Karena Nafsu

Karena Nafsu
Chapter 25


__ADS_3

Marja sama sekali tak keluar dari kamarnya, ia memilih untuk menahan laparnya daripada harus duduk bersama dengan keluarganya yang menurutnya sudah tidak sehat itu. Kulsum memang dari dulu sangat matre, ia menikah dengannya pun karena perjodohan orangtua. Lagipula Marja dulu lumayan maju, tak sulit soal uang. Tapi, setelah Rega dan Helena besar, kesulitan ekonomi pun mulai melanda. Marja harus merelakan bisnisnya melayang demi menyekolahkan anak-anaknya.


Itulah kenapa, Kulsum sekarang tak pernah menghargainya lagi. Karena di mata wanita itu hanya pria beruang lah yang pantas mendapatkan rasa hormatnya. Dan sekarang, ia hanya di pandang sebelah mata oleh wanita itu.


"Bapak, tak ikut makan Bu?" Tanya Helena, sibuk mengunyah makanan yang menurutnya sangat lezat itu.


"biarkan saja, jika lapar juga pasti keluar." Sahut kulsum tak perduli.


Sementara Hani dan Rega tak banyak bicara, mereka hanya menikmati makan malam mereka dalam diam. Hani dengan pikirannya begitu juga dengan Rega.


Marja sudah memikirkan semuanya dengan matang. Dia tak bisa lagi tinggal di rumah ini karena merasa sudah tak di hargai. Lebih baik dia kembali ke kampung halamannya dan hidup sendiri dengan damai tanpa harus berhubungan dengan Kulsum yang sudah sulit untuk di atur. Semakin tua wanita itu bukannya berpikir dengan bijaksana, justru keserakahannya akan dunia semakin terlihat nyata.


Pria tua itu membereskan semua bajunya kedalam tas berukuran sedang, hanya baju saja tak ada yang lain. Karena memang semua barang-barang di dalam rumah ini Rega lah yang membelinya. Kecuali motor bututnya.


"mas, antar aku pulang ya?" Hani sudah siap untuk pulang.


Usai makan malam selesai wanita itu langsung bersiap-siap untuk pulang. Dia tak ingin pulang kemalaman karena besok harus bekerja.


"sebentar, mas mau mandi dulu. rasanya gerah sekali." Ujar Rega.


Pulang dari rumah Mawar, dirinya memang belum membersihkan tubuhnya. Karena merasakan perutnya lapar jadi Rega langsung ikut bergabung di meja makan tadi. Hani mengangguk, wanita itu pun mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Menunggu Rega sambil berbincang dengan calon ibu mertuanya. Sementara Helena, wanita itu sudah masuk kekamarnya.


"Ibu mau di belikan apa, dua hari lagi aku gajian." Hani mencoba sebisa mungkin merayu Kulsum dengan segala cara agar wanita ini mau bekerja sama dengannya nanti.


Kulsum langsung melihat Hani dengan mata berbinar.


"Belikan ibu kalung ya? bandulnya harus seperti ini." Kulsum begitu antusias. Dia memperlihatkan cincin emas di jari manisnya.


Cincin itu bermata blue sapphire, pemberian Rega dulu saat pertama kali mendapatkan gaji pertamanya. Hani tersenyum lebar, tentu saja. Itu permintaan kecil baginya, hanya kalung saja. Tak seberapa pikirnya.


"Biar serasi ya Bu?" Tanya Hani.


"iya. kamu beneran bisa belikan ibu kalung emas?" Tanya Kulsum memastikan.


Hani mengangguk cepat. "tentu saja, bahkan aku bisa membelikan ibu mobil kalau mau."


Kulsum semakin bertambah senang saja. Dia akan mempertahankan Hani kalau begitu. Memiliki menantu karir memang impiannya, karena dia pikir bisa memberikan kebahagiaan berlipat nanti. Dan tentu saja itu benar pikirnya. Di matanya saat ini Hani terlihat lebih segalanya dari Mawar yang hanya wanita biasa, pengangguran dan bisanya menghabiskan uang putranya saja.


"Tapi Hani minta tolong sama ibu saat bertemu orangtua Hani nanti, jangan sampai mereka tahu kalau mas Rega sudah memiliki istri." Tutur Hani.


Kening Kulsum mengerut.

__ADS_1


"memangnya kenapa?"


Hani menghela nafas kasar.


"Mamih dan papih bisa mengusirku dari rumah kalau tahu anak ini hasil dari perbuatanku merebut suami orang. bisa-bisa warisan Papih tak jadi mereka berikan."


"loh...loh...kenapa begitu?" Panik Kulsum. Jika Hani di usir dan tak dapat warisan bisa bahaya.


"iya Bu. Papih bahkan mau menanggung pesta pernikahanku dan mas Rega nanti, karena bagaimanapun aku putri tunggal mereka. jadi ingin pesta yang sangat meriah."


Kulsum sudah membayangkan seberapa meriahnya nanti pesta pernikahan kedua Rega. Ia bisa jadikan itu sebagai bahan untuk menyombongkan dirinya di depan para ibu-ibu arisan. Tentu dengan mengatakan jika semua biaya pesta di tanggung oleh Rega. Pasti akan semakin terlihat luar biasa putranya di mata para temannya nanti. Memiliki dua istri dan banyak uang. Hal yang patut di banggakan menurut Kulsum.


Marja menggelengkan kepalanya mendengar percakapan Hani dan Kulsum. Dia tak memperdulikan keduanya dan terus berjalan melewatinya.


Kulsum menghentikan obrolannya saat melihat Marja membawa tas besar di tangannya. Dengan cepat dia menyusulnya.


"mas mau kemana?" Tanyanya penasaran. "ini sudah malam."


Marja meletakkan tasnya di depan motor lalu tanpa menjawab dia langsung menyalakan mesin motornya. Matanya menatap tajam Kulsum.


"aku akan pergi dari rumah ini. untuk apa tetap tinggal jika sudah tak di hargai." Ucap Marja.


"ya sudah sana, lagipula sekarang mas tak berguna. Sudah tua dan tak berduit." Ujarnya dengan begitu pedas.


Brak...


Kulsum membanting pintu keras. Marja hanya mengelus dadanya, sungguh sikap Kulsum sudah tak bisa di maafkan lagi. Ia pun melajukan motornya meninggalkan rumah itu.


...***************...


"Jadi...kamu seorang mahasiswa atau bukan?" Tanya pria berwajah tampan itu.


Mawar mendengus. Kedatangan pria ini membuat moodnya semakin buruk saja. Tadi saja dia sok-sokan tidak mau menjabat tangannya dan memasang wajah dingin tapi sekarang malah banyak tanya dan nampak menyebalkan.


Rupanya pemuda itu adalah Raja. Dia tak bisa tenang saat tiba-tiba bayangan wajah Mawar melintas setiap matanya di pejamkan. Berniat ingin mencari udara segar dan tanpa sengaja malah melihat Mawar berada di sebuah cafe makanya dia langsung menghampirinya.


"Aku istri orang, paham." Ketus Mawar.


Raja terkekeh merasa jawaban Mawar adalah hal yang lucu. Ia sama sekali tak percaya jika Mawar sudah menikah. Mawar memang terlihat masih gadis, apalagi wajahnya yang nampak masih seperti seorang siswa SMA membuat Raja mengira jika wanita di hadapannya ini masih sekolah atau seperti dirinya, seorang mahasiswa.


"kalau tak percaya ya sudah. kamu bisa tanyakan pada Bagas." Ujar Mawar jengah.

__ADS_1


"Oke-oke. Aku minta maaf soal tadi di rumah Bagas. kamu pasti kesal karena sikap ku kan?"


"sudah tahu masih bertanya."


Raja kembali terkekeh. Mawar terlihat manis di matanya, selama ini belum ada wanita yang berani bersikap seperti ini terhadapnya. Semua wanita di kampus bahkan yang baru di temuinya akan langsung bersikap manis untuk menarik perhatiannya. Tapi Mawar berbeda, membuat Raja tertarik untuk terus mendekatinya.


Mawar memutar matanya malas melihat tingkah bodoh Raja. Pria itu terus saja memasang senyum membuat Mawar jadi semakin kesal saja.


Dengan cepat dia pun membayar semuanya lalu bergegas pergi. Mawar tak ingin moodnya semakin jelek malam ini. Tapi, rupanya dia tak bisa bebas begitu saja. Raja mengikutinya dan dengan cepat mencekal lengannya, menahan langkah Mawar.


"dimana rumahmu biar aku antar?"


"aku bawa mobil sendiri." Mawar menarik tangannya.


"ah..iya." Raja jadi merasa bodoh. "kalau begitu nomor ponselmu?"


"haaaah...." Mawar menghembuskan nafas kasar. "tidak ada." Ketusnya.


"dimana kamu kuliah? biar nanti aku bisa menjemputmu?" Tanya Raja tak putus asa.


Mawar mendelik, kenapa pria ini bisa berpikir jika dirinya masih kuliah. Apa tertulis di jidatnya. Dengan geram Mawar pun meninggalkan Raja.


"dasar, rupanya hanya pria yang suka mahasiswa. menyebalkan, dia pikir aku ayam kampus apa." Gerutu Mawar kesal, membanting pintu mobilnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Raja yang terdiam di tempatnya.


"ck...sulit sekali mendekatinya. Aku akan minta Bagas membantu ku." Raja pun menaiki motornya lalu pergi juga.


Bagaimana jika Raja tahu kenyataannya kalau Mawar 5 tahun lebih tua darinya. Apa pemuda itu akan tetap mengejarnya atau merasa geli sendiri karena tertarik pada wanita yang lebih tua darinya?


Mawar tiba di rumahnya sekitar jam 9 malam. Dia langsung menuju kamarnya. Jantungnya berdetak hebat saat begitu tiba di rumah ibunya mengatakan jika Rega memohon pada ayahnya untuk bertemu dengan Mawar.


Bahkan pria itu mengiba agar Mawar mencabut tuntutan gugatan cerainya.


"kenapa mas seperti ini. aku sakit hati mas, kenapa mas tak ingin melepas ku sementara kamu sendiri telah menghamili wanita lain." Rasanya Mawar ingin sekali berteriak sekencangnya.


Hatinya terasa panas dan sakit. Rega telah tega menyakitinya tapi kenapa masih ingin mempertahan hubungan mereka. Jujur saja, Mawar masih mencintainya dan berat untuk berpisah. Tapi, rasa sakitnya membuat Mawar tak sanggup untuk bertahan.


Apalagi dengan kehadiran wanita lain yang sudah hamil itu, hatinya semakin terkoyak. Rega tega mengkhianatinya dan melakukan hal yang begitu kotor di belakangnya. Tak bisa dia bayangkan bagaimana sang tercinta memadu kasih dengan wanita lain, terasa begitu perih.


Mawar menangis semalaman sampai akhirnya ketiduran. Dia tetap akan berpegang pada keputusannya, berpisah dengan Rega dan membalas semua rasa sakitnya.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2