
Mawar sangat senang karena restorannya kini sudah banyak di kenal orang. Para pekerja pun bertambah, koki di dapur juga sudah bertambah 3 orang. Sementara dirinya hanya akan kemari seminggu sekali, mengecek pemasukan yang dia percayakan pada salah seorang karyawannya.
Menu yang di sediakan selalu bertambah setiap minggunya, karena memang permintaan pelanggan juga tentunya. Mawar bersedia menambahkan menu dalam restorannya karena dia pikir jika menyediakan makanan keinginan pelanggan maka restorannya akan semakin berkembang dan di kenal banyak orang lagi.
Pagi ini, dia sudah bersiap untuk ke restoran. Waktunya melihat pembukuan tentang keuangan selama satu minggu.
Albion hanya mengantarnya saja karena pagi ini dia juga ada meeting di kantor nya. Sebagai seorang pemimpin tak baik baginya jika terus mangkir dari rapat penting.
"Seharusnya kamu tak perlu repot-repot Al." Mawar memasang sabuk pengamannya.
"aku tidak repot. lagipula jalur kita sama." Serunya sembari melajukan mobilnya.
Mawar tahu Albion sulit untuk di nasihati. Pria itu akan melakukan yang menurutnya baik. Dan bagi Albion, mengantar jemput Mawar adalah hal yang wajib tak boleh terlewat.
Dengan mesra tangan kiri Albion menggenggam tangan kanan Mawar sepanjang perjalanan. Sementara tangan kiri nya memegang kemudi.
"Sebentar lagi tiba, jadi..." Albion menghentikan mobilnya beberapa meter dari restoran Mawar.
"jadi apa?" Tanya Mawar bingung saat pria itu membuka sabuk pengamannya lalu mendekatkan wajahnya.
Mata Mawar mengerjap berulang kali saat bibirnya terasa begitu dingin. Rupanya Albion mencuri ciuman darinya. Dengan cepat Mawar memukul lengan pria itu.
"kebiasaan deh." Gerutunya.
Albion terkekeh pelan. Kembali melanjutkan perjalanan yang hanya beberapa menit lagi itu.
"Bibirmu menjadi canduku mulai sekarang." Tuturnya dengan tertawa begitu renyah.
Mawar tak keberatan dengan apa yang dia katakan oleh kekasihnya itu. Wajahnya tersipu dan jantungnya berdetak tak beraturan. Albion selalu saja bisa membuatnya melayang seperti ini. Pria ini terlalu pandai merayunya.
Tak lama mereka pun sampai, Mawar bergegas turun. Wanita yang memakai dress merah itu melambaikan tangannya lalu masuk kedalam begitu mobil Albion tak terlihat lagi.
Suasana restoran masih sepi, bahkan beberapa karyawan nya masih membersihkan meja-meja dan para koki pun baru menyiapkan sayuran dan bahan-bahan lainnya.
"selamat pagi semua?" Seru Mawar dengan wajah riangnya.
Mereka semua langsung berkumpul menyambut kedatangannya. Mawar sangat baik dan tak pernah memarahi anak buahnya, jadi mereka begitu menyukai Mawar dan menghormati wanita itu.
"Elis, aku mau lihat pembukuan." Mawar memanggil seorang wanita berambut pirang.
__ADS_1
"iya, Bu. Minggu ini pemasukan meningkat."
Mawar senang mendengarnya. Elis adalah anak dari teman ibunya. Dia seorang ibu tunggal, anaknya masih sangat kecil. Suaminya berselingkuh dan meninggalkan Elis saat mengandung bayinya. Kini usia putranya sudah 2 tahun.
Wanita yang berwajah ayu itu sempat putus asa dan mengalami depresi berat. Tapi, berkat dorongan dan dukungan keluarganya dia bisa kuat sampai sekarang. Dia juga wanita yang jujur dan pintar. Oleh sebab itu Rena langsung meminta Mawar untuk memperkerjakan nya.
Mawar pun merasa kehidupan Elis sama seperti nya. Sama-sama di khianati oleh pasangan.
"Bagus, Minggu ini naik 3 persen." Mawar sangat puas melihat laporan Elis.
"tentu Bu. oh...ya, uangnya sudah di transfer ke rekening ibu tadi malam."
"iya, kamu memang sangat bisa di andalkan. Oh..ya, putra mu sudah sembuh?"
"uumm...ibu membawanya berobat kemarin."
"syukurlah."
"dimana pacar ibu? biasanya Pak Albion selalu sarapan di sini?"
"dia sibuk hari ini. aku juga akan kembali, tolong urus semuanya seperti biasa."
Mawar menyetop taksi lalu segera pergi. Sementara itu Elis masih berdiri dengan raut wajah yang sulit di artikan. Wanita itu tersenyum miris mengingat jika kehidupannya tak seberuntung Mawar.
Dia mengenal Mawar karena ibu mereka sering mengadakan arisan. Mawar waktu itu sangat cantik juga supel, usianya dua tahun lebih tua darinya.
"Bu Mawar beruntung, meski di khianati tapi sudah mendapatkan pengganti yang baik." Gumamnya. "aku harap, mereka langgeng."
Di kejauhan Hani, menyipitkan matanya. Memperhatikan Elis yang kini tengah berjalan masuk kedalam restoran.
"aku bisa gunakan wanita itu." Desisnya dengan senyum licik.
Hani mengepalkan tangannya. Dia ingat dengan kejadian tadi pagi di rumahnya. Tanpa sengaja dia melihat Rega tengah menatap foto-foto Mawar yang ada di ponsel nya. Dengan marah, Hani pun pergi tanpa pamit pada siapapun. Dia terlalu kesal dan ingin memaki Mawar saat ini. Berani sekali pikirnya masih membuat Rega memperdulikan dirinya.
...**************...
"ibu mulai tak mengerti dengan istri mu, pagi-pagi sudah keluyuran." Sungut Kulsum.
Rega hanya berdecak saja. Dia juga tak mengerti kenapa Hani harus bersikap begitu seenaknya setelah menikah. Padahal,ketika mereka masih bersama tanpa ikatan wanita itu selalu mengatakan akan menjadi menantu yang baik, melayani mertua dan suami sepenuh hati. Tapi, nyatanya sekarang Hani lebih sering berada di luar rumah tanpa memikirkan apa ibu mertua dan suaminya telah sarapan atau belum.
__ADS_1
Brak...
Kulsum menutup pintu kulkasnya dengan keras. Wanita tua itu menengadahkan tangannya kepada Rega.
"minta uang."
"loh, kemarin aku kasih 2 ratus loh Bu. apa sudah habis?" Tanya Rega.
"uang segitu mana cukup Rega, ibu kemarin beli gas, listrik habis di tambah waktu bayar uang keamanan."
"masak yang ada ajalah Bu."
Kulsum menyipitkan matanya tak suka. Dulu Rega tak seperti ini. Setiap hari akan memberinya uang tanpa banyak bertanya, tapi semenjak menganggur pria itu jadi sedikit perhitungan.
"masak apa? di kulkas hanya ada es batu saja." Keluh Kulsum kesal.
Rega meremas rambutnya dengan kalut. Uang tabungannya semakin menipis sekarang. Bagaimana mereka bisa menjalankan hidup dengan tengah jika seperti ini.
"telpon istri dan minta uang padanya."
Rega pun beranjak dari duduknya. Tak ada pilihan lagi, ia harus membujuk Hani untuk menjual rumahnya. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menutupi segalanya.
Ceklek...
Pintu terbuka, Hani masuk dengan wajah datar. Melihat mertuanya yang berada di dapur membuat wanita itu tahu apa yang akan di dengar. Kulsum selalu mengoceh perihal makanan setiap wanita itu berada di dapur.
"Jangan bertanya Bu, aku beli nasi juga ikannya. Ibu tinggal makan saja." Seru Hani cepat begitu melihat Kulsum yang hendak berkata-kata.
Ia letakkan bungkusan berwarna hitam itu di atas meja. Dengan cepat Kulsum langsung mengeluarkan isinya. Ada 4 bungkus nasi dan lengkap dengan lauknya.
Tring...
Hani berdecih saat ponselnya berdering, nama Rega tertera dilayar.
"aku di dapur." Ujarnya lalu menutup telponnya.
Tak lama Rega pun sudah berada di dapur. Pria itu langsung ikut sarapan tanpa bertanya apa-apa lagi. Perutnya terlalu lapar sekarang. Helena pun kini sudah bergabung.
Dengan tatapan malas Hani melihat semua keluarga suaminya. Sungguh miris sekali, kenapa dia bisa terjebak di dalam keluarga aneh seperti ini. Dulu, matanya terlalu buta karena begitu menginginkan Rega dan sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Seberapa buruk dan menyebalkannya mertua juga suaminya ini.
__ADS_1
...****************...