Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 32


__ADS_3

Albion tak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian Mawar. Hampir setiap hari pria itu mendekatinya, sengaja mencari tahu apa saja kegiatan Mawar agar bisa berjumpa dengannya. Kebetulan sekali, Mawar sedang mencari pekerjaan. Dia ingin melamar kerja sebagai koki kembali seperti waktu gadis dulu, tapi rasanya sangat sulit.


Semua restoran bahkan hotel sedang tak membutuhkan koki baru. Mawar mendesah keras, sudah seminggu ini mencoba mencari lowongan pekerjaan itu tapi tak ada satupun yang di terima.


Padahal dirinya sudah sangat berpengalaman. Melamar ketempatnya dulu bekerja pun sudah tak di terima karena di sana sudah cukup pekerja.


"Apa aku terima saran ibu dan ayah saja." Desah Mawar.


Rena dan Ibnu mendekati sang putri lalu duduk di samping kanan dan kirinya.


"Ayah akan memberikan modal untukmu dan ibumu juga akan mencarikan tempat yang cocok nanti."


"mmm...ayah yakin?" Tanya Mawar.


"iya tentu saja. Kamu buka saja restoran dengan gaya yang kamu impikan selama ini." Rena mengelus punggung tangan Mawar.


Mawar memang pernah bermimpi ingin memiliki restoran sendiri dengan gaya ala-ala negeri dongeng. Apa mungkin sekarang mimpi itu akan segera terwujud.


"Ini...ibu punya teman yang bisa membantu." Rena menyalakan ponselnya lalu membuka galeri. Di sana banyak sekali foto-foto bangunan yang sudah tak terpakai.


"apa ini?" Tanya Mawar.


"bangunan-bangunan ini sudah tak di pakai. letaknya pun strategis. Kamu bisa pilih salah satu, mau yang mana?"


Mawar mengambil ponselnya lalu melihat satu persatu foto itu. Tangannya berhenti di sebuah foto bangunan yang hampir roboh. Letaknya berada di pinggir pantai.


"aku mau yang ini, tapi sepertinya biaya renovasi nya akan sangat besar." Cicit Mawar membayangkan akan banyak sekali yang di perbaiki karena bangunan itu terlihat sudah hampir roboh.


"tenang saja, ayah akan memberikan uang sebesar apapun. Asal kamu bahagia."


"terimakasih ayah." Mawar langsung memeluk ayahnya.


Benar saja, orangtua merupakan penyemangat, penolong juga pendukung di saat anak-anak dalam kesulitan. Meski Mawar bukan anak kecil lagi tapi Ibnu dan Rena masih saja mencoba untuk memenuhi kebutuhan juga keinginan wanita itu. Bagi mereka Mawar adalah segalanya.


Kebahagiaan Mawar yang terpenting bagi keduanya.


"kita akan bertemu dengan pemilik bangunan itu hari ini. bersiaplah, ayah akan hubungi orangnya."

__ADS_1


Mawar pun bergegas untuk bersiap. Dia tak sabar ingin segera melihat lokasinya.


Sementara itu Albion tengah duduk dengan tenang di depan komputer. Jarinya mengetuk-ngetuk meja sambil sesekali melirik ponselnya, seperti sedang menunggu seseorang menghubunginya.


Kring...


"halo..." Tanpa menunggu lama Albion langsung mengangkatnya.


Bibirnya tersungging lebar. Tuhan sepertinya berpihak kepadanya.


"Baik Pak, kami tunggu di lokasi." Ujarnya lalu telpon pun terputus.


Akhirnya dia akan mendapatkan waktu untuk bertemu dengan Mawar kembali. Kali ini tak akan dia sia-siakan kesempatan ini. Harus mendapatkan nomornya.


...**************...


Hani masih bekerja meski Maria dan Gusna melarangnya. Mereka ingin Hani berhenti bekerja karena sebentar lagi akan menikah di tambah wanita itu pun tengah hamil muda.


Tapi, ia pikir jika sampai berhenti nanti bagaimana caranya mendapatkan hati mertua dan iparnya. Hanya beberapa kali bertemu dan mengobrol dengan mereka saja Hani sudah tahu jika calon mertua dan iparnya itu akan menerimanya hanya jika berpenghasilan.


Seperti sore ini, pulang kerja dia sengaja datang kerumah Rega. Membeli banyak sekali makanan dan baju untuk Kulsum.


"wah...kamu memang calon adik ipar yang pengertian." Seru Helena sambil mengambil tiga kantong Snack berukuran besar. Membawanya ke kamar lalu kembali bermain ponsel.


Sementara Kulsum nampak di buat senang dengan baju-baju mahal yang di belikan Hani.


"Sebanyak ini? berapa semuanya?" Tanya Kulsum.


"murah kok Bu, hanya satu juta saja." Jawaban Hani membuat mata Kulsum terbuka lebar.


"3 baju jumlahnya sampai satu juta, kamu memang royal deh Hani. ibu bisa pakai baju ini buat arisan nanti." Kulsum membayangkan akan seterkejut apa nanti teman-teman arisannya.


Hani melirik Rega lalu mengacungkan jempolnya. Hal itu membuat Rega tersenyum lebar, dia bersyukur karena Kulsum yang membenci perselingkuhan justru sekarang menjadi orang pertama yang menerima Hani di rumah ini. Dengan sikap Hani yang baik dan tak pelit membuta Rega yakin jika ibu dan kakaknya akan sangat menerima Hani di rumah ini. Tak seperti Mawar yang selalu di anggap tak berguna oleh mereka.


Padahal jika dibandingkan dengan Mawar, Hani tak ada apa-apanya. Mawar bisa mendapatkan pendapatan yang lebih besar di banding Hani juga Rega. Tapi, karena Mawar tak seperti Hani yang suka memamerkan segalanya membuatnya di kira wanita yang tak bisa berbuat apapun selain mengandalkan tenaga seorang pria.


Mengingat hal itu membuat Rega jadi merasa bersalah. Seandainya dia tak pernah meminta Mawar berhenti bekerja saat mereka menikah dulu mungkin perpisahan ini pun tak akan terjadi. Ibunya sangat menginginkan menantu yang luar biasa, tak pernah merasa cukup dan selalu ingin di penuhi kebutuhannya. Rega tahu dengan sangat jelas akan hal itu.

__ADS_1


"Kamu menginap saja Hani. biar ibu siapkan kamarnya untukmu." Tawar Kulsum sambil membawa baju-baju nya kedalam kamar.


"bagaimana, mas. aku bisa mengambil hati ibu dan kakak mu." Bangga Hani.


"iya. kamu memang hebat." Puji Rega. "tapi, Bapak belum pulang sampai sekarang. besok kita libur, maukan menemui bapak besok?"


Hani tentu saja mau. Dia tak akan melewatkan semua yang menurutnya akan sangat membantu dalam hubungannya dengan Rega.


...**************...


Mawar dan Ibnu keluar dari mobil. Mereka baru saja tiba di tempat yang telah di janjikan dengan pemilik bangunan yang akan di beli mereka.


"Dimana orangnya Yah?" Tanya Mawar, mencoba mencari seseorang.


Ibnu mengajak Hani berjalan mendekati bangunan tua itu. Tempatnya memang cukup bagus. Ramai sekali orang yang bermain di pantai. Sepertinya tak akan sia-sia usaha Mawar jika membangun restoran di tempat ini.


Deburan ombak dan juga ramainya orang yang tengah bermain di pantai membuat Mawar tersenyum. Rasanya begitu menyenangkan berada di tempat ini. Membayangkan jika restorannya nanti pasti akan sangat di minati, karena dia lihat belum ada restoran di sekitar sini.


"Selamat siang Pak Ibnu." Seruan seseorang membuat Ibnu dan Mawar langsung menoleh.


Albion tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya ke arah Mawar.


"hai, kita bertemu kembali." Ujarnya.


Mawar sungguh terkejut di buatnya. Telunjuknya langsung mengarah kepada Albion, kebiasaan yang membuat Albion ingin menggigit jari kecil itu.


"Albion...kamu..."


Ibnu mengerutkan keningnya. Matanya bergulir menatap Albion yang tersenyum lebar dan Mawar yang nampak terkejut.


"kalian saling mengenal?" Tanya Ibnu. "Mawar, kamu mengenal pemilik bangunan ini?"


"apa? pemilik?" Mawar di buat semakin terkejut.


Albion hanya mengangkat satu alisnya dengan senyum yang tak hilang di bibir tipisnya.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2