
Kulsum terkejut saat tak mendapati Helena di kamarnya. Dia melihat ke arah kamar mandi pun tak ada. Dengan cemas dia keluar lalu memanggil Rega. Meski ia kadang terlihat tak peduli dengan putrinya itu tapi di dalam hatinya merasa cemas, takut terjadi apa-apa padanya. Keadaan masih lemah karena baru melalui proses operasi.
"Rega...Rega..." Teriaknya tak peduli dengan beberapa pasien yang lain bahkan seorang perawat menghampiri untuk menegurnya.
"jangan membuat keributan Bu, maaf ini rumah sakit." Teguran itu tak di gubrisnya sama sekali, Kulsum tetap berteriak memanggil Rega.
Sang perawat hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kulsum.
Brak....
Dengan keras Kulsum membuka pintu, ia berlari ke arah Rega begitu panik. Maria dan Gusna sampai terkejut di buatnya.
"ibu, ada apa?" Tanya Rega.
"Mbak mu hilang, kamu bagaimana sih. bukankah kamu menjaganya?" Panik Kulsum.
Rega terkejut mendengarnya, bagaimana bisa hilang sementara sejak tadi dirinya berada di luar ruangan. Lewat mana Helena kabur, mana mungkin jika melalui jendela karena mereka berada di lantai dua.
"Hilang? tidak mungkin Bu. mungkin mbak di kamar mandi."
"tidak ada, ibu sudah mencarinya. bagaimana ini, ibu takut Mbak mu lakukan hal buruk karena terlalu stress."
"aku akan mencarinya, ibu tenang saja." Rega langsung pergi tanpa pamit pada Hani. Pria itu juga seolah lupa kalau saat ini ada mertua nya.
Maria mendekati Kulsum.
"Anakmu juga di rawat disini? apa dia sakit?" Tanya Maria penasaran.
Kulsum menelan ludahnya. Bingung harus menjawab apa, dia tak ingin keburukan Helena di ketahui oleh besannya ini. Takut jika nanti Maria dan Gusna berpikir kalau keluarganya tak baik karena memiliki anak perempuan yang hamil di luar nikah.
"oh...itu, mbak nya Rega frustasi karena di tinggal menikah oleh kekasihnya. dia hampir bunuh diri saking sakit hatinya." Bohong Kulsum.
Maria yang mendengar itu sungguh merasa ikut sedih. Dia tepuk bahu Kulsum untuk memberikan kekuatan. Sementara Hani hanya diam menyimak, wanita itu sama sekali tak peduli dengan Helena saat ini. Matanya bergulir ke arah kiri di mana Gusna berdiri.
__ADS_1
"Papih..." Lirihnya pelan.
Gusna langsung melihatnya tapi tak melakukan pergerakan apapun. Dia hanya melihat Hani sekilas lalu kembali membuang pandangannya. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Hani tapi rasa gengsinya sebagai seorang pria sungguhlah besar. Dia sudah pernah mengatakan tak akan peduli apapun yang terjadi pada Hani, jadi dia tak ingin menelan ludahnya sendiri.
Di luar, Rega bingung sendiri karena tak tahu harus mencari Helena kemana. Dia sendiri tak mengenal teman-teman dari kakaknya itu. Selama ini Helena tak pernah membawa temannya kerumah.
Dengan ragu ia pun memasuki mobilnya lalu segera pergi. Mungkin saja Tuhan bisa membantunya dan dengan cepat menemukan Helena.
...****************...
Mawar tak bisa menahan rasa malunya saat Albion mencium keningnya dengan lembut. Pria itu sungguh memperlakukannya dengan penuh perhatian.
"Terimakasih." Bisik Albion.
"untuk apa Al? aku tak melakukan apapun." Ujar Mawar bingung.
Albion lalu menyentuh bibir Mawar yang sedikit bengkak karena ciuman tadi. Sungguh, Albion baru melakukan pertama kalinya tapi rasanya sungguh sudah terbiasa. Bibir Mawar begitu candu baginya, hampir saja dia kebablasan tadi jika tak ingat kalau dirinya dan Mawar belum menikah.
"Ciuman ini yang pertama bagiku, aku selalu mendambakannya setiap waktu." Perkataan Albion membuat Mawar langsung merasa salah tingkah.
"Maafkan aku Al, aku bukan seorang gadis. jadi semua yang aku lakukan denganmu..."
"jangan di teruskan." Sela Albion cepat. "aku tak peduli, mau yang pertama atau kedua atau ketiga. Yang penting sekarang kamu milik ku dan akan terus seperti itu sampai kita tua nanti."
Airmata Mawar langsung berjatuhan. Perkataan Albion sungguh membuatnya terharu. Dengan cepat Mawar menghambur kedalam pelukannya. Kenapa Tuhan begitu baik, memberikan pria sebaik Albion padanya. Apa di kehidupan dulu Mawar telah melakukan kebaikan sehingga mendapatkan imbalan yang begitu indah sekarang.
"Al...aku mencintaimu." Lirihnya dalam isakan.
Albion membalas pelukan Mawar, pria itu sungguh senang mendengarnya. Ini pertama kalinya Mawar mengatakan cinta dengan begitu yakin.
"aku juga mencintaimu, selalu." Balasnya.
Mawar melepaskan pelukannya lalu mendongak untuk melihat dengan jelas wajah Albion.
__ADS_1
Perlahan wanita itu mendekatkan wajahnya lalu mencium Albion kembali. Hatinya semakin yakin dengan pria tampan ini. Albion pun memejamkan matanya, rasanya ciuman ini terasa lebih indah. Letupan di dadanya pun begitu besar sampai Albion tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"UUUMMM...." Mawar melenguh saat pinggangnya di rem*s Albion.
Pria itu bergerak lebih intens. Ciumannya pun semakin bergairah dan begitu memabukkan. Meski hanya di dalam mobil, tapi tak membuat keduanya kesulitan dalam bergerak.
Albion menekan tombol di pinggir kursinya sehingga lebih memberikan ruang. Dia tarik tubuh Mawar sampai wanita itu di pangkuannya tanpa melepaskan bibir mereka yang bertautan.
"ahhaaamm..." Albion menekan tengkuk Mawar membuat ciuman mereka semakin dalam.
Bahkan Albion merasakan tubuhnya meremang saat sesuatu di bawah sana tertekan oleh tubuh Mawar. Rasanya ada sensasi yang begitu menggelitik tapi sangat menyenangkan.
"Hah...hah... Albion..." Mawar terengah-engah begitu ciuman terlepas.
Wanita itu menelan ludah saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pantatnya. Dia tahu apa yang terjadi sekarang. Tubuhnya menegang hingga tak berani bergerak. Takut jika dia bergerak maka Albion pasti akan mendesah kuat.
Albion dengan hati-hati menggeser tubuh Mawar, ia gigit bibirnya untuk meredam ******* yang akan keluar dari mulutnya. Bagaimana pun pergerakan tubuh Mawar di atasnya membuat miliknya tergesek sehingga menimbulkan sensasi luar biasa.
"Al..." Mawar jadi bingung harus apa. Sungguh adegan yang membuat canggung.
Albion menggerakkan kembali kursinya. Dia tersenyum manis kearah Mawar.
"tak apa. aku bisa mengatasinya." Ujar Albion.
Mawar pun mengangguk pelan. Tangan Albion bergetar menyentuh setir, rasanya sungguh menyiksa karena sesuatu di bawah sana belum tertuntaskan. Keringat dingin bahkan membasahi pelipisnya.
"Al..kamu baik-baik saja kan?" Tanya Mawar cemas. "biar aku saja menyetir."
Albion pun tak punya pilihan lain, dia menyetujui permintaan Mawar. Karena hanya itu jalan satu-satunya agar perjalanan pulang mereka aman.
Dengan sekuat tenaga Albion menahan hasratnya agar tidak melakukan hal bodoh. Bagaimana pun dia harus bisa menahannya jangan sampai melakukan hal buruk sebelum mereka menikah.
Mawar pun langsung menyalakan mesinnya begitu sudah bertukar posisi. Dia melirik Albion sekilas, pria itu nampak tak baik. Dia tahu sekali, pria yang tak bisa mengeluarkan hasratnya akan merasa tak nyaman. Maka dengan cepat dia pun melajukan mobilnya. Setidaknya jika sudah sampai di rumah Albion bisa melepaskan segalanya meski dengan cara lain, hal yang mungkin hanya di lakukan pria pada umumnya ketika tak ada pasangan.
__ADS_1
...*************...