
Rega baru saja ingin merebahkan tubuhnya saat ponsel yang baru saja di charger nya berdering cukup nyaring. Dengan malas pria itu bangkit dari kasur. Rasa kantuknya tiba-tiba saja menguar saat mendengar jika Hani sekarang berada di rumah sakit.
Dengan cepat dia memberi tahu Kulsum. Mengajak ibunya untuk segera berangkat kerumah sakit.
"Istrimu baik-baik saja?" Tanya Kulsum.
"entahlah Bu. aku khawatir dengan bayi nya saja." Jawab Rega tak berbohong.
Pria berwajah tampan itu memang tak peduli dengan kondisi Hani saat ini, di pikirannya hanya satu. Bagaimana dengan bayinya. Jangan sampai anaknya kenapa-kenapa.
Kulsum menghela nafas panjang. Lalu masuk kedalam mobil. Wanita itu membayangkan bagaimana rusaknya mobil menantu nya itu.
"Mobilnya bagaimana?" Tanya Kulsum, melirik Rega yang sedang menyetir.
Rega melihat ibunya sekilas lalu menggelengkan kepalanya. Si penelepon hanya mengatakan jika Hani saat ini ada di rumah sakit karena kecelakaan. Lagipula, tak masalah baginya mobil itu rusak toh bukan milik nya. Ibu dan anak itu sama sekali tak ada yang memikirkan kondisi Hani. Kulsum hanya merasa sayang jika mobil bagus milik Hani sampai rusak sementara Rega takut jika anaknya terluka.
Sungguh, seandainya Hani tahu apa yang ada di dalam pikiran dua orang ini pasti akan sangat menyesal telah mengorbankan segalanya demi Rega.
Hani membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit berat. Setelah pandangan nya jelas, ia langsung bangkit. Meraba perutnya dengan sangat takut.
"bayiku?" Tanyanya pada perawat yang ada di samping ranjang pesakitan nya.
Perawat itu tersenyum lalu membantu Hani untuk menyandarkan punggungnya agar lebih nyaman lagi.
"tenang saja Bu. bayi anda baik-baik saja, tapi anda harus benar-benar tenang dan banyak istirahat untuk saat ini." Jelas perawat dengan name tag Sumita itu.
Hani menghela nafas lega. Syukurlah, dia bisa tenang karena bayinya selamat. Pikirannya melayang pada saat kecelakaan tadi. Dia merasa sangat buruk, karena kecerobohannya hampir saja nyawanya melayang dan anak di dalam perutnya terluka.
"Tapi...siapa yang membawa saya kemari?" Tanya Hani penasaran, karena saat setengah sadar tadi dia merasa melihat Mawar.
Wanita yang masuk kedalam mobilnya dan membawanya kerumah sakit wajahnya persis sekali dengan Mawar.
"Seorang wanita muda, kalau tak salah namanya...."
"Hani...kamu baik-baik saja?" Kedatangan Rega memotong ucapan Sumita.
"mas Rega?"
"Syukurlah kamu tak apa-apa. Bayi kita juga selamat." Rega memeluk tubuh Hani. Perhatiannya membuat Hani merasa jauh lebih baik lagi.
__ADS_1
Sang perawat pun segera keluar karena keluarga pasien sudah datang. Kulsum kemudian masuk dengan raut wajah masam. Wanita itu duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjang.
"Kamu ini bagaimana sih Hani, bawa mobil itu harus hati-hati. Kan sekarang mobil itu rusak."
Hani melepaskan pelukan Rega. Matanya menatap tajam kearah ibu mertuanya.
"bagaimana bisa ibu berkata begitu? ibu hanya peduli dengan keadaan mobil saja. Seharusnya ibu khawatirkan aku dan calon cucu mu." Kata Hani dengan nada kesal. Tak terima sama sekali dengan sikap Kulsum.
Bagaimana mungkin wanita itu begitu kejam tak memiliki rasa empati sedikit pun. Menantunya kecelakaan tapi hanya soal mobil yang dia cemaskan.
Rega mengelus punggung Hani, mencoba menenangkan.
"ibu tak bermaksud begitu. kamu yang tenang. tidur lah lagi." Ujarnya lembut.
Hani pun mengangguk menuruti apa kata Rega.
"Urus istri mu, ibu mau ke kantin. minta uangnya?" Kulsum meminta uang pada Rega.
Rega merogoh kantong nya lalu teringat jika dompetnya dia tinggal di kamar karena buru-buru datang kemari.
"aku lupa bawa dompet. Ah...Hani, mana dompet mu?"
Seperginya Kulsum, Rega langsung bertanya kenapa Hani bisa kecelakaan seperti ini.
Hani meremas jemarinya. Apa dia harus katakan pada Rega jika sekarang dia sudah tak bekerja lagi.
"Kenapa? kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Rega penasaran.
"mas..." Hani menghembuskan nafas kasar. "aku...di pecat." lanjutnya dengan suara tercekat.
Rega terbelalak tak percaya. Bagaimana bisa ini terjadi. Lalu siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka. Dirinya begitu sulit mencari pekerjaan saat ini.
...**************...
Mawar sungguh merasa nyaman saat Albion memeluknya. Pria itu begitu lembut dan penuh perhatian. Rasa gelisah memikirkan bagaimana keadaan Hani dan bayinya membuat Mawar tak bisa duduk dengan tenang. Sehingga Albion pun langsung memeluknya, memberikan ketenangan yang belum pernah Mawar dapatkan selama ini.
Bersama Rega pun dulu tak pernah begini. Rega tak perhatian seperti Albion, hanya di saat ada maunya pria itu memanjakannya.
"Sedikit lebih baik?" Tanya Albion, melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
Mawar mengangguk pelan. Wajahnya bersemu merah karena saat ini wajah mereka berjarak begitu dekat, bahkan Mawar bisa merasakan hembusan nafas Albion di pipinya.
"Kamu manis sekali, Mawar." Bisik Albion tepat di telinga kanannya.
Tengkuk Mawar meremang. Suara dan deru nafas Albion membuatnya hilang akal. Mawar merasa terbawa suasana sehingga ketika Albion mendekatkan wajahnya semakin dekat, wanita itu malah memejamkan matanya. Tak menghindar atau pun menolak apa yang tengah Albion lakukan.
Melihat reaksi Mawar membuat Albion semakin berani. Pria itu mendekat lebih jauh lagi. Bibirnya perlahan menempel, memberikan sensasi luar biasa. Perut keduanya terasa tergelitik.
"Euummm...."
Mawar memejamkan matanya semakin erat, jemarinya mencengkram lengan Albion kuat. Sudah lama dia tak merasakan sentuhan seperti ini. Rasanya sungguh luar biasa, reaksi tubuh nya terhadap sentuhan Albion jauh dari bayangannya. Merasakan kenyamanan juga rasa yang begitu menyenangkan.
Tanpa sadar Mawar membuka mulutnya, memberikan akses lebih untuk pria itu. Albion tak diam, dengan cepat dia memasukan lidahnya. Ciuman panas yang begitu berg*irah.
Hingga Mawar akhirnya merasa kehabisan nafas. Dia memukul pelan lengan Albion.
"Manis sekali." Seru Albion, tersenyum bahagia karena akhirnya Mawar tak menolak sentuhannya.
"Apa yang kita lakukan?ini salah, Al." Seru Mawar sembari membuang pandangannya.
Albion tersenyum, menarik dagu Mawar sehingga wanita itu kembali menatap nya.
"Tak ada yang salah, kamu dan aku sama-sama sendiri. kita bisa berhubungan lebih dari sekedar teman."
Mawar menelan ludahnya. Pada akhirnya dia kalah, hatinya kini telah tergoda oleh pria tampan bertubuh tinggi ini. Apa sebaiknya dia terima Albion dan menjalin hubungan dengan nya. Tapi, bagaimana dengan keluarga Albion. Mawar seorang janda, apa mereka akan setuju dengan hubungan mereka nanti.
"jangan banyak berpikir. mulai sekarang kamu adalah kekasih ku." Albion mencubit ujung hidung Mawar dengan gemas.
"tapi..."
"apa mau ku cium lagi?" Goda Albion.
"Al, iihhh...antar aku pulang." Mawar memukul lengan Albion main-main.
"siap tuan putri." Albion pun segera melajukan mobilnya.
Mawar keputusannya saat ini tak salah. Dia tak ingin merasakan sakit untuk keduanya. Cukup Rega saja yang melukai hatinya, jangan sampai Albion melakukan itu.
...**************...
__ADS_1