Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 39


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Mawar masih belum juga bisa menutup matanya. Hatinya resah dan terus memikirkan Albion. Pria itu pasti merasa tersinggung dengan apa yang dia katakan saat pulang tadi.


Mawar bukan tak suka terus bersamanya. Hanya saja, dia tak ingin merepotkan pria itu.


Berulang kali Mawar melihat ponselnya, tak pesan masuk sama sekali. Biasanya Albion akan mengirimkan pesan selamat tidur untuknya. Ada rasa kecewa di hatinya tapi buru-buru ia tepis.


"apa aku hubungi dia lebih dulu." Gumam Mawar ragu.


Sementara itu, Albion sendiri baru saja selesai mandi. Pria itu menggosok rambutnya yang basah. Bersenandung kecil sembari mencari baju di dalam lemari.


Ceklek...


Pintu terbuka sedikit, seorang anak lelaki masuk kedalam dengan cepat. Melompat naik keatas kasur Albion.


"Om, aku tidur di sini ya malam ini?" Pintanya sambil menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya yang mungil.


Albion tersenyum lalu segera naik keatas kasur. Dia mencium kening sang anak lalu memeluknya.


"Selamat malam Om Al."


"Malam, sayang."


Albion menatap wajah anak itu dengan pandangan sendu. Usianya baru saja menginjak 6 tahun. Tapi, dia harus kehilangan kedua orangtuanya. Dua tahun ini, Albion lah yang menjaganya.


Drt...Drt...


Albion melepaskan pelukannya saat mendengar ponselnya bergetar. Pria itu segera mengambil benda pipih di atas meja dengan malas.


"Mawar?" Rasa kantuk dan lelahnya hilang seketika saat melihat siapa yang menghubunginya.


Berdeham beberapa kali lalu mengangkat telponnya. Albion tak mengira jika Mawar akan menghubunginya lebih dulu.


"Ha...halo..." Suara Mawar terdengar canggung dan gugup.


"hai, ada apa? kamu rindu aku?" Goda Albion yang langsung di sambut decihan keras dari Mawar.


Mawar menarik nafas panjang lalu membuangnya kuat-kuat. Rasanya gugup sekali karena ini pertama kali baginya menelpon Albion lebih dulu.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia putus kan untuk menelpon Albion.


"Al, kamu marah soal tadi?"


"tidak, aku tak marah. jika kamu memang tak suka berduaan dengan ku. aku mengerti." Seru Albion.


Mawar menghela nafas panjang. Dia tak bermaksud begitu.


"aku suka." Jawabnya tanpa sadar dan langsung mendapatkan gelak tawa dari Albion.


Pria itu menutup mulutnya rapat saat sadar jika keponakannya telah tertidur di sampingnya. Untung saja tak terganggu sama sekali. Albion tersenyum miring, membayangkan bagaimana wajah Mawar saat ini. Pasti sangat merah dan akan terlihat lucu.


"Jadi...besok aku boleh mengantar mu?" Tanya Albion pelan.


Mawar menggigit bibirnya lalu bergumam pelan.


"ya aku tunggu. gold night."


Tut....


Sambungan telpon terputus. Mawar langsung mematikan ponselnya sebelum mendengar jawaban dari Albion. Wanita itu sungguh malu sekarang. Dia tenggelamkan wajahnya ke bantal.


Albion terkekeh pelan sambil menatap ponselnya. Sudah lama dia membayangkan bisa dekat dengan Mawar. Dan sekarang menjadi kenyataan. Ia tak akan sia-siakan kesempatan ini.

__ADS_1


Rasanya sudah tak sabar ingin segera pagi dan bertemu dengan Mawar. Albion kembali memeluk tubuh kecil di sampingnya. Sepertinya dia akan mimpi indah malam ini.


...**************...


Kulsum sungguh tak menduga hal ini akan terjadi kepada putranya. Pekerjaan yang selalu di banggakan itu kini telah terlepas dari genggaman Rega.


Suasana ruang tengah menjadi hening ketika Rega mengatakan soal pemecatannya. Hani bahkan sampai kehabisan kata-kata, ia tak tahu akan sesedih ini mendengar nya.


"Jadi... bagaimana nanti Rega? kalau kamu tak kerja bagaimana dengan ibu?" Tanya Kulsum setelah lama terdiam.


Rega melirik Hani, istrinya yang tengah hamil muda itu tak banyak berkomentar. Hanya sesekali mengelus punggungnya saja seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Sementara ini Hani yang akan menanggung biaya kita. Iya kan sayang?" Tanya Rega membuat Hani langsung melihat wajahnya.


Hani pun melihat ibu mertua dan kakak iparnya. Ketiga orang itu menatapnya menunggu jawaban. Padahal, dia sendiri sedang di lema sekarang. Hanya tinggal 3 bulan lagi dia bekerja lalu semuanya akan berakhir.


"ahh...iya. biar aku yang bekerja. mas Rega bisa mencari pekerjaan lain." Jawabnya dengan sedikit ragu.


Hani tak yakin jika dia sanggup menanggung semuanya. Mungkin dulu dia begitu percaya diri, menyombongkan diri pada Mawar juga yang lainnya. Bahwa dia tak membutuhkan uang Rega. Ia hanya ingin pria itu saja. Soal uang bukanlah masalah karena orangtuanya yang sangat kaya. Tapi, sekarang berbeda. Orangtuanya pasti tak akan membantunya.


Rega menggenggam tangan Hani.


"terimakasih sayang. kamu memang baik."


Hani hanya tersenyum kecil saja. Di dalam hati dia menggerutu. Menyalahkan Mawar atas apa yang terjadi sekarang. Wanita itu bersumpah akan membuat Mawar menyesal karena telah membuatnya seperti ini.


Hani berpikir jika Mawar sengaja datang ke acara pernikahannya untuk membuat keributan. Karena ulahnya sekarang semua teman juga pekerjaannya pun menjauh.


Tangannya terkepal erat. Dia akan menemui Mawar dan memberikan perhitungan dengan nya.


...*************...


"ayo masuk, Mawar masih bersiap."


"iya Tante terima."


Albion baru saja akan duduk saat Mawar berjalan menuruni tangga. Pria itu tak jadi duduk dan berjalan mendekati Mawar.


"berangkat sekarang?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.


Mawar mengangguk. Dengan ragu dia menyambut uluran tangan Albion. Rena hanya tersenyum melihat perlakuan Albion terhadap Mawar.


"Kami berangkat Tante." Pamit Albion, dia genggam tangan Mawar lalu menuntun wanita itu keluar dari rumah.


Mawar pun tak menolak dengan apa yang di lakukan Albion. Justru hatinya merasa hangat.


Mobil putih milik Albion pun melesat meninggalkan rumah Mawar. Rena sungguh berharap jika Mawar dan Albion bisa bersatu.


"Jadi... malam kamu tidur nyenyak?" Tanya Albion, matanya tertuju kejalan. Fokus menyetir.


"i...iya, tentu saja." Jawab Mawar. Entah kenapa hatinya menjadi tak karuan. Mawar merasa gugup berada sedekat ini dengan Albion.


Kemarin masih biasa saja. Tapi sekarang rasanya begitu gugup. Albion tersenyum mendengarnya. Pria itu melihat Mawar sekilas lalu kembali fokus menyetir.


"Aku juga. Kamu hadir di mimpi ku. kita bermesraan dan itu terasa sangat nyata."


Mawar mendelik mendengar ucapan Albion. Sungguh, pria satu ini selalu bicara tanpa di saring.


"Hahaha...hanya mengobrol dan makan malam romantis, itu saja." Kekehnya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak." Lanjutnya sambil terus tertawa.


Mawar mencebik, malu sekali karena pikirannya bisa di tebak begitu saja oleh Albion. Bagaimana tidak berpikir aneh-aneh, Albion sendiri mengatakan bermesraan. Mawar jadi memikirkan hal yang tidak-tidak. Malu sendiri dengan pikirannya, ia pun langsung memalingkan wajahnya kesamping.

__ADS_1


Tak terasa, mereka pun tiba di restoran Mawar. Albion dengan sigap membukakan pintunya lalu membantu keluar dari mobil.


"Aku akan menjemputmu nanti." Ucapnya, tangan besarnya mengelus kepala Mawar.


Dari kejauhan, nampak Hani yang berjalan cepat. Wanita itu langsung mendorong tubuh Mawar yang hendak masuk kedalam restoran.


"Heh... Mbak yang tak punya rasa malu." Tegurnya dengan keras.


Mawar mengerutkan keningnya. Kenapa bisa Hani ada di sini sepagi ini. Wanita itu memandang Mawar dengan tajam. Merasa tak ada salah apapun, Mawar pun memilih untuk mengabaikannya. Tapi, Hani mencekal lengannya dengan kuat.


"Mbak sengaja kan datang ke pernikahanku dan mas Rega. Mbak sengaja ingin mengacaukan segalanya. Sekarang mas Rega di pecat. mbak pasti senang bukan?" Cercaan Hani dengan suara yang keras terdengar oleh Albion yang baru saja masuk kedalam mobilnya.


Pria itu pun kembali keluar dan segera berlari ketika melihat Mawar dan Hani tengah berselisih.


"apa maksudmu? aku sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan kalian sekarang. pergilah." Usir Mawar.


Hani menghempaskan tangan Mawar yang hendak menyentuh lengannya.


"Mbak egois, Mbak keterlaluan. Gara-gara mbak, mas Rega di pecat dari pekerjaannya. Orangtuaku mengusirku. Semua terjadi karena mbak. Jika mbak tak datang hari itu, semua tak akan terjadi." Hani mengatakan semuanya seolah dirinya adalah korban di dalam kisah cinta ini.


Wanita itu menangis keras di hadapan Mawar. Albion menyentuh bahu Mawar.


"Kamu bilang aku egois? keterlaluan? bukankah dua kata itu lebih cocok untuk mu?" Desis Mawar. Tidak bisa lagi diam, Mawar melepaskan tangan Albion dari bahunya.


Berjalan mendekati Hani. Lalu dengan keras di cengkeramnya lengan wanita itu.


"kamu menyalahkan ku atas apa yang menimpa mu. Lalu aku harus menyalahkan siapa atas hancurnya rumah tangga ku?"


Hani langsung bungkam. Mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata-kata lagi.


"Pergilah." Usir Mawar.


Mawar hendak meninggalkan Hani tapi wanita itu malah mendorongnya sehingga tubuh Mawar hampir saja tersungkur jika saja Albion tak sigap menolongnya.


"Kamu..."


Mawar mengangkat tangannya meminta Albion untuk tidak ikut campur. Dengan sekali ayunan saja tangan Mawar mendarat sempurna di pipi kanan Hani.


Plak...


Tamparan yang begitu keras hingga meninggalkan bekas merah. Hani meringis di buatnya. Albion pun tersenyum puas.


"Pergi atau aku akan melakukan hal yang lebih buruk?" Seru Mawar.


"Lihat saja, aku akan membalas nya." Hani pun segera pergi dengan luka di pipinya.


Albion bertepuk tangan.


"Bagus sekali." Ujarnya, ia pegang tangan Mawar lalu mengecupnya lembut.


"Al..."


"pasti sakit bukan? menampar dengan begitu keras." Kekehnya.


Mawar menyembunyikan tangannya. Sungguh Albion selalu saja membuat jantungnya tak karuan. Bahkan Mawar merasakan betapa dinginnya bibir Albion yang menempel di telapak tangannya.


"aku pergi dulu. ingat...nanti aku jemput."


Albion pun benar-benar pergi meninggalkan Mawar. Pria itu mengerlingkan matanya nakal saat melihat Mawar masih berdiri kaku di depan restoran.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2