
Albion mengusap pipi Mawar dengan sangat lembut. Pria itu lalu tersenyum penuh kehangatan. Untuk saat ini dia akan menahan nafsunya, jangan sampai membuat Mawar membenci ataupun menjauh darinya. Meski sebenarnya di dalam sana, telah bergejolak tanpa bisa dia tahan. Albion pria normal yang bisa terangsang hanya dengan hal kecil sedikitpun. Dia hanya selalu menutupinya saja setiap berduaan seperti ini dengan Mawar.
"Al, wajahmu merah sekali. ada apa?" Tanya Mawar khawatir, melihat wajah Albion yang nampak tak baik juga nafasnya yang sedikit memburu itu membuat Mawar takut jika Albion sakit.
"a...aku baik. sebaiknya kita pulang." Serunya. Mawar pun mengangguk lalu memasang sabuk pengaman nya.
Mobil Albion lalu melaju membelah jalanan yang sedikit lebih sepi karena memang hari sedikit gelap dan hujan lebat. Para pengendara mungkin malas untuk mengemudi di cuaca seperti ini.
Sepanjang perjalanan Mawar terus saja menyentuh bibirnya, rasanya bibir Albion masih saja menempel. Ia dapat merasakan kehangatannya.
"Kamu tak mau turun atau mau aku gendong?"
Suara berat Albion mengejutkan Mawar. Wanita itu celingukan, rupanya sudah sampai rumah. Karena terlalu banyak berpikir membuatnya tak sadar dengan perjalanan pulang nya. Tahu-tahu sudah berada di depan rumahnya.
"Aku bisa sendiri." Ujarnya dengan cepat, membuka sabuk pengaman nya lalu bergegas keluar dari mobil.
Mawar melambaikan tangannya sampai Albion benar-benar pergi. Setelah itu dia pun segera masuk kedalam rumah. Bibirnya tak berhenti tersenyum, sungguh apa yang terjadi di parkiran Cafe tadi membuat Mawar tak bisa melupakannya.
Hani dan Helena hanya bisa merutuki kesialannya saat ban mobilnya bocor. Jauh dari keramaian juga jalanan yang sepi membuat kedua wanita itu gusar. Di tambah lagi hujan begini lebat, Rega pun tak mengangkat telponnya sedari tadi.
"Mas Rega benar-benar ya, apa dia masih tidur di jam segini." Gerutu Hani kesal. Memukuli setir mobilnya dengan marah.
Helena terdiam tapi matanya terus memperhatikan jalanan, dia harap akan ada kendaraan yang lewat dan membantu mereka keluar dari kesulitan.
Ketika mata sipitnya yang terhias warna biru itu melihat sebuah mobil putih mendekat Helena tanpa berpikir panjang langsung menyembulkan kepalanya dan melambaikan tangannya.
"hei...tolong kami?" Teriaknya, suaranya terendam air hujan yang begitu deras.
Hani mengerutkan keningnya ketika mobil yang di berhentikan Helena menghentikan lajunya tepat di samping mobil mereka. Kaca mobilnya perlahan turun.
"Kamu..." Hani tercekat saat melihat siapa orang yang ada di dalam mobil itu.
Pria yang ada di dalam mobil itu mendesah keras. Meski sebenarnya tak ingin membantu tapi dia tak mungkin meninggalkan seseorang yang membutuhkan bantuan. Dengan malas dia bertanya.
"kenapa? mobilnya mogok?" Tanyanya dengan nada begitu datar juga terkesan sangat dingin.
__ADS_1
Hani dan Helena saling melirik satu sama lain. Bagaimana bisa mereka bertemu dengan seorang bos besar pemilik perusahaan ternama di kota ini. Apalagi pria itu adalah seseorang yang begitu dekat dengan Mawar.
Helena mencubit lengan Hani saat tahu adik iparnya akan menolak bantuan pria itu. Di saat seperti ini, mereka tak boleh memikirkan gengsi atau apapun. Yang terpenting bagaimana caranya mereka bisa pulang dan mobilnya kembali berjalan.
"Iya Pak Albion. kebetulan anda lewat." Desis Hani, matanya memicing tajam ke arah Helena setelah mengatakan itu.
"Euumm...jadi, bisa kami menumpang?" Tanya Helena tanpa rasa malu sedikitpun.
Albion mengerutkan keningnya tak suka. Hanya Mawar dan ibunya yang bisa menaiki mobil kesayangannya ini. Pria itu lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Helena dan Hani hanya diam, menunggu apa Albion akan memberikan tumpangan atau tidak.
"Seseorang akan kemari untuk membetulkan mobil kalian, aku pergi." Ujarnya dengan begitu acuh. Mobilnya pun kembali melaju.
"apa-apaan pria itu, huh...sifatnya sama buruknya dengan Mawar." Hani marah dan sangat kesal dengan sikap Albion.
Tak pernah ada seorang pria yang menolaknya seperti ini. Rega saja dulu begitu bertekuk lutut padanya, hanya sekarang saja Rega selalu bersikap acuh. Helena pun mengepalkan tangannya.
Dua wanita itu benar-benar kesal dibuat nya.
...***************...
"Manja sekali, hanya periksa saja harus di temani." Serunya.
Rega mengira jika Hani pasti menelponnya untuk meminta dirinya menyusul ke klinik. Membuat kesal saja. Saat belum menikah mungkin Rega selalu sigap dan datang tepat waktu. Bahkan ketika tengah malam pun dia akan datang ketika Hani memintanya, tapi kali ini situasinya berbeda. Hani sudah menjadi istrinya, Rega tak peduli dengan apa yang di lakukan wanita itu.
Kulsum menghembuskan nafas kasar, sudah hampir jam 5 sore. Hani dan Helena belum juga kembali. Makan malam pun belum tersedia. Dengan kesal wanita tua itu terpaksa harus membuatnya sendiri. Karena tak tahu kedua wanita itu akan pulang jam berapa.
"Loh...Bu, Hani belum kembali?" Tanya Rega sambil menarik kursi lalu menduduki nya.
Kulsum mengendikkan bahunya. Dia tak ingin membicarakan Hani untuk saat ini. Perutnya lapar dan semakin lapar saat mendengar nama menantunya itu.
"Dia pergi tak tahu waktu." Desis Rega. Pria itu hanya minum air lalu kembali ke kamarnya.
Kulsum menjadi sangat kesal akhir-akhir terhadap Rega. Semenjak berhenti dari pekerjaannya, putranya itu hanya diam di rumah dan selalu tidur seharian. Bukannya mencari kerja lagi. Hani pun menganggur saat ini, Kulsum sungguh merasa pusing melihat pasangan muda itu.
Begitu mendengar deru mesin mobil di halaman rumah, Kulsum langsung mematikan kompornya. Wanita itu berjalan dengan wajah marah membukakan pintu.
__ADS_1
"bagus ya, kamu pergi begitu lama tanpa memikirkan perut mertua dan suamimu." Sungutnya begitu melihat Hani keluar dari mobil.
Helena pun menyusul keluar dengan wajah kusut. Hani hanya melihat mertuanya tanpa banyak protes ataupun menimpali ucapannya. Terlalu kesal dan sangat muak dengan hari ini membuat Hani tak ingin membuka mulut walau sekedar memberi penjelasan.
"hei, kamu tak sopan ya. mertua bicara malah pergi begitu saja." Teriak Kulsum hendak mengejar Hani.
"Bu, sudahlah." Cegah Helena.
Kulsum melihat Helena dengan alis bertaut. Pasalnya penampilan putri sulungnya itu sangat berantakan. Rambut basah juga acak-acakan dan bajunya pun begitu basah.
"kamu dari mana?" Tanyanya penuh selidik.
"aku mengantar Hani ke klinik untuk USG. Di tengah jalan mobilnya mogok." Keluh Helena.
Hani membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya dengan sekali hentak. Sehingga menimbulkan suara berdebum yang begitu kuat.
Rega yang tengah berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya saja sampai terkejut.
"apa-apaan sih, kamu mau membuat rumah ini roboh?" Sentaknya.
Hani tak menjawab, berjalan menjauh kamar mandi dengan wajah yang begitu marah. Kekesalannya bertambah ketika melihat Rega yang tengah bersantai tanpa peduli dengan keadaannya. Di jalan tadi dia sudah sangat kesal terhadap Albion, pria itu membuatnya menunggu berjam-jam.
Setelah lama menunggu, yang datang hanya pekerja bengkel biasa dan terpaksa Hani harus menaiki motor yang di bawa orang itu untuk menuju tempat bengkel yang letaknya lumayan jauh. Helena pun dengan berat hati ikut mendorong mobil itu karena pekerja bengkel datang tanpa membawa mobil derek atau alat bantu apapun.
Helena sengaja ikut melakukan pekerjaan berat itu karena dia harap bisa membuat kandungan nya bermasalah dengan mendorong mobil.
"Sialan sekali. aku menikah dengannya untuk menjadi nyonya bukan malah seperti ini." Hani membuka seluruh bajunya lalu merendam tubuhnya yang terasa dingin itu di air hangat.
Sementara Rega, pria itu tengah melihat-lihat akun Twitter milik Mawar. Banyak sekali foto-foto mantan istrinya yang dia scroll, Rega merasa jika Mawar semakin cantik saja.
"Lihat saja, aku pasti buat dia kembali." Rega bertekad akan menaklukan Mawar kembali.
Bagaimana pun caranya, dia tak boleh membiarkan Albion bisa merebutnya. Mawar hanya miliknya dari dulu sampai kapanpun.
...***************...
__ADS_1