Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 23


__ADS_3

Rega pun langsung mengajak Hani kerumahnya keesokan harinya. Pria itu mengabaikan masalah dengan Mawar karena dia juga mengharapkan bisa hidup bersama dengan Hani untuk saat ini. Rega mungkin bisa bersikap adil jika sampai harus memiliki dua istri, begitulah pikirnya.


Kulsum dan Helena saling pandang saat Rega tiba-tiba saja mengenalkan Hani sebagai calon istrinya. Ada kerutan tak suka di dahi wanita tua itu.


"Apa kamu sudah gila Rega. Hubunganmu dan Mawar saja masih belum jelas seperti apa. sampai sekarang istrimu belum pulang juga." Tegur Kulsum, matanya memicing menatap Hani.


Penampilan Hani sedikit lebih modis di banding Mawar. Semua barang yang di pakainya branded semua. Meski sudah tua, Kulsum tahu mana barang asli dan kw. Dia melirik Helena sekilas, sepertinya putrinya itu pun berpikir hal yang sama dengannya.


"Kamu serius ingin menikahi adikku? dia sudah memiliki istri." Ujar Helena.


Hani bergelayut manja di lengan Rega. Sama sekali tak ada rasa tegang ataupun canggung berhadapan dengan keluarga Rega. Mungkin karena dirinya sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang asing jika bekerja, jadi hanya berbicara dengan calon mertua dan ipar bukan masalah besar baginya.


"aku tahu mas Rega sudah menikah dan aku juga tahu istrinya saat ini tak ada disini." Tutur Hani. "meskipun begitu aku tetap akan menikah dengan mas Rega, tak masalah bagiku jadi yang kedua."


Kulsum berdeham. "tapi soal biaya hidupmu?"


Cemas rasanya ketika mendengar Rega akan menikah lagi sementara putranya itu masih sah suami Mawar. Itu artinya Rega akan memiliki dua tanggungan dalam hidupnya. Bagaimana jika nanti jatah untuknya di potong karena istri keduanya pun butuh biaya hidup.


Hani kembali tersenyum. Dia bisa melihat ada kilat kekhawatiran di mata Kulsum.


"Aku tak akan menuntut soal itu, Bu. karena aku juga bekerja dan orangtuaku pun mewariskan usahanya padaku. soal uang aku tak akan kekurangan."


Kulsum dan Helena pun kembali saling melirik. Ada rasa lega di benak keduanya, itu artinya wanita yang di bawa Rega saat ini lebih kaya dari Mawar. Sementara Rega hanya diam, dia tak bisa berkata apa-apa karena takut Kulsum dan Helena tak menyetujui rencananya ini.


"Baiklah, jika seperti itu. ibu akan jujur padamu. Rega harus memberikan jatah bulanan setiap bulannya untuk ibu dan kakaknya. Apa kamu tak masalah?" Tanya Kulsum.


"untuk apa aku permasalahkan itu. gaji mas Rega akan tetap menjadi hak istri pertamanya. Soal ibu dan mbak, aku bisa memenuhi kebutuhan kalian berdua." Ujarnya dengan enteng.


Rega merasakan lega saat bebannya akan terangkat sedikit dari pundaknya. Hani bisa membantu kebutuhan ibunya dan kakaknya. Itu artinya gajinya aman tanpa harus di bagi-bagi. Dengan begitu Rega yakin Mawar juga pasti mau di madu karena jatahnya tak akan berkurang.


Tok...


Tok...


Ketukan pintu menghentikan obrolan mereka. Helena segera beranjak dan membuka pun. Keningnya mengeryit melihat kuris pos ada di luar.


"mbak, ada surat." Ujar pria berseragam oranye itu lalu menyerah sebuah amplop coklat kepada Helena.


"iya terimakasih."


"siapa elen?" Tanya Kulsum begitu Helena sudah kembali duduk.


"Ini surat dari pengadilan agama..." Helena membacanya. "untukmu Rega."

__ADS_1


Rega tercekat, perasaannya mendadak tak nyaman. Dengan cepat dia mengambilnya lalu membuka isinya. Betapa terkejutnya Rega saat melihat isinya.


"apa?" Tanya Hani sembari merebutnya dari tangan Rega. "gugatan cerai dari Mawar."


"apa?" Seru Kulsum dan Helena bersamaan.


Semuanya terkejut karena tak menyangka Mawar akan menggugat Rega secepat ini.


...***************...


Bagas merapikan semua barang-barang dagangannya kedalam etalase berukuran cukup besar. Akhirnya dia bisa membuka sebuah toko sembako juga. Impian sang ibu bisa di kabulkan secepat ini, rasanya begitu membahagiakan.


"Aku senang karena kamu sudah bisa membuat ibumu bahagia." Mawar hanya berdiri melihat Bagas sibuk merapikan semuanya.


"ini semua berkatmu juga."


Bagas menepuk tangannya lalu ikut berdiri di dekat Mawar. Pekerjaannya sudah selesai dan besok toko sembako ini akan di buka untuk pertama kalinya.


"bagaimana dengan hubungan kalian?" Tanya Bagas.


Mawar menghembuskan nafas kasar.


"aku sudah menggugat cerai suamiku dan untukmu bagaimana?"


"sudahlah, aku juga tak berharap lagi. Bagaimana jika kita menikah saja?" Seru Bagas sambil mengedipkan mata kanannya.


"dasar gila." Decih Mawar.


"hahaha...aku hanya bercanda. ayo mampir ke rumahku." Ajak Bagas. "aku akan perkenalkan kamu dengan ibuku."


Keduanya pun segera pergi dari toko berukuran sedang itu. Lokasinya ada di pinggir jalan sementara rumah Bagas berada di belakangnya. Hanya berjarak beberapa meter saja, cukup dengan berjalan kaki menuju rumahnya.


Ckiit...


Sebuah motor ninja berhenti tepat di hadapan Mawar dan Bagas. Seorang pria berjaket kulit dengan helm tertutup nampak turun dari motor itu.


"Bagas, malam ini aku menginap di rumahmu." Ujarnya sambil merangkul pundak Bagas.


"oke, sekarang lepaskan tanganmu." Bagas menyikut perutnya pelan.


"siapa wanita ini?" Pria berhelm itu membuka helmnya lalu memicingkan matanya melihat Mawar.


"dia temanku, kenalkan ini Mawar." Bagas menepuk bahu Mawar. "dan ini Raja."

__ADS_1


Mawar hanya diam saja begitu juga dengan pria bernama Raja itu.


"Aku Mawar." Seru Mawar pada akhirnya. Mengangkat tangannya bermaksud untuk bersalaman.


"bukankah barusan Bagas sudah bilang." Ujar pria itu acuh tak acuh. Bahkan dia mengabaikan tangan Mawar begitu saja.


Dengan cepat Mawar menarik kembali tangannya. Ada rasa kesal di hatinya, andai saja pria ini bukan teman Bagas. Sudah dia maki dirinya.


Bagas yang melihat sikap Raja tak sopan pada Mawar langsung bertindak, takut jika Mawar nanti akan marah karena dibuat kesal.


"Raja ini putra dari adik ayah ku." Tutur Bagas.


"aku tak peduli." Ketus mawar. "aku pulang saja, lain kali aku akan mampir."


Tanpa bisa menahan akhirnya Bagas pun menyetujui keinginan Mawar. Pria itu mengantarkan Mawar hingga masuk kedalam mobilnya. Raja memperhatikan keduanya dengan tatapan sulit di artikan. Senyuman terukir di bibirnya dengan sangat kecil sehingga tak terlihat jelas.


"Kamu ini, Mawar itu wanita yang baik. dia bahkan memberikan aku uang untuk membuka toko ini." Ujar Bagas. "kenapa sikapmu begitu terhadapnya?"


Raja mengendikkan bahunya tak peduli. Lagipula bukan hanya pada Mawar dia bersikap seperti itu. Sebelumnya atau memang sudah menjadi kebiasaan baginya. Tak pernah menerima uluran tangan seseorang untuk berjabatan. Mau wanita ataupun pria.


"Bibi sudah kembali dari rumah sakit?" Tanya Raja.


"sudah. ibuku sedang istirahat. jangan mengganggu nya." Bagas langsung memperingati Raja yang hendak mempercepat jalannya untuk bertemu dengan sang ibu.


Dia tahu kebiasaan pria satu ini. Akan selalu bermanja-manja pada sang ibu. Padahal dia putranya tapi Raja lebih berani melakukan hal itu kepada Gita, ibunya. Tapi, bukan masalah baginya. Karena Raja sudah seperti adiknya sendiri.


Penampilannya memang seperti preman, tubuhnya tinggi dan tegap. Wajahnya bahkan sangat terlihat dingin dengan mata yang begitu tajam. Tapi sebenarnya, Raja hanyalah seorang mahasiswa biasa saja. Usianya bahkan baru 20 tahunan. Tak akan ada yang percaya jika Raja mengaku mahasiswa dan baru berusia 20 tahun. Karena perawakannya yang begitu bongsor.


Mawar berdecak kesal di dalam mobilnya. Baru kali dia berhadapan dengan pria yang begitu sombong.


"sombong sekali pria itu. menyebalkan." Decihnya.


Sementara Raja, dia langsung merebahkan tubuhnya di kursi karena Bagas melarangnya untuk masuk kekamar Gita. Dia memejamkan matanya lalu terbuka kembali. Mendesah pelan saat sadar jika apa yang di pikirkannya salah. Kenapa dia jadi membayangkan wajah Mawar.


"gila, kenapa dia muncul begitu saja." Gerutunya.


Bagas yang sudah rapi dengan baju tidurnya mengeryitkan keningnya melihat Raja seperti kesal.


"ada apa?"


"wanita tadi siapa?" Tanya Raja membuat dahi Bagas semakin berkerut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2