
Albion tersenyum miring melihat keberadaan Mawar. Dengan cepat dia melangkah lalu seenaknya saja duduk di samping Mawar, tangan kanannya yang kosong langsung merangkul pinggang ramping wanita itu tanpa basa-basi sedikitpun.
Mawar memekik pelan karena kaget. Matanya membulat sempurna melihat pria asing telah duduk di sampingnya. Dengan cepat dia menepis tangan pria itu.
"kamu...apa yang..."
"ssstt...apa kamu lupa siapa aku?" Tanya Albion dengan senyum yang begitu menakutkan.
Bagas yang hendak menyela pun di buat bungkam saat mata tajam Albion meliriknya seolah mengusirnya untuk pergi. Dengan gugup Bagas bangkit dari duduknya.
"ka...kalau begitu, lain kali kita bertemu lagi. Mawar, aku akan pergi." Ujarnya dengan cepat lalu pergi.
"Bagas, bahkan kamu belum mengatakan apapun." Teriak Mawar.
Bagas memang belum sempat bercerita apapun karena Albion yang keburu datang. Mawar mendelik tajam pada pria di sampingnya.
"apa mau mu? aku tak mengenalmu...eh... tunggu..." Mawar memperhatikan Albion dengan alis bertaut. Dia ingat sesuatu.
"kamu mengingatnya?" Seru Albion.
Jari telunjuk Mawar mengacung tepat kewajah Albion.
"kamu pria di restoran Jepang itu kan?" Pekik Mawar begitu ingat.
Albion berdecak kecewa lalu menangkap jari Mawar yang masih menunjuk wajahnya.
Chup...
Ia kecup ujungnya, membuat Mawar langsung menarik tangannya dengan cepat. Wajahnya memerah karena apa yang telah dia lakukan.
"apa yang..." Hendak protes tapi Albion dengan cepat menyela.
"kamu bahkan lupa dengan adegan itu? wajah ini...kamu melupakannya?" Desis Albion penuh kekecewaan.
Mawar menelan ludahnya, wajah pria di depannya sungguh menakutkan. Seperti di kelilingi awan hitam yang siap menurunkan hujan dan petir menyambar di sekelilingnya.
"se... sebenarnya siapa kamu?" Sungguh Mawar tak mengenalnya dan tak pernah ingat pernah dekat dengannya.
Albion memerintahkan anak buahnya untuk mengambil sesuatu di mobil dan segera memberikannya pada Mawar. Sebuah kotak kecil berwarna emas dengan pita kuning yang mengikat.
Mawar menelan ludahnya, ingatannya berputar ke saat dirinya masih kelas 1 SMA. Tepatnya hari pertama dia masuk ke SMA. Matanya membulat sempurna saat benda itu dibuka, di dalamnya ada banyak sekali jepit rambut.
__ADS_1
"ka...kamu...Al.. Albion?" Jepitan rambut dengan berbagai model itu mengingatkannya dengan pria berkacamata dan bertubuh sedikit gempal.
Mawar sungguh tak menyangka, setelah bertahun-tahun tak bertemu dengannya bisa berjumpa di tempat ini secara tak sengaja.
Albion mendesah keras. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, matanya menatap tajam Mawar.
"jadi kamu ingat sekarang?" Tanya Albion dengan nada suara penuh penekanan.
Tubuh Mawar menegang seketika. Ingatan kelam tentang apa yang telah terjadi pada pria di depannya berputar seperti kaset film.
Sementara itu, di luar. Bagas nampak kesusahan mencegah Raja yang memaksa untuk masuk kedalam.
"kamu gila?" Serunya sambil memegang tangan Raja kuat.
"Hei, kamu meninggalkan Mawar dengan pria asing di dalam. bagaimana jika..."
"dia bukan pria asing." Sela Bagas. "aku yakin jika pria itu seseorang yang sulit kita hadapi. Mawar akan baik-baik saja. jika kamu masuk kedalam maka di pastikan akan ada keributan."
"tapi..."
"memangnya apa urusan mu, lagipula Mawar bukan siapa-siapa mu?"
Kembali kepada Mawar dan Albion yang kini tengah saling diam. Mawar ingat sekarang, pria ini adalah Albion. Temannya saat di SMA.
Albion terus menyatakan cintanya dan selalu memberikan berbagai hadiah kepadanya. Tapi, Mawar selalu menolaknya dengan alasan tak bisa menerima itu semua karena dirinya tak bisa menerima cinta Albion.
Penampilan Albion waktu itu terbilang sedikit cupu. Memakai kacamata juga rapi yang selalu masukan kedalam celana. Penampilan para siswa kutu buku.
Di saat bersamaan, Rega pun mendekati Mawar. Rega tak pernah absen dari menghina Albion. Setiap hari ada saja alasannya untuk mempermalukan pria itu. Apalagi saat Rega dan Mawar berpacaran. Sikap Rega selalu baik terhadap Albion jika di depan Mawar dan akan berubah kejam jika hanya ada Rega dan Albion saja.
Tanpa sepengetahuan Mawar, Rega menyiram Albion dengan air got lalu membuat pria itu di tertawakan semua temannya. Hal itu tak pernah di ketahui Mawar sampai saat ini. Albion masih ingat itu semuanya, bahkan dia tak akan pernah melupakan penghinaan yang telah Rega lakukan terhadapnya.
Bahkan soal Mawar yang terus menolak cintanya pun tak akan pernah dia lupakan. Sampai sekarang Albion masih mengharapkan cinta wanita ini.
"Maafkan aku Albi, soal kejadian di SMA dulu." Cicit Mawar.
Albion terkekeh pelan. "salahmu hanya satu Mawar."
Mawar menatap Albion dengan kening mengerut.
"Satu?"
__ADS_1
"ya, kamu hanya terus menolak cinta ku."
Hening, keduanya kini terdiam dan hanya saling memandang. Albion tak lagi terlihat culun, sekarang bahkan nampak lebih hebat di banding Rega. Mawar akui itu, wajahnya dan juga aura yang dikeluarkannya mampu mengalahkan Rega waktu dulu dan sekarang.
"Jepit rambut ini aku belikan untuk mu sebagai kado perpisahan..." Albion menatap jepitan itu. "tapi, kamu malah membuangnya ketempat sampah."
Mawar menelan ludahnya. Waktu itu, dia sudah menerimanya. Tapi, Rega marah dan memintanya untuk membuangnya. Karena cintanya terhadap Rega, maka Mawar melakukan itu tanpa memikirkan perasaan Albion.
"sudahlah, itu hanya masa lalu." Lanjut Albion lagi. "sekarang...kamu terima ini sebagai hadiah selamat datang. kita bertemu lagi dan akan terus bertemu." Ujarnya.
Mawar menerimanya dengan ragu. Albion pun bangkit dari duduknya lalu segera pergi. Mawar hanya mampu terdiam sembari menatap punggung Albion yang menghilang di balik pintu.
Sungguh tak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan Albion. Pria yang selalu di tolak cintanya itu kini hadir dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Seperti ulat yang sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu.
...***************...
Albion tak bisa berhenti tersenyum seusai bertemu dengan Mawar. Wajah itu, matanya, suaranya bahkan ekspresinya masih sama seperti dulu. Dalam hati Albion tak pernah ada nama wanita lain selama ini.
Cintanya kepada Mawar begitu besar sampai membuatnya rela tetap sendiri di usianya yang sudah pantas berumah tangga.
Meski kedua orangtuanya juga kakek neneknya mendesak Albion untuk segera menikah, ia tetap pada pendiriannya. Tak akan menikah dengan wanita manapun, lebih baik hidup sendiri jika bukan Mawar yang pendampingnya.
Begitu mendengar kabar Mawar telah berpisah dengan Rega, hatinya bagai bunga yang layu mendapatkan siraman air.
Albion tak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Dia bisa mendekati Mawar juga membalas segala perbuatan Rega di zaman dulu.
Pria itu begitu sombong dan membanggakan dirinya yang bisa mendapatkan cinta Mawar. Dan sekarang, Albion akan membalas rasa sakit itu.
"Tuan, malam ini ada pertemuan dengan Tuan Gusna. Pemegang saham ke empat terbesar di perusahaan ini." Sekertarisnya membungkuk hormat.
"atur waktu nya."
"baik tuan."
Seringaian licik terpancar di bibirnya. Dia sudah mencari tahu semua yang bersangkutan dengan Rega. Tuan Gusna, calon mertua pria itu akan dia dekati untuk membuat rencana nya berhasil. Keberuntungan yang sangat luar biasa, karena Gusna memang bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya. Albion tak akan diam mengulur waktu lagi.
Masih membekas di ingatannya, ejekan dan kata hinaan Rega yang begitu menyakitkan.
"Tunggu saja. aku akan membalas rasa sakit ku juga rasa sakit Mawar." Desisnya.
...******************...
__ADS_1