Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 8


__ADS_3

Rega benar-benar lupa kalau dirinya harus segera pulang kerumah. Ada keluarganya yang tengah menunggu, terlebih lagi Mawar. Sang istri sejak tadi hanya duduk di ruang tamu, menunggu kepulangannya. Meski matanya sudah mengantuk tapi Mawar tetap bersikeras untuk menunggu Rega.


Marja dan Kulsum pun sudah masuk kekamarnya satu jam yang lalu. Bahkan Helena sudah kembali dari acaranya. Wanita itu kini tengah menonton TV, tertawa cukup keras saat acara yang berlangsung menurutnya sangat lucu.


"mbak, pelanin suaranya. ibu dan Bapak sudah tidur loh." Tegur Mawar, ia pun merasa terganggu bagaimana dengan mertuanya yang sedang tidur.


Helena hanya memutar matanya malas, ia tak memperdulikan Mawar sama sekali. Masih saja tertawa dengan kerasnya.


Sudah hampir jam 9 malam, Mawar semakin gelisah di tempat duduknya. Ia tak bisa diam saja karena cemas kepada Rega. Menghampiri Helena yang sedang duduk lesehan di bawah.


"mbak, kok mas Rega belum pulang ya? aku cemas nih." Ujarnya mengutarakan kekhawatirannya.


Helena langsung mengecilkan volume TV. Mendengar nama adiknya di sebut membuat wanita itu langsung menoleh kearah Mawar.


"sudah kamu hubungi nomor nya?" Tanya Helena.


"sudah mbak, tapi tak aktif. padahal saat sore tadi masih aktif."


Helena pun jadi ikut cemas. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas karpet.


"aku akan hubungi Bayu. dia teman kantor Rega."


Mawar pun diam memperhatikan Helena yang sedang berbicara dengan Bayu. Tak lama, hanya menanyakan soal Rega saja. Kakak iparnya nampak menghembuskan nafas kasar membuat Mawar jadi semakin cemas.


"kenapa mbak? mas Rega masih di kantor?" Tanyanya dengan takut.


Helena menggelengkan kepalanya. Dia tatap wajah adik iparnya yang nampak sangat cemas. Hatinya sedikit terenyuh.


"tadi dia bilang apa pada mu?"


"katanya mas Rega lembur mbak. jadi mungkin pulang nya agak telat."


Mendengar jawaban Mawar, Helena langsung terdiam. Merasa jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh adiknya itu. Bayu mengatakan jika Rega sudah pulang dari sejak jam 5 sore tapi kenapa sampai sekarang belum juga tiba di rumah. Di tambah Rega berbohong kepada Mawar. Helena yang memang sudah pengalaman soal di bohongi pria langsung menyadari sesuatu.


"mungkin di jalan. nanti juga pasti pulang." Ujar Helena. Mencoba membuang pikiran buruknya tentang sang adik.


Rega tak mungkin melakukan hal seperti itu pikirnya. Karena Rega adalah lelaki baik. Tak seperti pria-pria yang pernah di kenalnya.


Mawar pun dengan terpaksa memasuki kamarnya. Helena menghela nafas panjang sembari memperhatikan punggung Mawar yang menghilang di balik pintu kamar.


"tak mungkin Rega berkhianat." Helena mengucapkan dengan penuh keyakinan.


Lima belas menit berlalu, Mawar tak bisa memejamkan matanya karena memikirkan Rega. Ia pun memutuskan untuk kembali keluar, ruang tengah nampak sepi. Rupanya Helena sudah masuk kekamar. TV pun sudah di matikan.


...***************...


Rega kalang kabut memakai bajunya. Dia ketiduran setelah melakukan itu dengan Hani. Begitu terbangun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tentu saja Rega panik, Mawar pasti menunggunya.


Ia pun menyalakan ponselnya yang tadi dia sengaja matikan agar tak ada gangguan saat menikmati surga dunianya. Banyak pesan dari Mawar yang masuk.


"Kenapa kamu tak bangun kan aku, Han?" Protes Rega.


Hani hanya mengendikkan bahunya. Sebenarnya Hani tak ikut tidur sama sekali, wanita itu asyik bermain benda pipih miliknya. Hanya saja, Hani sengaja tak membangunkan Rega karena tak ingin pria itu pulang.


"Mawar bisa memberondong ku dengan banyak pertanyaan jika begini. ini sudah hampir tengah malam." Panik Rega.


"santai saja. katakan padanya kerjaannya banyak, mas besok masuk siang saja. untuk menguatkan kalau malam ini memang bekerja lembur jadi besoknya bisa agak santai. istri mu itu pasti percaya, lagian dia tak pernah kerja di kantoran kan?" Hani berkata dengan santai.


Rega menerima apa yang di katakan Hani ada benarnya. Ia pun mengecup kening wanita itu.


"aku pulang ya."


"iya, hati-hati di jalan mas."


Hani menggigit bibirnya. Tangannya menyentuh keningnya yang di kecup Rega tadi. Hatinya menghangat, perlakuan Rega sungguh membuatnya semakin jatuh hati.


Begitu sampai di rumah, Rega langsung berlari menuju kedalam. Pintu tak di kunci membuat Rega tak perlu susah-susah mengetuk atau menekan tombol bel.


"Mawar..." Langkahnya terhenti begitu melihat Mawar tertidur di ruang tamu dengan posisi duduk di kursi tunggal.

__ADS_1


"sayang, bangun."


"mas?"


Rega mengelus kepala Mawar. Senyumnya begitu lembut dan sorot matanya yang teduh membuat Mawar ikut tersenyum.


"maafkan mas ya? kamu sampai ketiduran seperti ini."


"mas, kenapa baru pulang?"


Rega berdeham pelan. Dia mencoba mengingat apa yang di katakan Hani tadi. Lalu tersenyum dan menggendong tubuh Mawar, membawanya kedalam kamar.


Dengan hati-hati dia rebahkan tubuh sang istri ke atas kasur.


"pekerjaannya banyak sekali. tapi, besok mas libur, karena malam ini kerjaannya sudah mas selesaikan." Kedua kalinya Rega berbohong demi kebusukan yang di lakukannya.


Pertama saat dia telat pulang untuk pertama kalinya dan sekarang, dia telat pulang untuk kedua kali. Semua alasannya sama, karena Hani. Tapi, dengan begitu lihai nya dia berbohong. Seolah dirinya memang benar-benar bekerja seharian penuh ini.


Mawar yang memang tak berpengalaman soal bekerja di kantor hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia percaya dengan apa yang di katakan Rega. Dulu, Mawar hanya bekerja sebagai koki di sebuah restoran. Tak pernah pulang selarut ini.


Sekarang Mawar berhenti dan fokus mengurus rumah, semua atas permintaan Rega. Pria itu tak ingin Mawar kelelahan.


"mas, tak mau mandi?" Tanya Mawar saat Rega ikut merebahkan tubuhnya.


Rega menggelengkan kepalanya cepat.


"mas capek sayang. sudah mengantuk juga." Ujarnya.


Rega memeluk tubuh sang istri, membenamkan kepalanya di dada Mawar. Tak butuh waktu lama, ia pun terlelap. Mawar mengeryitkan keningnya saat mencium wangi rambut Rega. Kenapa baunya berbeda dengan biasanya.


"ada apa ini?" Curiganya, Mawar merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.


Entah kenapa, tiba-tiba saja di merasa jika ada sesuatu yang sedang di tutupi Rega darinya.


...*****************...


Paginya, Mawar bangun dengan perasaannya yang masih tak nyaman. Bau rambut Rega juga tanda merah di tubuh suaminya yang semakin bertambah banyak. Ia tak sengaja melihat tanda itu, tak hanya di leher saja bahkan ada di bagian dada, perut juga punggungnya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Rega, Mawar sama sekali tak mengerti.


"uhuk...uhuk..., tanda apa sayang?" Tanyanya dengan takut.


Menelan ludahnya dengan gugup. Ia melihat sekitar ruang tengah. Memastikan jika tak ada orangtuanya dan juga Helena sekarang.


"waktu mas tidur, baju mas tersingkap. aku melihat tanda merah itu banyak sekali. kemarin mas bilang gatal, apa mas alergi sesuatu? makanan misalnya?"


"oh...itu, iya. mas alergi dingin." Rega bernapas lega, karena Mawar sepertinya tak berpikir jauh kesana.


Mawar mengangguk. "kalau begitu, berhubung mas libur. nanti kita ke dokter ya." Ajak Mawar.


"aah... tidak-tidak, Mawar. mas baik-baik saja kok."


"siapa yang baik-baik saja?" Helena memicingkan matanya, menatap adik dan adik iparnya.


"ini loh mbak, mas Rega tubuhnya merah-merah. Tapi aneh deh, kok merah keunguan gitu ya?" Mawar seperti berpikir. "sudahlah, aku mau buat sarapan dulu."


Helena langsung mencekal lengan Rega yang hendak pergi saat di tinggalkan Mawar kedapur. Pria itu tahu, kakaknya pasti akan banyak bertanya sekarang.


"Rega, mbak tahu. kamu kemarin tidak lembur dan soal merah itu..." Helena menunjuk dengan dagunya tepat ke leher Rega. "mbak tak bodoh. itu bekas ******. Kamu melakukan hal buruk di belakang istrimu?"


Rega menjadi salah tingkah. Helena menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


"Rega, mbak mungkin terlihat tak menyukai istrimu. tapi mbak tak membenarkan apa yang kamu lakukan."


"sudahlah mbak. asal mbak diam, Mawar tak akan tahu." Ucap Rega begitu mudah.


"terserah kamu saja. tapi mbak harap kamu segera sadar." Ucapnya lalu pergi.


Helena masuk kedapur. Dia melihat Mawar sedang menggoreng ayam.


"ini teh untuk ku ya?" Helena mengambil secangkir teh yang sudah tersedia di atas meja.

__ADS_1


"itu..." Mawar mendengus saat Helena sudah pergi. "teh ku mbak." Lanjutnya dengan kesal.


Selalu begitu, Helena selalu saja bertingkah seenaknya. Memakan atau meminum apapun tanpa mendapatkan persetujuan dahulu darinya.


"Mawar, buatkan ibu teh. jangan kemanisan ya, nanti gula ibu naik." Teriak Kulsum dari arah ruang tengah. "dan...baju ibu sudah kamu..."


"sudah ibu. di gantung di kamar ku." Sela Mawar cepat, menyimpan secangkir teh di hadapan mertuanya.


Kulsum mendelik, selalu di sela seperti itu membuatnya semakin tak menyukai menantunya itu.


"orangtua bicara itu jangan di sela. Kamu tak punya adab ya, dasar menantu tak sopan." Gerutunya.


Mawar tahu ia salah. Tapi, karena kesal dia seperti itu. Ibu mertuanya dan kakak iparnya sudah memperlakukan dirinya seperti pembantu saja. Meminta ini dan itu, menyuruhnya melakukan ini dan itu juga.


Tentu saja, rasa sabar yang Mawar miliki ada batasnya. Dia tak bisa diam saja saat merasa tak di hargai oleh keluarga suaminya itu.


"Mau kemana kamu?" Tanya Kulsum dengan nada tinggi saat melihat Mawar berjalan menjauh. "ambilkan bajunya, ibu mau pakai."


Mawar memejamkan matanya. Lalu dengan cepat dia berjalan menuju kamarnya. Mengambil baju mertuanya yang sudah dia setrika.


"ini Bu."


Kulsum mengambilnya dengan kasar lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali. Mawar pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar, ia lalu kembali kedapur untuk melanjutkan acara memasaknya tertunda.


Marja melirik Rega yang nampak tak terganggu sama sekali dengan tingkah ibunya. Pria itu fokus dengan gadgetnya. Meski duduk di teras, tapi mereka bisa mendengar perkataan Kulsum yang memang bicara dengan nada begitu tinggi dan keras.


"Rega, kamu hampiri istrimu. ibumu terlalu keras padanya."


"biarkan saja, Pak. Ibu kan memang seperti itu. bukan hanya pada Mawar saja, padaku, mbak Helen dan juga Bapak. ibu selalu bicara seenaknya."


"jangan samakan dengan kita. Mawar itu baru di sini, kamu tak memikirkan perasaan istri mu?" Marja mencoba untuk memberikan nasihat.


Rega meletakkan ponselnya. Mungkin benar juga dengan apa yang dikatakan ayahnya. Lagipula selama ini, Mawar selalu di didik dengan lemah lembut oleh orangtuanya. Bahkan Mawar tak pernah di minta melakukan pekerjaan apapun oleh mereka.


"kenapa diam? temui istrimu. takutnya lagi menangis di dapur."


"iya Pak." Rega pun segera beranjak dari duduknya.


Niatnya untuk menghibur sang istri urung ketika melihat Mawar nampak baik-baik saja. Wanita itu memasak seperti biasanya, bahkan tak terlihat raut sedih di wajahnya.


"mungkin Mawar memaklumi sikap ibu." Gumamnya lalu memilih untuk kembali menikmati kopinya yang belum habis.


"bagaimana?" Tanya Marja, begitu Rega kembali duduk di sampingnya.


"sudah Pak. Mawar lagi masak."


Tanpa Rega tahu, kalau istrinya tengah menggerutu dalam hati. Mawar memotong sayuran dengan kesal sehingga terdengar bunya *TAK* yang cukup keras. Mawar melampiaskan emosi nya kepada bahan masakan. Pagi-pagi sudah sangat lelah, melakukan semuanya sendiri tanpa ada yang membantu.


Semua makanan pun sudah siap. Mawar menatanya di atas meja. Orang pertama yang datang adalah Helena, wanita itu langsung duduk dan makan dengan lahap. Lalu ibu mertuanya yang sudah rapi dengan baju khas kondangannya. Wanita itu pun melakukan hal yang sama. Keduanya makan tanpa mengajak Mawar ataupun yang lainnya.


Mawar meninggalkan keduanya. Kesal rasanya jika tetap berada di dapur melihat mereka makan begitu lahap. Mau enaknya saja tanpa membantu sedikitpun.


"Pak, mas..." Mawar menghampiri suami dan mertuanya. "sarapan dulu, ibu dan mbak elen juga lagi makan."


"dua orang itu, dasar!" Desis Marja yang merasa malu dengan tingkah istri dan anaknya.


"ayo Pak, Rega...sini duduk." Kulsum berbicara dengan mulut penuh.


"ibu...ibu." Seru Marja. "mau pergi kondangan tapi malah makan banyak."


"Terserah ibu lah Pak." Ketusnya.


"kalian ini tak punya malu, Mawar yang masak kalian yang makan dengan banyak." Ujar Marja lagi.


Sementara Mawar dan Rega hanya diam. Keduanya tak ingin ikut campur.


"Bapak ini, makan saja. itu tugas Mawar sebagai menantu Pak." Kali ini Helena yang menjawab.


Marja tak habis pikir dengan keduanya. Ia pun tak bicara lagi dan ikut makan. Karena percuma hanya akan membuat masalah semakin besar saja. Helena dan Kulsum itu sulit di ajak bicara. Ingin menang sendiri meski pun salah.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2