Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 19


__ADS_3

Marja mengatakan semuanya tanpa ada kebohongan sedikitpun. Bahkan Marja pun memberitahu besannya itu jika selingkuhan Rega saat ini tengah hamil. Rega mengepalkan tangannya, dia tak percaya jika ayahnya yang selama ini dia selalu penuhi kebutuhannya malah menghancurkan hidup nya seperti ini. Marja sama sekali tak memikirkan dirinya.


"kur'ng ajar. jadi kamu mengkhianati putriku?" Geram Ibnu, rahangnya mengeras.


Tangannya hendak melayangkan pukulan pada Rega. Tapi Marja menghalanginya. Bagaimana juga dia tak bisa melihat putranya harus di pukul di depannya.


"aku tahu jika Rega pantas mendapatkannya. Tapi, aku tak bisa biarkan itu terjadi." Ujar Marja, berdiri di hadapannya Ibnu. Siap melindungi Rega.


Kedua pria yang tak lagi muda itu saling menatap dengan tajam.


Rena yang hendak mengajak semuanya untuk makan malam pun di buat terkejut. Dengan cepat dia berlari menghampiri suaminya.


"ada apa ini?" Tanyanya cemas. Dia melihat Marja yang seolah ingin melindungi Rega. Sementara suaminya masih mencengkram erat kerah baju Marja.


Rega dengan cepat menarik Marja.


"ayah sudah cukup." Ujarnya.


Plak...


Ibnu dan Rena terpaku melihat Marja yang menampar Rega dengan sangat keras. Rega pun tak kalah terkejut, dia melihat Marja dengan bingung.


"ayah memang marah dan kecewa padamu, tapi tak akan ayah biarkan orang lain menyentuhmu. Hanya ayah yang berhak untuk itu."


Plak...


Marja kembali menampar Rega dengan keras. Ibnu diam, rasa kesalnya menjalar sampai ke ubun-ubun. Tapi melihat Marja yang terus memukul Rega membuat pria itu hanya diam memperhatikan.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Rena yang memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga Marja begitu marah pada putranya sendiri dan Ibnu terlihat kesal.


Brugh...


Marja mendorong tubuh Rega kasar hingga tersungkur tepat di bawah kaki Ibnu dan Rena. Wajahnya mendongak, matanya bengkak dan sudut bibirnya terluka hingga mengeluarkan darah.


Rena menutup mulutnya dengan tangan melihat keadaan Rega. Tubuhnya perlahan mundur.


"Minta maaf pada mereka dan jangan meminta Mawar untuk kembali. Ayah tak akan membiarkan itu terjadi." Titah Marja.


Rega mengangkat tangannya hendak menyentuh kaki Ibnu. Dengan cepat Ibnu menendangnya, dia tak sudi.


"Pergi dan jangan temui putri ku lagi. tunggu surat dari pengadilan agama dengan tenang di rumahmu." Usir Ibnu.


Marja memejamkan matanya. Dia bukan tak ingin membela Rega dan mempertahankan rumah tangga putranya itu. Hanya saja, Marja pernah bersumpah ketika hal yang sama terjadi pada Helena. Dia akan menghukum siapa saja yang berani menyakiti orang terdekatnya.


Pria itu sudah menganggap Mawar seperti anaknya sendiri. Maka dia tak akan pernah bisa memaafkan apa yang telah di lakukan Rega. Meski pada kenyataannya Rega adalah anak kandungnya sendiri. Di matanya, orang salah tetap salah. Tak akan ada kata maaf lagi.


Rega bagaikan di sambar petir. Dia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi.

__ADS_1


"tidak ayah, aku mohon. aku akan memperbaiki semuanya. aku minta maaf." Rega memohon dengan sangat.


Ibnu tak menghiraukannya. Rena pun hanya bisa diam tanpa berkata-kata.


"Mas Rega..." Mawar menghentikan langkahnya menuruni tangga melihat Rega berada di rumahnya.


"Mawar...mas minta maaf. ayo kita pulang." Rega langsung bangkit begitu mendengar suara Mawar. Dia berlari mendekati sang istri.


"Lepas." Ketus Mawar. "aku tak mau lagi di sentuh olehmu mas."


"tapi..."


Grep...


Brugh...


Ibnu menarik tangan Rega lalu menghempaskan tubuh menantunya dengan keras.


"Jangan dekati putri ku." Desisnya.


Mawar langsung mendekati Rena. Dia melihat sekilas Marja yang berdiri tak jauh darinya. Lalu melihat Rega.


"Aku akan kembali kalau mas meninggalkan wanita itu." Ujar Mawar pelan. Rena dan Ibnu langsung menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa Mawar bersikap seperti itu.


"Ba...baik, aku akan meninggalkannya. mas berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama." Janji Rega seolah lupa dengan janjinya terhadap Hani yang akan bertanggungjawab menikahinya.


"bagaimana bisa kamu meninggalkan wanita itu jika dia hamil." Seru Ibnu, perkataannya membuat Mawar langsung bergeming.


"apa...ha... hamil?" Tanyanya tak percaya. Padahal dia sudah memutuskan untuk memaafkan Rega. Jika Rega mau meninggalkan wanita itu dan memilih untuk tetap bersamanya. Tapi, kenyataan yang lebih pahit baru saja di dengarnya.


Tubuhnya bergetar bahkan hampir terjatuh. Rena dengan cepat menahan tubuhnya. Matanya menatap Rega dengan penuh rasa kesal.


"pergi sekarang." Usirnya. "Putriku tak butuh dirimu." Dengan cepat Rena membawa Mawar kembali kekamarnya.


"mawar..."


"cukup." Bentak Ibnu. "Pak Marja, tolong bawa putra mu pergi."


Marja menghela nafas lalu segera menyeret Rega keluar dari rumah besar itu.


...**************...


Kulsum tak bisa tenang karena memikirkan Rega. Dia takut jika putranya akan di pukuli habis-habisan oleh keluarga Mawar. Dia ingat saat Helena di khianati oleh kekasihnya. Pria itu di pukul tanpa rasa kasihan oleh Rega dan Marja. Bahkan mereka menyeretnya keluar dari rumah dengan tak hormat.


Dia takut jika hal itu pun terjadi pada Rega.


"ibu jangan cemas. Rega akan baik-baik saja."

__ADS_1


"bagaimana bisa tenang, Elen. Bapak mu ikut kesana. sementara kamu sendiri tahu, bapak mu itu tak akan membela Rega. dia itu terlalu mementingkan kepentingan orang lain. Tak berpikir jika putranya nanti akan terluka."


Helena menarik nafas panjang. Ia tahu, Marja tak akan membela Rega karena tahu putranya bersalah. Ayahnya bukan tipe orang yang akan membela keluarganya ketika melakukan kesalahan.


Brak...


Kulsum dan Helena terjingkat dari duduknya saat mendengar pintu yang di buka dengan cukup keras.


"ada ap...ya tuhan, Rega." Pekik Kulsum melihat keadaan Rega yang sangat berantakan. "berani sekali mertuamu itu, dia pasti memukulmu dengan keras."


Rega menepis tangan Kulsum yang berusaha untuk menyentuh wajahnya. Matanya menatap marah Marja yang dengan santainya masuk kedalam rumah.


"Ini semua perbuatan Bapak." Adu Rega.


Kulsum langsung mendelik kearah Marja. Dengan cepat dia berjalan mendekati suaminya.


"jadi Bapak memukul Rega? kenapa? dia putramu kenapa kamu tega memukulnya sampai seperti itu." Cerca Kulsum marah.


Marja duduk dengan santai di kursi. Tak menghiraukan kemarahan Kulsum sama sekali.


"Elen, obati luka adikmu." Perintahnya pada Helena.


"iya Pak." Helena langsung menarik Rega masuk kedalam kamarnya.


Adiknya itu hanya menurut saja. Berjalan mengikuti langkah Helena yang begitu cepat. Lagipula bersikeras untuk berdebat dengan Marja atau berusaha untuk kembali kerumah Mawar pun percuma. Semuanya sudah selesai, tak akan ada kata maaf baginya. Mawar sudah mengetahui tentang kehamilan Hani. Mungkin besok, lusa atau hari yang akan datang perpisahan mereka akan terjadi.


Rega menghela nafas, rumah tangga yang baru di bangunnya akan segera hancur. Semua terjadi karena nafsunya yang tak bisa dia hentikan.


"Kenapa kamu melakukan tindakan yang buruk Rega." Helena membersihkan lukanya sebelum mengoleskan obat luka.


"Aku menyesal mbak. semua terjadi begitu saja."


Helena memang kecewa dengan Rega tapi melihatnya terluka seperti ini membuatnya cemas. Luka di wajahnya cukup parah.


"Apa yang terjadi di rumah Mawar? kenapa Bapak bisa memukulmu?"


Rega mengepalkan tangannya. Dia marah karena Marja justru malah membuat hubungannya dengan Mawar semakin sulit untuk di perbaiki. Dia bermaksud menyembunyikan kehamilan selingkuhannya dan nanti mungkin bisa menikah secara diam-diam dengannya. Tapi, Marja justru memberitahu itu pada semuanya sehingga rencananya pun berantakannya.


"Bapak terlalu egois." Decih Rega. "lihat saja, aku akan tak akan menceraikan Mawar."


"kamu bisa apa? keluarga Mawar itu lebih kaya dari kita. Orangtuanya bisa melakukan apa saja agar mawar terbebas dari mu. Mbak bisa tebak itu."


"tidak akan. aku akan..."


"sudahlah cukup. Mbak mau istirahat." Helena tak mau berdebat lagi. "keluar dari kamar Mbak dan oh...iya satu lagi. katakan pada Mawar, mobil itu sudah jadi milik mbak. Kembalikan sekarang atau besok." Ujarnya.


Helena tetaplah Helena. Dia tak perduli dengan masalah yang sedang ada. Keinginannya untuk memiliki mobil Mawar memang sangat besar. Dia hanya memikirkan soal dirinya tak memikirkan masalah yang terjadi saat ini.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2