
Baru saja merasa bahagia telah menjadi istri dari seorang pria yang di cintainya. Kini Mawar harus merasakan kesedihan terdalam yang di sebabkan oleh pria itu sendiri. Menjalin hubungan dengannya sudahlah sangat lama, 5 tahun berpacaran di tambah satu bulan pernikahan. Dulu, Rega begitu setia bahkan selalu menghindari kontak dengan wanita lain demi menjaga hatinya. Tapi, kenapa di saat sudah menikah justru pria itu malah bermain api.
"Kenapa melamun sayang?" Santi mengelus kepala Mawar lembut. "kamu tak mau pulang?" Tanyanya, bertanya seperti itu karena sudah hampir jam 5 sore.
Mawar rasanya malas sekali untuk kembali kerumah Rega. Ia tak ingin melihat wajah itu untuk saat ini. Tapi, jika dia tak pulang maka akan semakin runyam. Pasti Rega langsung menyusul kemari dan juga mertuanya yang super bawel itu pasti akan mengoceh karena dirinya yang tak memasak sore ini.
"sebentar lagi Bu. aku akan hubungi mas Rega dulu sekalian juga Mbak Elen." Jawabnya.
Santi mengangguk mengerti. Mawar segera mengirimkan pesan pada Helena, memberitahu kalau dirinya pasti akan sampai rumah agak malam. Jadi, sebaiknya mereka masak sendiri karena pasti dirinya tak akan sempat untuk melakukan itu. Sementara Rega, ia sama sekali tak mengirimkan pesan apapun pada pria itu. Karena yakin, suaminya itu pasti akan pulang telat kembali.
Helena menggerutu begitu membaca pesan dari Mawar. Perutnya sudah sangat lapar tapi Mawar malah mengirim pesan seperti itu.
"Bu, lihat deh. menantu ibu itu enak bener. bilang suruh aku masak." Adunya kesal.
Padahal memang seharusnya dia lakukan itu. Lagipula Helena bukan seorang anak kecil atau cacat, maka pekerjaan rumah sebaiknya di bagi dua dengannya setidaknya begitu. Tapi, wanita itu tak terima. Karena menurutnya Mawar yang lebih berhak melayani mereka karena statusnya sebagai istri dari Rega.
"Memangnya dia tak pulang?" Tanya Kulsum sambil mendaratkan pantatnya di kursi.
"katanya pasti sampai rumah malaman."
Kulsum langsung berdecak. Ia juga sudah lapar, tapi belum ada makanan di meja makan. Hanya ada roti tawar saja di sana.
"ya sudah sana, kamu masak. di kulkas banyak tuh bahan-bahannya. kamu goreng ayam saja." Titahnya.
Helena mendelik kepada ibunya. Sejak kapan ia memegang peranan sebagai tukang masak. Merebus air saja tak pernah, selama ini kan Bi Minah yang melakukannya. Dan semenjak Bi Minah di berhentikan tentu saja Mawar yang mengganti tugas itu.
"ibu lupa, aku masak mie saja tak becus." Tuturnya santai, merebahkan tubuhnya di kursi. Lalu memainkan ponselnya.
__ADS_1
"dasar ya, anak tak guna kamu itu. kerjaannya cuma molor saja. pantas saja kamu jadi perawan tua." Sungut Kulsum tanpa sadar jika ucapannya telah menyakiti perasaan anak pertamanya itu.
Kulsum bangkit dari duduknya, dengan terpaksa dia pun harus masak. Karena sebentar lagi pasti Marja akan minta makan dan di tambah perutnya juga lapar.
Helena menggigit bibirnya. Hatinya terasa perih mendengar perkataan Kulsum. Tapi, memang dasar ibunya itu selalu bicara seenaknya maka Helena pun hanya bisa memaklumi saja. Kulsum tak pernah menjaga perasaannya sama sekali, dari dulu selalu mengatakan kata-kata yang buruk jika kesal terhadapnya. Hanya kepada Rega, wanita paruh baya itu selalu berkata manis. Bahkan perlakuannya pun sangat berbeda, Rega selalu di agungkan oleh Kulsum. Mungkin karena Rega yang menghasilkan uang di rumah ini.
Helena pun bukan tak mau bekerja, hanya saja dia tak mau hanya sebagai karyawan biasa saja. Tapi, ijazahnya hanyalah tamatan SMP. Dia memang melanjutkan sekolahnya, menyesal atas itu. Dulu Helena malas dan Kulsum pun meng-iya kan saja keinginannya untuk tidak sekolah lagi. Sekarang Helena sadar kalau keputusannya di waktu dulu memberikan dampak buruk terhadapnya.
Sulit mencari kerja, menjadi tolak ukur seorang wanita ketika menjalin hubungan dan juga masih banyak hal lainnya.
"Elen, kemari jangan diam terus. bantu ibu cuci sayurannya." Teriak Kulsum dari dapur.
Helena tersentak dari lamunannya. Buru-buru bangun lalu menghampiri ibunya dengan cepat sebelum wanita tua itu melontarkan kata-kata pedas lagi.
...**************...
Hani hanya bisa mengangguk saja saat Rega mengatakan akan pulang karena tak ingin membuat orang-orang di rumah curiga nanti kalau dirinya selalu pulang terlambat.
"Tapi besok harus ya?" Hani mengerucutkan bibirnya lucu. Wanita itu sepertinya haus akan belaian seorang pria. Kegilaannya di atas ranjang juga hasratnya yang tak pernah padam itu membuat Rega perlahan merasa kewalahan.
"aku tak janji, Han. aku pulang dulu." Rega pun menutup kaca mobilnya lalu meninggalkan Hani yang masih berdiri di area parkiran.
Bagas tersenyum melihat Hani, sedari tadi dia memperhatikan wanita itu dan tentu saja ia pun mengambil fotonya. Mengirimkannya pada Mawar. Setelahnya Bagas pun pulang, menaiki sepeda motornya.
Bagas memang tak sekaya Rega. Dia hanya karyawan biasa dan hanya memiliki motor butut sebagai kendaraannya. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa Hani menolak cintanya, karena tak beruang banyak seperti Managernya itu.
Hani masuk kedalam mobilnya. Tangannya menyentuh miliknya yang tiba-tiba saja terasa berkedut. Semenjak melakukannya dengan Rega, ia menjadi gila. Tubuhnya selalu ingin sentuh. Bahkan sekarang Hani pun sudah sangat panas. Dia mencari sesuatu di dalam tasnya, ada benda kecil bulat sedikit lonjong di sana.
__ADS_1
"harus pakai ini saja. untung aku membawanya." Ujarnya.
Perlahan dia masukan benda itu kedalam miliknya, laku jarinya menekan tombol hijau pada remot kecil yang terhubung dengan benda itu.
"aaah..." Matanya terpejam saat benda itu bergetar di dalam sana.
Ya, itu alat untuk membantu seseorang yang kesepian. Hani memilikinya sedari dulu. Sebelum dekat dengan Rega.
Dengan cepat dia pun melajukan mobilnya. Menyetir dengan keadaan seperti itu sungguh membuatnya sedikit kelimpungan. Tapi juga menikmatinya.
Mawar melihat foto yang baru di kirimkan Bagas.
"jadi, mas Rega sudah pulang." Gumamnya.
Dengan cepat dia pun menginjak pedal gasnya. Sebaiknya Mawar bergegas untuk segera pulang juga.
Dia tahu, pasti Rega akan sampai lebih dulu kerumahnya. Karena jarak kantornya yang memang tak terlalu jauh. Mawar melihat kebelakang sekilas, banyak sekali kantong makanan di sana. Ibunya memberi banyak kue juga camilan lainnya untuknya. Katanya sebagai hadiah untuk mertua juga ipar Mawar.
Mawar tak ingin menerimanya tapi Santi memaksa. Ibunya berharap bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga mertua anaknya. Tak tahu saja, jika mertua Mawar sangatlah tidak berperasaan. Kulsum sama sekali tak pernah menganggap Mawar sebagai menantunya.
"ibu terlalu baik. bagaimana jika tahu kalau mertuaku sangatlah licik." Gumam Mawar.
Mawar yakin ibu dan ayahnya pasti akan langsung menuntut Rega jika tahu kalau dirinya di perlakukan seperti seorang pembantu di rumah suaminya sendiri. Di tambah lagi perselingkuhan pria itu. Untuk itu, Mawar akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat dari keluarganya. Ia ingin membalas perbuatan Rega dengan tangannya sendiri, dengan cara sendiri dan tentunya ingin membalas pria itu dengan cara yang elegan tanpa harus mengotori tangannya.
Hatinya terlanjur sakit dan kecewa sekarang. Mawar tak ingin lagi menautkan cinta di antara mereka.
...**************...
__ADS_1