Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 22


__ADS_3

Setelah beberapa hari tinggal di rumah masa kecilnya, Mawar merasa jauh lebih baik. Tak perlu lagi bangun pagi dan tidur larut malam. Waktu istirahatnya sungguh terjaga. Wajahnya yang kusam kini telah kembali segar. Bahkan Mawar sudah bisa tersenyum lebar.


Rena yang melihat itu sungguh merasa tenang. Rasa cemasnya kini tak terlalu besar. Meskipun rumah tangga nya tengah di terpa badai yang besar tapi Mawar bisa mengatasinya dengan baik.


"Mawar, apa ini?" Rena melihat foto yang di bakar, lalu menatap Mawar penuh tanya.


"semua kenangan ku dengan mas Rega, Bu." Jawab Mawar. "aku sudah tak sabar ingin segera berpisah dengannya, akan buat mas Rega menyesali semuanya."


Rena mengelus kepala Mawar. Dia sangat hafal seperti apa putrinya itu. Memang baik, penurut juga selalu bertutur kata lembut. Tapi, jika sudah merasa kecewa kepada seseorang maka Mawar tak akan bisa di hentikan. Ia selalu membalas apa yang telah di dapatkannya.


"Sayang, seminggu lagi pasti sidang pertama mu dan Rega akan dimulai. kamu yakin?" Tanya Rena memastikan. Tahu betul jika Mawar begitu mencintai Rega.


Menyaksikan sendiri bagaimana dua insan itu menjalin hubungan dan berjuang bersama selama ini.


"Mawar yakin Bu." Jawab Mawar, tak keraguan dalam hatinya sama sekali.


Mawar memutuskan untuk menutup hatinya. Mengetahui selingkuhan suaminya yang hamil membuat Mawar sungguh kecewa terhadap Rega. Itu artinya mereka telah berzina lebih dari satu kali, makanya bisa hamil.


"ibu akan selalu mendukungmu selagi itu baik. Ibu harap kamu bisa lebih baik setelah ini semua."


"iya Bu."


Sementara itu di rumah Rega, Helena nampak uring-uringan. Sudah lama dia menunggu mobilnya kembali tapi tak kunjung datang juga. Padahal dia sudah meminta Rega untuk membujuk Mawar agar mobil itu di kembalikan.


"Sebenarnya kenapa sih Mawar menonaktifkan nomornya." Gerutu Helena karena tak dapat menghubungi wanita itu.


Sempat senang saat melihat nomor wa Mawar aktif. Helena buru-buru mengetik pesannya, belum juga selesai nomor itu sudah tak aktif lagi dan sulit di hubungi.


"Ck...ibu juga sudah kesal melihat keadaan rumah. berantakan sekali, wanita itu bisa di andalkan selama di sini." Cetus Kulsum.


"ini semua gara-gara Rega sih, selingkuh segala. mending kalau wanita itu lebih dari Mawar." Helena bersungut-sungut.


Kulsum berdecak. Sebenarnya dia tak membenarkan tentang perselingkuhan Rega. Tapi, jika wanita itu lebih baik segalanya dari Mawar maka ia akan terima dengan sangat baik di rumah ini. Seorang wanita karir adalah menantu idamannya.

__ADS_1


"kalian jangan hanya bisa nya bicara saja. tugas wanita itu membersihkan rumah selagi pria di rumah ini bekerja." Sahut Marja yang sudah siap dengan jaket tebalnya.


Kulsum hanya melirik sekilas tanpa minat sama sekali. Tak peduli dengan apa yang di katakan suaminya.


"Bapak mau kemana?" Tanya Helena yang tengah mengambil helm nya.


"ladang. cabe dan tomat harus segera di panen." Ujarnya lalu segera pergi menggunakan motor bebek yang sudah dia miliki 6 tahun itu.


Sudah nampak jelek, tapi Marja sangat menyayangi kendaraan roda dua itu. Karena hanya itu yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Sementara rumah, ladang dan aset yang lainnya Rega lah pemiliknya. Semua harta Marja habis saat menguliahkan Rega makanya sekarang Rega mengembalikan itu semua pada orangtuanya.


Dia begitu mementingkan kepentingan ibunya karena merasa jika ibunya telah hidup susah selama bertahun-tahun demi dirinya.


Kulsum yang mendengar jawaban Marja langsung berbinar. Jika hari ini panen, itu artinya Marja akan mendapatkan uang yang lumayan banyak. Dia bisa meminta beberapa untuk jalan-jalan nanti.


Wanita yang sudah tak muda lagi itu memang sangat matre. Dia akan sangat bersemangat jika membahas soal uang.


Sebuah keberuntungan bagi Mawar bisa terlepas dari keluarga itu. Tanpa Mawar sadari Tuhan telah menyelamatkan dirinya dari keluarga yang sangat rakus akan harta.


Rega menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu rumah Hani. Pulang kerja memang dirinya sengaja mampir, dia malas pulang karena Helena pasti akan memaksanya untuk mengambil mobil Mawar. Dia tak ingin cuma gara-gara keinginan kakaknya itu rencananya untuk membujuk Mawar kembali akan gagal.


"mas, di minum dulu." Hani meletakkan segelas air putih lalu secangkir kopi yang masih panas. "ini kopi nya. aku akan ganti baju dulu."


Rega hanya mengangguk saja tanpa menghiraukan Hani.


Beberapa menit kemudian Hani sudah kembali dan berganti pakaian. Wanita itu duduk di samping Rega.


"Ayo mas, besok kita kerumah orangtuaku. mamih masih sangat ingat dengan mu. pasti mamih senang melihat mu."


Tak ada jawaban. Ia juga masih ingat dengan sosok wanita yang pernah menjadi wali kelasnya itu. Ibu Maria, guru paling baik dan selalu mengerti dengan para siswanya. Rega malu jika harus menemuinya untuk saat ini. Bagaimana jika nanti dirinya Ketahuan telah menikah lalu menghamili Hani, bisa-bisa dirinya akan di laporkan ke pihak berwajib.


"kenapa diam sih mas, mau menolak lagi? Sampai kapan? perutku bisa tambah besar."


"i..iya, tapi jangan besok. mas belum siap. Minggu depan saja ya?"

__ADS_1


"mmmm...oke. tapi mas janji ya?"


"iya."


Hani tersenyum senang. Ia akan segera memberitahu orangtuanya tentang kabar baik ini.


"kita jangan ungkit soal pernikahan mas Rega dengan istri pertama mas." Ujar Hani.


"lalu bagaimana kita menikah nanti Hani? keluargaku..."


"mas tenang saja, aku bisa atur. makanya ajak aku kerumah mu. aku akan mendekati calon mertuaku. mungkin jika melihat aku lebih baik dari menantunya, ibu mas pasti akan setuju jika di minta untuk menutupi semuanya." Sela Hani cepat. Rencananya tak boleh sampai gagal, dia akan melakukan berbagai cara untuk bisa menikah dengan Rega.


Soal posisinya sebagai yang kedua, sama tak menjadi masalah baginya. Karena yang dia tahu Rega lebih puas bercinta dengannya di banding istrinya. Itu artinya meski jadi yang kedua tapi tetap yang pertama di hati pria itu.


"terserah kamu saja. besok aku akan mengajakmu kerumah."


Rega mengatakan itu tanpa berpikir dua kali. Seolah semuanya benar. Selalu begitu, pria itu tak pernah berpikir apa yang akan terjadi jika dia salah langkah.


Hani semakin mengembangkan senyumnya. Tangan kanannya dengan nakal menelusup masuk kedalam kemeja Rega. Mengelus perut yang nampak keras karena rajin olahraga.


"Hani..."


"mas, aku sedang menginginkannya." Bisik Hani.


Itulah kenapa dia tak bisa meninggalkan wanita ini. Karena dia lebih memuaskan dari Mawar. Rega merasakan lebih perkasa jika berhubungan dengannya. Bisa beberapa kali dalam sehari, sementara Mawar baru satu kali saja sudah mengatakan lemas dan tak kuat lagi.


Tanpa banyak bicara lagi keduanya pun terlarut dalam permainan panas mereka. Rega sudah membuka seluruh bajunya, hanya diam membiarkan Hani melakukannya sendiri. Menikmati permainan yang begitu liar. Hanya dengan Hani, ia bisa begitu puas. Di servis dengan begitu panas.


Rega kembali melupakan Mawar dan masalahnya. Semua menjadi putih seolah tak ada noda. Hanya ada rasa nikmat dan nafsu yang menggelora. Hani pun begitu, tanpa rasa malu dan jijik. Wanita itu mengulumnya, Hani hanya ingin memuaskan Rega. Dengan alasan agar Rega tak bisa meninggalkannya. Karena terlalu candu dengan permainannya.


Dua sejoli yang tak ada hubungan sah itu kembali melakukan hal kotor. Mereka seolah tak peduli dengan apapun. Yang terpenting dirinya terpuaskan.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2