
Ibnu tak akan pernah membiarkan Mawar di sakiti kembali oleh Rega. Dengan cepat dia memukul pria muda yang pernah menjadi menantunya itu. Mawar pun langsung berlari ke arah Rena begitu genggaman tangan Rega terlepas.
"Ingat baik-baik, jika kamu berani berbuat seperti ini lagi maka tak hanya wajahmu saja yang akan aku pukul. Tapi seluruh tubuhmu akan merasakan sakitnya di pukul oleh warga. Aku akan meminta mereka untuk menghakimi mu karena telah memaksa putriku." Hardik Ibnu dengan marah.
Rega mengelap cairan merah di sudut bibirnya. Ancaman Ibnu sungguh tak membuatnya takut, dia tersenyum begitu remeh. Di pandangnya pria beruban itu dengan tatapan mengejek. Langkahnya mendekat lalu di cengkeramnya kerah baju Ibnu dengan kuat. Sungguh tak ada lagi rasa hormat atau takut baginya, Rega hanya menginginkan Mawar bagaimana pun caranya.
"aku tak takut dengan ancaman mu sama sekali Pak tua." Kekehnya, matanya merah karena amarah.
Ibnu memegang tangan Rega berusaha untuk melepaskan diri.
"ayah..." Pekik Mawar dan Rena dengan takut. Keduanya hanya bisa saling berpegangan dengan takut menyaksikan apa yang di lakukan Rega.
Grep..
Tangan Rega beralih ke leher Ibnu. Ia tersenyum licik ke arah Mawar.
"jika kamu menolak kembali maka akan aku bunuh ayahmu."
"tidak, aku mohon mas." Pinta Mawar.
"Rega, lepaskan suamiku." Rena memohon sambil berlutut.
Rega semakin tertawa keras melihat ketidakberdayaan Mawar dan Rena. Ibnu pun sepertinya tak bisa melawan dirinya. Dulu Ibnu mungkin sangat kuat dengan tubuhnya yang lebih besar di banding dirinya tapi sekarang usia pria ini tak lagi muda, tenaganya tak sekuat dulu.
Ibnu tetap berusaha untuk lepas dari cekikan Rega. Nafasnya semakin terasa tersendat-sendat. Matanya bahkan tak bisa lagi untuk di buka. Sekujur tubuhnya serasa kehabisan tenaga.
"mati saja biar tak ada yang menghalangi ku untuk mendapatkan Mawar." Desis Rega dengan begitu tega.
Benar-benar tak ada lagi rasa kemanusiaan di dalam dirinya. Rega sangat ingin membunuh Ibnu dengan tangannya sendiri. Mawar tak akan tinggal diam, dia langsung berlari keluar pagar rumahnya lalu berteriak keras meminta bantuan para tetangganya.
Hal itu membuat Rega langsung melepaskan cekikannya. Dia tersadar bahwa apa yang di lakukannya sudah di luar batas, sepertinya kemarahan telah membuatnya hilang kendali sehingga berbuat sangat jauh.
Tubuh Ibnu terhempas ke bawah, Rena langsung memeluknya dengan tangis yang keras. Ibnu tak sadarkan diri, lehernya bahkan terlihat lecet akibat cekikan Rega yang begitu kuat.
"Tolong....tolong..." Mawar masih saja berteriak meminta tolong. Beberapa warga pun akhirnya datang lalu bertanya ada apa.
Tanpa banyak bicara lagi Mawar langsung mengadukan perbuatan Rega. Sementara itu Rega sendiri masih berdiri di tempatnya dengan pikiran campur aduk. Dia menelan ludahnya saat beberapa warga mendekatinya.
__ADS_1
"Bawa saja ke kantor polisi." Usul salah seorang dari mereka.
"iya benar, jika kita hakimi di sini kita bisa terkena masalah."
Sepertinya para warga tak ingin melakukan kekerasan. Mereka pun meminta Mawar untuk ikut ke kantor polisi memberikan keterangan. Rega menatap Mawar dengan penuh iba.
"Mawar, mas hanya khilaf. jangan lakukan ini, mas mohon." Pintanya.
Mawar memalingkan wajahnya, sudah tak sudi lagi melihat Rega.
Rena pun membawa Ibnu kerumah sakit di antar dua warga yang lain sedangkan Mawar kekantor polisi bersama Pak RT juga dua warga lainnya.
...***************...
"Aku tak akan memberi tahu mamih jika kalian telah menjadikan ku pembantu selama ini. tapi, jangan harap ibu bisa mendapatkan uang sepeserpun dari mamih atau Papih."
Kulsum berdecih.
"Begitukah? ibu rasa tidak, Bu Maria sudah berjanji akan membayar semuanya. biaya rumah sakit Helena juga."
Dia ingin membalas dendamnya dulu terhadap Kulsum dan Rega, lalu setelah itu pergi dari kehidupan mereka.
"Heuh...kamu sendiri yang mendorong diri untuk bergabung dengan keluargaku, jadi...nikmati saja." Ujar Kulsum lagi seolah meledeknya.
Hani tak bisa menjawabnya karena memang begitu kenyataannya. Dia bersumpah akan membalas setiap perlakuan buruk mertuanya ini.
Drt..Drt...
Ponsel Kulsum bergetar, dengan cepat wanita itu keluar dari ruangan Hani untuk mengangkat telpon nya. Tersenyum saat melihat nama putranya tertera di layar, dia berharap Rega akan memberikan kabar baik tentang Helena.
"halo..Re..." Suara Kulsum tercekat saat telinganya menangkap suara asing di sebrang telpon. "siapa ini?"
"maaf Bu, kami dari kepolisian. Saat ini putra ibu berada di kantor polisi."
Tubuh Kulsum langsung terasa lemas. Tangannya bergetar mendengar kalimat per kalimat dari seseorang yang mengaku polisi itu.
"ba...baik, saya akan segera kesana." Kulsum langsung terduduk di lantai. Dia tak bisa berdiri karena masih terkejut sehingga kedua kakinya sangat tak bertenaga.
__ADS_1
"ada apalagi ini." Ujarnya dengan wajah pucat pasi. Helena belum di temukan sekarang Rega malah berurusan dengan polisi.
"mas Marja..." Lirihnya, akhirnya di saat-saat dirinya dalam kesulitan Kulsum pun mengingat mantan suaminya yang sudah lama tak ada kabar itu.
Dengan perasaan kalut Kulsum pun mencari kontak atas nama suaminya itu. Dia mendesah pelan saat tak menemukannya. Memukul kepalanya sendiri saat ingat jika nomor Marja telah dia hapus. Menyesal pun tak ada gunanya.
"Aku harus meminta bantuan orangtua Hani." Tanpa Kulsum berpikir panjang bahwa dirinya telah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam jurang dalam.
Dengan cepat Kulsum pun menghubungi Maria lalu mengatakan jika Rega sedang berada di kantor polisi. Dia mengarang ceritanya agar Maria dan Gusna mau menebus putranya itu.
Di tempat lain, Maria sendiri merasa bingung. Jika benar Rega merupakan pelaku salah tangkap lalu untuk apa polisi meminta tebusan. Matanya melirik Gusna yang tengah memandang nya sedari tadi.
"Kamu percaya?" Tanya Gusna.
"entahlah, tapi Rega menantu kita.Dia suami Hani, kita bantu saja."
Gusna merasa curiga semenjak bertemu dengan Hani. Penampilan putri nya yang begitu terlihat buruk membuat Gusna berpikir jika Rega tak memperlakukan Hani dengan baik.
"sebaiknya kita selidiki dulu." Gusna pun meminta Maria untuk menanyakan pada Kulsum di kantor polisi mana Rega di tahan. "tanyakan alamat kantor itu lalu kita kesana sendiri."
"iya mas." Maria langsung menelpon balik Kulsum.
Rega tak bisa menyangkal lagi saat polisi memojokkannya dengan beberapa pertanyaan. Dia memang sengaja mencelakakan Ibnu juga ingin membawa Mawar dengan paksa. Hubungannya dengan Mawar pun sudah berakhir dan tak ada hak lagi untuknya memaksa Mawar ikut dengannya.
Kepalanya tertunduk dalam. Mungkin ini akhir dari semuanya. Karena keegoisan dan ketamakannya, jeruji besi lah yang akan jadi penentu hidup nya.
Maria dan Gusna pun tiba di kantor polisi. Gusna tak langsung menemui Rega, ia justru bertanya pada salah seorang polisi tentang kasus apa yang telah melibatkan menantunya itu.
Maria terdiam saat melihat keberadaan Mawar. Wanita itu penasaran saat melihat Mawar pun tengah di interogasi dengan polisi.
"maaf, kalau boleh tahu kenapa wanita itu ada disini?" Tanya Maria penasaran. Polisi wanita berwajah cantik di depannya pun langsung melihat kemana arah pandang Maria.
"oh... wanita itulah yang telah melaporkan Pak Rega." Jelasnya.
Gusna dan Maria saling pandang. Gusna ingat jika wanita yang di maksud polisi itu adalah kekasih Albion lalu Maria sendiri tahu siapa Mawar. Tapi, apa hubungannya dengan Rega sama sekali belum mereka ketahui.
...******************...
__ADS_1