
Mawar mematut dirinya di depan cermin. Memulai segalanya dengan awal yang baru. Restorannya kini sudah mulai di kenal banyak orang. Baru setengah bulan di buka saja sudah banyak sekali pengunjungnya. Bahkan Mawar tak mengira akan sebanyak itu pelanggan yang datang setiap harinya.
Dia menyajikan sendiri makanannya di bantu beberapa pegawai.
Terkadang, Albion juga akan datang. Pria itu tak hentinya menggoda Mawar. Kebiasaan jahilnya mulai membuat Mawar terbiasa. Bahkan sekarang, Mawar semakin dekat. Meski hubungan keduanya masih lah sebagai teman.
Mawar masih belum bisa menerima cintanya karena trauma. Takut jika nanti rasa sakit yang di torehkan Rega terulang kembali.
"Aku cantik kan Bu?" Tanya Mawar pada Rena yang baru saja memasuki kamarnya.
"tentu saja, kamu yang tercantik sayang." Rena mencubit hidungnya.
"apa ini?" Mawar mengeryit mendapatkan cincin dari Rena.
"pakai saja, ini cincin khusus dari ibu. Bagus bukan?"
Mawar memasang wajah lucu lalu segera memakai cincin berlian itu di jari manisnya. Dia tahu, ibunya selalu memberikan yang terbaik di saat dirinya tengah bahagia seperti ini. Dulu bahkan sampai sekarang kebiasaan itu tak pernah hilang.
"terimakasih Bu. ini pasti sangat mahal."
Tin...Tin...
Terdengar suara klakson dari luar. Albion rupanya sudah datang. Mawar pun bergegas merapikan rambutnya lalu mencium pipi kiri dan kanan Rena.
"aku pergi dulu Bu."
"iya hati-hati sayang."
Rena sangat bahagia melihat Mawar yang sekarang. Mimpi putrinya untuk memiliki restoran sendiri sudah tercapai. Meski kisah cintanya kandas di tengah jalan, tapi Rena yakin jika putrinya pasti akan mendapatkan kebahagiaan lain.
"Bu, ayah harus segera berangkat. dimana Mawar?" Ibnu mengerutkan keningnya melihat hanya Rena saja di dalam kamar putrinya itu.
"Mawar baru saja berangkat."
"tapi...itu mobilnya." Seru Ibnu heran.
Rena mengapit tangan suaminya lalu mengajaknya untuk keruang makan, sarapan pagi tanpa Mawar karena wanita itu memilliki janji sarapan dengan Albion.
"Albion menjemputnya. Mawar bilang mereka akan sarapan di restoran."
Ibnu mengangguk mengerti. Kedekatannya dengan Albion sangat di dukung oleh keduanya. Bukan karena hanya Albion yang sudah mapan, tapi karena pria itu juga jauh lebih baik di banding Rega.
****************
Hani merasa sangat kacau. Pernikahannya dengan Rega yang dia bayangkan akan sangat bahagia nyatanya begitu menyulitkan. Di kantor dirinya menjadi bahan gosip bahkan beberapa rekan kerja menjauhi nya.
Mereka memandang rendah Hani atas apa yang telah wanita itu lakukan. Merebut suami orang dan menikah sebelum sang pria resmi mendapatkan surat cerai.
__ADS_1
Rega pun mendapatkan hal serupa. Karyawannya tak lagi menundukkan kepalanya ketika berhadapan dengannya. Bahkan ada beberapa bawahannya yang terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya.
Seminggu ini berjalan sangat berat bagi keduanya. Tak ada lagi sapaan selamat pagi dari para rekan kerja juga bawahannya. Rega merasa jika dirinya sekarang tak lagi di hargai di tempat kerjanya.
"mas, aku lelah menghadapi semuanya." Keluh Hani.
"sabarlah, biarkan mereka seperti itu. jangan pedulikan mereka."
Hani menghembuskan nafas kasar. Pagi tadi atasannya memanggil dirinya. Mengatakan jika kontrak kerja Hani tinggal beberapa bulan lagi. Ia cemas tak akan di perpanjang lalu bagaimana nanti. Apa dia harus memulai dari nol lagi. Meminta bantuan orangtuanya pun tak mungkin, mereka sudah tak Sudi lagi bertemu dengannya.
Rega menatap wajah istri nya dengan bingung. Tak biasanya Hani murung seperti ini, makan siangnya pun belum tersentuh.
"Hani, ada apa?" Tanya Rega cemas.
Hani menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin menceritakan masalahnya kepada Rega. Bagaimana pun Rega sama sulit nya dengan dirinya sekarang.
Keduanya segera menyelesaikan makan siangnya lalu kembali keruangan masing-masing.
Rega baru saja akan menduduki kursinya ketika tiba-tiba asisten dari pemilik perusahaan ini masuk kedalam dan memintanya untuk segera menemui sang bos.
"iya, saya akan segera kesana." Seru Rega bergegas untuk pergi.
Firasatnya mengatakan akan ada hal yang buruk. Langkahnya begitu terasa berat tapi Rega harus tetap menghadap sang bos besar.
Tok...Tok...
"Duduk pak Rega." Seru Dirga dengan penuh tekanan.
Rega duduk di depan bos nya dengan gugup. Pasalnya selama bekerja dan menjabat sebagai manager tak pernah sekalipun dia panggil bos nya seperti ini.
Selalu asistennya yang berhadapan.
"Kamu tahu kenapa saya memanggil Pak Rega kemari?"
"Tidak Pak. ada apa sebenarnya?"
Dirga menyilangkan kakinya, matanya menatap Rega dengan tajam.
"Di kantor ini sudah tersebar tentang apa yang Pak Rega lakukan. Aku selaku pemilik perusahaan tak menginginkan hal buruk terjadi. Perilaku Pak Rega dan Bu Hani sudah memberikan contoh yang buruk bagi karyawan lain. Apalagi jabatan anda di sini sebagai manager."
Selanjutnya Rega tak begitu fokus dengan apa yang di katakan Dirga. Tubuhnya terasa lemas dan bagaikan mendapatkan pukulan hebat di kepalanya.
Semua kalimat demi kalimat yang terucap membuat Rega tak berdaya. Bahunya semakin luruh saat Dirga mengatakan inti dari ucapannya.
"Anda di pecat." Kalimat itu membuat dunia Rega bagaikan terhempas ombak besar.
Usahanya selama ini untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan jabatan di perusahaan ini sangatlah sulit. Dia butuh tenaga juga kekuatan ekstra untuk menghadapi segalanya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Rega meninggalkan ruangan bercat putih itu. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya hanya melihat dengan tatapan heran tanpa ada yang peduli sedikit pun.
Begitu tiba di ruangannya dia langsung membereskan semua barang-barang miliknya. Memasukannya kedalam kardus.
Mungkin inilah yang di namakan hukum karma bagi si pengkhianat. Karena ulahnya juga hari ini tiba. Andai saja dia baik-baik menjaga rumah tangganya dengan Mawar, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi.
Tapi, menyesal pun percuma. Dirinya dan Hani telah menikah sekarang. Tak akan bisa memutar waktu kembali.
...*************...
Mawar merasa lelah setelah seharian berkutat dengan berbagai alat masak. Akhirnya waktu pulang pun tiba. Restoran tutup setengah jam yang lalu, setelah semua alat masak juga meja di lap bersih Mawar dan para pegawainya pun pulang.
Albion sudah menunggunya sedari tadi. Pria itu begitu tepat waktu. Mawar tersenyum melihatnya.
"besok aku akan bawa mobil sendiri." Ujarnya.
"kenapa?"
Kening Mawar mengeryit mendengar pertanyaan Albion.
"tentu saja karena tak mungkin memintamu untuk terus mengantar jemput bukan?"
Albion menghela nafas panjang. Dia lebih suka di repot kan seperti ini. Merasa sangat berguna dan itu membuatnya senang. Di butuhkan Mawar adalah yang paling membahagiakan baginya.
"Eumm...iya." Jawab Albion lesu.
Mawar mengigit bibirnya. Merasa sangat canggung karena suasana di dalam mobil menjadi hening. Albion hanya diam tak mengeluarkan candaan sedikit pun.
"apa aku menyinggung perasaan mu?" Tanya Mawar hati-hati.
Ckiit...
Albion langsung menginjak rem membuat Mawar terkejut.
Pria itu berbalik memandang Mawar. Wajahnya begitu serius.
"Aku suka saat duduk bersama mu seperti ini. tapi, sepertinya hanya aku saja yang menyukai hal ini. besok aku tak akan menjemputmu lagi." Ujarnya lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Mawar terdiam. Apa dia salah bicara tadi. Mawar hanya tak ingin merepotkan Albion. Lagi pula pria itu sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tak mungkin Mawar masih membuatnya bekerja dengan mengantar jemput dirinya.
Begitu tiba di rumah, Mawar langsung masuk kedalam. Albion pun masih sama. Tak bicara apapun lagi. Pria itu hanya melambaikan tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"haaaaah..." Mawar menghembuskan nafas kasar.
Hatinya menjadi resah. Apa dia harus menghubungi Albion dan meminta maaf atau biarkan saja. Sungguh, Mawar jadi bingung sendiri.
...************...
__ADS_1