum membalik tubuh Helena agar menghadap kearahnya.
"Mbak, sehat kan?" Rega ikut bertanya.
Helena mendengus, jika bukan karena Hani menyimpan rahasia nya maka dia tak ingin melakukan ini semua. Kuku-kuku cantiknya menjadi rusak sekarang.
"oh...itu, mbak bilang tak tega melihat aku harus mengerjakan semuanya sendiri. jadi mbak Helen berinisiatif untuk membantu, iya kan Mbak?" Hani tiba-tiba muncul.
Rega dan Kulsum kembali saling pandang. Rasanya sulit percaya dengan apa yang terjadi. Helena itu tak pernah memegang pekerjaan rumah sedari kecil.
"baguskan, kenapa ibu dan mas Rega malah heran sih. itu artinya mbak Helena sudah banyak berubah sekarang." Cetus Hani lagi.
Matanya melirik Helena yang kini tengah cemberut menahan kesal. Hani ingin sekali tertawa keras jika tak ada Rega dan Kulsum.
"iya, dengan begitu kamu bisa bekerja tanpa harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu." Ujar Kulsum pada Hani.
"aku sudah..."
"ibu benar, ayo Hani. aku mau bicara." Rega langsung menahan Hani yang akan membalas ucapan ibunya.
Hani melepaskan tangannya ketika sudah berada di dalam kamar.
"apa-apaan ibu mu itu mas, aku sedang hamil dan dia malah bicara soal bekerja."
"dengar Han, ibuku itu benar. kamu sebaiknya melamar pekerjaan lagi. besok kita melamar pekerjaan bersama ya?"
"Gila kamu mas. aku sedang hamil, mana ada perusahaan yang akan menerima wanita hamil untuk bekerja." Hani sungguh tak bisa mengerti dengan jalan pikiran Rega beserta ibunya itu.
Bagaimana bisa mereka begitu tega. Didalam hidup mereka hanya ada uang, uang dan uang saja.
...*****************...
__ADS_1