
Hani memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia tersenyum melihat Rega yang tertidur pulas setelah bermain panas dengannya. Pria itu nampak kelelahan setelah beberapa kali pelepasan.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 lebih 45 menit. Hani pun bergegas untuk mandi dan segera pergi setelah semuanya di rasa siap. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Tanpa repot-repot meminta Rega untuk membawanya kerumah dan mengenalkannya dengan istrinya, karena Mawar sendiri kini telah menawarkan diri untuk bertemu.
Mawar duduk gelisah menunggu kedatangan Hani. Hatinya tak yakin bisa bersikap tenang saat berhadapan dengan wanita itu nanti. Bagaimana jika dia tak bisa menahan emosinya. Apakah Mawar sanggup bertemu dengan wanita yang telah merebut perhatian suaminya itu.
Bagas sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Pria memilih untuk tak ikut campur lagi karena kini pekerjaannya sudah selesai, uang yang di berikan Mawar pun sudah lebih dari cukup. Ibunya sudah di operasi dan kini sudah kembali kerumah, tingga memulihkan saja.
"permisi? Mbak Mawar kan?"
Mawar terperanjat saat mendengar suara wanita yang begitu lembut menyapanya. Lamunannya buyar seketika, dia mendongak untuk melihat siapa pemilik suara yang begitu enak di dengar itu.
Matanya membulat sempurna melihat wajah wanita yang selalu dia lihat di foto itu. Dadanya bergemuruh hebat. Ingin sekali tangannya terangkat untuk menampar pipi mulus itu, tapi sekuat mungkin Mawar menahan diri untuk tidak berbuat aneh-aneh di cafe ini. Bisa-bisa dirinya nanti akan jadi tontonan gratis kalau sampai membuat keributan.
"Duduklah, Bagas pasti sudah memberitahu mu untuk apa aku meminta mu kesini." Ujarnya tegas, matanya menatap Hani dengan tajam.
Hani mengangguk lalu segera duduk di hadapan Mawar. Sebelum memulai percakapan, Hani memesan minum terlebih dahulu.
"langsung saja Mbak ke intinya." Hani sama sekali tak menunjukkan wajah ketakutan atau bersalah. Justru nampak sangat menantang seolah berhadapan dengan musuh saja.
Mawar mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"jauhi suamiku." Desisnya. "aku tahu suamiku tak mungkin berbelok jika tak kamu goda." Tudingnya.
Hani terkekeh pelan. Memang dirinya sengaja menggoda Rega awalnya, tapi Rega pun langsung menyambut godaan itu dengan senang hati tanpa melakukan penolakan sedikitpun.
"Mbak, aku dan mas Rega itu saling mencintai." Tutur Hani dengan wajah senang. Membayangkan betapa puasnya Rega ketika bercinta dengannya, menjijikan memang tapi itu kenyataannya.
"apa kamu bilang?" Mawar menatap wajah Hani tajam. Kekesalan nampak jelas dari sorot matanya.
"begini saja Mbak. izin aku menikah dengan mas Rega. Aku tak akan menuntut nafkah darinya. Mbak boleh memegang semua gajinya, rumahnya. pokoknya semua harta mas Rega boleh mbak miliki. aku tak akan berebut akan hal itu, hanya mas Rega yang aku inginkan." Ucap Hani dengan santainya, seolah semua kata yang dia lontarkan itu hal yang biasa.
"apa kamu gila? menginginkan suami orang." Marah Mawar, suaranya sedikit mengeras.
Hani memberi isyarat untuk Mawar agar tenang karena pengunjung yang lain nampak melihat kearah mereka. Mawar mendengus, lalu kembali melihat Hani dengan penuh amarah. Berbeda dengan Hani yang nampak santai juga tenang. Wanita itu merasa tak takut sama sekali berhadapan dengan istri sah dari selingkuhannya.
"Dimana mas Rega sekarang?"
"tentu di rumah ku. makanya mbak izinkan kami menikah, siri pun tak masalah bagiku." Hani menyilangkan tangannya. Tak ada rasa malu di wajahnya. Justru Hani semakin merasa tertantang ketika melihat wajah marah Mawar.
Ia semakin ingin membuat wanita di hadapannya ini tambah kesal dan meradang. Ada rasa senang di hatinya kala melihat wajah marah itu.
"tidak akan, sampai kapanpun."
"ayolah mbak, daripada kami bercinta tanpa hubungan pasti lebih baik mbak..."
Brak...
__ADS_1
Mawar langsung menggebrak meja begitu mendengar kata-kata Hani yang belum selesai.
"apa kamu bilang? bercinta?" Geramnya dengan suara keras.
Kini pengunjung lain benar-benar melihat kearah mereka. Hani meminta Mawar untuk kembali duduk dan bersikap tenang. Mawar menepis tangan Hani yang menyentuh tangannya. Dia tarik rambut wanita itu hingga menjerit kesakitan.
"aaah... Mbak sakit. lepaskan." Mohon Hani menjerit.
"kamu sudah merusak hubunganku dengan mas Rega. dasar wanita gila tak tahu diri." Mawar tak mau kalah, dia terus saja menjambak rambut panjang Hani dengan kuat.
"mbak..mbak, hentikan."
"mbak, sudah."
Beberapa pengunjung pun mendekat dan mencoba mendekat. Mereka membantu Hani terlepas dari amukan Mawar. Setelah cukup lama Mawar melampiaskan amarahnya dia pun segera meninggalkan cafe itu, membuat Hani harus menanggung malu juga menanggung biaya kerugian yang telah Mawar buat. Ada beberapa gelas dan piring yang pecah akibat amukan Mawar tadi.
"s'al sekali. Beraninya dia merusak wajahku." Hani menatap wajahnya di cermin, ada lebam di sudut bibirnya. Kepalanya pun rasanya sangat sakit akibat jambakan tangan Mawar yang begitu kuat.
Rambutnya bahkan sampai rontok akibat itu semua. Buru-buru Hani pulang dan mengadu pada Rega. Ia tak akan bersikap baik sekarang, akan dia rebut Rega dan tak akan membiarkan Mawar menang. Padahal tadi dia sudah meminta baik-baik tapi malah di perlakukan seperti itu. Hani marah dan merasa telah di permalukan.
Sementara itu Mawar kembali kerumah dengan amarah yang masih belum reda.
"Dari mana kamu, baru pulang jam segini. masak dan ingat buat kue bolu untuk besok arisan ibu." Kulsum mencegat langkah Mawar yang hendak memasuki rumah.
"minggir Bu." Mawar berkata dengan tegas.
"apa-apaan kamu ini? tak sopan menatap mertuamu dengan pandangan seperti itu." Bentak Kulsum.
Mawar pun yang memang sedang emosi tak bisa lagi menahannya. Ia langsung mengeluarkan semua amarahnya.
"bisa tidak, sekali saja ibu perlakukan aku dengan baik. Jangan asal meminta dan menyuruhku melakukan ini dan itu. ibu itu sudah sangat keterlaluan. Aku muak tinggal di rumah ini." Cerca Mawar dengan nada suara yang tinggi.
Kulsum sampai terdiam di tempatnya, terkejut sekali. Selama ini Mawar tak pernah membantah tapi sekarang bahkan Mawar berani berbicara dengan sangat keras.
Marja dan Helena yang berada di ruang tengah pun sampai menghampiri keduanya.
"ada apa ini?" Tanya Marja. Matanya menatap istri dan menantunya bergantian.
"Ibu, kenap?" Tanya Helena.
Kulsum langsung mengadu pada Marja.
"lihat pak, dia berani memarahi ibu. padahal ibu hanya bertanya dari mana dia. seharian pergi dan sekarang baru kembali."
Mawar pun segera pergi kekamarnya tanpa mengatakan apapun. Dia malas untuk berdebat sekarang, pikirannya sedang kacau. Ia ingin sendiri tanpa ada seorang pun yang menggangu.
"nah..nah..lihatkan kelakuan nya. tak punya sopan santun." Kulsum geram melihatnya.
__ADS_1
Marja hanya menghela nafas. Lalu menuntun Kulsum untuk masuk kedalam. Helena mengeryitkan keningnya, dia merasa jika Mawar seperti itu pasti ada penyebabnya. Bukan hanya karena ibunya. Ia pun berinisiatif untuk mengikuti Mawar.
Ceklek...
Pintu kamarnya ternyata tak di kunci. Helena masuk kedalam. Ia lihat Mawar tengah duduk di lantai sembari memeluk lututnya. Kepalanya di benamkan di antara kaki. Isakan kecil terdengar jelas.
Meski selama ini sikapnya tak pernah baik pada istri adiknya itu, tapi Helena sebenarnya peduli. Sebagai sesama wanita dia merasa iba dengan apa yang telah di alami Mawar.
Helena sudah tahu soal perselingkuhan adiknya. Bahkan ia berulang kali memperingati Rega untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan wanita luar itu.
"Mawar..." Helena menepuk bahunya.
Mawar mengangkat wajahnya, airmatanya deras mengalir. Helena menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar.
"ada apa? apa kamu sudah tahu soal Rega?" Tebaknya, karena entah kenapa ia merasa jika Mawar seperti ini karena ulah pria itu.
Mawar menghapus airmatanya. Ia tatap Helena dengan tatapan penuh tanya.
"Mbak tahu sesuatu tentang mas Rega?"
"ya. sejak kalian pertama kali menikah."
"oh...ya tuhan." Mawar mengusap kasar wajahnya. "jadi mbak tahu selama itu?"
Helena mengangguk. "mbak sudah menasehatinya."
Mawar tertawa hambar. Menasihati apanya, Rega sama sekali tak terpengaruh dengan nasehat itu.
"apa ibu tahu?" Tanya Mawar, ingin tahu apakah di rumah ini hanya dirinya yang terlambat mengetahui segalanya.
Gelengan kepala Helena menjawab semuanya.
"jangan sampai ibu tahu." Mohon Helena. Baru kali ini Mawar melihat wajah memohon kakak iparnya.
"aku akan menggugat cerai mas Rega."
"tapi..."
"aku sudah tak bisa lagi hidup bersama dengan seorang pria pembohong." Mawar yakin dengan keputusannya. "di tambah lagi ibu dan mbak juga tak menyukai kehadiran ku bukan?"
Pertanyaan Mawar membuat Helena terdiam. Memang benar, tapi tak seburuk itu. Helena hanya belum merasa dekat saja. Tapi, jika sampai Mawar berpisah dengan Rega apalagi alasannya karena Rega berselingkuh maka ibunya pasti akan shock berat.
Selama ini Kulsum selalu menganggap Rega sebagai anak yang sempurna. Makanya dia merasa jika Mawar tak pantas dengannya. Kulsum berharap Rega menikahi wanita yang memiliki karakter lemah lembut, keibuan juga bisa menghasilkan uang sendiri. Seorang wanita luar biasa dan hampir sempurna seperti Rega.
Jika tahu Rega telah melakukan hal buruk, maka Kulsum pasti akan kecewa. Rasa bangganya terhadap Rega akan langsung terkoyak begitu saja. Helena tak bisa bayangkan itu semua, betapa terlukanya nanti hati Kulsum.
...*****************...
__ADS_1