
"apa? istri ku menemui mu?" Rega hampir saja memuntahkan air yang baru di minumnya. "ba... bagaimana bisa?" Tanyanya terkejut.
Hani dengan santai duduk di tepi ranjang. Wanita itu memainkan ujung rambutnya.
"Dia tahu semuanya. bahkan istri mu memintaku untuk menjauhimu. tapi itu tidak akan terjadi..." Hani menatap wajah Rega. Perlahan tangan kanannya menyentuh perutnya yang rata. "karena di sini ada anakmu."
Rega semakin shock di buatnya. Kenapa bisa seperti ini, Mawar tahu semuanya dan Hani hamil. Pria itu mencengkram lengan Hani erat.
"sudah aku katakan, minum obat kontrasepsinya. kenapa kamu..."
Hani dengan keras menepis tangan Rega. Dia tak bodoh, mana mungkin akan terus meminum obat itu sementara dirinya sangat berharap Rega menikahinya. Hanya dengan jalan ini dia bisa mewujudkan mimpinya. Hani merelakan kegadisannya dan bahkan dia tak peduli jika nanti orangtuanya akan marah besar saat tahu dirinya telah hamil di luar nikah.
"kamu gila Hani." Pekik Rega. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi. Bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Mawar.
Hani diam, dia tak akan menyerah begitu saja. Rega harus menikahinya. Pria itu tak bisa lari dari tanggungjawabnya.
"aaahh....****." Rega memukul tembok dengan sangat keras. "aku akan pulang dan ingat...jangan katakan pada Mawar kalau kamu sedang mengandung anakku." Ancamnya, jarinya mengarah ke wajah Hani.
Rega nampak murka. Wajahnya begitu merah menahan amarah pada wanita di depannya. Sekarang semuanya sudah menjadi kacau. Mawar telah mengetahui perselingkuhan yang entah tahu dari mana. Dia harus segera pulang dan menjelaskan semuanya atau mencari alasan untuk membuat Mawar bisa memaafkannya.
Hani hanya diam melihat Rega yang tergesa-gesa. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang begitu sendu. Tak di pungkiri, hatinya pun risau.
Sekarang di dalam perutnya ada calon anaknya dengan Rega. Jika sampai Rega tak mau bertanggung jawab, apa yang harus dia lakukan. Sebelumnya Hani tak berpikir kesana, tapi sekarang rasa takut itu tiba-tiba hadir.
"aku harus mencari cara agar mas Rega mau menikah dengan ku." Hani bangun, dia akan pulang kerumah orangtuanya.
Mungkin mengakui semuanya sekarang tak akan terlambat. Atau dia akan mengarang cerita agar ayah dan ibunya tak begitu marah padanya.
Sepanjang jalan menuju rumah, Rega hanya mengumpat. Dia kesal dengan kebodohan Hani yang telah dengan sengaja tak meminum obatnya sehingga dia bisa hamil sekarang. Bagaimana caranya dia meninggalkan Hani jika seperti itu. Bagaimana pun itu anaknya, tak mungkin jika Rega tak mengakuinya.
Dia pun berdoa semoga Mawar dapat mengerti dan menerima kenyataan ini.
Helena menyelimuti seluruh tubuh Mawar, menangis membuat wanita itu lelah. Dia tertidur setelah puas mengeluarkan isi hatinya. Helena hanya bisa mendengarkan semuanya dan merasa jika memang ibu dan dirinya sudah sangat keterlaluan selama ini.
Tak seharusnya dia membuat Mawar mengerjakan semuanya.
"maafkan aku, tapi...haah... sudahlah. ku harap Rega cepat pulang." Helena menutup pintu kamar Mawar dengan sangat pelan.
Kulsum sudah menunggunya di luar kamar, wanita itu menyilangkan tangannya. Matanya menatap Helena dengan tajam.
__ADS_1
"apa yang kalian bicarakan di dalam, sampai harus di kunci?"
"ibu...jangan keras-keras." Helena menarik Kulsum menjauh dari kamar Mawar.
"kenapa sih?" Kulsum menarik tangannya. "sedang apa wanita itu, bukannya masak malah diam di kamar." Kulsum hendak melangkahkan kakinya kembali tapi dengan cepat Helena menahannya.
"ibu, elen mohon." Pintanya.
"ada apa sebenarnya? katakan." Kulsum menatap Helena meminta penjelasan.
"itu...anu...ibu..." Helena sungguh tak bisa mengatakannya pada Kulsum.
"ibu...mbak.." Seruan Rega yang baru masuk kedalam rumah membuat keduanya langsung melihat kearahnya.
Helena langsung membuang muka begitu bertatapan dengan Rega. Rasanya dia tak bisa melihat wajah adiknya sendiri untuk saat ini, rasa kecewanya pada Rega sangat besar.
Dulu dirinya di khianati oleh pria yang sangat di cintainya. Rasanya begitu menyakitkan sehingga trauma itu masih tak bisa hilang hingga sekarang. Dan sekarang, Rega melakukan hal yang sama dengan pria-pria itu. Sungguh Helena merasa kecewa padanya.
"kamu sudah pulang?" Kulsum tersenyum begitu lembut. "istri mu entah dari mana seharian dan sekarang malah diam di dalam kamar. tak masak ataupun membersihkan rumah. sebaiknya kamu marahi dia." Adu Kulsum.
"iya Bu." Rega segera berjalan menuju kamarnya.
"ibu, sebaiknya jangan terlalu memojokkan Mawar." Helena menjadi ingat dengan setiap ucapan yang di lontarkan Mawar saat di kamar tadi.
"Ada apa dengan mu? sejak keluar dari kamarnya jadi aneh seperti itu. apa yang Mawar berikan padamu sampai kamu membelanya sekarang?" Tudingnya Kulsum.
"bukan begitu Bu. tapi aku merasa jika sikap ibu itu salah, begitu juga dengan ku." Lirih Helena. "Mawar itu istri Rega, tak sepantasnya kita perlakukan dia seperti pembantu."
Kulsum menggelengkan kepalanya melihat Helena yang berpihak kepada Mawar.
"heum...kamu tak tahu saja rasanya mendapatkan menantu tak sesuai dengan harapan kita." Keluh Kulsum.
"Ibu...jika suatu saat nanti aku menikah dan perlakuan mertua ku sama seperti ibu memperlakukan Mawar sekarang, bagaimana?"
Kulsum langsung diam. Tentu saja dia akan membawa pulang putrinya dan meminta suaminya untuk tidak menemuinya lagi. Akan dia tuntut keluarganya karena telah berbuat tak baik pada putrinya.
Helena pun menyentuh tangan Kulsum. Ia tak bermaksud menentang wanita tua ini. Hanya saja, ia merasa jika Mawar memang tak salah. Dia menikah dengan Rega, karena memang adiknya pun mencintai wanita itu. Jadi, apa salahnya Mawar masuk kerumah ini dan menjadi menantu.
"Ibu, sebaiknya kita jangan pojokan mawar dengan alasan apapun lagi."
__ADS_1
Kulsum menghela nafas panjang.
"sebenarnya apa yang dia katakan saat kalian di kamar? kenapa kamu jadi perduli terhadapnya?"
"dia tak mengatakan apapun Bu. hanya saja..."
"pergi. Jangan sentuh aku.."
Helena dan kulsum saling pandang saat mendengar teriakan Mawar yang keras. Keduanya pun langsung berlari menuju kamar.
Di sana Rega terdiam dengan kepala menunduk. Sementara Mawar melemparkan apapun yang ada di dekatnya. Keadaan kamar sudah sangat berantakan. Bantal dan guling sudah berserakan di lantai. Bahkan seprai berwarna biru putih itu pun nampak acak-acakan.
"ada apa ini?" Tanya Kulsum. Dia menatap wajah Rega yang nampak pias.
Pria itu tak berani menjawab pertanyaan apapun. Sementara Helena langsung memeluk tubuh Mawar erat. Dia tahu bagaimana rasanya di khianati oleh seseorang yang sangat di cintai. Ia pernah merasakan itu semua sampai berpikir ingin mengakhiri hidupnya.
"Mawar, tenanglah. kumohon."
"pergi...aku tak mau melihat wajah mu. kamu tega mas.. keterlaluan." Pekik Mawar.
Kulsum yang memang tak tahu apa-apa itu langsung mendekati Mawar. Mencengkram lengannya erat, ia tatap wajah menantunya dengan tajam.
"kenapa kamu begitu kasar pada anakku?" Teriaknya tak terima karena Mawar meneriaki Rega sampai berani mengusirnya.
"tanyakan pada anakmu, apa yang sudah dia lakukan." Ujar Mawar dengan nafas memburu.
Helena menelan ludahnya. Mungkin ini akan menjadi hal yang paling buruk bagi ibunya. Ia pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Mawar.
"Rega, mbak minta kamu keluar." Pintanya pada Rega yang langsung di turuti pria itu. "Mawar, tenanglah."
Perlahan Mawar pun diam, tangisnya berhenti. Kulsum pun lanjut meminta penjelasan padanya, ada apa sebenarnya.
"Ibu, Rega..." Helena mengigit bibirnya.
"Rega sudah berselingkuh, Bu." Timpal Mawar dengan suara terdengar emosi.
"a...apa..?" Kulsum hampir saja limbung saking terkejutnya. Buru-buru Helena menahannya lalu membantu Kulsum duduk.
"Jangan asal bicara kamu. putra ku buat pria seperti itu. dia pria yang baik dan tak mungkin berkhianat." Ujarnya tak terima.
__ADS_1
Mawar dan Helena pun mengatakan semuanya. Kulsum sungguh shock. Selama ini dia begitu membanggakan Rega. Memujinya di hadapan semua orang. Jika sampai Rega melakukan hal buruk dan para tetangga tahu, maka reputasinya di sini akan hancur. Bagaimana jika mereka memandang Rega dengan sebelah mata nanti. Kulsum tak bisa bayangkan itu semua.
...*************...