Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 40


__ADS_3

Hani pulang dengan marah. Dia kesal sekaligus malu, Mawar berani menamparnya. Niatnya ingin membuat Mawar mengklarifikasi bahwa dirinya dan Rega tak bersalah. Dia ingin mengajak Mawar ke kantor dan mengatakan pada bos mereka kalau dirinya dan Rega tidaklah melakukan hal buruk. Mawar dan Rega sudah berpisah, jadi tak masalah jika mereka menikah.


Tapi, semua ide itu hancur. Yang ada malah dirinya mendapatkan rasa malu. Mawar membalas setiap ucapannya dan bahkan menghadiahi tamparan di pipi mulusnya.


Hani tak bisa jika harus bekerja sendirian sementara permintaan mertuanya yang begitu besar. Kulsum menginginkan menantu kaya yang bisa memberinya nafkah.


Awalnya Hani memang tak keberatan dengan permintaan itu. Tapi, setelah pernikahan ini terjadi Hani mulai merasa terbebani.


"Mas, aku berangkat kerja pagi-pagi sekali. jadi maaf belum menyiapkan sarapan untuk kalian." Hani mengirim pesan suara pada Rega.


Wanita 25 tahun itu menghela nafas panjang. Melemparkan ponselnya ke dashboard mobil dengan kesal. Dia sengaja berangkat dari rumah sebelum yang lainnya bangun, karena berencana untuk menemui Mawar. Tapi, semua gagal.


Mobil Hani melaju kencang. Sungguh, hari-harinya sebagai pengantin baru terasa melelahkan. Seharusnya dia bahagia dengan pernikahannya yang memang sudah dia idamkan sedari dulu ini. Tapi, sekarang justru Hani malah merasa begitu tertekan.


Setiap pagi harus bangun lebih awal dari yang lain. Menyiapkan sarapan, mencuci piring lalu membersihkan rumah. Setelah semua pekerjaan rumah beres dia pun harus bekerja. Sungguh sangat melelahkan. Ingin protes tapi semua sudah terlambat.


Salahnya sendiri yang menyetujui permintaan Kulsum dan terlalu cinta kepada Rega. Dia sampai melakukan cara kotor untuk menjadi menantu rumah ini.


"Sayang, sabar ya. maafkan bunda." Hani mengelus perutnya yang mulai sedikit terlihat besar.


Dengan cepat dia keluar dari mobil lalu memasuki gedung tempatnya bekerja.


Dan di rumah, Rega baru saja bangun. Pria itu menyipitkan matanya saat lampu kamar yang biasanya di matikan ketika tidur sudah menyala.


"Hani...kamu sudah bangun?" Panggilnya sambil mengucek kedua matanya.


Tak ada sahutan. Rega pun bangun dari tidurnya. Melihat jam yang di atas meja. Baru sekitar jam 7 pagi, seharusnya Hani memang sudah bangun dan tengah menyiapkan sarapan.


Rega pun keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya. Pria itu celingukan mencari keberadaan Hani. Ruang tamu masih berantakan, langkahnya pun beralih ke dapur.


"dimana Hani?" Serunya dengan bingung.


Keadaan dapur pun sama. Di wastafel masih menumpuk piring kotor bekas makan malam. Di meja makan pun belum terhidang makanan untuk sarapan.


"Rega..." Teriak Kulsum dari ruang tamu. "Dimana istri mu? apa belum bangun?" Tanyanya begitu Rega sudah berada di dekatnya.


"Entahlah Bu. Di kamar juga tak ada." Jawab Rega. "Sebentar Bu."


Rega melihat keluar. Mobil Hani tak ada di luar. Keningnya semakin mengerut saja. Tak mungkin Hani sudah berangkat kerja sepagi ini, biasanya juga jam 8.


"Aku akan menghubunginya." Ujar Rega lalu segera kembali kekamar untuk mengambil ponselnya.


Kulsum mendudukkan tubuhnya di kursi. Kesal melihat keadaan ruang tamu yang masih berantakan. Wanita tua itu bukannya membersihkan malah menggerutu dan mengatai Hani wanita malas.


"Punya menantu malas sekali." Keluhnya seolah Hani tak ada kerjanya selama ini.


Di mata Kulsum memang tak pernah ada hal baik bagi orang lain. Ia selalu merasa benar dan orang lain salah. Padahal, jika di pikir-pikir Hani sudah sangat bekerja keras selama masuk kerumah ini.

__ADS_1


Dia bekerja mencari uang juga mengurus rumah. Tapi, semua usaha itu hilang hanya karena kesalahan sekalinya saja.


...**************...


Mawar menutup pintu restoran lalu menguncinya. Melihat area parkir dengan heran, biasanya Albion selalu tepat waktu. Tapi,kali ini pria itu belum datang menjemputnya.


Semua orang sudah pulang hanya tersisa dirinya sendiri. Hari pun sudah semakin gelap, suasana pantai juga mulai terlihat sepi.


Area parkiran yang berada tepat menghadap ke pantai membuat Mawar memilih untuk menikmati suasana hening di lautan itu.


Dari pagi hingga sore hari, banyak sekali pengunjung yang datang. Pantai amat ramai, itu pula yang membuat restorannya selalu banyak di kunjungi pengunjung. Karena tempatnya yang tak terlalu jauh dari pantai juga sangat strategis.


Suasana nyaman yang tertuju langsung ke lautan membuat para pengunjung betah lama-lama di tambah lagi hidangan yang disajikan sangat pas di lidah mereka.


Tin..


Klakson mobil yang begitu nyaring mengejutkan Mawar yang sedang asyik memandang indahnya lautan di malam hari.


"Maaf, apa menunggu lama?" Albion mendudukkan tubuhnya di samping Mawar.


Keduanya selonjoran di atas pasir.


"Indah bukan?" Mawar menengadah keatas, langit biru yang di hiasi banyak bintang membuatnya terpesona.


Albion tersenyum, lalu meraih tangan Mawar.


Mawar langsung terdiam dengan bibir di gigit. Jantungnya berdetak kencang. Tatapan Albion yang begitu menyejukkan membuat Mawar enggan berpaling.


"Kamu cantik." Ujar Albion lagi. Kini tangannya menyentuh pipi kanan Mawar.


Entah siapa yang memulai, tapi kini bibir keduanya sudah menempel. Hanya c*uman singkat saja. Mawar langsung mendorong tubuh Albion begitu tersadar. Wanita itu menutup bibirnya dengan tangan.


"A... Al..."


"Maaf, tapi aku sangat ingin merasakan sentuhan itu." Cicit Albion tanpa rasa bersalah sama sekali.


Pria itu mengusap kepala Mawar. Bangkit lalu membersihkan pasir di celananya.


"Ayo, kita pulang." Ajaknya.


Mawar mengangguk pelan. Sungguh rasanya sangat canggung setelah apa yang terjadi. Albion mencuri c*umannya tapi entah kenapa Mawar tak merasa marah. Justru hatinya malah senang juga malu. Seolah memang itu juga hal yang di inginkan olehnya.


Albion membukakan pintu mobilnya, Mawar pun masuk dengan kepala tertunduk. Rasanya malu sekali menatap wajah pria itu.


Perjalanan pulang pun terasa sangat lama. Mawar memainkan jemarinya dengan gelisah. Bayangan Albion mengecup bibirnya tak bisa hilang di pikirannya.


"iishh... menyebalkan." Gerutunya dengan suara sangat kecil, ia pukul jidatnya sendiri.

__ADS_1


Albion meliriknya sekilas lalu terkekeh pelan.


"Kenapa? masih ingin aku cium?" Godanya dengan kekehan yang membuta Mawar langsung memukul lengannya.


"apaan sih." Kesalnya.


Albion sungguh membuatnya semakin jadi salah tingkah. Pria ini suka sekali menggodanya.


"Mawar, entah kamu suka atau tidak. Aku akan terus mengejar mu sampai kamu bersedia menerima ku." Ujarnya.


Mawar menelan ludahnya. Dia tahu Albion pria yang baik. Bahkan selalu ada di sampingnya saat di butuhkan. Tapi, apa dia harus menerimanya sementara hatinya masih merasa takut. Mawar hanya tak ingin hatinya kembali terluka.


"Tak perlu terburu-buru. aku selalu menunggu...dari dulu bahkan sampai saat ini." Perkataan Albion membuat Mawar menjadi merasa bersalah.


Albion mengejarnya dari sejak SMA. Pria ini selalu memberikan banyak hadiah juga pernyataan cinta kepadanya. Setelah di tolak berulang kali apa Albion sama sekali tak merasa sakit hati. Bahkan sekarang pria ini kembali mengejarnya.


Memangnya apa bagusnya Mawar. Dia sendiri bahkan merasa tak pantas di cintai oleh pria sebaik Albion.


...**************...


Hani meletakkan tas nya di atas meja. Terlihat sekali jika dirinya sangat lelah. Wajahnya kuyu dan langkahnya pun terlihat gontai. Untung saja kehamilannya tak merepotkan. Hani tak merasa mual atau apapun.


"Baru pulang?" Rega menyilangkan tangannya.


"iya mas. tadi ada meeting sebelum pulang." Ujarnya. Hendak merebahkan tubuhnya tapi Rega mencegahnya.


"Ibu belum makan."


Kening Hani mengerut. Matanya bergulir melihat jam. Sudah jam 8.


"Lalu apa Mbak Helena tak masak?" Tanya Hani.


"kamu kan tahu, Mbak mana bisa masak. kamu sebagai menantu berkewajiban melayani suami juga mertuamu." Kata Rega.


******* keras terdengar jelas. Hani sungguh lelah karena seharian bekerja dan sekarang harus memasak makan malam juga.


"Mas, aku lelah sekali. kenapa tak pesan online saja."


Rega berdecak. "ibu tak mau, dia ingin masakan yang di buat di rumah. cepat mandi lalu buatkan aku dan ibu makan." Titahnya lalu keluar meninggalkan Hani yang kini mengepalkan tangannya.


"k*rang ajar. aku seharian bekerja dan harus lelah juga di rumah. Aku bahkan sedang hamil muda." Keluhnya.


Dia pernah membayangkan jika kehidupannya dengan Rega akan sangat bahagia. Di manjakan, di turuti segala keinginannya. Karena dulu, dia pikir Mawar tak akan menggugat cerai Rega. Hani berpikir jika Mawar akan melayani keluarga Rega dan juga dirinya yang tengah hamil.


Tapi, apa yang terjadi sekarang. Hani justru harus merasakan kesulitan di setiap harinya. Mengurus rumah juga mencari nafkah. Sungguh melelahkan, fisik dan mentalnya terasa begitu lelah.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2