Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 56


__ADS_3

Kulsum merasa akan mati detik itu juga saat mendengar apa yang di katakan dokter. Tubuhnya terasa melayang dan kepalanya mendadak berputar. Sungguh ia tak pernah sekalipun menyangka jika putrinya akan berbuat hal yang begitu buruk. Semenjak Marja pergi dari rumah, keadaan keluarganya benar-benar kacau.


Putranya menjadi pengangguran dan sekarang putrinya telah melakukan hal yang sangat di benci olehnya. Nama baiknya benar-benar hancur sekarang, kenapa tuhan begitu kejam terhadapnya.


"Bu, ibu baik-baik saja." Hani mengguncang tubuh Kulsum yang kini terbaring di ranjang pesakitan.


Wanita tua itu rupanya langsung tak sadarkan diri saat dokter yang menangani Helena memberitahu nya jika putrinya telah mengalami keguguran dan rahimnya rusak karena dosis obat penggugur kandungannya yang di konsumsi nya sangat besar. Sehingga tak hanya janinnya yang hancur tapi rahimnya mengalami kerusakan.


Saat ini Helena sedang di operasi pengangkatan rahim. Karena hanya dengan begitu nyawa Helena bisa di selamatkan.


"Hani, apa yang di katakan dokter itu bohong kan? tak mungkin putri ku melakukan hal buruk seperti itu." Isaknya.


Hani langsung memeluk tubuh mertuanya. Meski hatinya merasa kesal dan sangat tak suka dengan mertuanya akhir-akhir ini tapi melihatnya seperti ini membuat hatinya terenyuh. Ibu mana yang akan menerima kenyataan pahit seperti ini. Putri nya hamil di luar nikah dan sekarang tengah bertaruh nyawa.


"Maafkan Hani Bu, mbak Helen memang hamil. aku tahu dari awal bahkan Mbak meminta bantuan ku untuk menggugurkan kandungannya."


"apa?" Kulsum langsung melepaskan pelukannya. Matanya menatap tajam kearah menantunya.


"jadi kamu yang membuat putriku dalam bahaya?" Bentaknya seraya mendorong tubuh Hani kuat.


Hani sedikit terhuyung kebelakang, untung saja dia tak terjatuh. Dengan kaget Hani menyentuh perutnya. Matanya membelalak tajam kearah Kulsum.


"apa yang ibu lakukan? bagaimana jika aku terjatuh."


Kulsum bangkit ranjang pesakitan lalu mendekati Hani.


"Katakan, apa yang kamu lakukan pada Helen? obat apa yang kamu berikan padanya?" Kulsum memegang erat lengan Hani hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Apa sih Bu? aku tak memberikan obat apapun. justru aku menolak permintaan mbak dan melarangnya untuk menggugurkan bayinya."


Kulsum menghembuskan nafas kasar. Dengan kejam dia mendorong kembali tubuh menantunya. Hani meringis saat sikunya membentur ujung meja. Sungguh, Kulsum sudah sangat keterlaluan. Dia tak memikirkan bayi yang ada di dalam perutnya, bagaimana jika Hani terjatuh dan bayinya dalam masalah.


"tetap saja kamu salah, kenapa tak memberitahu ibu." Ujarnya sambil keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Hani mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin sekali berteriak sekencangnya. Menghadapi Kulsum membutuhkan kesabaran yang sangat besar dan Hani tak memiliki itu semua. Dengan marah Hani pergi meninggalkan rumah sakit, ia tak peduli dengan keadaan Helena sekarang. Selamat atau pun tidak bukan lagi menjadi urusannya.


...****************...


"Aku pulang ya?" Albion mengelus pipi Mawar. Sebenarnya dia merasa berat berpisah dengan wanita berparas cantik ini.


"iya. hati-hati."


Albion masuk kedalam mobil lalu melambaikan tangannya. Percakapannya dengan Rena dan Ibnu tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Mereka memintanya untuk segera menikah dengan Mawar. Tentu saja hal itu membuatnya sangat senang, kedua orangtua Mawar sangat mendukung hubungan mereka.


"Aku pasti akan segera melamar mu Mawar. tunggu saja." Gumamnya dengan senyum merekah.


Mawar kembali masuk kedalam. Wajahnya masih memerah menahan malu, perlakuan Albion selalu membuatnya tersipu.


"Albion sudah pulang?" Tanya Rena.


"iya Bu. mana ayah?"


"dikamar. kemari, ibu ingin bicara." Rena menepuk kursi di sampingnya.


"ada apa Bu?"


Rena menghela nafas panjang. Dia raih kedua tangan putrinya. Terlihat jelas kecemasan di dalam sorot matanya. Rena tak bisa menutupi rasa khawatirnya.


"Mawar, dengarkan ibu. Albion mungkin baik dan tak seburuk Rega. Tapi, ibunya..." Rena menggantung kalimatnya. "Kamu harus mencoba untuk dekat dan melihat seperti apa ibunya Albion. Jangan sampai kejadian yang sudah terulang kembali."


Mawar tersenyum. Dia mengerti dengan perasaan sang ibu. Rasa khawatirnya tak salah, Rena hanya takut jika Mawar kembali mengalami hal buruk nanti. Sebagai seorang ibu hal wajar jika mencemaskan keadaan putrinya.


"aku tahu Bu. dulu aku terlalu mencintai mas Rega dan menutup mata soal keluarganya. Aku berpikir bahwa yang terpenting mas Rega mencintai ku tapi sekarang aku juga sadar. Menikah bukanlah antara dua orang saja, tapi juga..." Mawar tak melanjutkan ucapannya. Mengingat bagaimana perlakuan Kulsum dulu membuatnya tercekat.


Ibu dari mantan suaminya itu selalu berkata kasar dan memperlakukannya bagaikan seorang pembantu. Mawar masih ingat bagaimana sinis nya mata itu menatapnya dan ketusnya Kulsum setiap berbicara dengannya.


"Sudahlah, semua sudah berlalu." Rena mengusap punggung tangan Mawar.

__ADS_1


"Iya Bu."


"heeuuummm... Tidurlah."


Mawar mengangguk lalu mengecup pipi Rena. Ia masuk kedalam kamarnya. Percakapannya dengan Rena sedikit menimbulkan rasa cemas di dalam hatinya. Besok Albion memintanya bertemu dengan ibunya. Mawar tak yakin bisa bersikap tenang nanti. Seperti apa ibu Albion, apa seperti Kulsum? hal itu sungguh mengganggu pikirannya.


...****************...


Hani berjalan tanpa arah. Kepalanya menunduk menatap kerikil jalanan. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar. Airmatanya tak terbendung saat mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Kulsum memperlakukan dirinya dengan buruk. Selama ini hanya keluarga Rega lah yang berani berbuat seperti terhadapnya.


"Hani..." Seruan di belakangnya membuat langkah Hani terhenti.


Dia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Ma...Mih..?" Suara Hani tercekat. Ia buru-buru berbalik memunggungi Maria.


Tak ingin wajah kusutnya di lihat sang ibu. Dia dalam keadaan terburuknya saat ini, jangan sampai Maria melihatnya. Dengan cepat Hani berlari untuk menghindari sang ibu. Jujur di dalam lubuk hatinya dia begitu merindukan Maria. Ingin sekali berlari menghambur kedalam pelukannya. Tapi, mengingat kesalahan dan juga keadaannya saat ini membuat Hani memilih untuk menghindar.


"Hani tunggu..." Maria melepaskan barang belanjaannya begitu saja. Hendak mengejar putrinya tapi Gusna menahannya.


Pria itu menatap Maria dengan tajam. Hati kerasnya tak membiarkan istrinya untuk menyusul Hani. Dia begitu marah terhadap Hani, karena Hani telah merusak segalanya.


Kerjasama dengan Albion terputus dan nama baik keluarganya pun ternoda. Pernikahan Hani membuat rekan-rekan bisnisnya mencibir dirinya. Bahkan para saudara dan tetangga pun mulai meragukan Gusna dalam hal mendidik sang putri.


"tapi Pih...Hani.."


"Biarkan saja. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Sebelum menikahi pria itu dia pasti sudah memikirkan konsekuensinya. Masuk kedalam mobil." Titahnya dengan tegas.


Maria hanya bisa menuruti apa kata Gusna. Lagipula mengejar Hani pun percuma karena sudah sangat jauh.


Maria memejamkan matanya erat. Bayangan Hani membuat hatinya berdenyut sakit. Hani terlihat kusut dan tubuhnya sedikit lebih kurus. Bukankah Hani sedang hamil tapi kenapa dia begitu nampak tak terurus. Perut buncitnya sempat terlihat oleh Maria tadi. Hatinya bergetar, apa yang Hani alami selama ini. Apa dia bahagia atau tidak dengan kehidupannya? Kenapa Hani berada di jalanan dan nampak sangat sedih? Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepalanya.


Gusna pun sebenarnya merasakan hal sama, hanya saja dia tak ingin menunjukkan rasa khawatirnya. Kedua tangannya mencengkram erat kemudi.

__ADS_1


...**************...


__ADS_2