Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 58


__ADS_3

Rega pulang dalam keadaan mabuk, bajunya berantakan dan wajahnya terlihat kusut. Mata merah dengan rambut yang acak-acakan, membuat penampilan Rega yang selalu terlihat rapi itu sangat buruk sekarang.


Hani mengigit bibirnya kuat untuk tidak menangis. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sedih juga kesal yang bercampur menjadi satu. Tadi siang sudah terlalu melelahkan baginya dan malam ini keadaan Rega yang mabuk membuat suasana hati Hani semakin kacau.


"mas, kamu dari mana?" Tanyanya mencoba untuk tetap sabar meski sebenarnya dia ingin sekali marah.


"apa peduli mu. menyingkir dari jalanku." Rega mendorong tubuh Hani yang berdiri di depan pintu.


Pria itu lalu masuk kedalam dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpejam erat dengan kening yang berkerut. Hani menghela nafas, dadanya sakit mendapatkan perlakuan seperti itu. Dengan kesal wanita itu pun masuk kedalam kamarnya, ia tak akan memperdulikan Rega.


"Mawar...." Gumam Rega dalam keadaan tak sadar. Pria itu bangkit dengan susah, menyeret kakinya menuju kamar.


Ceklek...


Matanya menyipit saat melihat seseorang bergelung dalam selimut di atas kasur. Jantungnya berdebar kencang saat bayangan wajah Mawar terlintas. Rega dengan cepat menutup pintu lalu berjalan ke arah kasur.


"Mawar..." Panggillan Rega membuat Hani langsung tersentak bangun.


Hani membuka matanya cepat lalu duduk menghadap Rega yang berdiri di samping tempat tidur.


"apa mas? kamu panggil aku apa?"


Senyum kecil tersungging di bibir pria itu. Tangannya dengan lembut mengelus pipi Hani. Di dalam penglihatannya wajah Mawar lah yang ada di hadapannya saat ini. Sepertinya Rega memang sangat mabuk sehingga berhalusinasi.


"Sayang...kamu ada disini?" Tanyanya dengan lembut.


Kening Hani berkerut.


"kenapa diam saja, kamu sakit?" Rega meraih tangan Hani lalu mengecup punggung tangannya. Perlakuannya membuat Hani merasa nyaman dan melupakan Rega yang memanggilnya dengan nama Mawar tadi.


"aku..."


Baru saja akan berujar Rega sudah menyela. Pria itu memeluk tubuh Hani sembari berbisik pelan.


"Sayang, aku mencintaimu. Mawar tak bisa kah memberikan aku kesempatan?"


Tubuh Hani langsung menegang, dengan cepat Hani mendorong tubuh Rega sehingga tersungkur kelantai. Pria itu mengaduh sakit saat kepalanya terbentur dinding cukup keras.


"Mawar..." Rega mengangkat wajahnya. "kamu...berani sekali kamu mendorong ku." Hardik Rega. Matanya yang memerah karena efek mabuk semakin merah ditambah rasa kesal.


Hani berdiri menantang di hadapan Rega. Wanita itu tak takut sama sekali dengan suaminya saat ini.


"ya...ini aku. Hani, istri mu." Hani berkata penuh penekanan. "kenapa kamu terus memanggil nama mantan istri mu itu, apa kamu menyesal telah berpisah dengannya? kamu keterlaluan mas, aku istrimu tapi kamu malah memikirkan mantan s"alanmu itu." Pekik Hani keras.


Rega langsung bangun dan mencengkram pipi Hani kuat. Dia tak terima Mawar di sebut wanita s"alan oleh Hani.

__ADS_1


"Dia wanita terbaik yang pernah aku kenal. sekali lagi kamu menyebutnya seperti itu, aku patahkan lehermu." Ancam nya.


Hati Hani semakin berdenyut sakit. Dia tak pernah bayangkan akan sesakit ini rasanya. Pria yang dicintainya lebih membela wanita lain di banding dirinya yang kini berstatus istri bahkan tengah mengandung anaknya.


"Pergi, jangan ganggu aku." Dengan keras Rega menghempaskan tubuh Hani kelantai.


"uuhhhhh...." Hani meringis saat perutnya terbentur lantai cukup keras. Dengan susah dia bangun. "Mas, tolong aku..."


Rega memejamkan matanya, menulikan pendengarannya. Hani terus berusaha untuk berjalan, mendekati ranjang.


Brugh..


Tubuhnya kembali terjatuh karena tak kuat menahan rasa sakit yang begitu luar biasa di bagian perutnya.


"bayiku...mas..bayi..." Suara Hani melemah lalu ia tak sadarkan diri.


Rega mendengus lalu dengan kesal bangkit. Matanya membuka lebar melihat darah di lantai dan tubuh Hani yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Ha...Hani..."


...****************...


Akhirnya Mawar pun bersedia untuk ikut dengan Albion menemui ibunya. Dengan pakaian sederhana juga makeup tipis membuat Mawar terlihat sangat cantik. Albion sampai terpaku di tempatnya menatap Mawar yang berjalan mendekati nya.


"ekhem..." Albion berdeham pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya. "tentu saja, ibu pasti menyukai mu."


Mawar memakai baju putih lengan panjang yang di padukan dengan celana jeans yang tak terlalu ketat, rambutnya di gerai dengan jepit kecil berbentuk hati. Sederhana tapi sopan, Mawar terlihat sangat cantik.


"apa kita harus membeli sesuatu untuk ibumu?" Tanya Mawar.


"kita beli bolu gulung, ibu suka itu." Albion dan Mawar pun masuk kedalam mobil.


Mereka berhenti di sebuah toko kue untuk membeli beberapa kue sebagai buah tangan. Mawar masuk sendiri kedalam toko karena Albion memilih untuk menunggu di mobil. Dia hanya ingin tahu, apa Mawar akan memilih kue yang di sukai ibunya atau tidak.


"eh...Tante..." Mawar menghentikan langkahnya tepat di pintu masuk saat berpapasan dengan seorang wanita yang juga hendak masuk kedalam toko itu.


"Mawar kan, putrinya Rena?"


"iya Tante... Maria, benar kan?"


Maria dan Mawar pun saling mengobrol sambil masuk kedalam. Albion yang berada di dalam mobil sempat melihat Mawar dan Maria berbicara di luar toko tadi. Dengan cepat pria itu keluar dari mobil.


"Kamu mau beli kue buat seseorang?" Tanya Maria.


"iya Tante."

__ADS_1


Albion berjalan mendekati keduanya.


"Mawar, apa sudah selesai?" Tanyanya membuat Mawar dan Maria berbalik kebelakang.


"aku pilih kue ini saja. ibumu suka bolu gulung kan."


"mm...."


Maria menelan ludahnya. Melihat Albion dan Mawar seperti ini membuatnya tiba-tiba teringat dengan Hani. Wanita itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


"Loh...kemana Tante Maria.."


"mungkin mencari ketempat lain. ayo...kita bayar dulu."


Maria bersembunyi agar Mawar dan Albion tak melihatnya. Sengaja menghindari Albion karena tahu pria itu pasti akan bertanya perihal putrinya. Maria sangat tahu, jika Albion bukanlah pria yang mudah di hadapi. Jika sudah merasa kesal dan membenci seseorang maka dia akan berusaha menjatuhkan orang lain.


Seperti yang telah Albion lakukan pada suaminya juga Hani dan Rega. Albion meminta semua perusahaan mem-blacklist Rega dan Hani agar tak bisa bekerja di tempat mana pun. Maria dan Gusna mengetahui itu tapi sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.


Mawar menyimak kuenya di jok belakang. Menghela nafas panjang lalu menatap Albion.


"aku gugup sekali." Ujarnya.


"Pegang tanganku." Albion menggenggam tangan kanan Mawar dengan erat yang langsung di balas oleh wanita itu.


Kebahagiaan yang sedang mereka rasakan saat ini membuat keduanya begitu terlihat sempurna.


...*****************...


Rega membawa Hani kerumah sakit dengan cepat. Pendarahan yang di alami Hani membuat Rega menjadi kalut. Dia menyesal telah menyakitinya. Semua terjadi begitu saja, Rega tak mengira perlakuannya bisa membuat Hani dalam bahaya seperti ini.


"mas, selamat bayiku." Isak Hani sembari terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.


"ya, tenang saja. bayi kita akan baik-baik saja." Rega mengelus kepala Hani. "dokter... cepat lakukan sesuatu." Teriaknya.


Beberapa perawat langsung mendorong Hani dan meminta Rega untuk menunggu di luar.


"ini semua salah Mawar." Desis Rega, masih saja menyalahkan seseorang yang tak ada kaitannya dengan apa yang terjadi.


Rega merasa jika semua salah Mawar. Dia yang telah membuatnya hilang akal sehingga menyakiti Hani dan membuat bayinya dalam bahaya. Pria itu mengepalkan tangannya.


Rasa tak sukanya karena Mawar dan Albion yang berbahagia sementara dirinya malah menderita seperti ini membuat Rega tak bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu.


"aku harus membuat mereka berpisah."


...***************...

__ADS_1


__ADS_2