Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 16


__ADS_3

"Bapak mau bahas hal penting pada kalian. duduklah." Marja menatap satu persatu wajah di hadapannya.


Kulsum dan Helena duduk berdampingan lalu Rega dan Mawar saling berjauhan karena memang Mawar yang tak ingin berdekatan dengan pria itu. Rasanya sudah muak hanya dengan mencium bau parfumnya saja.


Rega melirik Mawar dengan pandangan sendu. Takut sekali jika wanita itu benar-benar ingin berpisah dengannya. Cintanya pada Mawar sudah tumbuh sejak dari zaman sekolah dan rasa itu sekarang bertambah menjadi rasa sayang sehingga tak ingin kehilangan.


"Mbak mu sudah mengatakan semuanya pada Bapak." Marja melihat Rega dengan tajam. Lalu melihat Mawar yang kini menundukkan kepalanya. Menghembuskan nafas kasar, tak tega rasanya melihat menantunya tersakiti seperti itu.


"Bu, jadi bagaimana pendapatmu?" Marja beralih menatap Kulsum meminta pendapatnya. "selama ini ibu selalu menyalahkan Mawar atas apapun, lalu dengan adanya masalah ini siapa yang akan ibu salahkan?"


Kulsum mendengus, mulutnya sama sekali tak bisa berucap sepatah katapun. Rasa malunya terlalu besar, selama ini selalu berkata dengan sombongnya. Bahwa Mawar itu tak pantas bersanding dengan Rega, karena putranya sangat baik juga setia. Sementara Mawar hanya wanita yang merepotkan saja, tak ada gunanya.


Helena pun bungkam. Bukan karena kehabisan kata-kata, hanya saja dia terlanjur kecewa kepada Rega sehingga tak ingin berkomentar apapun lagi.


"Rega, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan wanita itu?" Pertanyaan Marja membuat Rega mengangkat wajahnya.


Pria itu berkata dengan sangat pelan nyaris tak terdengar.


"Seminggu setelah pernikahan kami." Cicitnya, tak berani menatap wajah Mawar sama sekali.


Mawar mengepalkan tangannya. Betapa terlihat pengecutnya Rega untuk saat ini. Pria itu ciut di hadapan keluarganya dan dirinya.


"Apa saja yang telah kamu lakukan di belakang ku, mas?" Tanya Mawar.


Rega menelan ludahnya. Banyak sekali yang sudah di lakukan, apa harus di katakan juga. Mawar berdecih lalu mengambil ponselnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja agar semua dapat melihat apa yang di ada di sana.


"a...apa ini?" Kulsum terkejut setengah mati. Tubuhnya bergetar bahkan punggungnya sangat lemas seperti tak bertulang.


Marja memejamkan matanya lalu menatap wajah Rega dengan penuh emosi. Sementara Helena langsung mengambil ponsel itu.


"kenapa kamu harus memperlihatkannya pada ibu dan Bapak." Hardiknya pada Mawar.


Helena mengelus punggung ibunya. Dia takut ibunya akan jatuh sakit menerima setiap kenyataan yang ada. Mawar tak peduli sama sekali, dia hanya ingin menunjukkan betapa busuknya Rega.


"kamu sudah sangat keterlaluan Rega." Desis Marja menahan emosinya.


Di ponsel itu ada foto Rega dan Hani yang sedang tertidur pulas di atas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang pun. Entah darimana Mawar mendapatkan itu semuanya.


Rega berdiri lalu menarik tangan Mawar dengan kasar.


"kita selesaikan ini berdua. tak perlu menyeret orangtuaku." Murkanya. Merasa terhina karena Mawar telah mempermalukannya di hadapan ibu dan ayahnya.


"sakit mas." Pekik Mawar, mencoba melepaskan cekalan tangan Rega di lengannya.


Marja pun langsung mengejar keduanya.


"Rega, jangan sakiti istri mu. di sini kamu yang bersalah." Teriak Marja.

__ADS_1


Rega tak menggubrisnya, dia terus menyeret Mawar masuk kedalam kamar.


Brak...


Menutup pintu dengan kencang lalu menguncinya dari dalam.


Dok...


Dok...


Marja mengetuk pintunya dengan keras. Ia tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan.


"Rega, buka pintunya?"


"tidak Pak. ini masalahku dengan istriku. Bapak maupun ibu jangan ikut campur."


Marja menghentikan ketukannya. Pria paruh baya itu pun memilih untuk kembali keruang tengah. Kulsum sedang menangis di pelukan Helena.


"kamu begitu terpukul, Bu. bagaimana dengan Mawar? pasti lebih sakit dari apa yang ibu rasakan sekarang." Tutur Marja.


Helena mengelus punggung Kulsum. Ketika dirinya di khianati pun, Kulsum menangis keras karena merasa sakit hati melihat putrinya di sakiti. Lalu bagaimana dengan orangtua Mawar nanti, apa mereka akan diam saja setelah tahu anaknya di khianati oleh suaminya. Bisa dibayangkan serunyam apa nanti masalah yang telah di timbulkan Rega.


Kulsum hanya menangis saja. Dia memang salah kepada Mawar. Semenjak wanita itu memasuki rumah ini tak pernah sedikitpun dia bersikap baik kepadanya.


"Ibu selalu menganggap wanita itu tak pantas untuk Rega. tapi nyatanya...putraku malah berbuat hal tak terpuji seperti itu."


...**************...


Hani baru saja tiba di rumah orangtuanya. Empat bulan dia tinggal sendiri dirumah yang di belinya. Menghidupi dirinya sendiri dengan gaji yang di hasilkannya. Ia begitu mandiri untuk ukuran seorang wanita lajang.


Kepulangannya di sambut baik oleh ibunya, Maria. Wanita yang nampak masih muda itu memeluk Hani penuh sayang.


"akhirnya kamu pulang juga. bagaimana kabarmu? kerjaanmu lancar bukan?"


"iya Mih. semuanya lancar."


Gusna mendekati Hani, sebagai seorang ayah tentu saja dia juga merasa bangga dengan apa yang di capai putri semata wayangnya.


"Sekarang kamu sudah dewasa, tak manja lagi. Papah senang akan itu. tapi, kamu pulang bukan untuk mengeluh kan?" Candanya.


Hani tertawa kecil, dia cium pipi Gusna. Sikap manjanya di rumah tak akan hilang meski usianya sudah menginjak 25 tahun.


"Hani hanya rindu kalian. Tak akan mengeluh soal apapun." Ujarnya, memeluk lengan Gusna manja.


Gusna senang mendengarnya. Maria pun segera membuatkan makanan kesukaan Hani. Setelah beberapa bulan tak bertemu membuat ketiganya sangat rindu momen-momen bersama. Makan, mengobrol dan bercanda.


Semuanya berlangsung dengan bahagia. Hani bermanja-manja dengan kedua orangtuanya. Sebelum menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Rega, ia akan memberi tahu dulu tentang apa yang di alaminya saat ini.

__ADS_1


Berharap Gusna dan Maria tak akan marah saat mendengar pengakuannya.


"Mamih.. Pah.." Hani mulai merubah wajahnya menjadi serius. Dia duduk menghadap keduanya.


"ada apa?" Tanya Maria.


Hani menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar.


"aku hamil." Akunya dengan cepat tanpa basa-basi.


Beberapa sekian detik hening. Gusna maupun Maria tak bereaksi. Wajah keduanya nampak bingung. Lalu Gusna mengerutkan keningnya.


"apa Papah tak salah dengar, Hani?"


Hani menciut mendengar nada suara Gusna yang berubah serius. Bahkan pria berambut hampir putih itu menatap tajam kearahnya.


"Hani, kamu jangan bercanda." Maria menggoyangkan lengan Hani. "kamu hanya bercanda bukan?"


Hani perlahan menggelengkan kepalanya. Dia mengulang kembali ucapannya dengan suara pelan.


"aku hamil, Pah.."


Brak...


Pukulan keras tangan Gusna pada meja membuat Hani langsung menciut di tempatnya. Maria pun langsung luruh, wanita itu diam mematung tanpa tahu harus bereaksi seperti apa.


"Kamu hamil? siapa yang melakukannya?" Geram Gusna. Tangannya mengepal, sebisa mungkin dia menahan emosinya agar tak melayangkan pukulan pada putrinya itu.


Hani semakin menundukkan kepalanya tak berani menatap Maria dan Gusna.


"siapa pria itu?" Bentak Gusna yang jengah karena Hani tak kunjung menjawab.


Hani sampai ketakutan di buatnya. Gusna tak pernah membentaknya selama ini. Tubuhnya gemetar.


"Mas Rega. atasan ku di kantor."


"ya...tuhan.." Maria sungguh tak bisa lagi menahan tangisnya. Putrinya telah ternoda.


Gusna memejamkan matanya, ia tetap berusaha untuk tidak marah. Dengan tegas Gusna meminta Hani mengajak Rega kesini. Dia ingin meminta pertanggungjawaban pria itu. Putrinya bisa kehilangan masa depannya.


Hani mengigit bibirnya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya tentang siapa Rega, Gusna dan Maria pasti akan semakin marah. Untuk saat ini lebih baik dia tak mengatakan apapun dulu. Jangan sampai Gusna semakin murka.


"telpon dia." Titah Gusna.


"iya..Pah." Hani segera mengambil ponselnya.


Berdoa dalam hati, semoga Rega mau di ajak bertemu oleh ayah dan ibunya. Jika tidak, maka Gusna bisa melakukan hal yang lebih buruk nanti.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2