
Mawar berjalan di samping Albion dengan sangat canggung. Pasalnya Albion terus saja menggenggam tangannya seolah tak ingin dirinya kabur. Langkah keduanya terhenti di depan pintu bertuliskan VVIP room.
"nah, kamu masuk dulu. aku akan menemui teman ku dulu." Seru Albion melepaskan genggaman tangannya.
Mawar mengangguk lalu segera masuk kedalam. Matanya terbuka lebar, sungguh terkejut dengan apa yang dia lihat. Di meja sudah tersedia banyak sekali hidangan. Bahkan ruangan yang begitu luas itu di hias sebegitu indahnya. Makan malam yang dia pikir biasa itu ternyata sangat seromantis ini.
Kakinya berjalan pelan mendekati meja. Menelan ludahnya sendiri begitu melihat berbagai jenis makanan yang ada.
"Ini semua sungguh menakjubkan." Gumamnya merasa luar biasa.
Meja bundar itu sungguh indah. Ada 6 lilin yang di susun untuk menyinarinya. Pencahayaan yang redup dan lilin di sekitar ruangan menambah kesan yang begitu romantis.
Dengan perlahan Mawar menarik satu kursi lalu duduk.
"Albion tak pernah berubah." Kekehnya saat melihat sebuah kertas di atas meja.
Kertas yang bertuliskan 'Kamu bagai pelita, aku mencintaimu.' Sebuah kata itu seolah menjadi selogan bagi pria itu. Dulu setiap memberikan hadiah padanya kata-kata itu selalu tertulis di atas kado.
Mawar lalu menggelengkan kepalanya, kapan pria itu menyiapkan ini semuanya. Hatinya terasa tersentuh, sungguh hal seperti ini hanya Albion lah yang pertama melakukannya.
Sementara itu, Albion tengah menemui temannya. Sang pemilik restoran yang sebenarnya hanya di titipkan saja.
"loh, Al. kamu sudah datang? dimana wanita yang kamu bilang itu?" Dion bangun dari duduknya, matanya mengedarkan pandangan kearah belakang.
"Untuk apa melihatnya, dia hanya milikku." Seru Albion dengan begitu posesif.
"ck...ck...kamu ini. kapan kamu akan mengelola kembali restosan ini? Minggu depan aku harus kembali ke Amerika. calon istriku terus merengek ingin pergi kesana." Pria bernama Dion yang telah di percaya Albion memegang restoran ini menyilangkan tangannya di dadanya.
Restoran ini memang milik Albion. Dia membangunnya sendiri tapi selama ini dia serahkan kepemilikan kepada Dion. Karena dia tahu, temannya ini sedang membutuhkan pekerjaan. Sebagai sahabat Albion tentu membantunya.
"aku terlalu sibuk di kantor. Kamu urus saja tempat ini, jika ingin ke Amerika pergi saja." Tuturnya dengan santai. "sudahlah, aku kemari hanya ingin bertemu denganmu. Wanita cantikku sudah menunggu terlalu lama."
Setelah mengatakan Albion pun keluar meninggalkan Dion hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu seperti apa kisah cinta Albion. Bagaimana hancurnya pria itu dulu, sampai hampir menghabisi nyawanya sendiri.
Dion tak mengira jika sekarang Albion kembali mengejar wanita yang telah membuatnya terluka begitu dalam. Sebesar apa cinta Albion untuk wanita itu tak bisa di tebaknya.
"aku hanya berdoa, semoga kali ini hati mu tak patah teman." Ujarnya yang masih bisa terdengar oleh Albion.
Albion tersenyum mendengarnya. Ia berjalan menuju ruangan di mana Mawar sudah menunggunya.
"Kenapa memilih restoran ini?" Tanya Rega pada Hani. Tangannya melingkar pada pinggang ramping yang sebentar lagi pasti melebar itu.
"Karena di sini sajiannya sangat lezat. aku sangat suka."
Albion menghentikan langkahnya saat pandangannya tak sengaja berpapasan dengan Rega. Kedua sama-sama saling menatap dengan kening mengerut.
"Albion?"
__ADS_1
"Rega?"
Gumam keduanya hampir bersamaan. Hani mengerutkan keningnya, menatap wajah Rega dan Albion bergantian.
"Mas, kamu kenal?" Bisik Hani.
Rega tersenyum miring. Tentu saja dia mengingat wajah pria di depannya. Dengan angkuhnya Rega menatap Albion.
"sudah lama ya? aku rasa banyak berubah sekarang." Ujarnya dengan nada mengejek. Matanya menelisik penampilan Albion.
Jas mahal juga sepatu yang mengkilat itu membuat Rega menyipitkan matanya. Penampilan Albion terlihat sangat berkelas, jauh berbeda dengannya. Padahal dulu, Albion selalu terlihat buruk.
"ya, tak ku sangka. lama tak bertemu kamu sudah menggandeng wanita berbeda." Bahkan nada suara dan tatapnya Albion yang begitu tegas membuat Rega merasa aneh.
Dulu Albion selalu menundukkan wajahnya ketika berhadapan dengannya. Bahkan tak pernah bersuara dengan nada yang begitu keras. Tapi, kali ini kenapa Albion begitu sangat berbeda. Terlihat lebih berani dan angkuh.
Hani yang merasa tak nyaman dengan keadaan ini pun langsung menarik tangan Rega.
"sudahlah mas, ayo. aku sudah lapar."
Rega menghembuskan nafasnya.
"Iya sayang." Matanya melirik Albion lalu pergi menuju tempat yang sudah di pesan Hani.
Albion mengendikkan bahunya tak peduli. Melihat wanita yang di bawa Rega membuatnya ingin sekali tertawa keras di hadapan pria itu. Dia tahu, Hani itu seperti apa.
"Mas mengenal Pak Albion?" Tanya Hani penasaran. Mendengar percakapan mereka tadi membuat Hani menebak jika Rega dan Albion pasti saling mengenal satu sama lain.
"dia teman SMA ku dulu." Jawab Rega dengan sedikit kesal. "bagaimana kamu mengenal pria itu juga?"
"Dia rekan bisnis Papih."
Jawaban Hani membuat Rega hampir saja tersedak. Bagaimana bisa Albion yang selalu berada di bawahnya itu sekarang menjadi begitu hebat. Tangannya mengepal kuat saat ingat jika pria itu dulu pernah mengejar cinta Mawar. Rega menjadi takut jika sekarang Albion akan kembali mengejar Mawar. Ia tak bisa biarkan itu, bagaimana pun caranya dia akan membuat Mawar dan Albion tak pernah bertemu.
Hani menatap wajah Rega yang mendadak masam. Ia menebak jika Rega dan Albion pasti memiliki hubungan buruk di masa lalu.
...****************...
Albion menghembuskan nafas kasar lalu membuka pintu. Dia tak boleh terlihat buruk, pertemuannya dengan Rega membuat hatinya sedikit terasa terganggu. Kenangan pahit itu tiba-tiba melintas membuat dadanya bergejolak.
"Al, kamu sudah kembali?" Mawar hendak berdiri tapi Albion menahannya dengan cepat.
"duduk saja. loh...kamu belum makan apapun?" Tanya Albion melihat makanan yang masih utuh belum tersentuh sedikitpun.
"Aku menunggu mu."
"maaf, tadi aku.." Albion menghentikan kalimatnya. Dia tak boleh menyebutkan soal Rega yang sekarang ada di tempat ini juga.
__ADS_1
"apa?" Tanya Mawar penasaran.
"tak penting. Ayo, kita menikmati makanannya saja."
Mawar dan Albion pun segera menyantap semuanya. Di sela-sela makan malam itu mereka pun menyempatkan diri untuk berbincang perihal restoran yang sedang di persiapkan Mawar. Rekomendasi makanan yang di berikan Albion sedikit memberikan ide untuknya.
"Makanan ini sungguh luar biasa, enak sekali." Puji Mawar.
Albion tersenyum mendengarnya. Tentu saja, koki yang dia pilih bukan orang sembarang. Sengaja dia datangkan dari luar negeri langsung.
Mawar terlihat begitu senang. Ia menyantap semuanya dengan senyuman yang tak pernah hilang. Albion mengambil tisu begitu melihat ada noda di sudut bibir Mawar.
"Belepotan sekali." Ujarnya sambil mengelapnya dengan begitu lembut.
Mawar tersentak kaget. Mata keduanya saling bertatapan cukup lama sampai akhirnya celukan Albion membuat Mawar langsung mengambil tisu dari tangan Albion.
"Jika posisimu dekat dan tak ada meja ini sudah aku ***** bibir mu." Albion memang sangat frontal dengan kata-katanya. Hal yang baru Mawar ketahui akhir-akhir ini karena dulu pria ini sangat pemalu juga begitu sopan.
Tapi entah kenapa, meski begitu Mawar tak merasa bermasalah dengan itu. Justru setiap ucapan Albion membuatnya menjadi malu bukan marah. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Mawar menjadi sulit menelan makanannya.
"Kamu gugup?" Tanya Albion sedikit terkekeh.
Wajah tersipu Mawar sungguh membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu.
"sudah hentikan." Seru Mawar dengan suara gugup.
Albion terus saja tertawa. Dia jadi berpikir, bagaimana jika Mawar tahu kalau Rega ada disini. Apa wanita ini masih bisa menikmati makanannya atau tidak.
"Mawar..."
"euuumm...?"
"Rega dan calon istrinya ada di sini."
Mawar menghentikan suapannya. Sendok yang di pegangnya langsung terlepas. Hal itu membuat Albion maupun Mawar langsung menjadi canggung.
"aa..aahh.., memangnya kenapa? aku tak peduli." Cicit Mawar kembali menyantap makanannya.
Padahal hatinya bergemuruh hebat. Bagaimana pun mereka baru saja berpisah, surat resmi perceraian pun baru akan keluar minggu depan.
Albion yang merasa telah berbuat salah pun langsung meminta maaf. Tak seharusnya dia merusak makan malam ini.
"aku minta maaf, seharusnya aku.."
"kenapa minta maaf. aku dan mas Rega sudah bukan siapa-siapa. jangan pedulikan mereka. Kita nikmati saja makan malam ini." Ujar Mawar dengan wajah biasa saja.
Melihat ekspresi itu membuat Albion setidaknya sedikit lega. Mawar sepertinya memang sudah tak peduli lagi dengan Rega.
__ADS_1
...****************...