
Dua bulan berlalu, Mawar masih sabar dengan apa yang di lakukan Rega di belakangnya. Dia sudah mendapatkan semua bukti tentang perselingkuhannya. Bagas tentu orang pertama yang memberi bukti itu semua. Bahkan hari ini Mawar hendak bertemu dengan Hani, ia ingin tahu apa wanita itu masih berharap melanjutkan hubungannya dengan Rega atau mundur ketika istri sahnya mengancamnya akan melapornya ke polisi atas tindakannya merebut suami orang.
Bagas mengatur pertemuan itu dengan mudah. Karena Hani tak menolak, justru wanita itu senang saat Bagas mengatakan jika istri Rega ingin bertemu dengannya.
Awalnya Bagas sangat terkejut ketika tahu bahwa Rega adalah suami Mawar dan alasannya memata-matai Hani tentu saja karena mereka telah mengkhianati Mawar.
"Aku sangat kaget, Mawar. tapi, apa kamu yakin ingin bertemu dengan Hani?" Tanya Bagas memastikan.
"tentu saja, aku ingin melihat sehebat apa wanita itu sampai suamiku tergila-gila padanya." Mawar sebenarnya hanya penasaran saja dengan Hani. Apa Rega mencintai wanita itu hanya bermain-main saja dengannya. "Gas, bagaimana dengan ibumu?"
"ibuku sudah di operasi. semua berkat uang dari mu."
"baguslah."
Bagas melihat wajah Mawar yang nampak sendu.
"kamu pasti terluka? apa kamu akan tetap bertahan sebagai..."
"tentu saja, aku sangat terluka. bahkan setiap hari dada ini rasanya sesak. Aku pura-pura bodoh di depannya, diam seolah tak tahu apapun. Aku ingin menolak saat dia menyentuhku, rasanya bayangan mas Rega yang bermesraan berseliweran di kepalaku." Mawar tak lagi bisa menahan rasa sakit hatinya.
Wanita itu menangis di hadapan Bagas. Tak peduli jika orang-orang di cafe itu melihatnya. Bagas menepuk bahu Mawar pelan. Sebagai teman, dia ikut bersimpati atas apa yang menimpanya. Ia pun sama terlukanya, cintanya pada Hani tulus tapi wanita itu malah memilih seorang pria yang sudah beristri. Bahkan Hani sama sekali tak merasakan bersalah atas perbuatannya, justru terlihat sangat menikmati semuanya.
"Aku sudah memberitahu Hani." Lirih Bagas.
"apa dia setuju?"
"iya. wanita itu sepertinya sudah kehilangan akalnya karena cintanya pada suamimu."
Mawar terkekeh pelan. Dia akui, dulu pun dirinya begitu. Saking cintanya pada Rega dia tak berpikir jika menikah dengannya akan seperti ini. Di pikirannya hanya ada bayangan kebahagiaan saja. Dan semua itu telah lenyap sekarang, mertuanya yang cerewet dan tak pernah puas dengannya. Ipar yang selalu meminta ini dan itu dan juga Rega yang mulai berpaling pada wanita lain.
__ADS_1
Meski Rega masih bersikap mesra dan selalu memperlakukannya lembut, tapi tetap saja Mawar merasa jika perlakuannya hanya sebatas untuk menutupi kesalahannya. Terkadang Rega, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ponselnya. Nampak tersenyum sendiri dan tentu saja Mawar tahu jika Rega tengah berkirim pesan dengan Hani.
"Ini hari libur, apa suami mu tak bertanya kamu kemana?" Tanya Rega.
"untuk apa dia bertanya aku kemana, sementara dirinya saja sedang sibuk dengan selingkuhannya."
"aah..kamu benar. pasti Rega beralasan kalau..."
"pekerjaannya tak bisa di tunda meski kalender merah."
Keduanya pun tertawa. Mawar tak lagi menangis. Dia mencoba untuk bersikap tegar sekarang, setelah bertemu Hani nanti dia akan bertanya banyak hal pada wanita itu. Lalu setelahnya akan meminta Rega untuk memilih. Tetap bersamanya atau bercerai.
"Hani bilang jam 2 siang dia ada waktu karena saat ini..." Bagas tak melanjutkan ucapannya karena Mawar pasti tahu sedang apa wanita itu sekarang.
"mmm..." Mawar mengaduk jusnya, meminumnya sedikit lalu menarik nafas dalam.
Dia tahu pasti saat ini Rega dan Hani tengah berduaan. Entah apa yang mereka lakukan, tapi Mawar harap hubungan mereka tak keterlaluan. Jangan sampai melakukan hal yang menodai norma agama. Jika sudah seperti itu, tak ada kata maaf lagi bagi Rega.
...**************...
Rega merebut ponsel Hani, kesal karena wanita itu terus saja berkirim pesan entah dengan siapa. Padahal dirinya sudah sangat tak sabar ingin segera melakukannya. Dia datang pagi-pagi sekali karena ingin melepaskan hasratnya. Mawar tengah datang bulan, jadi Rega tak bisa melakukannya tadi malam. Maka jalan satu-satunya hanya Hani, meminta wanita itu membantu menuntaskannya.
"apa sih mas, aku lagi chatan sama temen." Hani merebut kembali ponsel.
Dia tak mau pesan dari Bagas di lihat Rega. Bisa gawat jika Rega tahu kalau dirinya dan istri Rega berencana untuk bertemu. Hani sudah menantikan waktu ini tiba, dia akan meminta restu pada istri Rega. Berharap istri Rega bersedia menjadikannya adik madu.
Gila memang apa yang di inginkannya, tapi Hani tak peduli itu. Yang penting Rega bisa dia miliki.
"Jadi lebih penting temen kamu itu di banding aku?" Bentak Rega kesal. Keinginannya yang belum terpenuhi membuat otaknya terasa panas dan kesal.
__ADS_1
"mmm... oke-oke. aku akan puaskan sekarang. eh..tapi tunggu dulu..." Hani menghentikan gerakannya membuka kancing baju Rega. "apa istrimu tak curiga kenapa di hari libur mas tak ada di rumah?"
Rega tertawa pelan. Merasa jika keberuntungannya berpihak besar padanya. Hanya mengatakan banyak kerjaan dan harus di kerjakan sekarang juga, Mawar percaya. Makanya dia bisa langsung pergi tanpa ada drama apapun di rumah.
"Jangan pikirkan soal itu, sekarang pikirkan bagaimana caranya memuaskan ku." Bisik Rega, menarik tubuh Hani agar mendekat kearahnya.
Hani tersenyum setuju. Lagipula dia sedang senang saat ini. Bagas sudah memberitahu dirinya jika istri Rega telah mengetahui semuanya dan meminta Hani untuk menemuinya. Hani tahu pasti istri Rega akan melabraknya tapi dia tak akan mundur begitu saja. Makanya dengan senang hati dia menerima ajakan itu.
Sekarang dia pun tahu, kenapa Bagas selaku mencuri fotonya diam-diam jika bersama Rega. Alasannya karena dia minta untuk melakukan itu.
"Aaaahhhh..." ******* keras Rega menyadarkan Hani dari pikirannya. Wanita itu langsung menambahkan kecepatan tangannya.
"Buka baju mu, aku sudah tak sabar." Desis Rega dengan suara berat menahan nafsunya.
Hani menurut. Dia membuka seluruh bajunya lalu segera memuaskan lelaki di bawah kungkungannya itu. Keduanya mendesah keras menikmati pelepasan masing-masing.
Rega bahkan terus saja meminta lebih. Setiap melakukannya, Hani seperti tak kehabisan ide dalam memuaskan Rega. Wanita itu melakukan berbagai macam gaya yang membuat Rega puas. Sungguh jauh sekali dengan Mawar yang hanya diam di bawah tubuhnya menerima segalanya.
"kamu hebat, sayang." Geraman Rega membuat Hani semakin bersemangat.
Hani mempelajari semuanya dari video-video luar yang sengaja dia putar setiap hari. Mencari cara untuk memuaskan Rega, agar pria itu tak bisa lepas dari genggamannya. Dan semua usahanya berhasil, Rega selalu mendesah keras. Pria itu juga selalu memujinya lebih hebat dibanding Mawar, sang istri sah.
Tentu saja Hani bangga akan itu. Ia terus berusaha memuaskan Rega untuk mengikat pria itu supaya tak bisa lepas darinya. Membuatnya selalu meminta lebih ketika bercinta.
"Lebih cepat." Hani meminta Rega mempercepat gerakannya.
Rega sungguh melayang jauh keatas. Dia semakin tak ingin melepaskan Hani. Setidaknya di saat Mawar tak bisa melakukannya akan ada Hani yang menggantinya. Pria itu memang egois karena hanya memikirkan kepuasan saja. Untuk saat ini tak ada yang lebih penting di bandingkan kenikmatan duniawi nya.
Mawar ataupun Hani menjadi setara di hati Rega. Keduanya sangat posisinya sangat penting dan di butuh kan. Ia tak ingin menceraikan Mawar dan juga tak mau berpisah dengan Hani. Rega menginginkan keduanya.
__ADS_1
...******************...