
Albion pun langsung menghampiri Ibnu, calon mertuanya nampak kesal dan sangat marah. Nafasnya pun terdengar tak beraturan saking kesalnya terhadap Rega.
"Om, apa yang terjadi?" Tanyanya dengan sopan.
Ibnu memijit pelipisnya yang berdenyut. Dia langsung meminta Albion untuk menyingkirkan Rega karena tak mau lagi melihat mantan menantunya itu.
"kebetulan kamu datang Al, tolong singkirkan pria tak berguna itu." Titahnya dengan nada tegas. "Om akan masuk kedalam, kamu urus dia."
Albion mengangguk lalu segera mendekati Rega yang kini menatapnya dengan begitu bengis. Rega tak terima karena kini Ibnu pun lebih memihak pada Albion. Padahal dulu dia merupakan menantu kesayangan di rumah ini. Apapun yang di katakan Rega selalu di setujui dan Ibnu tak pernah menatapnya dengan tatapan benci seperti tadi.
"Jangan jadi pahlawan kesiangan. aku tak ada perlu denganmu." Ketus Rega.
Albion dengan tenang berdiri di hadapannya. Baginya menghadapi Rega bukanlah sesuatu yang sulit seperti dulu.
"Aku tahu, kamu pasti mencari calon istri ku."
"apa kamu bilang? calon istri?" Rega tak terima itu. "jangan mimpi. sampai kapanpun kamu tak akan bisa mendapatkan Mawar."
"oh...ya, kalau begitu kamu bisa lihat nanti. jadilah penonton yang baik."
Rega mengepalkan tangannya tak suka. Membayangkan Mawar dan Albion bersatu membuat darah nya mendidih. Bagaimana bisa dia kalah oleh Albion. Dari dulu dirinya tak pernah sekalipun mendapatkan kekalahan dari pria manapun soal mendapatkan perhatian Mawar. Karena dia yakin, hanya dirinya lah pria yang selalu di cintai wanita itu.
Mawar masih duduk diam didalam mobil. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang terjadi dengan Albion dan Rega, mereka terlihat bersitegang. Tapi, Mawar tak ingin bertemu dengan Rega, karena hanya akan membuat moodnya jelek saja.
"semoga mereka tidak saling memukul." Doa Mawar. Terlebih dia sangat mencemaskan Albion, takut pria itu akan terluka.
"Dengar..." Rega menatap Albion dengan sangat marah. "Hani keguguran semuanya salah Mawar. jadi...jangan halangi aku untuk menemuinya."
Kening Albion berkerut.
"Apa hubungannya istrimu yang keguguran dengan Mawar. seharian ini Mawar bersamaku."
__ADS_1
Grep...
Rega mencengkram erat kerah baju Albion. Matanya memerah karena emosi. Sebenarnya dia kehabisan kata-kata, yang di katakan Albion memang masuk akal. Apa hubungan Mawar dengan Hani, sama sekali tidak ada. Tapi, bukan Rega namanya jika mengakui itu semua. Dengan keras dia tetap menuduh Mawar.
"heuh...lucu sekali. kamu sendiri yang terlalu memikirkannya tapi kenapa Mawar yang di salahkan? asal kamu tahu..." Albion menepis tangan Rega. "Mawar sama sekali tak peduli dengan mu, untuk sekarang ataupun nanti. kamu hanya masa lalu baginya. ingatlah, kamu sendiri yang telah mengubur cintanya jadi jangan coba-coba untuk mendekati atau pun mengusik kembali kehidupannya. Atau...aku akan menghabisimu." Ancam Albion tak main-main.
Rega sempat tertegun di buatnya. Albion terlihat sangat percaya diri dan begitu berani mengancamnya.
"Mungkin dulu kamu bisa menindasku seenaknya tapi sekarang...tak akan ku biarkan itu." Desis Albion penuh penekanan.
Rega menelan ludahnya. Dengan cepat pria itu pergi. Hatinya panas menahan amarah. Dia tahu, melawan Albion sekarang bukanlah waktu yang tepat. Albion tak seperti dulu yang mudah di tindas justru sekarang pria itu terlihat lebih kuat darinya. Mau tak mau Rega pun memilih untuk pulang. Meski begitu dia tetap bersumpah akan menemui Mawar kembali bagaimana pun caranya.
Mawar segera turun dari mobil begitu melihat Rega telah pergi.
"Al, apa yang dia inginkan?" Tanya Mawar cemas.
Albion meraih tangan Mawar lalu menggenggamnya erat.
"dia hanya ingin menemui, sepertinya pria itu masih mencintaimu." Ujarnya. Albion sengaja tak mengatakan soal Hani, dia tak ingin Mawar tahu.
Helena keluar dari ruangannya, matanya terus memperhatikan sekitar. Memastikan tak ada perawat disana. Dengan hati-hati ia membuka selang infusnya. Sangat sakit tapi di tahannya.
"Aku harus pergi." Ujarnya pada diri sendiri. Jalannya terlihat sangat hati-hati.
Tengah malam keadaan rumah sakit memang sangat sepi. Beberapa perawat pun ada di ruangannya. Memudahkan Helena untuk kabur dari tempat itu. Dia tak ingin berdiam diri saja sementara di luar sana pria yang telah menghancurkan segalanya hidup dengan tenang dan bebas.
Baru beberapa langkah matanya menangkap keberadaan Rega yang tengah duduk sendirian.
"Re...tidak, aku tak boleh memanggilnya." Helena memutar langkahnya.
Rega membuka matanya saat merasakan ada yang memperhatikan. Melihat sekitar dengan kening bertaut. Merasa tak ada siapapun akhirnya diapun memutuskan untuk masuk kedalam di mana Hani tengah di rawat.
__ADS_1
Keadaan Hani sudah sedikit membaik. Wanita itu tak lagi menangis dan mengamuk seperti siang tadi. Bahkan Hani bersikap biasa saja ketika melihat Rega.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rega begitu masuk melihat Hani yang bangkit dari ranjang nya.
"air." Jawabnya singkat dan terdengar begitu dingin. Hani sepertinya tak lagi bersikap baik sekarang.
Tatapan matanya pun selalu kosong. Rega menghela nafas panjang, sikap Hani seperti itu tak membuatnya marah. Hani masih marah padanya dan itu hal yang wajar.
"Hani...aku akan memberitahu orangtua mu." Ujar Rega membuat langkah Hani terhenti.
Hani mengurungkan niatnya untuk membuang air kecil. Wanita itu menatap Rega dengan tajam.
"Untuk apa? memberitahu mereka jika putrinya tengah mendapatkan karma."
"apa-apaan kamu ini. aku hanya ingin orangtuamu tahu kalau kamu tengah menderita saat ini. karma apa sih, jangan melantur jika bicara." Ujar Rega tak suka. Seolah Hani mengatakan jika semuanya terjadi karena kesalahannya.
"memang benar bukan? aku merebut suami orang dan sekarang hidup ku hancur." Akunya.
Hani memang baru sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Dia tahu perbuatannya pada Mawar tak bisa di maafkan. Tapi, rasa bersalah itu kenapa harus hadir di saat dia kehilangan buah hatinya. Tuhan begitu kejam dalam menegurnya.
Rega terdiam.
"kenapa diam? mas juga merasa begitu bukan? hidup kita berantakan sementara mantan istri mu di limpahkan kebahagiaan."
"sudah diamlah." Bentak Rega. "jika ingin tetap bersama ku maka jangan bicara macam-macam."
Brak...
Rega keluar dari ruangan dengan membanting pintu. Hani menghela nafas panjang, di ruangannya tempat di rawat tak hanya ada dirinya. Ada satu orang lagi di beranda sebelah kanan. Hani yakin orang itu pasti mendengar pertengkarannya dengan Rega.
Meski malu tapi Hani berusaha untuk bersikap biasa saja. Meski ini sudah larut tapi pasien di ruang sebelah nampaknya belum terlelap terlihat dari bayangannya di balik gorden yang menutupi tempat tidurnya.
__ADS_1
"Haaah... sekarang apa yang harus aku lakukan. harapanku satu-satunya telah hilang." Hani mengelus perutnya, rasanya semangat dan sebagian jiwanya telah ikut pergi dengan buah hatinya.
...****************...