
Hani terus berlari hingga tak menyadari bahwa saat ini dia sudah berada sangat jauh dari tempatnya tadi bertemu dengan sang ibu. Tangisnya pecah saat tiba-tiba hujan turun, hatinya benar-benar nelangsa sekarang. Di salahkan mertuanya atas apa yang menimpa Helena dan Rega pun tak tahu berada di mana. Sungguh miris sekali nasibnya.
Tin...
Albion menekan klakson mobilnya dengan cepat saat tiba-tiba ada seorang wanita melintas begitu saja di depannya. Untung saja kecepatan mobilnya tak terlalu tinggi sehingga Albion bisa mengendalikannya dengan tepat waktu, menginjak rem lalu berdecih keras.
"Hei, Nona. Kalau menyebrang itu hati-hati." Teriaknya dengan keras, Albion merasa kesal karena tindakan bodoh sang wanita bisa saja mencelakakan keduanya.
Hujan lebat membuat jalanan licin bisa sangat berbahaya. Wanita itu tak pergi, tubuhnya terperosot di jalan aspal. Tubuhnya bergetar hebat bahkan jantungnya berdebar sangat kuat.
"Bayiku..." Gumamnya panik, seketika dia mendongak untuk melihat siapa pemilik mobil yang hampir menabraknya.
Matanya memicing karena tak bisa melihat jelas orang yang ada di dalam mobil.
Albion kembali berdecak melihat wanita itu terus diam tak bergeming. Dengan kesal dia keluar dari mobil, membiarkan tubuhnya basah terguyur hujan.
"Kamu lagi?" Desis Albion tak percaya. Dia tahu siapa wanita itu.
Hani menelan ludahnya. Sudah dua kali dia bertemu Albion dalam keadaan yang begitu buruk dan sekarang yang paling parah.
"Pak Al..." Lidahnya kelu.
Albion menghela nafas kasar. Dengan terpaksa dia membantu Hani berdiri lalu menawarkan tumpangan. Bagaimana juga dia masih memiliki hati, tak mungkin meninggalkan seorang wanita hamil di tengah jalan seperti ini.
Hani duduk di belakang dengan kepala menunduk. Ia tahu Albion adalah kekasih mantan istri suaminya. Rasanya sangat tak nyaman berada satu mobil seperti ini.
"Dimana suamimu?" Tanya Albion menyadarkan Hani dari lamunannya.
"Ti.. tidak tahu." Cicitnya dengan suara bergetar menahan dingin.
"Barang hasil curian memang tak berguna. Saat menjadi milik orang lain terlihat sangat bagus dan menggoda dan begitu kita ambil, kata bagus dan menggoda itu berubah jadi malapetaka." Sindiran yang di berikan Albion membuat Hani terdiam.
Merasa jika apa yang dikatakan Albion memang benar adanya. Dulu, dia begitu tergila-gila pada Rega. Merasa jika dia yang menjadi istri nya pasti akan sangat bahagia. Karena Rega sangat baik hati, pengertian juga seorang pekerja keras. Tapi, setelah apa yang dia angankan itu berhasil tercapai. Justru hanya kepahitan yang dia dapatkan.
Rega sama sekali tak peduli dengannya. Sering membentaknya bahkan tak jarang pria itu keluar seharian tanpa bisa di hubungi.
Albion melihat Hani melalui kaca spion lalu tersenyum miring. Entah kenapa dia merasa sedikit lega, bukan Mawar yang ada di posisi wanita itu saat ini. Mawar lebih beruntung darinya.
__ADS_1
"sudah sampai, keluar lah." Albion menghentikan mobilnya.
Hani melihat keluar, benar saja. Rumah Rega terpampang di depannya. Dengan perlahan Hani keluar.
"terimakasih Pak."
"humm..." Albion hanya bergumam pelan lalu kembali pergi.
Hani berdiri di depan rumah dengan ragu. Keadaan rumah masih gelap, menandakan jika Rega pasti belum kembali. Pria itu entah kemana, memang benar melamar pekerjaan atau hanya keluyuran.
Sementara itu, Rega tengah bersenang-senang. Dia bernyanyi dengan lantang dengan keadaan linglung karena terlalu banyak minum. Di temani dua wanita cantik berpakaian super minim. Rega merangkul salah satu wanita itu, mengecup pipinya lalu kembali bernyanyi. Semua itu dia lakukan untuk membuang rasa kesalnya karena telah kalah dengan Albion.
Cara yang salah memang, tapi menurut nya itu lebih baik. Cara ampuh untuk membuang rasa kesalnya. Dia sampai melupakan orang di rumah dan tak sedikit peduli.
...**************...
Albion tiba di rumahnya, pria itu langsung menyemprotkan minyak wangi juga mengelap kursi berkas Hani duduk. Dari dulu Albion tak suka ada orang asing duduk di dalam mobil nya. Tapi, keadaan tadi membuatnya harus membiarkan hal itu terjadi.
"Mawar, aku baru sampai. Tadi aku mengantar istri dari mantan suamimu." Albion menekan tombol pesan suara lalu mengirimnya pada Mawar.
Mawar yang hendak merebahkan tubuhnya langsung mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Wanita itu tersenyum ketika ada pesan masuk dari sang kekasih. Menekan tombol putar untuk mendengar pesan apa yang dikirim kan Albion. Kenapa harus melalui pesan suara segala.
"Al, kenapa bisa bersama Hani, lalu kenapa harus mengantarnya juga?" Mawar mencoba mengirimnya tapi urung, dia tak ingin di katakan terlalu ingin tahu oleh Albion. Maka hanya sebuah pesan yang di ketiknya.
......"Bagaimana bisa? kalian bertemu di mana?"......
Cukup lama pesan itu tak mendapat balasan. Mawar menjadi resah. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Albion? Mawar merasa takut jika Hani kembali menggoda pria yang di milikinya. Wanita itu terlalu berbahaya untuk di biarkan.
"kenapa belum dibaca juga." Gumam Mawar resah melihat pesannya masih centang dua belum berubah warna.
Menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan kasar. Dia berdoa semoga saja tidak terjadi apapun diantara keduanya. Matanya melirik jam di atas nakas, pukul 7.45 itu artinya sudah setengah jam pesan itu belum di baca juga oleh Albion.
Dengan ragu Mawar menimbang apa dia hubungi saja Albion atau tidak. Jarinya hendak menekan tombol panggil tapi dengan cepat di urungkannya.
"tidak, aku harus percaya dengan Albion. Dia tak mungkin berbuat macam-macam dibelakang ku." Mawar mencoba berpikir positif lalu meletakkan ponselnya sembarangan.
Albion baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Pria itu berjalan kearah lemari lalu mengambil baju tidur nya. Setelah di rasanya siap untuk tidur, Albion pun langsung naik keatas kasur lalu mengambil ponselnya.
__ADS_1
Matanya menyipit mendapatkan pesan dari Mawar. Pesan itu seperti tersirat rasa khawatir, albion tersenyum lebar. Ia yakin Mawar pasti tengah gelisah menunggu balasan darinya. Dia pun segera mengetik balasannya.
..."akan aku ceritakan besok. sekarang tidur lah." ...
Albion sengaja membalas seperti itu. Dia ingin membuat Mawar penasaran. Rasanya menyenangkan jika di cemburui olehnya, tandanya Mawar benar-benar mencintai nya.
Cepat sekali Mawar membalasnya. Wanita itu mengirim emoticon marah dengan api di sekitar mulutnya. Tandanya dia kesal karena telah di buat penasaran.
Tut..Tut...
Mawar dengan cepat menghubungi Albion, dia tak bisa menunggu besok.
"halo sayang!" Seruan Albion dari sebrang telpon membuat Mawar cemberut. Suara Albion nampaknya tenang sekali.
"jelaskan Al, kenapa kamu bisa mengantar Hani? apa dia menggodamu?"
Tanpa sadar Mawar menunjukkan rasa cemasnya, nada suaranya yang terdengar cemburu itu seperti alunan musik ditelinga Albion.
"aku mengantuk, besok saja ya?" Goda Albion.
Mawar berdecak.
"apa susahnya sih bercerita." Gerutu Mawar.
Albion terkekeh pelan lalu menekan tombol gambar kamera di layarnya. Dia memilih untuk melakukan VC untuk melihat seperti apa ekspresi wajah Mawar sekarang.
"Al, aku akan marah jika kamu tak mengatakannya." Mawar langsung menatap Albion dengan tajam.
Panggilan telah beralih ke video call. Albion terkekeh senang, wajah Mawar terlihat sangat cantik di saat seperti ini. Seandainya dia ada di kamar Mawar saat ini, sudah di pastikan akan dia terkam wanita itu.
"jangan menggoda, bibirmu terlalu seksi dan aku ingin mengecup nya."
Mawar langsung menutup bibirnya dengan tangan kiri, wajahnya langsung merah padam.
"ja...jangan mengalihkan pembicaraan." Gerutu Mawar.
"hahaha...iya sayang. aku tak sengaja bertemu dengannya."
__ADS_1
Akhirnya Albion menjelaskan semuanya. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Mawar menghela nafas lega, ia bersyukur karena itu hanya sebuah ketidaksengajaan saja. Lagipula mana mungkin Albion bisa dekat dengan wanita itu.
...**************...