Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 21


__ADS_3

Mawar pun sudah memberikan semua berkas-berkas yang di perlukan untuk mengajukan gugatan cerainya. Tak lupa dia juga memberikan bukti perselingkuhan Rega dan Hani. Ia melakukan itu untuk mempercepat proses perceraian tanpa harus melakukan somasi terlebih dahulu.


Berjalan dengan gontai keluar dari gedung berwarna putih itu. Hatinya terasa terkoyak, serasa ada yang hilang di sana. Pernikahannya yang baru berjalan dua bulan harus kandas di tengah jalan. Mawar tak pernah bayangkan akan sesakit ini rasanya.


"sayang..." Rena memeluk tubuh Mawar yang bergetar. Ia merasakan betapa hancurnya hati Mawar saat ini.


Mawar selalu bermimpi menjadi seorang istri yang sempurna. Memiliki tiga anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Melayani suaminya dengan sepenuh hati. Tapi, mimpi itu sekarang kandas. Belum juga memiliki seorang anak sudah hancur begitu saja.


"Yang sabar. Ibu turut sedih." Ujar Rena.


Mawar menghapus airmatanya. Dia tak boleh terlihat lemah. Ibu dan ayahnya ada di sampingnya, seharusnya Mawar kuat. Dengan cepat Mawar masuk kedalam mobil.


Sesampainya di rumah, Mawar tak langsung merebahkan tubuhnya. Dia ingat jika selama seminggu ini dia belum melihat ponselnya. Dengan cepat Mawar membongkar isi tasnya. Ponselnya sudah mati karena tak di isi daya.


"aku harus menghubungi Bagas." Ucapnya sembari mencharge baterai ponselnya.


Sambil menunggu batunya terisi penuh, Mawar keluar sebentar. Dia melihat ayah dan ibunya tengah berbincang-bincang di ruang tengah. Karena penasaran ia pun berjalan mengendap, menguping tak jauh dari tempat kedua orangtuanya berbicara.


"Aku tak sanggup melihat putri kita. kenapa nasibnya begitu buruk." Rena menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar dan isakan kecil pun lolos dari mulutnya.


Ibnu mengelus punggung Rena pelan. Mereka sudah tua saat ini. Harapan keduanya hanya ingin melihat Mawar bahagia. Hidup bersama keluarganya, di karuniai seorang anak. Tapi, yang ada hanya sebuah perpisahan. Putrinya di sakiti oleh pria yang baru beberapa bulan menjadi suaminya. Sungguh, Ibnu merasa marah dan bersumpah tak akan membiarkan Rega kembali bersama dengan putrinya.


Apapun caranya, dia akan buat pria itu menderita. Bahkan kalau bisa, Ibnu ingin membuat Rega lebih sakit hati dibandingkan dengan apa yang di rasakan Mawar saat ini.


"kita hanya perlu mendukungnya. Jangan buat dia merasa terpuruk. Rega dan keluarganya harus menerima balasan pahit atas ini semua." Seru Ibnu dengan rahang mengeras.


Mawar menggigit bibirnya. Hatinya semakin sakit. Orangtuanya ikut terluka dan Mawar tak bisa melakukan apapun.


"maafkan Mawar, ayah...ibu!" Serunya dengan pelan.


Tak sanggup melihat ibunya yang terus menangis di pelukan sang ayah. Mawar pun memutuskan untuk kembali kekamarnya. Ia lihat ponselnya baru terisi daya 25 persen. Itu cukup untuk melakukan panggilan.


Mawar pun segera menyalakan ponselnya lalu dengan cepat mencari kontak dengan nama Bagas.

__ADS_1


"Halo...Bagas!"


"................."


"jadi...mas Rega masih berhubungan dengan Hani?" Tanya Mawar, ada rasa tak enak saat mendengar kenyataan itu.


Rega masih mempertahankan selingkuhannya di saat rumah tangganya tengah di dera badai. Pria itu sepertinya memang sudah tak peduli lagi terhadapnya. Mawar pun menjadi yakin dengan keputusannya. Ia harap Rega akan menyesali semuanya dan dia akan melihat saat-saat itu terjadi.


"Aku tahu Bagas. Hani hamil...itu artinya hubungan mereka tak akan putus." Ujar Mawar dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Dengan cepat Mawar memutuskan panggilannya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar. Mawar tak pernah menyangka hubungannya dengan Rega bisa kandas seperti ini.


...*************...


Rega terdiam, lalu berpikir. Kenapa Hani harus berbohong pada orangtuanya tentang siapa dirinya. Bagaimana caranya dia berpura-pura belum menikah. Sementara Marja pasti tak akan tinggal diam, pria tua itu bisa mengacaukan segalanya. Jelas sekali kalau Marja itu sangat tidak suka hal yang berbau kejelekan apa lagi sampai berbohong demi suatu hubungan.


"mas, kok malah diem sih?" Hani menepuk lengan Rega kesal.


Di ajak bicara bukannya menjawab malah diam saja. Rega berdecak, kemudian mengusap kasar wajahnya. Nampak sekali jika dirinya tengah di landa masalah.


Pria itu tak akan pernah melepaskan Mawar dari hidupnya. Ia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya kembali. Tak tahu saja, jika Mawar sudah mengurus segalanya.


"lalu bagaimana? mereka tahu aku hamil. jika tahu pria yang menghamili ku adalah suami orang, aku bisa di keluarkan dari daftar keluarga." Sungut Hani. "jangan egois kamu mas. aku merelakan segalanya untuk mu dan mas mau lari dari tanggung jawab? enak saja." Marah Hani tak terima.


Rega memejamkan matanya. Pekerjaannya masih menumpuk sekarang dan Hani malah membuat kepalanya pusing. Pagi-pagi sudah mengajak ribut dan tak tahu situasi. Hani masuk ke ruangannya dan seenaknya menyampaikan ide konyolnya. Rega sama sekali tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.


Berangkat kerja tak sarapan dulu karena tak ada yang menyiapkan. Ibu dan kakaknya bangun begitu siang. Padahal saat ada Mawar, semua telah tertata dan Rega begitu di layani dengan baik. Baju kerja tersedia, sarapan tinggal makan. Semuanya menjadi mudah untuknya menjalani paginya. Berbeda dengan sekarang, berangkat tak ada sarapan dan pulang pun tak ada makan malam.


Sungguh, Kulsum dan Helena itu terlalu malas. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan bersantai seharian. Rega amat pusing di buatnya, sepertinya dia harus mencari pembantu sampai Mawar kembali dia ajak pulang.


"Cukup." Bentak Rega mulai kesal dengan rengekan Hani. Mawar saja tak pernah merengek seperti ini. "Kita bicarakan lagi nanti, aku banyak kerjaan."


Hani memasang wajah masam. Ia hentakkan kakinya lalu keluar dari ruangan Rega. Ia berjalan dengan mulut komat-kamit, merutuki Rega karena kesal.

__ADS_1


Bagas yang tengah berjalan berpapasan dengan Hani langsung pura-pura tak melihatnya. Ia sudah tak mau lagi mendengar cerita ataupun bersinggungan lagi dengan Hani. Setelah mengetahui wanita itu sedang hamil, entah kenapa ada rasa benci di hati nya. Pandangannya terhadap Hani berubah.


Dulu dia begitu kagum dengannya. Masih muda, cantik dan juga kaya. Tapi Hani tak pernah memamerkan segalanya. Justru dia begitu pekerja keras, mandiri juga sangat pintar. Bagas menyukai hal itu darinya. Saat tahu Hani berpacaran dengan suami orang pun, hatinya tetap terpaut. Tapi, kini hatinya tertutup. Bagas merasa jika Hani seorang wanita yang buruk. Tahu Rega suami orang dan perselingkuhannya terbongkar pun, wanita itu masih saja mempertahankan hubungannya. Terlihat jika dirinya sungguh tak memiliki hati nurani. Menyakiti sesama wanita demi kepuasannya sendiri.


"Bagas.." Panggil Hani.


Dengan cepat Bagas berjalan melewati Hani. Dia pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Hani mendengus karena di abaikan.


"ck...kenapa sih." Gerutunya semakin kesal. Padahal dia ingin menceritakan segala kekesalannya untuk mengurangi rasa gondok di hatinya.


Bagas melirik melalui ekor matanya. Dapat dia lihat Hani tengah menggerutu.


"Tega sekali wanita itu." Gumam Bagas. Lalu masuk keruang Rega setelah mengetuk pintunya beberapa kali.


Rega menghela nafas panjang melihat keberadaan Bagas. Matanya memicing menatap wajah tampan Bagas. Entah kenapa dia merasa jika pria di hadapannya ini ada hubungannya dengan kerusakan rumah tangganya. Menggelengkan kepalanya cepat, menepis pemikiran bodohnya.


"duduklah dan katakan kenapa kamu mengundurkan diri?" Rega menatap tegas kedepan.


Bagas pun duduk lalu menyerah surat pengunduran dirinya. Ia memang memilih berhenti bekerja, bukan karena sudah tak betah. Tapi dia ingin merintis sendiri usahanya. Uang pemberian Mawar cukup banyak, ia bisa jadikan modal untuk usahanya. Bekerja sebagai mata-mata Mawar memang sangat menguntungkan baginya. Wanita itu tak main-main dalam memberi imbalan jika merasa puas dengan apa yang di dengarnya.


"saya hanya ingin buka usaha sendiri. Ya, mungkin berdagang." Jawab Bagas.


"mmm... baiklah, hari ini kamu terakhir bekerja. Uang gaji terakhir mu akan di kirim seperti biasa, karena sekarang belum waktunya."


"iya pak. saya mengerti."


Usai Bagas keluar dari ruangannya. Rega menyenderkan tubuhnya di kursi. Ia memejamkan matanya, entah kenapa hatinya mendadak tak karuan. Ia mendadak merindukan Mawar. Sudah seminggu ini, Mawar sulit sekali di hubungi. Sementara jika datang menemuinya di pastikan Ibnu akan menghajarnya. Meski sudah tua, tapi pria itu terlihat masih bugar. Tenaganya pun pasti masih kuat.


Rega meringis sendiri membayangkan hal itu terjadi.


Tring...


Ada pesan masuk. Dengan malas Rega melihatnya. Rupanya dari Helena, memintanya membeli sesuatu untuk makan malam. Rega menghembuskan nafas kasar, kehidupannya kembali rumit. Melakukan ini itu sendiri tanpa ada yang membantu. Ia jadi menyesal sekarang. Jika saja bisa menahan nafsunya maka hal ini tak pernah terjadi.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2