
Rega langsung bersiap-siap setelah selesai sarapan. Pria itu berdandan begitu rapi dan menyemprotkan parfum di seluruh pakaiannya. Hani menyilangkan kakinya sambil terus memperhatikan Rega, wanita itu duduk di tepi ranjang dengan wajah kusut.
"Melamar pekerjaan kemana?"
"kemana saja, banyak kantor di kota ini."
Bukan menyepelekan sang suami. Tapi, selama ini Rega tak pernah diberikan kesempatan sedikit pun. Setiap lamarannya hanya di lirik tanpa minat lalu di tolak. Bahkan perusahaan-perusahaan yang belum memiliki nama besar saja tak menerima pria itu bagaimana dengan perusahaan yang sudah bernama.
"Jangan kemana-mana, bereskan rumah dan jangan buat ibu marah." Rega mengecup kening Hani sekilas lalu segera pergi.
Hani memutar matanya jengah. Dulu mungkin hal itu selalu menyenangkan setiap di dengar. Tapi setiap kalimat yang keluar dari mulut Rega sekarang seolah seperti obat pahit saja, terasa tak enak dan membuatnya mual.
Tanpa berpikir banyak Hani pun merebahkan tubuhnya. Lagipula Helena sekarang yang mengerjakan semuanya, dia hanya perlu masak saja. Bisa dia lakukan nanti sore.
Rega masuk kedalam mobilnya, merasa lega ketika Hani tak mencurigainya. Niatnya memang tak baik, Rega bukan pergi untuk mencari pekerjaan. Pria itu memiliki rencana lain.
Mawar meminta supir taksi berhenti tepat di depan toko baju. Dia akan membeli beberapa baju seperti yang di pinta Albion akhir-akhir ini. Mungkin sebaiknya Mawar melakukannya sekarang agar ketika menikah nanti tak perlu repot-repot lagi membeli semuanya.
Membayangkan hal itu membuat Mawar tersenyum sendiri. Dia berjalan menyusuri dalam toko untuk mencari baju yang di inginkan nya.
"Apa ini akan cocok ya?" Mawar mengambil sebuah baju berlengan panjang dengan motif bunga melati tepat di depannya.
Lalu mengambil celana jeans untuk di padukan. Albion memintanya untuk tak lagi memaki baju-baju seksi, apalagi yang begitu ketat. Permintaannya tak memberatkan bagi Mawar sama sekali.
Sementara itu, Albion pun baru saja keluar dari ruang meeting. Pria itu melihat ponselnya, ada dua panggilan masuk.
"Ibu." Serunya begitu melihat siapa yang mencoba menelponnya itu.
Albion pun langsung mencoba menghubungi nya kembali. Hanya beberapa menit saja panggilan pun di angkat.
"Bu, ada apa?"
"Sudah hampir setengah bulan kamu tak pulang Al..Ibu juga belum sempat ke apartemen mu. jadi, malam ini bisa kan pulang? ibu mau membicarakan hal penting."
"tentu Bu."
Albion terus berbincang dengan ibunya sambil berjalan menuju ruangannya. Dia berpikir akan mengajak Mawar nanti malam. Ibunya pasti akan sangat suka kejutan ini. Sudah lama sang ibu memintanya untuk segera menikah.
__ADS_1
"Iya, aku juga merindukan keponakan nakalku. aku mencintaimu Bu." Albion mengakhiri panggilannya.
Albion yakin jika ibu dan keponakan nya akan sangat menyukai Mawar. Mawar wanita yang cantik juga mudah bergaul. Keponakannya masih kecil dan sudah kehilangan kasih sayang ibunya, mungkin dengan bertemu Mawar mereka bisa dekat. Albion berharap Mawar pun bisa menerima keponakannya. Karena selama ini anak kecil itu telah dia anggap seperti anaknya sendiri.
...***************...
Rega terus berdiri di depan gerbang rumah Mawar. Tak ada satupun yang membukakan pintu untuknya. Mertuanya bahkan hanya melihat sinis dan kembali masuk kedalam tanpa memperdulikan kehadirannya.
Sebelum kemari dia sudah membuang rasa malu nya. Demi mendapatkan Mawar kembali, Rega rela harga diri nya terinjak.
"Kenapa dia belum pergi juga." Rena mengintip di balik jendela.
Ingin keluar untuk mengusir nya langsung tapi Rena merasa jika itu hanya akan membuat keadaan semakin sulit saja. Rega pasti akan melakukan drama agar di izin kan bertemu dengan Mawar.
"Mbak Sus, tolong hubungi Mawar ya. minta untuk jangan dulu pulang katakan saja di sini ada mantan nya yang tak tahu diri." Titahnya pada salah satu pekerja di rumah nya.
Susmiah, seorang wanita berusia 30 tahunan itu langsung mengangguk dan segera menghubungi anak majikannya.
Rega berdecak saat tak juga melihat keberadaan Mawar. Mobilnya terparkir di depan rumahnya, itu artinya Mawar tak pergi kemana-mana. Dugaan Rega sungguh salah besar. Dia tak tahu semenjak berpisah dengannya Mawar jarang sekali membawa mobil sendiri karena selalu ada Albion yang siap sedia mengantarkannya kemana pun.
"Iya, Mbak Sus. ada apa?"
Kening Mawar berkerut saat mendengar penjelasan dari pembantu rumah tangga itu. Seketika dia memiliki ide agar Rega tak lagi mengganggu nya. Setelah percakapannya dengan Susmiah selesai, Mawar segera menghubungi Albion. Meminta pria itu untuk menjemputnya.
Menunggu beberapa menit saja tak masalah bagi nya. Albion pria yang sibuk, tapi selalu ada setiap dua membutuhkannya.
"Mawar..." Panggil Albion dari dalam mobilnya. Pria itu mengisyaratkan Mawar untuk tidak berjalan mendekat.
Dengan cepat Albion keluar dari mobil.
"Maaf, kamu pasti sedang sibuk. tapi...aku butuh bantuan mu." Mawar mengapit tangan kanan Albion.
"Aku sudah selesai meeting, butuh apa? lalu ini?" Albion melihat kantong belanjaan Mawar yang cukup berat dan mengambilnya.
"hanya beberapa baju saja."
Albion memasukan barang belanjaan Mawar kedalam mobil lalu membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
__ADS_1
"Mas Rega ada di rumah. aku..."
Albion yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi langsung melihat Mawar. Pria itu tak suka saat mendengar apa yang di katakan Mawar.
"Dia ingin bertemu dengan mu?"
Mawar mengangguk.
"jadi..apa yang harus aku lakukan?" Tanya Albion.
Mawar menatap wajah Albion. Pria itu nampak tenang tapi sorot matanya begitu tajam.
"Beritahu mas Rega kalau kita sudah memiliki ikatan." Cicitnya dengan suara yang begitu pelan.
Albion mengacak rambut Mawar gemas. Tentu saja dia akan melakukan itu tanpa di minta. Bagaimana juga Mawar adalah miliknya sekarang dan tak akan membiarkan pria manapun merebut nya.
"Kita tunjukkan padanya kalau kamu lebih bahagia sekarang." Ujar Albion.
Mawar tersenyum setuju. Dia ingin melihat bagaimana reaksi mantan suami nya itu. Rega begitu percaya diri kalau Mawar tak akan bisa melupakannya. Bahkan pria itu yakin jika Mawar tak akan bisa mendapatkan pengganti nya.
...****************...
Hani melihat keadaan rumah yang masih berantakan. Ruang tamu dan dapur sangat kotor. Bahkan beberapa piring masih berada di tempat cuci piring. Dengan kesal dia mengetuk pintu kamar Helena. Untung saja sekarang Kulsum sedang tak ada di rumah karena tengah berkumpul dengan teman-teman arisannya.
Tokk...Tok..
"Mbak, buka pintu nya?" Teriak Hani tak sabar.
Helena meringis menahan sakit di perutnya. Sudah dari tadi dia merasakan perutnya tak nyaman. Untuk bangun dari tempat tidur saja sungguh sulit.
"Mbak, buka pintu nya." Teriakan Hani semakin keras dan ketukan pintu nya pun semakin tak beraturan.
Helena membuka matanya susah, bibirnya sungguh sulit untuk sekedar bergumam saja.
Perutnya semakin bertambah sakit dan kepalanya berputar. Pandangannya memburam dan suara Hani pun semakin terdengar samar.
...******************...
__ADS_1