
Mawar sungguh tak pernah membayangkan akan kembali jatuh cinta setelah di khianati seperti ini. Rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta, hatinya berbunga-bunga dan debaran halus selalu terasa saat berdua seperti ini.
Sudah seminggu Mawar dan Albion berstatus sebagai kekasih. Kedua nya pun nampak bahagia, Albion sungguh senang karena pada akhirnya penantian bertahun-tahun nya telah terbayarkan.
"Jadi...kamu mau kan bertemu dengan keluarga ku?" Tanya Albion.
Mawar yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu pria tampan itu langsung menegakkan tubuhnya. Matanya bergulir gelisah.
"Bagaimana jika orangtua mu tak setuju dengan hubungan ini Al?" Tanya Mawar cemas.
Dia sadar dengan statusnya. Seorang janda sepertinya tak pantas mendapatkan pria lajang sebaik Albion.
Albion mengusap pipi Mawar lembut.
"Keluarga ku tak mempersalahkan status. Mereka hanya ingin wanita baik yang bisa menjadi istri dan menantu di rumahnya. Ibu ku juga seorang janda." Tuturnya.
"apa? jadi..."
"iya, aku hanya berdua dengan ibu ku. Tiga tahun lalu ayah ku meninggal. Makanya perusahaan besar itu sekarang menjadi tanggung jawab ku sebagai putra satu-satunya." Jelas Albion.
Mawar mengerjap kan matanya. Dia tak pernah tahu seperti apa jalan hidup Albion selama ini. Setelah tak bertemu sejak SMA, Mawar tak tahu seperti apa kabar nya.
"maafkan aku." Lirih Mawar.
"bukan masalah. Jadi...kamu bersedia bertemu dengan ibu ku?" Tanya Albion penuh harap.
Mawar mengangguk pelan.
"tapi jangan sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir."
"oke, aku akan menunggu nya."
Mawar dan Albion pun saling tersenyum. Hari ini libur, jadi Albion sengaja mengajak Mawar ke apartemen nya. Albion memang tinggal di apartemen karena jaraknya yang dekat dengan kantor. Seminggu sekali biasanya dia pulang kerumah ibunya, tapi untuk hari ini dia memilih untuk tidak pulang. Karena ingin berdua dengan sang kekasih.
Momen seperti ini tak boleh dia lewat kan, begitu lah pikir nya.
__ADS_1
"Ah...iya, hampir siang. kamu pasti lapar. aku akan buat sesuatu." Mawar beranjak dari duduknya.
"di kulkas banyak bahan makanan, biasanya aku siapkan bahan-bahan itu karena ibu kadang datang kemari." Jelas Albion.
Mawar pun tak membuang waktu lama. Dia langsung menuju dapur yang terhubung langsung dengan ruang tengah. Membuka kulkas lalu mengambil daging ayam dan beberapa sayuran. Albion hanya duduk memperhatikannya. Sungguh, pria itu membayangkan jika Mawar dan dirinya menikah maka momen seperti ini akan menjadi hal yang paling membahagiakan.
"Cantik sekali." Bisik Albion tanpa suara.
Matanya terus memperhatikan Mawar. Rambutnya yang di gerai sedikit membuat wanita itu kerepotan saat mencuci daging. Albion pun berinisiatif untuk membantunya.
"Al..." Mawar terperanjat saat Albion tiba-tiba mengikat rambutnya. Pria itu berada di belakangnya dengan jarak yang begitu dekat.
Cup...
Tanpa mempedulikan keterkejutan Mawar, Albion malah mencium tengkuknya membuat wanita itu langsung berbalik dan memandangnya dengan galak.
"hahaha... maaf-maaf." Albion mengangkat kedua tangannya ke udara. "Habisnya kamu begitu menggoda." Lanjutnya lalu berlari menghindar dari pukulan sang kekasih.
"menyebalkan." Gerutu Mawar.
"ck...pria itu terlalu m*sum." Ujarnya lagi.
...*************...
Hani sudah seminggu ini tak melakukan aktivitas apapun. Hanya diam dan duduk di depan TV. Bahkan semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh Kulsum. Alasannya tentu saja karena dirinya belum sepenuhnya pulih.
Kecelakaan itu membuat Hani harus banyak istirahat dan tak boleh kelelahan. Apalagi mengangkat yang berat-berat.
"Sampai kapan istri mu harus diam. Ibu lelah, Ga." Keluh Kulsum.
Wanita tua itu baru saja mencuci baju dan sekarang harus mencuci piring. Rasa nya sangat melelahkan. Di tambah, Helena tak membantu apa-apa sama sekali. Putri nya itu hanya berkeliaran setiap harinya. Tak mengingat usianya yang sudah 30 tahun lebih. Helena bertingkah seperti gadis remaja saja.
"aku akan tanya apa dia sudah merasa lebih baik." Ujar Rega, pria itu menyeruput kopi nya.
"dia juga tak bekerja seminggu ini, bagaimana jika gajinya nanti di potong." Kulsum duduk di samping Rega.
__ADS_1
Rega langsung terdiam. Pria itu belum mengatakan soal Hani yang telah di pecat. Dia hanya tak ingin membuat ibunya semakin stress memikirkan masalah yang tak hentinya itu.
"kenapa diam? kamu juga kenapa tak melamar kerja lagi?"
Rega menghela nafas berat lalu menghembuskan kasar.
"Bu, cari kerja itu susah. Apa sebaiknya kita temui ayah saja dan memintanya untuk menjual tanah di kampung. Bukannya tanah itu luas?"
Kulsum langsung tersenyum mendengar ide sang putra. Hampir saja dia lupa jika suaminya itu memiliki tanah yang begitu luas di kampungnya. Mungkin memintanya beberapa hektar untuk di jual bukan hal salah. Lagipula ada hak Rega dan Helena sebagai anak-anaknya.
"bagaimana Bu? kita gunakan uang penjualannya nanti untuk bekal kita sementara aku mencari kerja."
"tapi..." Kulsum menjadi ragu saat mengingat jika Marja sekarang tak peduli lagi dengannya dan kedua anaknya. "Untuk saat ini jangan. Kan ada Hani, istri mu cukup besar gajinya."
Hani yang hendak kedapur untuk mengambil air minum pun langsung menghentikan langkahnya. Wanita itu mengepalkan tangannya mendengar percakapan suami dan mertuanya.
"dia sedang hamil Bu. bagaimana bisa dia terus bekerja."
"kamu minta istri mu untuk menemui orangtuanya, minta bantuan mereka. Mertua mu itu orang kaya Rega. manfaatkan keadaan Hani." .
"maksud ibu?"
"bilang pada mereka jika kandungannya lemah. Kamu tahu, mereka pasti luluh soal calon cucu nya."
Rega pun tersenyum mendengarnya. Ia mungkin memang harus sedikit berbohong demi kebaikan keluarganya. Tanpa mereka tahu Hani kini tengah menguping semuanya.
Wanita itu pun melangkah keluar rumah. Airmatanya keluar tanpa bisa dia tahan. Dia pikir, semua akan baik-baik saja jika menikah dengan pria yang di cintainya. Tapi, semua mimpi itu hilang. Ternyata pria yang di puja nya sama sekali tak memiliki hati. Rega melakukan apapun demi keluarganya.
Bahkan pria itu tak memikirkan perasaannya. Di saat hamil seperti ini Rega bahkan tak pernah sedikitpun menanyakan apa Hani baik-baik saja. Apa Hani menginginkan sesuatu atau hal lainnya.
"Mamih...Papih..." Isaknya penuh rasa sesal.
Dia tahu semua salahnya. Dia singkirkan wanita lain demi kebahagiaan nya. Dan inilah balasannya, Hani harus mendapatkan kepahitan dalam keluarga kecilnya.
...*************...
__ADS_1